Awal Ramadhan Perspektif Tarbiyah Islamiyah

Awal Ramadhan Perspektif Tarbiyah Islamiyah

938
0

Salah satu polemik yang muncul menjelang bulan Ramadhan adalah tentang bagaimana penetapan awal Ramadhan tersebut. Terkhusus di Indonesia, ada banyak pendapat yang berkenaan dengan penetapan awal bulan ini. Pendapat-pendapat tersebut dikeluarkan oleh beberapa ormas dan kelompok masyarakat yang merasa memiliki kemampuan dan otoritas dalam menetapkannya. Tulisan ini menguraikan pendapat Persatuan Tarbiyah Islamiyah (selanjutnya disebut dengan Tarbiyah) tentang penetapan awal Ramadhan tersebut. Tulisan ini disandarkan kepada pendapat Syekh Sulaiman Ar-Rasuli (pendiri Tarbiyah) dalam buku beliau berjudul ‘Pedoman Puasa’. Selain itu, sebagai ormas yang bermazhab Syafi’i dalam fiqih, tulisan ini juga akan menyertakan pendapat-pendapat para fuqaha’ mazhab Syafi’i dalam kitab-kitab fiqihSyafi’iyyah.

Penetapan Awal Ramadhan

Syekh Sulaiman Ar-Rasuli menyatakan bahwa kewajiban puasa Ramadhan disebabkan oleh dua hal, yaitu melihat (rukyah) hilal (yang beliau istilahkan dengan ‘awal ramadhan’) atau menyempurnakan bilangan bulan sya’ban 30 hari. Beliau berargumen bahwa hanya dua metode inilah yang diperintahkan oleh nabi Muhammad Saw. Perintah tersebut dipahami dari beberapa hadis, di antaranya:

  1. Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra:

لا تصوموا حتى ترووا الهلال

Artinya:

Jangan kamu puasa sebelum kamu melihat awal bulan. (H.R. Al-Bukhari)

  1. Hadis

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غم عليكم فأكملوا ثلاثين

Artinya:

Berpuasalah kamu karena melihatnya (awal bulan Ramadhan) dan berbukalah (hari raya idul fitri) karena melihatnya (awal bulan Syawal). Jika tertutup (hilal) di atasmu, maka sempurnakanlah (bulan) 30 (hari). (H.R. Muslim).

Hadis ini dalam riwayat lain dengan redaksi

فإن غم عليكم فاقدروا ثلاثين

Artinya:

Jika tertutup (hilal) di atasmu, maka hitunglah (bilangan bulan) 30 hari.

Redaksi hadis di atas dengan jelas menyatakan bahwa kewajiban berpuasa baru dibebankan ketika melihat bulan. Jika langit tertutup oleh awan (yang membuat hilal tidak mungkin terlihat), maka kewajiban selanjutnya adalah menyempurnakan bilangan bulan 30 hari.

Dalam hal ini sangat jelas sekali terlihat bahwa Syekh Sulaiman Ar-Rasuli mengikut kepada pendapat terkuat dalam mazhab syafi’i. Berkata Imam Nawawi dalam Al-Majmu’:

لا يجب صوم رمضان إلا بدخوله، ويعلم دخوله برؤية الهلال، فإن غم وجب استكمال شعبان ثلاثين، ثم يصومون سواء كانت السماء مصحية أو مغيمة غيما قليلا أو كثيرا

Tidak wajib puasa Ramadhan kecuali dengan masuknya bulan tersebut. Dan diketahui masuknya Ramadhan dengan melihat hilal (anak bulan). Jika tertutup oleh awal, maka wajib menyempurnakan sya’ban 30 hari, kemudian setelah itu umat islam berpuasa meskipun langit cerah atau tertutup awan, baik tipis maupun tebal.

(Al-Majmu’: 6/264)

Yang menjadi illat awal Ramadhan (munculnya kewajiban berpuasa) adalah melihat hilal, bukan semata-mata adanya hilal menurut hitungan matematis ilmu falak. Hal tersebut dipahami dari hadis yang menggunakan redaksi لرؤيته (karena melihat hilal) dan حتى ترووا الهلال (hingga kamu melihat hilal). Kata رأى   dalam bahasa Arab pada dasarnya bermakna melihat dengan mata.

Berlakunya Hilal

Syekh Sulaiman Ar-Rasuli menyatakan bahwa puasa diwajibkan kepada kaum muslim jika telah dilihat walau dengan satu orang saja yang kemudian ditetapkan oleh qadhi (dalam hal ini sebagai representasi pemimpin). Jika telah ditetapkan oleh qadhi, maka puasa itu wajib atas seluruh penduduk negeri yang di bawah wilayah qadhi itu. Dalam hal ini, konsep batasan berlakunya hilal yang dipakai adalah wilayah al-hukmi, artinya untuk satu negeri yang dipimpin oleh satu otoritas tertinggi. Pada masa sekarang, otoritas tertinggi adalah presiden yang memimpin satu negara. Dalam kasus Indonesia, jika ada seorang yang ‘adil melihat hilal di mana pun di negara Indonesia ini, lalu ditetapkan oleh pemimpin (Presiden, dalam hal ini direpresentasikan oleh menteri agama), maka wajib hukumnya bagi setiap muslim yang berada di Indonesia untuk berpuasa.

Tentang masalah ini, Imam Nawawi menyebutkan:

وقال ) في القديم والجديد : يقبل من عدل واحد وهو الصحيح ، لما روى عبد الله بن عمر رضي الله عنه قال : { تراءى الناس الهلال فأخبرت النبي صلى الله عليه وسلم أني رأيته ، فصام رسول الله صلى الله عليه وسلم وأمر الناس بالصيام }

Imam Asy-Syafi’i berpendapat dalam qaul qadim dan jadidnya bahwa diterima kabar dari seorang laki-laki yang adil. Inilah pendapat yang sahih. Karena ada riwayat dari Abdullah bin Umar ra, ia berkata: “Manusia melihat hilal, maka aku kabarkan kepada Nabi Saw bahwa aku telah melihatnya. Rasulullah Saw pun berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa”.

(Al-Majmu’: 6/279)

Pada hadits di atas, setiap hilal yang tampak pasti dilaporkan oleh para sahabat kepada Rasulullah Saw, yang kemudian menetapkannya (setelah melakukan validasi) dan menyuruh seluruh umat Islam untuk berpuasa. Artinya kewajiban puasa yang sifatnya untuk keseluruhan baru berlaku jika ditetapkan oleh pemimpin.

Tarbiyah menggunakan konsep wilayah al-hukmi terhadap status hilal awal Ramadhan. Artinya jika hilal terlihat di satu tempat manapun di negara ini yang kemudian ditetapkan oleh pemerintah, maka kewajiban puasa jatuh kepada setiap muslim yang berada di Indonesia. Pendapat ini kelihatannya mengandung nilai-nilai persatuan dan menghindari potensi perselisihan umat. Bahkan jika terjadi perbedaan pendapat dalam soal penetapan awal Ramadhan, tarbiyah menyerahkannya kepada keputusan pemerintah dengan tetap memberikan pandangannya. Kaedah “hukmual-hakimyarfa’ual-khilaf” (ketetapan pemerintah mengangkat seluruh perselisihan), dipakai dalam masalah ini.

Hisab sebagai penetapan awal Ramadhan

Syekh Sulaiman Ar-Rasuli menyatakan bahwa tidak harus puasa dengan hisab nujum taqdim (perbintangan) bilangan lima dan lain-lain sebagainya, karena bahwa Nabi kita Muhammad SAW tidak mengerjakan, tidak menyuruh dan tidak pula menetapkan masuk puasa dengan hisab dan lain-lain sebagainya, begitupun sahabat-sahabat r.a. Argumentasi yang dipakai sejalan dengan hadis yang telah disinggung di atas. Pendapat beliau ini juga merupakan pendapat yang terkuat dalam mazhab syafi’i. Imam Nawawi berkata dalam Al-Majmu’:

إذا غم الهلال وعرف رجل الحساب ومنازل القمر ، وعرف بالحساب أنه من رمضان فوجهان ، قال ابن سريج يلزمه الصوم ; لأنه عرف الشهر بدليل ، فأشبه من عرفه بالبينة ، وقال غيره لا يصوم لأنا لم نتعبد إلا بالرؤية ، وهذا كلام المصنف ووافقه على هذه العبارة جماعة

Jika hilal tertutup (awan), dan disaat yang sama ada pengetahuan dari pakar hisab dan pergerakan bulan, lalu diketahui dengan metode hisab bahwa malam tersebut adalah bulan Ramadhan, maka ada dua wajh . Berkata Ibnu Sureij: “Wajib puasa, karena pakar hisab tersebut mengetahui masuknya bulan dengan dalil. Hal ini sama saja dengan orang yang mengetahui masuknya bulan dengan persaksian”. Dan berkata fuqaha’ selainnya: “Tidak wajib puasa, karena kita tidak beribadah (menetapkan jatuhnya ibadah Ramadhan) kecuali dengan ru’yah. Ini adalah pendapat pengarang (Imam Abu IshaqAsy-Syairazi) dan disepakati oleh banyak fuqaha’ (dalam mazhab syafi’i).

(Al-Majmu’: 6/279)

Fungsi Hisab

Yang harus digarisbawahi adalah tarbiyah tidak sepenuhnya menolak hisab. Sebagai ormas yang bermazhab syafi’i, tarbiyah sepakat dengan pendapat beberapa ulama mutaakhkhirindalam mazhabsyafi’i tentang hisab. Hisab digunakan dalam hal tertentu seperti penetapan arah kiblat dan penentuan waktu salat. Selain itu, hisab tetap digunakan berkenaan dengan awal Ramadhan. Hisab difungsikan untuk menegasikan atau menolak kemungkinan terlihatnya hilal. Hal ini dijelaskan oleh Imam Al-Qalyubi dalam hasyiyahnya terhadap syarhAl-Mahalli:

إذا دل الحساب القطعي على عدم رؤية الهلال لم يقبل قول العدول برؤيته، وترد شهادتهم وهو ظاهر جلي، ولا يجوز الصوم حينئذ

Jika hisab yang valid menunjukkan ketidakmungkinan terlihatnya hilal, maka tidak bisa diterima pendapat orang-orang yang ‘adil tentang telah terlihatnya hilal. Kesaksian mereka ditolak. Hal ini sangat jelas. Dan (hukumnya) tidak boleh berpuasa ketika itu (berdasarkan pendapat orang yang ‘adil tersebut).

(HasyiyahAl-Qalyubi: 2/49)

Bahkan Imam TaqiyuddinAs-Subki dalam ‘fatawaas-subki’ menyatakan bahwa status hisab falak tersebut qath’i (valid). Status itulah yang membuat hisab sangat mungkin dijadikan alat untuk menolak pernyataan saksi jika secara ilmiah hisab menyatakan ketidakmungkinan terlihatnya hilal. As-Subki berkata:

والبينة شرطها أن يكون ما شهدت به ممكناً حساً وعقلاً وشرعاً، فإذا فرض دلالة الحساب قطعاً على عدم الإمكان استحال القول شرعاً، لاستحالة المشهود به، والشرع لا يأتي بالمستحيلات أما شهادة الشهود فتحمل على الوهم أو الغلط أو الكذب

Syarat persaksian adalah bahwa objek yang disaksikan (dalam hal ini hilal) bersifat mungkin (diketahui atau dilihat) baik secara kasat mata, oleh akal (ilmu pengetahuan) dan secara syara’. Jika penunjukan hisab menetapkan secara pasti atas ketidakmungkinan (hilal tersebut), maka dianggap mustahil perkataan (saksi) secara syara’, karena objek yang disaksikan juga bersifat mustahil. Padahal syara’ tidak mungkin datang dengan yang mustahil. Sedangkan pernyataan saksi bisa saja mengandung wahm, keliru atau bahkan kedustaan.

(FatawaAs-Subki)

Pada prakteknya, rukyah digunakan bergandengan dengan hisab. Hisab digunakan untuk memprediksi kapan terlihatnya hilal dengan batas minimum (kemungkinan hilal bisa terlihat). Jika tidak terlihat, maka bulan sya’ban disempurnakan menjadi 30 hari. Pendapat inilah yang dipakai oleh ulama syafi’iyah mutaakhkhirin dan diamalkan oleh tarbiyah.

Dalam masalah penetapan kiblat dan waktu salat, tarbiyah  memakai hisab penuh. Alasan kenapa hisab dipakai dalam penentuan kiblat dan waktu salat namun tidak dipakai dalam penetapan awal Ramadhan adalah untuk ihtiyath (kehati-hatian). Puasa adalah ibadah yang mudhayyaq (waktunya pas) sehingga jika meleset sedikit saja menjadi tidak sah. Waktu puasa tidak bisa ditunda. Sedangkan salat adalah ibadah yang muwassa’ (waktunya lapang) sehingga ketidakpastian hisab bisa diberikan solusi berupa koreksi waktu (bisa dilebihkan sedikit dari hitungan). Hal ini tidak bisa berlaku pada puasa.

Kesimpulan

Tarbiyah menetapkan awal Ramadhan mengikut kepada pendapat-pendapat yang kuat dalam mazhab syafi’i. Awal Ramadhan ditetapkan dengan cara rukyah atau menyempurnakan bilangan sya’ban 30 hari. Soal hisab, tarbiyah mengikut kepada pendapat yang menyatakan bahwa hisab bisa digunakan untuk menegasikan ketidakmungkinan terlihatnya hilal. Hisab tidak bisa digunakan sebagai sumber primer atau sumber independen untuk menetapkan awal Ramadhan. Wallahua’lambis-shawab[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY