Diskusi Mazhab Pemikiran, antara Hanafi dan al-Jabiri

Diskusi Mazhab Pemikiran, antara Hanafi dan al-Jabiri

172
1

Pada awalnya, buku ini terjemahan dari majalah Hawa al-Masyriq wa al-Maghrib: Talihi Silsilah al-Rudud wa al-Munaqasat. Majalah ini, diterbitan di Paris tahun 1989 dan Kairo 1990. Majalah ini bertujuan untuk mendiskusikan seputar isu-isu Arab-sentris, dengan menghadirkan budayawan Arab. Dialog tersebut diterbitkan dalam dua periode dalam rentang Maret hingga November 1989. Dalam periode pertama, rentang waktu 10 minggu, mendiskusikan seputar liberalisme, fundamentalisme, persatuan Arab (PanArabic), dan Nasserisme. Dialog ini melibatkan Hasan Hanafi, seorang pemikir Islam dari Mesir, juga Muhammad ‘Abid al-Jabiri dari Maroko. Dan periode kedua kurang lebih 14 minggu, dengan menghadirkan komentar atau tanggapan atas wacana yang dilontarkan oleh kedua tokoh tersebut.

Sekarang Hawa al-Masyriq wa al-Maghrib: Talihi Silsilah al-Rudud wa al-Munaqasat telah hadir dalam bentuk bahasa Indonesia, dengan judul Dialog Timur dan Barat, Menuju Rekontruksi Metodologi Pemikiran Politik Arab yang Progresif dan Egaliter. Buku ini merupakan kumpulan makalah dari Hasan Hanafi dan Muhammad ‘Abid al-Jabiri, komentar beberapa tokoh atas makalah atau lebih tepatnya terhadap wacana yang dilontarkan, serta tanggapan atas komentar. Buku ini merupakan cetakan pertama, tepatnya Oktober 2015, diterbitkan oleh IRCiSoD, dengan jumlah halaman 388; 15.5 x 24 cm. Saya akan mencoba mengulas buku ini ke dalam dua bagian, dan ini merupakan bagian yang pertama.

Sejak permulaan abad ke-20, Setelah melewati 400 tahun masa kehidupan di bawah kekuasaan Dinasti Utsmaniyah, bangsa Arab mulai bangkit melakukan pembaruan di bidang pemerintahan. Bangsa Arab mulai mengekspresikan eksistensi politiknya di tengah-tengah banyak negara di dunia, apakah itu di Masyriq maupun di Maghrib. Semisal, lahirnya gerakan Nasserisme tahun 1954 yang dipelopori oleh Jamel Abdel Nasser. Gerakan ini tersebar luas semenjak meninggalnya Jamal Abdel Nasser tahun 1970.

Di bawah gerakan Nasserisme bangsa Arab mulai mengambil posisi sekaligus peserta pendiri organisasi wilayah yang terpencar-pencar, termasuk organisasi persatuan negara-negara Afrika, mengambil peran dalam pendirian organisasi produsen minyak bumi OPEC, dan lain-lain. Tetapi gerakan Nasserisme belum mampu menciptakan nalar politik Arab dan belum mampu memberikan jawaban dari yang mengkritiknya. Anwar Saddat yang menjadi presiden Mesir sesudah Abdel Nasser tidak mampu mengejewantahkan model gerakan Nasserisme dan menandatangani perjanjian Camp David.

Setelah itu, para penentang Nasserisme berusaha mencari wacana politik rasionalisme yang bebas dari kritikan Nasserisme, serta sesuai dengan kondisi sosial Arab. Di tahun 1970-1975, marxisme berkembang pesat di wilayah Arab, khususnya di Yordania, Lebanon, Sudan, Mesir, Suriah, dan Irak. Puncaknya adalah penerimaan sistem hukum yang berlaku di Yaman Selatan. Namun, keemasan marxisme tidak berlangsung lama, karena mengalami kegagalan, berbentuk kemiskinan, di negara-negara tersebut.

Tahun 1979 meletusnya revolusi Iran. Paham fundamentalisme adalah pandangan yang dipakai gerakan Islam ketika itu, namun gerakan ini belum mendapatkan perhatian besar di kalangan Arab. Sampai saat ini, dunia Arab masih menyisakan akselerasi dengan tingkatan yang berbeda, ada yang lemah dan ada yang kuat. Selain itu ada juga paham politik Nasionalisme, Sosialisme, dan Liberalisme.

Sebelum dilanjutkan, ada sebuah pertanyaan yang sekiranya perlu untuk di jawab: Apakah dialog ini bisa dikatakan semacam pengantar dari rekonstruksi tersebut? Fhaisal Jalul dalam prawacana: Menuju Cakrawala Kritik dan Dialog mengatakan, usaha dalam melakukan rekonstruksi telah di mulai dari beberapa fokus metodologi yang telah di susun, di antaranya; Pertama, Arabisme dan Islam. Kedua, Arabisme, Liberalisme, dan Marxisme. Ketiga, Arabisme dan Komunikasi Politik Universal. Keempat, Arabisme dan Ideologi Domestik (Nasionalisme).

Komentar Terhadap Majalah

Pengambilan tema dialog Masriq dan Maghrib yang dipilih majalah ini mendapatkan komentar dari beberapa tokoh. Semisal; Mengapa dialog tersebut dinamakan Masyriq dan Maghrib? bukankah penyebutan Masyriq dan Mahgrib adalah penetapan terhadap klasifikasi kolonial terhadap negeri Arab? Bukankah penyebutan Masyriq dan Maghrib ingin menunjukkan kontribusi dalam mempopulerkan deskripsi kolonialisme terhadap mistisisme Timur dan rasionalisme Barat? Dan beberapa pernyataan yang lain.

Dalam diskusi ini, Hanafi sendiri tidak menggunakan istilah Masyriq atau Mahgrib. Menurutnya pembagian ini (masyriq dan mahgrib) adalah istilah yang dibuat dalam era kolonialisme. Pembagian tersebut dibuat dengan dua tujuan; Pertama, Pengkotak-kotakkan dunia Islam dan Arab. Kedua, pembagian dunia Arab menjadi Masyriq dan Maghrib. Oleh karenanya ia lebih suka dengan ungkapan Mesir dan Maroko. Faishal Jalul dalam pengatar buku ini menjelaskan, bahwa penyebutan Masyriq dan Maghrib hanya berdasarkan geografis, tidak terkait dengan konsep yang dikembangkan oleh kolonialisme. (Baca juga: Menghapus Trauma Sejarah antara Timur dan Barat)

Tidak hanya itu, pertanyaan terus dilancarkan; Kenapa tokoh yang di ambil Hasan Hanafi sebagai representasi dari Masyriq dan Muhammad al-Jabiri dari Maghrib? Faisal menjelaskan bahawa pengambilan itu melahirkan kesulitan-kesulitan berkaitan dengan karya yang diinginkan, tingkat idealisme, dan penentuan tujuan dialog. Ditambahkan lagi, tidak ada mimbar ilmiah manapun yang mengkultusan seseorang, atau pemberian kesempatan bagi seseorang, atau pembunuhan kreativitas seseorang. Sebuah karya ilmiah dapat mengangkat seseorang sekaligus memperburuk citra penulisnya. Maka, pilihan para penulis yang didasari parameter merupakan kesalahan yang cukup fatal dalam jurnalistik.

gambar bukuDialog yang di susun oleh majalah Al-Yawm al-Sabi’ ini, merupakan sebuah dialog pemikiran dan sekaligus mencoba memeriksa mazhab-mazhab pemikiran yang sudah ada di negeri Arab, guna untuk menyatukan Arab secara multi-regional, atau yang lebih kita kenal dengan (Pan-Arabic). Konsep penyatuan tersebut, terlihat pada sesi ke empat dari dialog ini. Al- Jabiri mengatakan bahwa konsep ‘persatuan’ telah dimulai di negara Arab dalam periode 50-60an, kini telah selesai dengan berdirinya negara-negara lokal Arab. Untuk sekarang persatuan hanyalah bermakna satu, yaitu menghancurkan batasan-batasan negara lokal yang menjadi sekat, serta menjadikannya sebagai prinsip dasar untuk membangun persatuan. Ungkapan ‘manifestasi persatuan’ harus diganti dengan ungkapan ‘rekonstruksi persatuan’. Maka dengan itu proyek-proyek persatuan  akan terjadi di masa yang akan datang.

Dialog yang digagas untuk mencapai mazhab pemikiran rasionalisme Arab (dan Pan Arabic) terlebih dahulu dimulai oleh Hasan Hanafi. Hanafi melontarkan sebuah gagasan Al-Firqah Al-Najiyta (golongan yang selamat). Hanafi mengatakan bahwa, umat saat sekarang ini, sedang mengalami malapetaka yang sangat berbahaya, yaitu tentang golongan yang selamat. Permasalahan tersebut berangkat dari sebuah hadist yang berbunyi; ‘Umatku akan terpecah kepada 73 golongan, yang seluruhnya akan masuk neraka kecuali satu. Lalu ditanya; siapakah satu golongan itu? Rasullah Saw menjawab; golongan yang mengikutiku dan para sahabatku’.

Al-Jabiri mengatakan, ulama Masyriq pernah melakukan ijtihad dengan mengelompokan 72 yang sesat dan satu yang selamat. Hal itu tidak bersesuaian dengan rasio dan Syar’i. Karena setiap perkembangan zaman, kita akan menemukan sesuatu yang bid’ah (kreativitas). Tidak ada makna apapun yang bisa menentukan mana yang sesat dan mana yang selamat. Lagi pula Rasullah Saw tidak menyebutkan nama golongan yang selamat. Maka oleh karenanya, yang ada hanyalah metode untuk menuju keselamatan bukan untuk menetukan mana yang sesat dan mana yang selamat.

Hanafi mengemukakan, ada empat kekuatan nasional-Arab yang signifikan untuk didialogkan, keempatnya berada dalam wilayah budaya. Pertama, gerakan Islam yang lahir dari tradisi Islam asli, yang telah menancapkan pengaruhnya semenjak 1400 tahun yang lalu. Kedua, liberalisme yang dimulai semenjak hubungan Arab dengan modernisme Barat sejak 200 tahun yang lalu. Ketiga, Marxisme yang telah ada di awal permulaan abad ini, di belahan Masyriq sebelum ke belahan Maghrib. Keempat, Nasionalisme Arab, Nasserisme, sosialisme Arab. Paham tersebut telah menjadi alternasi bagi sebagian besar budayawan dan sastrawan di Maghrib dan sekelompok kecil pelaku industri besar di Masyriq.

Hanafi mengarahkan dialog ini kepada tujuh persoalan besar, agar tidak hanya bermain di ranah teori saja, yaitu;

  1. Kemerdekaan dunia
  2. Kebebasan umum
  3. Keadilan sosial
  4. Persatuan versus perpecahan
  5. Indentitas (jati diri) versus westernisasi
  6. Kamajuan vis a vis keterbelakangan
  7. Pemberdayaan masyarakat vis a vis laice faire.

Muhammad ‘Abid al-Jabiri dalam dialog yang ia lakukan dengan Hasan Hanafi menemukan titik persamaan. Namun di sisi lain juga ada perbedaan, bahkan keduanya sampai melakukan kritikan subjektif atas masing-masing bangunan pemikiran. Dalam bagian yang kedua nantinya saya akan mencoba membahas; Bagaimana konsep pemikiran yang akan mereka bangun.[]

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY