Ceramah untuk Ceramah

Ceramah untuk Ceramah

831
0
Ilustrasi/Dok.Istimewa

Ceramah agama dan Ramadhan itu layaknya suami istri, bisakah dibayangkan kalau di bulan Ramadhan ceramah agama itu tidak ada? Ya bisa, contohnya saya. Waktu kecil di malam Ramadhan saya tidak pergi ke masjid yang dipenuhi  jadwal ceramah agama, tapi ke surau yang tarawihnya dua puluh rakaat –meskipun saya pernah ketiduran saat sholat, apesnya kesialan itu terjadi ketika sujud- jadi, bagi saya saat itu Ramadhan hanya dua saja; puasa dan tarawih, tidak ada ceramah.

Sementara hari ini ceramah agama dan bulan suci Ramadhan adalah keniscayaan. Saya juga tidak tahu kenapa. Barangkali karena ceramah agama merupakan instrumen penting, misalnya untuk memberi pencerdasan bagi masyarakat, momen bagi para “ustadz” yang cuma butuh satu judul ceramah untuk tiga puluh hari (yang tentunya di masjid yang berbeda), atau buat bahan ketawa-ketawa, atau ngantuk-ngantukan sebelum sholat Tarawih dimulai. Apapun itu yang jelas ceramah agama itu penting di bulan Ramadhan, dan tak dapat ditawar-tawar lagi. Kapan perlu di setiap waktu sholat.

Karenanya, tidak boleh menyalahkan keberadaannya, apalagi di tengah-tengah realitas sosial yang semakin banal. Pada dasarnya da’wah sangat dibutuhkan, bahkan dari sono-nya Rasulullah SAW telah menyampaikan, “ballighu ‘anniy walau aayah!!”. Sampaikanlah walau satu ayat. Tapi barangkali tidak cukup sampai di sana. Pertanyaannya kemudian adalah “apa yang mau disampaikan?”. Dakwah seperti apa yang akan dijejalkan kepada masyarakat seiring berkembangnya realitas? Jika saya dihadapkan kepada pertanyaan seperti ini -seandainya saya sebagai “ustadz”-saya pasti akan terpetai-petai (kewalahan) menjawabnya, sebab bagi saya ceramah agama itu tidak sesederhana “otalapau” atau barangkali karena saya bukan pakar ceramah seperti Mama Dedeh, ustadz Maulana, ustadz Solmed, dan ustadz Guntur Bumi, maupun “televeangelis” lainnya yang senantiasa tampil sempurna di layar kaca.

Baiklah, terus terang tulisan ini sebenarnya berangkat dari kegelisahan pribadi saya terhadap pola ceramah itu sendiri. Dalam hal ini, saya sangat sepakat dengan apa yang disampaikan Gus Mus di media Tempo. Ceramah agama itu tak cukup dengan tahu sepenggal ayat lalu dijelaskan melalui mimbar. Ujuk-ujuk sudah menjadi ustadz. Lho, ustadz kok tiba-tiba? Tiba-tiba memakai surban. Tiba-tiba berjenggot. Tiba-tiba mendapat gelar ulama, ustadz atau syeikh. Tampil sekali di televisi, tiba-tiba menjadi ulama. Anggota MUI tiba-tiba jadi ulama, padahal cuma sekretaris yang duduk di struktural kepengurusan, dan “tiba-tiba” yang lain.

Menjadi penceramah tidaklah mudah. Satu hal yang sepertinya kita sepakati adalah bahwa penceramah mesti memiliki kompetensi. Kompetensi di sini tidak perlu juga serupa dengan kompetensi guru dan dosen seperti yang tertera pada UU No.1 tahun 2004 yang sangat rumit itu, atau memiliki kompetensi seperti seorang peneliti yang paham dengan teori dan metodologi karena tidak mungkin juga seluruh masyarakat paham kalau teori itu disampaikan, justru mumet. Tapi setidaknya penceramah mesti paham dengan apa yang dibutuhkan terkait kondisi dan masalah masyarakat. Bahkan saya sempat berpikir, sebelum ceramah seorang pencemarah harus analisis sosial terlebih dahulu, konsekuensinya di setiap masjid berarti ceramahnya harus beda.

Menurut saya Ramadhan itu adalah momen berharga, dimana masyarakat pada umumnya berangkat ke masjid, meskipun hanya ramainya pada awal Ramadhan dan ujung-ujungnya tinggal imam, muazin, dan dan tiang masjid. Tapi justru disana momentum bagi para penceramah untuk menyampaikan sesuatu yang berharga juga bagi masyarakat. Sayang sekali, seandainya momentum ini hanya digunakan untuk menyampaikan kewajiban puasa, rukun puasa, atau syarat sah puasa. Setiap Ramadhan hampir setiap penceramah menguraikan sedemikian rupa surat al-Baqarah ayat 183 di sepuluh malam pertama Ramadhan. Padahal, ayat yang satu ini senantiasa disampaikan setiap tahun, dan sepertinya jamaah tarawih pun sudah hafal semua. Nah, kalau udah ke ujung-ujung puasa yang jamaahnya tinggal satu atau dua orang saja, barulah isi ceramahnya banting stir dari soal puasa.

Apakah ceramah agama di setiap bulan Ramadhan mesti seperti itu? Saya khawatir ceramah agama hanya menjadi formalitas belaka, ceramah itu hanya untuk ceramah, bukan ceramah untuk sesuatu. Guru saya juga pernah mengatakan membaca buku itu jangan untuk membaca, tapi membacalah untuk menulis. Kalau membaca untuk membaca sering hilang, gak nyangkut di kepala. Tapi kalau untuk menulis cepat ingatnya, atau setidaknya tulisan itu menjadi karya. Jadi, kalau ceramah untuk sesuatu mestinya ceramah lebih bisa dikembangkan, kemudian penceramah dapat dinobatkan sebagai penceramah yang berkarya, bukan hanya menjadi penceramah yang populis.

Sebenarnya saya yakin dan percaya kalau penceramah yang telah memiliki banyak jam terbang, mampu melakukan dakwah dengan metode yang baik. Dengan bekal itu sebenarnya mereka telah memiliki kompetensi dalam mengelola ceramah, dapat membuat jamaah tidak ngantuk, dan sekali-sekali diselingi dengan guyonan yang membuat suasana ceramah semakin mengasyikkan. Apalagi ustadznya tampan dan muda, bisa-bisa diambil jadi menantu oleh jamaah. Karenanya, pada bagian ini tidak ada persoalan yang begitu mencolok untuk kita bahas lebih lanjut. Perlu diakui, tidak mudah untuk membuat jamaah betah dengan apa yang disampaikan. Hanya saja alangkah lebih baik jika setelah ceramah usai apa yang disampaikan tidak usai.

Sekali lagi ceramah itu penting, tetap penting. Jika ada yang mengatakan, ceramah agama itu tidak ada signifikansinya, barangkali dia bukan sarjana dakwah, kemungkinan besar sarjana filsafat. Disini yang menjadi masalah adalah oknum penceramahnya, bukan ceramahnya.

Oleh sebab itu, jika ada kalangan yang akan mendedikasikan dirinya secara tulus dan ikhlas untuk membangun masyarakat melalui ceramah, agaknya perlu sedikit banyaknya mempertanyakan kembali, ceramah itu untuk apa?

Sebagai penutup kata, tulisan ini sebenarnya bukan untuk ceramah. Jika tulisan ini berbau kedegilan. Tidak apa-apa, anggap saja saya sedang berharap menjadi seperti Jose Mourinho (meski saya benci dia), Andre Villas-boas, Arsene Wenger, atau Arrigo Sacchi yang tak pandai main bola, tapi pintar strategi dan taktik bermain bola. Ya, ga masalah, yang menjadi masalah sepertinya pemain bola yang tidak paham taktik bola. Striker itu fungsinya untuk mencetak gol bukan menjaga gawang. Nah, kalau menjadi penceramah itu, untuk apa? []

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY