Apa Itu Kiri Islam?

Apa Itu Kiri Islam?

2247
0
Buku Kiri Islam/Desip Trinanda

Kehadiran kiri Islam adalah untuk merubah paradigma yang selama ini jumud dan terkubur terhadap realitas sosial. Kiri Islam memberi peringatan kepada orang Timur (Islam) untuk mempelajari budaya keilmuan mereka, dan mempelajari Barat (Oksidentalisme) sebagai bentuk tandingan Orientalisme.

Buku ini ditulis oleh Kazuo Shimogaki. Ia adalah salah seorang pemerhati Timur Tengah dari Institute of Middle East Studies Internasional University, Jepang, yang tergoda dengan pemikiran Hasan Hanafi. Buku ini diberi judul dengan Kiri Islam Antara Modernisme dan Postmodernisme, diterbitkan oleh LKiS tahun 1993, dengan jumlah halaman xxiii+178. Penebitan buku ini memang sudah lama, kurang lebih 22 tahun dari sekarang. Tetapi buku ini layak dijadikan salah satu rujukan untuk mengetahui pemikiran Hasan Hanafi. Ia adalah salah seorang pemikir revolusioner di kalangan umat Islam dengan konsep Kiri Islamnya.

Dari mana muncul istilah kiri dan kanan dalam dikotonomi pemikiran? Ini agaknya sudah latah dalam banyak pembicaraan maupun di ruang-ruang diskusi. Namun di sini saya akan menyebutkan lagi guna untuk jawaban, kenapa sampai dinamai Kiri Islam. Seperti yang telah banyak diketahui bahwa semenjak revolusi Perancis, kelompok radikal, kelompok Jokobin, mengambil posisi duduk di sisi kiri dari kursi kongres Nasional. Semenjak itu baru muncul istilah kanan dan kiri dalam terminologi politik. Secara umum, kiri diartikan sebagai partai yang cendrung radikal, sosialis, ‘anarkis’, reformis, progresif, atau liberal, dalam artian selalu menginginkan sesuatu yang bernama kemajuan serta memberikan inspirasi bagi keunggulan manusia atas sesuatu yang bernama ‘takdir sosial’.

Shimogaki menyebutkan, sebenarnya istilah kiri dan kanan di dalam Islam tidak ada, tetapi hal itu terjadi pada tataran sosial, politik, ekonomi, dan sejarah. Hanafi mengatakan, bahwa mengenalkan terminologi kiri dan orang-orang kiri merupakan sesuatu yang penting untuk menghapus sisa-sisa imperialisme di dunia Islam. Dunia Islam sedang mengalami tiga  persoalan, baik eksternal maupun internal. Bahagian yang pertama adalah imperialisme, zionisme, dan kapitalisme, sedangkan bahagian kedua adalah kemiskinan, ketertindasan, dan keterbelakangan. Posisi Kiri Islam terfokus pada problem-problem ini.

Kiri Islam adalah keberpihakannya terhadap orang yang ditindas, orang miskin, dan menyuarakan ‘moyoritas yang diam’ di antra umat Islam, membela kepentingan umat manusia, mengambil hak-hak kaum miskin dari orang kaya, memperkuat orang-orang yang lemah, dan menjadikan manusia sama rata (tulis Shimogaki seperti ‘gerigi sisir’), dalam arti tanpa perbedaan. Hanafi mengeluarkan pengidentifikasian seperti itu, berangkat dari analisis teori kelas Marxisme-Leninisme.

Penulis        : Kazuno Shimogaki

Judul Buku  : Kiri Islam antara Modernisme dan Posmodernisme

Penerbit      : LKIS, 1993

ISBN           : 979-8966-01-5

Halaman      : xxiii+178

Kiri Islam Hanafi bukan berangkat dari sesuatu yang kosong. Seperti yang diterangkan Gus Dur dalam pengantar buku ini, Kiri Islam memiliki ideologi yang bersifat populistik yang pada waktu itu hampir diwakili oleh berbagai bentuk sosialisme. Hasan Hanafi mengacu pada teori kelas Marxisme-Leninisme yang telah dimodifikasi, seperti Sosialisme Arab. Disebut modifikasi karena hakikat materialistik dari determinisme-historik, yang meniscayakan kehancuran kapitalisme dan feodalisme dan kemenangan proletar ditolak secara tegas. Deterministik-Historik yang meniscayakan kebebasan itu diberi ruh non-materialistik, seperti pemunculan ide yang progresif dalam agama serta pranata lain yang bersifat keruhanian atau kesejahteraan.

Dilihat dari pendidikannya, Hanafi adalah seseorang yang banyak menyerap ilmu pengetahuan dari Barat tapi tanpa meninggalkan tradisi keilmuan Timur. Ia memperoleh gelar doktor di Sarbone University, Paris, pada tahun 1996. Tulis Shimogaki, ia mengosentrasikan dirinya pada pemikiran Barat pramodren dan modern, Ia tergolong seseorang yang modernis-liberal, meskipun ia mengkritik dan menolak Barat. Tetapi untuk konsep Kiri Islam Hanafi menegaskan, Kiri Islam adalah murni dari Islam. Ia diterbitkan di Mesir, pusat dunia Islam dan pusat dunia Arab.

Shimogaki mengatakan Kiri Islam ini, sudah ada yang memulai sebelum Hanafi, yaitu A.G Salih. Istilah itu sudah digunakan oleh A.G Salih dalam sebuah tulisannya pada tahun 1972;

Dalam Islam, kiri memperjuangkan pemusnahan penindasan bagi orang-orang miskin dan tertindas, ia juga memperjuangkan persamaan hak dan kewajiban di antara seluruh masyarakat. Singkat kata, kiri adalah kecendrungan sosialistik dalam Islam (lihat hlm 6).

Tetapi Kiri Islam dikenal luas sejak peluncuran jurnal Kiri Islam (Al-Yasar al-Islam, Islamic Left) di Kairo pada januari 1981 oleh Hasan Hanafi.

Peluncuran Kiri Islam Hanafi sesudah terjadi revolusi di Iran 1979, dan jurnal yang Al-Urwah al-Wutsqa dan Al-Manar yang menjadi agenda Al-Din Al-Afgani (1838-1896) dan Muhammad ‘Abduh (1849-1905). Di mana pada saat itu, Al-Afgani dan Muhammad ‘Abduh mencoba menjawab pertanyaan kenapa umat Islam dan bangsa Arab mudur, mengalami perpecahan, yang sebelumnya terangkat oleh agama Islam, serta bagaimana melawan kolonialisme, keterbelakngan, dan menyerukan kebebasan dari kapitalistik dan feodal, dan keadilan sosial (baca juga, Ahmad Baso, Islam Pasca-Kolonial 2005, hlm 94). Shimogaki mengatakan, agenda Kiri Islam Hanafi adalah bentuk lanjutan dari itu.

Jauh dari itu, Kiri Islam juga hendak mempersatukan kaum muslimin ke dalam blok Islam atau blok Timur. Salah satu Tugas Kiri Islam adalah mengembalikan barat pada batas alamiahnya, bukan berarti mengambalikan barat secara geografis. Mengahalau semua pengaruh kultural Barat yang merusak kedalam rusuk umat Islam dan bangsa-bangsa muslim, dengan cara Oksidentalis sebagai tandingan dari  Orientalis.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa Kiri Islam bertopang kepada; Pertama, perlunya rasionalisasi untuk revitalisasi khazanah Islam, karena rasionalisasi merupakan suatu keniscayaan untuk memajukan dan memecahkan persoalan umat Islam saat ini. Kedua, menentang Barat, dengan mengususlkan Oksidentalisme dalam rangka mengakhiri mitos Barat. Al Makin (2015), menuliskan model Oksidentalisme Hanafi dengan mendorong pembacaan ulang terhadap Timur dan sekaligus mempelajari Barat. Ketiga, analisis atas realitas dunia Islam.

Hanafi mengkritik metode tradosional yang bertumpu pada teks (nash), dan mengusulkan metode tertentu agar realitas itu dapat berbicara dengan dirinya sendiri. Dalam hal ini, Hanafi dalam konsep Kiri Islam menyepakati lima prinsip mu’tazilah dan memperhitungkan Syiah setelah berhasil menunjukan harga diri Islam dalam melawan kolonialisme, zionisme, weternisme, dan sekularisme. Hanafi mengkritik al-Ghazali yang menyerang ilmu-ilmu rasional dan dominasi tasyawuf yang berjalin dengan Asy’ariyah. Kemandekan berfikir yang menyelimuti kita semenjak abad ke-VII merupakan tanggung jawab dominasi pemikiran Asy’ariyah, karena ia telah menjelma menjadi ideologi politik. Keluar dari Asy’ariyah berarti kafir, subversi, dan penghianat (untuk lebih lengkapnya, baca hlm 121-123).

 

Hanafi mengatakan, agenda revolusi Kiri Islam ini bukan sesuatu yang baru. Begitupun juga dengan penyatuan agama dengan revolusi adalah sesuatu yang latah bagi kita. Semisal, bagaimana kehadiran para nabi seketika masanya, berposisi sebagai pengganggu status quo yang sifatnya penindasan terhadap rakyat, seperti yang telah ditulis juga dalan ulasan Islam Kiri Eko Prasetyo yang dimuat di www.tarbijahIslamijah.com beberapa hari yang lalu. Kiri Islam tidak akan terpengaruh oleh bayang-bayang kejayaan Islam yang masih kuat dan membekas itu, tetapi mengubah baying-bayang itu menjadi wacana pemikiran, dialog, dan pencerahan, agar kejayaan Islam termanifestasikan untuk kesejahteraan manusia.

Hanafi menyebutkan, Kiri Islam bukanlah neo-marxisme, liberalisme rovolusioner, Khawarij, Syiah, maupun Qadariyah. Ia adalah bentuk refleksi dari pemikiran historis yang merepresentasikan suatu gerakan sosial politik khazanah klasik, dengan menggali akarnya pada Al-kitab dan Sunnah yang bertujuan untuk mensejahterakan rakyat. Uniknya lagi Kiri Islam juga membuka dialog dengan siapa pun tanpa mempedulikan latar belakang pemikiran maupun aliran keagamaan. Poin yang terakhir ini kadang kala sulit kita temukan dalam aliran keagaaman yang ada di Indonesia, yang sering terjadi adalah pengkleman pembenaran dan pengkafiran antar sesama Islam.[]

BERBAGI
Artikel sebelumyaMasa Lalu Kemanusiaan
Artikel berikutnyaIruik Sajo
Penulis adalah alumni MTI Canduang. Saat ini kuliah di Jurusan Siyasah Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selain itu ia juga aktif berdiskusi di Surau Tuo Institute.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY