Hukum Akal

Hukum Akal

404
0
Ilustrasi/Dok.Istimewa
Ilustrasi/Dok.Istimewa

Tidak berbeda jauh dengan tokoh-tokoh Ahlussunnah wal Jamaah sebelumnya, Syekh Sulaiman Arrasuli juga menempatkan pembahasan hukum di bagian awal kitab akidah yang ditulisnya karena dinilai sebagai kunci untuk memahami permasalahan berikutnya. Memahami konsep hukum dengan baik dalam bab ini akan memberikan corak pemahaman yang stabil terhadap al-Qur’an dan Hadis. Sebaliknya, jika permasalahan hukum ini tidak dipahami dengan baik dikuatirkan akan menciptakan pemahaman yang rancu dan berpotensi kontradiktif dalam memahami hal-hal yang terkait dengan akidah meskipun sedang berinteraksi langsung dengan al-Qur’an dan Hadis.

Tak jarang ditemukan suatu sekelompok yang mengalami kerancuan logika dalam memahami fenomena-fenomena yang memiliki unsur mukjizat yang berkaitan langsung dengan fenomena di luar kebiasaan atau di luar hukum alam akibat pencampurbauran antara satu konsep hukum dengan hukum lainnya, seperti pencampuran antara hukum akal dengan hukum alam. Akibat kerancuan ini, dinginnya api yang membakar Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dianggap mustahil. Lautan yang terbelah oleh pecutan tongkat Nabi Musa ‘alaihissalam dianggap tidak masuk akal. Bulan purnama berkeping dua oleh isyarat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun dianggap tidak logis. Begitu juga karamah para wali yang di luar kebiasaan pun dianggap tidak dapat diterima nalar. Inilah di antara efek ketidakcermatan dalam mendudukkan konsep hukum dalam kajian akidah.

Secara garis besar, hukum dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yang pertama adalah hukum akal (al-Hukm al-‘Aqlî), dan yang kedua adalah hukum syari‘at (al-Hukm al-Syar‘î), kemudian yang ketiga adalah hukum alam (al-Hukm al-‘Adî). Di dalam al-Aqwâl al-Mardhiyyah, Syekh Sulaiman Arrasuli menjelaskan definisi dari masing-masing hukum ini dimulai dengan hukum akal.

السؤال   : ما معنى الحكم العقلي؟

الجواب   : والحكم العقلي ما يدرك العقل ثبوتَه ونفيه بلا توقف على تكرّر ولا وضعِ واضع، كإدراك ثبوت وجوب القدرة لله تعالى

Pertanyaan         : Apakah pengertian hukum akal?

Jawaban              : Hukum akal adalah sesuatu yang ketetapan atau ketiadaannya murni diterima oleh akal tanpa berpatokan kepada pengulangan sesuatu itu dan tanpa berpatokan kepada ketetapan syara‘. Seperti wajibnya sifat Qudrah (kuasa) bagi Allah ta‘âlâ.

Pengertian ini menegaskan bahwa sesuatu dapat diterima atau ditolak oleh akal sama sekali tidak memerlukan eksperimen material yang dilakukan berulang-ulang untuk membuktikan kebenarannya seperti eksperimen mengkonsumsi makanan yang pada akhirnya dapat diyakini bahwa dengan makanan kita menjadi kenyang karena memang keyakinan itu dilandasi oleh pola eksperimen yang dilakukan berulang-ulang sehingga menciptakan kesimpulan bahwa makan dapat mengenyangkan meskipun kebalikannya bisa saja terjadi menurut hukum akal. Begitu juga eksperimen menggesekkan mata benda tajam pada benda lunak yang mengakibatkan benda itu terpotong.

Eksperimen yang berulang-ulang dari generasi ke generasi ini memberikan kesimpulan bahwa jika benda tajam digesekkan pada benda lunak akan memotong benda lunak meskipun kebalikannya bisa saja terjadi menurut hukum akal, karena ketetapan yang dilakukan akal sama sekali tidak bergantung kepada eksperimen-eksperimen material ini, karena ketetapannya murni dan terbebas dari keterlibatan hukum lain, baik hukum syara‘ seperti kewajiban ibadah shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lain, maupun hukum alam seperti fenomena api membakar dan bersuhu panas.

Dari sini dapat dipahami bahwa tindakan yang dilatarbelakangi oleh sifat maha kuasa yang dimiliki Allah ‘azza wa jalla sama sekali tidak terhalangi oleh ketetapan hukum syari‘at dan hukum alam yang Dia ciptakan sendiri karena bisa saja Allah ‘azza wa jalla menetapkan hukum baru untuk perkara syari‘at seperti kewajiban shalat menjadi tidak wajib, ataupun menciptakan fenomena yang bertolak belakang dengan hukum alam seperti mengubah daya tarik grafitasi mejadi ke arah atas. Sehingga dalam konteks Ahlussunnah wal Jama‘ah segala keteraturan di alam dan hukum-hukum syari‘at yang bisa berubah di setiap masa para nabi, secara akal membuktikan bahwa Allah ‘azza wa jalla pasti memiliki sifat maha kuasa atau sifat qudrah.[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY