Asap yang Pandai Menyimpan Api

Asap yang Pandai Menyimpan Api

1323
0
Ilustrasi/Dok.Istimewa

         Dalam sebuah kisah bertajuk Yang Datang dari Negeri Asap (2014), sastrawan yang bermukim di Pekanbaru (Riau), Hary B Kori’un, secara satir sekaligus dramatik, mendeskripsikan sosok Alia, perempuan belia yang tiba-tiba muncul dari gumpalan asap. Ia mengerjap-ngerjapkan mata. Melangkah perlahan-lahan menyusuri trotoar. Jalan tampak memutih. Asap di mana-mana. Konsep waktu terhisap dalam kepungan asap yang tak kunjung menipis. Pagi, siang, atau petang tak dapat lagi dibahasakan. Raut muka orang-orang yang lalu-lalang tersembunyi di balik masker. Dari kejauhan, busana mereka tampak seragam dalam warna kelabu, karena terselubungi oleh warna asap yang tak mungkin dielakkan.

Bilamana mata batin seorang sastrawan telah mencurahkan penglihatannya guna memonumentasikan sebuah peristiwa, dapat dipastikan itu bukan peristiwa yang biasa, apalagi peristiwa remeh-temeh. Kabut asap -sebagaimana yang kini tengah melanda Riau, Sumut, Jambi, Sumsel, dan berdampak sangat parah di seantero Sumatera- yang menjadi pusat perhatian sekaligus panggilan penciptaan sastrawan itu tercatat sudah berkali-kali terjadi, terutama sejak 1990-an, dan tak tertuntaskan hingga kini. “Seperti tamu tahunan yang tak pernah lalai berkunjung ke kota kami,” demikian keluhan seorang sejawat di Riau. Sedemikian terbiasanya kawan-kawan di Sumatera menghadapi bencana kabut asap, komikus Iggoy el-Fitra, dalam serial komik Si Bujang (2015) mengabadikan jawaban Asya (karakter perempuan balita) setelah Si Bujang bertanya; Asya kalau udah besar mau jadi apa? Secara spontan dan lugas Asha menjawab, Mau jadi petugas pemadam kebakaran, Om Bujang.  Biar bisa ikut padamkan kebakaran di negeri ini.

Inilah petaka yang hampir niscaya di kampung halaman imajiner Alia, seperti ternukilkan dalam kisah tragik karya Hary B Kori’un. Oleh karena sedemikian kerapnya kabut asap melanda, dengan sangat yakin Alina berkabar pada kekasihnya, bahwa orang-orang di kampung kelahirannnya tidak perlu makanan. Sebab, asap telah menjadi asupan nutrisi mereka. Vitamin, karbohidrat, dan serat sudah terkandung dalam asap. Sepintas lalu, mungkin terdengar mengada-ada, main-main, dan terlalu berlebihan. Namun, bila ditimbang dengan kepayahan ratusan ribu bahkan jutaan warga Riau, Sumut, Jambi, Sumsel dalam menghadapi bencana kabut asap sejak beberapa hari belakangan ini, Hary B Kori’un seolah-olah telah menujumkan kabar perihal musibah besar itu, jauh-jauh hari sebelumnya.

Sejumlah penerbangan ke Sumatera terpaksa dibatalkan. Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru sempat lumpuh beberapa hari. Jarak pandang hanya dalam hitungan ratusan meter. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dinyatakan telah masuk kategori tidak sehat. Sekolah-sekolah diliburkan hingga batas waktu yang belum dapat ditentukan. Aktivitas perekonomian sudah pasti terganggu dan mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit. Pendek kata, asap dapur saudara-saudara kita di Sumatera nyaris padam karena dihantam oleh kepulan demi kepulan asap yang berembus dari hutan belantara. “Pejabat makan suap, pengusaha makan kakap, rakyat makan asap,” demikian salah satu narasi keprihatinan yang  di-posting  seorang  netizen di media sosial Instagram dengan tagar #masihmelawanasap. Solidaritas bermunculan dari segenap penjuru republik ini. Himbauan agar pemerintah pusat segera turun tangan mengalir deras, hingga presiden pun cepat-tanggap, lalu terjun langsung ke sejumlah titik api di wilayah Sumsel.

“Di mana ada asap, pastilah di situ ada api,”  bukankah begitu petuah dan nasihat yang kita dengar sejak masa kanak-kanak? Namun, kearifan lapuk itu kini terdengar kian samar dalam nyala api di semak-semak belukar hutan Sumatera. Tak dapat disangkal bahwa tak ada cara yang lebih cepat dan jitu dalam membuka lahan  baru selain dengan cara membakar. Di masa silam para tetua kita juga menggunakan cara serupa. Tapi tak sekalipun sejarah mencatat, bahwa api yang mereka nyalakan merembet ke mana-mana, apalagi menjadi penyebab dari bencana kabut asap sebagaimana kini. Hutan liar yang mereka rambah cukup untuk kebutuhan kebun dan ladang sendiri, dan mereka tak pernah lupa menyisakan lahan yang bakal diwariskan pada anak-cucu di kemudian hari. Asap yang mereka buat adalah asap yang jelas asal-usul apinya. Api yang mereka kobarkan sangat gampang dipadamkan. Segampang mereka memadamkan kobaran gejolak keserakahan yang bersemayam dalam diri setiap manusia.

Sementara asap yang kini telah mengakibatkan segenap derita dan kepayahan rakyat di republik ini, adalah asap yang  begitu lihai menyembunyikan api. Tak ada yang sungguh-sungguh dapat memastikan dari mana sesungguhnya muasal nyala api itu. Alih-alih memastikan di mana sebenarnya titik api paling mula, kita lebih gandrung menghitung  titik-titik panas yang kita bahasakan secara canggih dengan hotspot. Kita inventarisir dari hari ke hari, kita catat perkembangannya dengan tekun dan saksama, lalu kita kaji secara mendalam dan komprehensif dengan berbagai pendekatan saintifik. Sementara saudara-saudara kita di Sumatera semakin sesak napasnya, semakin rabun penglihatannya,  semakin lumpuh daya-upayanya.

Jangan-jangan tabiat kita dalam urusan bakar-membakar ini telah ditunggangi sejak lama oleh api ketamakan guna menumpuk keuntungan sebesar-besarnya, dan karena itu kita mesti membakar hutan seluas yang kita dambakan, tanpa mempertimbangkan ada rejeki orang lain yang terlindas karenanya. Ada hak-hak hidup orang lain yang  kita renggut secara sadar dan kasar. Membuka lahan baru tidak lagi sekadar cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sebagaimana etos orang-orang di masa lalu, tapi didorong oleh keinginan hendak menumpuk keberlimpahan yang tak berhingga banyaknya. Kaya yang mahakaya, dan kita tidak lagi peduli, ada jutaan orang yang lantaran bencana kabut asap ini, hampir tidak bisa memastikan apakah esok pagi asap dapur mereka masih dapat mengepul, atau justru bakal pudur selamanya?

Mungkin itu sebabnya, bencana asap selalu dan selalu saja berulang. Sepanjang kita tidak beritikad memadamkan kobaran api keserakahan homo economicus  yang  terus  menyala di lahan-lahan industri perkebunan, maka seperti telah dinujumkan oleh sastrawan Hary B Kori’un di kampung halaman imajiner Alia, saudara-saudara kita di Sumatera juga akan meniscayakan asap sebagai asupan nutrisi mereka saban musim kemarau. Balita-balita mereka akan semakin tegas bercita-cita hendak menjadi petugas pemadam kebakaran, kelak bila mereka sudah dewasa. Agar mereka dapat berkhidmat memadamkan api yang tak sudah-sudah menganiaya hutan belantara kita. Agar mereka dapat menghadang gempuran asap yang dari tahun ke tahun semakin pandai menyimpan api. Bukan api biasa, tapi api yang berasal dari lelaku ketamakan purba kita.[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY