Ashabul Yamin dan Pentingnya Pendidikan Islam di Lasi

Ashabul Yamin dan Pentingnya Pendidikan Islam di Lasi

1047
0
Buya Zamzami/Dok. Istimewa

         Hari ini, pendidikan sudah menjadi hal terpenting dalam berbagai aspek, dalam kesehatan, ekonomi, sosial dan lain–lain. Fakta ini secara tidak langsung menjadikan pendidikan sebagai kebutuhan primer bagi setiap generasi. Globalisasi dan modernisasi menuntut para generasi yang merupakan cikal bakal penerus bangsa untuk berpendidikan tinggi demi majunya Indonesia di masa yang akan datang.

Peran penting pendidikan di tengah–tengah pemuda dan pemudi dibuktikan dengan telah banyaknya pembangunan sekolah–sekolah dan madrasah di berbagai daerah, sebagai jawaban dari kebutuhan akan pendidikan. Apakah itu perkotaan atau pedesaan. Dan Lasi Tuo adalah salah satu daerah yang berpartisipasi dalam memberikan pendidikan kepada masyarakat yang ada di Lasi, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Lasi Tuo adalah salah satu desa yang kurang akrab dengan masyarakat luar, karena letaknya yang terpencil, tepatnya di sebelah utara gunung Marapi. Lasi Tuo adalah bagian dari nagari Lasi yang membawahi 3 jorong: Jorong Lasi Tuo, Lasi Mudo dan Pasanehan.

Di era 90-an Lasi Tuo termasuk ke dalam salah satu daerah dengan presentase kemiskinan yang tinggi. Perekonomian masyarakat hanya tertumpu pada pertanian. Itupun dengan keahlian turun temurun, seadanya. Tanpa ada pendidikan dan pelatihan yang jelas mengenai cara bertani yang baik. Kemiskinan ini diperburuk oleh satu kenyataan lagi, bahwa masyarakat Lasi Tuo bukanlah orang-orang dengan pendidikan yang baik. Perhatian masyarakat terhadap pendidikan sangat minim. Umumnya, pemuda dan pemudi Lasi hanya memiliki ijazah SD. Selain karena ketidaksanggupan para orang tua untuk membiayai sekolah anak–anak mereka, juga karna jauhnya tempat yang harus dituju untuk melanjutkan sekolah. Mereka yang bersekolah hari itu hanya sebagian kecil dari masyarakat Lasi Tuo.

Masalah yang kompleks ini menggugah hati beberapa orang tokoh masyarakat Lasi Tuo untuk melakukan perubahan. Mereka berpikir kenapa tidak didirikan saja sebuah sekolah sederhana untuk pemuda dan pemudi Lasi Tuo, sebagai sarana penambah wawasan dan pengetahuan serta untuk mencegah merajalelanya demoralisasi.

Salah satu tokoh masyarakat Lasi Tuo, Bapak Malin Daro mengusulkan pembangunan sekolah kepada Buya Zamzami Yunus, seorang ulama di Lasi Tuo. Keinginan yang kuat itu diwujudkan dalam hal penyerahan tanah atas nama waqaf oleh Bapak Malin Daro. Hal ini disambut baik oleh Buya Zamzami, karena ternyata ini juga merupakan cita–cita buya selama ini. Dan terwujud melalui rencana yang diusulkan oleh Bapak Malin Daro. Pada hari kamis, Dzulhijjah 1992 Buya Zamzami memusyawarahkan rencana pembangunan sekolah ini pada beberapa orang terkemuka di lasi: Ibnu Hajar Rajo Mangkuto, Amsuar Sutan Mangkuto, Muslim Bandaro Basa dan Absar Khatib Bagindo.

Dari pertemuan ini diperolehlah kesepakatan untuk membangun sebuah lembaga pendidikan agama di Lasi Tuo. Para tokoh ini mulai melakukan penjajakan terhadap tanah yang diwaqafkan oleh Bapak Malin Daro. Pemilik tanah tersebut adalah Mansur Sutan Menan, Datuak Rajo Agam dan H. Muhammad Jamil yang kemudian terketuk hatinya untuk ikut mewaqafkan tanah yang mereka punya.

Pada bulan yang sama, Buya Zamzami Yunus mendatangi kepala desa Lasi Tuo, pada waktu itu dijabat oleh Hamdani Sutan Sipado, untuk membicarakan rencana tersebut. Kepala desa menyetujuinya dan menyarankan agar Buya Zamzami beserta kawan–kawan untuk mengundanng seluruh masyarakat Lasi Tuo untuk memusyawarahkan usulan tersebut. Maka berdasarkan hasil musyawarah, dibentuk suatu yayasan pendidikan yang diberi nama Yayasan Ashhabul Yamin. Yayasan ini diketuai Bapak Suardi Mahmud Bandaro Putiah yang terpilih secara aklamasi pada rapat tersebut.

Dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, pendidikan formal dimulai di Ashhabul Yamin. Bukan berarti hal ini menjadi alasan bagi para pengajar, terlebih Buya, untuk berputus asa. Kondisi ini malah dijadikan pukulan keras untuk selalu mengingatkan mereka untuk terus berubah dan berkembang menjadi lebih baik.

Stuktur Organisasi Sekolah

Di awal berdirinya, belum ada struktur organisasi sekolah yang jelas di Ashhabul Yamin. Hal biasa yang dialami oleh setiap sekolah yang baru berdiri. Hanya ada empat orang guru kala itu, dengan  satu orang tata usaha sekolah. Mereka adalah : Buya H. Zamzami Yunus, Ustad Marzuk Malin Kayo, Ustad Syafrizal Khatib Mangkuto, Ustad Ahmad Dardir Pakiah Bandaro dan Ibu Ernawati (almh).

Namun seiring berkembangnya Ashhabul Yamin, sekarang sekolah yang sedang berkembang itu telah memiliki struktur organisasi sekolah yang jelas. Lembaga Pondok Pesantren Ashhabul Yamin bernaung di bawah Yayasan Pondok Pesantren Ashhabul Yamin, membawahi tiga jenjang pendidikan, yaitu: Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah dan Pondok. Masing–masing jenjang pendidikan dikepalai oleh tiga orang guru dari Ashhabul Yamin yang juga membawahi kaur tata usaha (urusan keuangan, urusan PEG/siswa, urusan arsip/surat, urusan inventaris, urusan jaga sekolah), Wakil Kepala (Waka) bidang sarana dan prasarana, Waka bidang humas/asrama, Waka bidang kesiswaan dan Waka bidang kurikulum.

Sarana dan Prasarana

Ashhabul Yamin 1992 sampai 2015 boleh dikatakan masih dalam pembangunan. Hal ini terbukti dari banyaknya pengadaan renovasi serta pembangunan lokal baru dan asrama. Puncak pembangunan lokal baru terjadi pada tahun 2013 sampai sekarang. Jumlah santri yang mendaftar semakin bertambah setiap tahunnya, sementara pengadaan lokal untuk mereka dalam waktu singkat dirasa begitu mendesak. Tentunya hal ini menjadi masalah sekaligus berkah untuk Ashhabul Yamin. Keadaan diperparah oleh keterbatasan dana. Tidak seperti sekolah negeri, pembangunan untuk sekolah swasta memiliki masalah dengan sumber dana.

Hari ini tehitung ada 13 lokal yang tersedia untuk seluruh santri dan santriwati Ashhabul Yamin, termasuk majelis taklim. Jumlah ini tidak sebanding dengan banyaknya jumlah seluruh santri/wati. Untuk menyiasati masalah ini, pihak sekolah menjadikan lantai dasar Masjid Nurul Ukhwah sebagai tempat belajar sementara bagi beberapa santri kelas bawah. Siasat inipun ternyata masih belum berhasil, karena jika dilihat di dalam lokal, jumlah santri yang ada di dalamnya melebihi kapasitas lokal ideal, sehingga kelas menjadi kurang kondusif.

Ashhabul yamin juga memiliki ruang khusus untuk kepala pondok, kepala madrasah dan ruang majelis guru. Disamping itu ada sebuah perpustakaan kecil yang sebetulnya tidak bisa dianggap sebagai pustaka. Tidak ada labor komputer di Ashhabul Yamin, ataupun labor bahasa. Kondisi ini membatasi kreatifitas serta wawasan para santri/wati. Pengadaan perpustakaan dan labor komputer sering direncanakan, namun selalu gagal mengingat sempitnya kawasan yanng dimiliki Ashhabul Yamin. Jikapun ada kawasan yang cukup, pastilah sekolah akan memprioritaskan pembangunan lokal dan asrama.

Pengadaan asrama akhir-akhir ini juga menjadi masalah baru di Ashhabul Yamin, mengingat semakin banyaknya santri/wati yang berasal dari daerah jauh. Bagi para santriwati, asrama disediakan di dekat sekolah. Sekolah tidak mengizinkan santriwati untuk tinggal di rumah warga karena dirasa berpotensi untuk menimbulkan masalah. Sedangkan bagi santri, boleh memilih, apakah ingin tinggal diasrama sekolah atau tinggal di rumah penduduk yang juga telah disiapkan sekolah. Hingga saat ini, santri Ashhabul Yamin tersebar di beberapa rumah warga yang dikontrakkan.

Masalah lain dari segi sarana dan prasarana adalah tempat pembuangan akhir sampah dan air bersih untuk santri/wati asrama. Ashhabul Yamin tidak memiliki limbah sampah yang jelas. Sering kali terjadi penumpukkan sampah di tong sampah sekolah selama berbulan-bulan, yang tentunya dapat menimbulkan masalah kesehatan bagi para santri/wati.

Dan mengenai air bersih, sebenarnya, Ashhabul Yamin memiliki satu sumber air bersih, yaitu air bersih Karang Panjang, terletak di Koto Tinggi, jauh dari Ashhabul Yamin. Air bersih dari Karang Panjang dialirkan ke berbagai rumah di Lasi Tuo, termasuk ke Ashhabul Yamin. Kadang–kadang masyarakat bersiteru mengenai pembagian air sehingga sering terjadi pemutusan pengaliran air yang tentu berdampak buruk bagi aktifitas santri/wati.[]

BERBAGI
Artikel sebelumyaSyekh Amran dan Profil at-Taqwa
Artikel berikutnyaProfil Ponpes Ashhabul Yamin
Penulis adalah santri pondok pesantren Ashhabul Yamin dan saat ini sedang menduduki bangku pelajaran kelas VI. Bungsu dari dua bersaudara ini termasuk santri berprestasi dengan minat dan bakat menulis yang menjanjikan. Disamping minat dan bakat menulisnya, ia juga merupakan sosok santri yang cerdas dan selalu menyabet juara di kelasnya.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY