Fikih Kurban (Bag I)

Fikih Kurban (Bag I)

645
0
Ilustrasi/Dok.Istimewa

Kurban atau dalam bahasa arab disebut dengan Udhhiyah (اضحية) menurut bahasa adalah sebutan bagi hewan yang disembelih pada hari raya Idul Adha. Sedangkan menurut terminologi fikih, uddhiyah adalah penyembelihan hewan tertentu dengan niat ibadah kepada Allah Swt yang dilaksanakan pada waktu tertentu. Dalam bahasa arab, selain kata اضحية, kurban juga diartikan dari kata الأضحية, اضاحي, ضحية, ضحايا, اضحاة, اضحى . Akar kata Udhhiyah ini mirip dengan kata dhuha (ضحى) karena biasanya hewan kurban disembelih pada waktu Dhuha. Kurban disyariatkan pada tahun kedua hijriyah.

Dalil Pensyariatan

  1. Al-Qur’an

Firman Allah Swt dalam surat Al-Kautsar ayat 2:

         Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.

Firman Allah Swt dalam surat Al-Hajj ayat 36:

         Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi´ar Allah…

  1. As-Sunnah

Ada banyak hadits yang menjelaskan tentang pensyariatan kurban, diantaranya:

Hadits dari Anas bin Malik ra,

ضحى النبي صلى الله عليه و سلم بكبشين املحين القرنين ذبحهما بيده و سمي و كبر و وضع رجله على صفحاتهما

Rasulullah Saw berkurban dengan dua ekor kambing kibas berwarna putih dan bertanduk. Beliah menyembelihnya dengan tangannya, membaca bismillah dan takbir sambil meletakkan kaki beliau ke atas leher bagian samping keduanya. (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits dari Aisyah ra,

ما عمل ابن ادم يوم النحر عملا احب الى الله تعالى من اراقة الدم انها لتأتي يوم القيامة بقرونها و اظلافها و اشعارها و ان الدم ليوقع من الله عز و جل بمكان قبل ان يقع على الأرض فطيبوا بها نفسا

Tidak ada amalan anak cucu Adam pada hari Idul Adha yang lebih dicintai Allah Swt daripada mengalirkan darah hewan (kurban). Ia pasti akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kaki dan bulunya. Dan sesungguhnya darah kurban akan menetes di suatu tempat yang dikehendaki Allah sebelum jatuh ke tanah. Maka baikkanlah (ikhlaskanlah) kurban kalian. (H.R. Al-Hakim, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi)

  1. Ijmak

Seluruh ulama sepakat (ijmak) bahwa kurban adalah salah satu ibadah yang disyariatkan oleh Allah Swt. Hadits-hadits dengan sangat jelas telah menyatakan bahwa kurban adalah salah satu ibadah yang sangat disukai pada hari raya Idul Adha. Dan hewan kurban yang disembelihkan dengan ikhlas karena Allah Swt akan datang pada hari kiamat sesuai dengan sifat-sifatnya ketika disembelihkan.

Hikmah Kurban

Ada banyak hikmah yang tersimpan dibalik pensyariatan ibadah kurban. Diantaranya adalah ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt atas segala macam nikmat yang diberikanNya, terutama nikmat iman dan umur sehingga manusia dapat bertemu kembali dengan momen Idul Adha dan kurban.

Selain itu, pahala dan keutamaan yang besar dalam ibadah kurban diharapkan dapat menjadi pelebur dosa-dosa (kecil) yang dimiliki selama ini serta penambal ibadah yang kurang sempurna. Kurban juga mengajarkan manusia untuk berbagi yang terbaik kepada sesama manusia terutama yang kurang mampu. Hal ini akan menumbuhkan kepedulian sosial diantara sesama manusia.

Hukum Kurban

Mayoritas ulama mazhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali menyatakan bahwa hukum kurban adalah sunah muakkad bagi orang Islam yang diberikan kelebihan harta (kesanggupan). Oleh karena itu, sangat dimakruhkan meninggalkan ibadah kurban bagi orang-orang yang mampu. Pendapat ini juga merupakan pendapat yang dipakai oleh kebanyakan sahabat dan tabi’in. Sedangkan mahzhab hanafi mengatakan bahwa hukum kurban adalah wajib.

Dalil mayoritas ulama, diantaranya:

  1. Hadits dari Ummu Salamah ra,

اذا رأيتم هلال ذي الحجة و اراد أحدكم ان يضحى فليمسك عن شعره و اظفاره

Jika kalian telah melihat hilal bulan dzulhijjah dan kalian ingin berkurban, maka hendaklah ia tidak memotong rambut dan kukunya. (H.R. Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

Hadits di atas mengaitkan ibadah kurban dengan redaksi “keinginan”, dan hal tersebut menunjukkan ketidakwajiban kurban.

  1. Kurban adalah ibadah yang jika luput maka tidak diqadha. Andai kurban itu wajib, maka seyogyanya ia diqadha atau memiliki pengganti.
  1. Hadits Ibnu Abbas ra,

ثلاث هن علي فرائض و هن لكم تطوع الوتر و النحر و صلاة الضحى

Ada tiga ibadah yang wajib atasku namun sunah bagi kalian yaitu witir, kurban dan shalat dhuha. (H.R. Ahmad dan Al-Hakim)

Dalil mazhab Hanafi, diantaranya:

  1. Rasulullah Saw melakukan kurban. Dan kita disuruh untuk meneladani perbuatan Nabi Saw.
  2. Hadits dari Abu Hurairah,

من وجد سعة فلم يضحى فلا يقربن مصلانا

Siapa yang diberikan kelapangan (kelebihan ekonomi) namun tidak berkurban maka janganlah ia dekati tempat shalat kami. (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah)

Beberapa Catatan

  1. Hukum kurban menjadi wajib jika seseorang bernazar untuk melaksanakannya.
  2. Dalam mazhab Syafi’i, kurban sangat dianjurkan untuk dilakukan setiap tahun dari setiap keluarga. Setidaknya satu orang dari masing-masing keluarga (yang diberikan kelapangan ekonomi) sangat disunnahkan untuk berkurban sebagai wakil dari keluarganya (hukumnya disebut sunnah kifayah). Bagi setiap muslim, setidaknya bercita-cita untuk pernah berkurban minimal satu kali seumur hidup.[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY