Fikih Kurban (Bag II)

Fikih Kurban (Bag II)

1040
0
Ilustrasi/Dok.Istimewa

       Kurban sangat dianjurkan bagi orang Islam, merdeka, baligh, berakal dan memiliki kesanggupan. Mazhab Syafi’i mengatakan bahwa tidak disyaratkan bagi orang yang kurban bahwa ia sedang menetap di kampungnya. Artinya bagi yang sedang dalam perjalanan atau tidak sedang berada di kampungnya pun juga dianjurkan untuk kurban. Hal ini karena Rasulullah Saw pernah berkurban seekor sapi untuk para istrinya di Mina.

Kurban disunahkan bagi orang-orang yang memiliki kesanggupan dalam arti kelapangan ekonomi. Mazhab Syafi’i menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kelapangan ekonomi adalah seseorang memiliki kelebihan harta (setelah membeli hewan kurban) untuk menutupi hajatnya dan keluarga yang harus ia nafkahi di hari raya dan hari tasyriq.

Syarat Sah Kurban

  1. Hewan kurban tersebut bebas dari cacat
  2. Hewan tersebut disembelih pada hari yang telah ditentukan yakni setelah selesai melaksanakan shalat hari raya Idul Adha dan khutbahnya (10 dzulhijjah) sampai akhir hari tasyriq (13 dzulhijjah). Jika disembelih sebelum atau sesudah waktu tersebut, kurban tidak sah.
  3. Niat

Kriteria Hewan Kurban

  1. Hewan kurban yang disembelih adalah hewan ternak (بهيمة الانعام) yang meliputi unta, sapi (termasuk kerbau), kambing dan domba dengan segala macam variannya yang biasa menjadi hewan ternak. Hewan yang bukan hewan ternak seperti antelop (sejenis sapi tapi dengan ukuran tubuh lebih kecil dan tanduknya bergelombang tegak lurus ke atas, mirip dengan kijang) tidak bisa dijadikan hewan kurban.
  2. Hewan yang terlahir dari persilangan antara hewan ternak di atas sah dijadikan hewan kurban
  3. Yang utama adalah kurban unta, kemudian sapi, lalu domba, dan kambing
  4. Hewan ternak yang akan dikurbankan tersebut telah mencapai usia yang disyaratkan yakni unta yang telah sempurna berusia 5 tahun dan masuk tahun ke 6, sapi dan kambing telah sempurna berusia 2 tahun dan masuk tahun ke 3, domba telah sempurna berusia setahun dan masuk tahun kedua.
  5. Hewan kurban tersebut harus bebas dari cacat, di antaranya: buta sebelah matanya dan jelas butanya, sakit dan jelas yang jelas sakitnya, pincang dan jelas pincangnya, sangat kurus dan tidak mempunyai sumsum tulang.
  6. Hewan yang akan dikurbankan tersebut adalah milik pribadi, bukan hasil merampok atau mencuri atau milik dua orang yang berserikat kecuali dengan izin teman serikatnya. Hewan tersebut juga bukan hewan gadai atau hewan warisan yang belum dibagi.
  7. Sangat disukai berkurban dengan kambing kibas yang tebal dagingnya. Secara umum, hewan ternak lainnya (yang akan dikurbankan) sangat disukai yang gemuk, banyak dagingnya, sempurna fisiknya dan bagus bentuknya.
  8. Dimakruhkan berkurban hewan yang putus atau rusak ekornya, putus atau sobek telinganya, rusak puting susunya, pantatnya tidak bagus, giginya ompong, tanduknya patah atau tidak bertanduk, hidungnya rusak dan gila.
  9. Dibolehkan urunan untuk sapi dan unta maksimal 7 orang. Sedangkan untuk kambing dan domba hanya boleh satu orang.

Beberapa ketentuan yang berhubungan dengan sembelihan

  1. Menyembelih sendiri (oleh yang berkurban) jika mampu. Jika tidak mampu, boleh mewakilkannya kepada orang muslim lain untuk menyembelihnya.
  2. Hadir pada saat penyembelihan.
  3. Si penyembelih menghadap ke kiblat dan membaringkan hewan sembelihan di sebelah kiri (juga menghadap kiblat).
  4. Menggunakan pisau dari besi setajam mungkin. Disunahkan ketika mengasahnya tidak dihadapan hewan yang akan disembelih.
  5. Disunahkan untuk tidak memotong rambut dan kuku orang yang berkurban semenjak masuk bulan dzulhijjah sampai hewan kurban disembelih.
  6. Disunnahkan membaca bismillah kemudian shalawat atas nabi, menghadap kiblat dan takbir sebelum atau setelah membaca bismillah, lalu berdoa “اللهم هذه منك و اليك / allahumma hadzihi minka wa ilaika”.
  7. Menyembelihnya dengan memotong kerongkongan dan tenggorokan serta dua urat lehernya. Tidak boleh mematahkan leher hewan sebelum benar-benar sudah mati.[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY