Durian Terakhir

Durian Terakhir

141
0
Ilustrasi/Mujibur Rohman

Ranti adalah seorang murid sebuah sekolah swasta di kota Bamboo. Ia termasuk anak yang berprestasi dan terkenal tertutup. Ranti sering juga mendapat prestasi di bidang sastra dan olahraga. Tentu saja hal itu membuat teman-teman ingin berteman dekat dengannya. Namun, Terkadang Ia yang selalu moody membuat teman-teman menganggapnya sombong dan suka memilih-milih teman. Padahal mereka tidak mau tau betapa besarnya perjuangan Ranti untuk melawan sifat moody-nya.

Pernah suatu ketika, saat Ranti duduk dikelasnya sambil membaca sebuah novel, tiba-tiba seseorang bernama Fakhri mendekatinya dan mengajak Ranti berbicara sebentar tanpa menghiraukan keseriusan Ranti. Tentu saja, Ranti merasa terganggu dan mencoba tetap berbicara sopan terhadap Fakhri. Namun, entah seberapa penting yang akan dibicarakannya, tiba-tiba  Fakhri merebut novel yang sedang dibaca Ranti dan mencampakkannya ke arah dinding, sehingga novel itu rusak. Melihat perlakuan yang ia dapatkan, lantas Ranti marah dan memilih pergi setelah terlebih dahulu mengambil novelnya. Sejak saat itu, pertemanan antara Ranti dan Fakhri menjadi jarak, meski tetap bertegur sapa.

Ranti yang suka menulis seringkali duduk di belakang rumahnya sambil menunggu durian jatuh. Memang sih, Ranti tidak terlalu suka makan durian, namun jika ada durian yang jatuh tentu ia akan ikut memakannya.

Suatu hari, saat Ranti selesai menjemur pakaian yang ia cuci, ia melihat-lihat durian kalau-kalau ada yang sudah matang. rupanya ada sebuah yang baunya sudah harum. Meskipun Ranti tidak mengerti cara menentukan mana durian yang sudah matang, ia sangat yakin kalau durian itu telah matang.  Ranti lalu membelah durian tersebut dan tepat! Durian itu matang dan harum sekali. Tentu saja Ranti tidak lansung memakan durian itu, ia letakkan di sebuah piring kecil karena hanya berisi beberapa biji saja. Dengan mengucap syukur kepada Allah, Ranti membawa sepiring durian ke depan neneknya yang sedang duduk-duduk di beranda rumah.

“Nenek nggak boleh makan durian Ranti, nanti kepala nenek sakit lagi. Ranti aja yang makan ya” begitulah nenek menjawab tawaran Ranti.

Sebenarnya Ranti tahu kalau nenek tidak boleh makan durian, tetapi ia tetap menawarkanya untuk menjaga adab seorang cucu terhadap neneknya. Akhirnya, Ranti lah yang memakan durian yang ternyata berjumlah tujuh biji itu.

Setelah memakan durian tersebut, Ranti merasa kepalanya pusing dan badannya mengeluarkan keringat dingin. Tak lama setelah itu Ranti lemas sampai tidak sadarkan diri. Ayah Ranti yang merasa khawatir terjadi apa-apa tentang kesehatan anaknya, membawa Ranti ke rumah sakit terdekat di kota Bamboo.

Tiga jam setelah itu, Ranti masih belum sadar. Tentu saja, keluarganya khawatir dan langsung memberitahu teman dan guru Ranti tentang musibah itu. Satu jam setelah itu, Ranti sadar dan langsung menanyakan di mana keberadaannya dan kenapa bisa ia berada di sana. Setelah diceritakan barulah Ranti paham.

Dokter memeriksanya kembali. beberapa saat kemudian, dokter itu keluar dari ruangan di mana Ranti terbaring lemah dan memberitahukan kepada keluarga Ranti bahwa Ranti memiliki penyakit yang menyebabkan ia tidak baik mengonsumsi durian meski satu biji pun. Tentu saja keluarga Ranti dan semua yang hadir waktu itu merasa kaget dan sedih. Namun apa hendak dikata, Ranti bahkan tidak pernah mengeluh tentang sakit yang dideritanya. Ranti selalu tampak sehat dan ceria.

Dua hari sudah berlalu, dan Ranti masih dirawat. Meski baru dirawat dua hari, sudah kelihatan bahwa badan Ranti kurus secara drastis. Hingga, suatu malam Ranti bercerita tentang perjalanan hidupnya yang indah karena ia menikmati dan mensyukurinya. Ranti juga minta maaf pada semua keluarganya karena tidak pernah memberitahu sakitnya tersebut, namun ia telah ikhlas menerimanya. Tentu saja yang mendengar kata-kata Ranti kala itu merasa sedih dan haru atas kondisi Ranti yang sedang sakit namun, masih bisa tersenyum dan penuh semangat.

Seolah tahu bahwa kesempatannya sudah terlalu singkat berada di dunia fana. Ranti minta dibawakan buku dan pena oleh ibunya. Lalu, Ranti menulis meski tulisanya tak lagi setegar tiga hari lalu ketika ia menulis di belakang rumah sambil menunggui durian. Ternyata, Ranti menulis sebuah puisi dan ia titipkan pada Rasyad sahabat kecilnya dulu, yang malam itu menemaninya di rumah sakit. Menerima titipan itu tentu Rasyad merasa sedih dan mulai dirasuki rasa takut kalau-kalau ia kehilangan Ranti sahabat kecilnya dulu.

Pukul dua dini hari, Ranti melepas nafas  terakhirnya. Tampak damai wajah Ranti pergi menemui Tuhan. Rasyad yang mendampinginya tentu tak mampu menahan tangis kehilangan sahabat kecilnya yang pintar itu.

Hari itu semua berduka atas kepergian dirinya. Ia tinggalkan sebuah puisi,

Durian terakhir

Pagi itu

Setelah kujemur cucian

Terusik Pikiranku oleh sebuah durian

Durian kecil

Ku hitung-hitang hanya tujuh biji saja

Ku tawarkan pada nenek

Nenek menolak dengan halus

Meski ku tau nenek dilarang makan durian

Aku tentu harus menjaga adab

Ah, tak ku sangka

Belum puas ku berkarya

Belum terbahagiakan ayah dan ibu

Serta keluarga

Durian telah menyapa

Jangan caci dia

Dia hanya durian terakhir

Yang mencoba memenuhi keinginanku

Maaf ku pinta pada semua

Ini sudah jalan takdir ku

Mohon ikhlaskan diri ini menemui-Nya

Kita akan bertemu disisi-Nya []

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY