Ijma’: Awal Imsak dan Keyakinan Terbit Fajar

Ijma’: Awal Imsak dan Keyakinan Terbit Fajar

56
0

Pada bagian ijma‘ ulama mengenai fajar ini yang dilengkapi dengan keterangan riwayat dari para sahabat Nabi, terlahirlah hukum-hukum fikih yang berbicara tentang kasus keragu-raguan dalam antara dua pilihan masalah atau lebih. Dan dari itu semua terlahir jugalah sebuah kaedah fikih, yaitu:

اليقين لا يُزال بالشك

“Keyakinan tidak dapat dihilangkan oleh keraguan”

Dari sini dapat dipahami bahwa suatu amalan harus berlandaskan keyakinan, bukan keragu-raguan. Itulah prinsip yang diajarkan agama bagi pemeluknya agar hasil dari amalan itu tidak membuahkan kerapuhan dan waswas dalam diri pengamalnya lantaran dilandasi keragu-raguan.

Berikut adalah beberapa cuplikan dari ayat dan atsar para sahabat serta kesepakatan para ulama terkait menghentikan makan sahur harus dilandasi dengan keyakinan terbitnya fajar sebagai tanda dimulainya waktu berpuasa.

Allah subhânahu wa ta‘âlâ berfirman;

وكلوا واشربوا حتى تيبين لكم الخيط الأبيض من الخيط الأسود من الفجر

“Makan dan minumlah hingga fajar (shâdiq) telah tampak jelas olehmu” (Surat al-Baqarah, 187)

Ayat di atas menjelaskan bahwa makan dan minum dihentikan ketika waktu fajar subuh telah tiba, sehingga orang yang pada malam itu telah berbuka memulai lagi untuk menahan dari dari makan dan minum.

  1. Abu Bakr al-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata :

إذا نظر رجلان إلى الفجر فشك أحدهما فليأكلا حتى يتبين لهما

“Apabila dua orang laki-laki melihat ke arah fajar, lalu salah satunya ragu (apakah itu fajar atau tidak) maka hendaklah keduanya tetap makan hingga fajar itu benar-benar tampak”

(Riwayat Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf)

  1. Aun Ibn Abdillah (w.119H) meriwayatkan secara mursal, ia berkata :

دخل رجلان على أبي بكر وهو يتسحر، فقال أحدهما: قد طلع الفجر، وقال الآخر: لم يطلع بعد، قال أبو بكر: كل قد اختلفَا

“Ada dua orang yang datang ke tempat Abu Bakr ketika ia sedang sahur. Lalu salah satunya mengatakan fajar telah terbit namun yang satu lagi mengatakan belum. Abu Bakr menimpali: Makanlah, kalian berdua masih berbeda pendapat”

(Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf)

  1. Riwayat al-Hasan al-Bashri dari Umar Ibn al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu secara mursal:

قال عمر : إذا شك الرجلان في الفجر فليأكلا حتى يستيقنا

“Umar berkata: Apabila dua orang laki-laki ragu tentang terbit fajar maka tetaplah keduanya makan hingga yakin fajar telah terbit”

(Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf. Al-Hasan al-Bashri lahir saat dua tahun menjelang kepemimpinan Umar Ibn al-Khatthab usai yang ditandai dengan wafatnya beliau)

  1. Makhul dari Abdullah Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma:

عن مكحول قال: رأيت ابن عمر أخذ دلوا من زمزم، فقال لرجلين: أطلع الفجر؟ فقال أحدهما: لا، وقال الآخر: نعم، قال: فشرب

“Dari Makhul, ia berkata : Aku melihat Ibn Umar mengambil segayung air zamzam, kemudian ia bertanya kepada dua orang laki-laki apakah fajar telah terbit? Yang satu menjawab belum dan yang lain menjawab sudah. Lalu Ibn Umar tetap minum”

(Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf)

  1. Abdullah Ibn al-‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

أحل الله لك الشراب ما شككت حتى لا تشك

“Allah menghalalkan minum bagimu selama kamu masih ragu (waktu fajar) hingga akhirnya kamu yakin”

(Riwayat Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf)

  1. Riwayat ‘Atha’ dari Abdullah Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

عن عطاء عن ابن عباس قال لغلامين له، وهو في دار أم هانئ في شهر رمضان وهو يتسحر، فقال أحدهما: قد طلع الفجر، وقال الآخر: لم يطلع، قال: أسقياني

“Diriwayatkan oleh Atha’ dari Ibn ‘Abbas bahwa ia menanyakan perihal fajar kepada dua pembantunya ketika sedang sahur di rumah Ummu Hani’ pada bulan Ramadhan. Salah satunya menjawab sudah terbit dan yang lain menjawab belum. Kemudian Ibnu Abbas meminta minum kepada keduanya”

(Riwayat Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf)

Terkait azan Ibnu Ummi Maktum sebagai pertanda larangan melanjutkan makan sahur, di dalam Syarh Shahîh al-Bukhârî, Al-Imam Abu al-Hasan Ali Ibn Khalaf Ibn Abdil Malik Ibn Batthal (w.449H):

للإجماع أن الصيام واجب من أول الفجر

“Karena ada ijma’ bahwa berpuasa wajib dilaksanakan mulia awal terbit fajar”

(Ibn Batthal, Syarh Shahîh al-Bukhârî, vol.2, hal.248)

Al-Imam Abu al-Hasan Ali Ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn Habib al-Bashri al-Mawardi (w.450H);

وكما ذهب حذيفة بن اليمان إلى أن أول الصوم إسفار الصبح فلم يعتدّوا بخلافه وأجمعوا على أنه من طلوع الفجر

“Dan sebagaimana Hudzaifah Ibn al-Yaman mengatakan bahwa awal berpuasa adalah dengan datangnya waktu subuh, tidak ada satupun sahabat lain yang berbeda dengannya, dan mereka ijma bahwa puasa dimulai semenjak terbit fajar”

(Al-Mawardi, al-Hâwî al-Kabîr Syarh Mukhtashar al-Muzanî, vol.16, hal.213)

Al-Imam Abu ‘Amr Yusuf Ibn Abdillah Ibn Muhammad Ibn Abdil Barr al-Qurthubi (w.463H);

السحور لا يكون إلا قبل الفجر … وهو إجماع لم يخالف فيه إلا الأعمش فشذ ولم يعرج على قوله، والنهار الذي يجب صيامه من طلوع الفجر إلى غروب الشمس، على هذا إجماع علماء المسلمين فلا وجه للكلام فيه

“Waktu sahur adalah sebelum fajar…dan itu berdasarkan ijma yang tidak ada yang menyelisihi selain al-A‘masy (w.147H), akan tetapi pendapatnya (dalam hal ini) Syâdz dan tidak dapat dijadikan pegangan. Waktu terang wajib berpuasa dimulai semenjak terbit fajar hingga terbenam matahari. Hal ini telah menjadi ijma para ulama, sehingga tidak perlu diperdebatkan lagi”

(Ibn Abdil Barr, al-Tamhîd Limâ Fî al-Muwattha’ Min al-Ma‘ânî wa al-Asânîd, vol.10, hal.62)

وقد أجمعوا أن الصيام من أول الفجر

“Dan mereka telah ijma’ bahwa berpuasa dimulai semenjak awal fajar terbit”

(Ibn Abdil Barr, al-Istidzkâr, vol.1, hal.406)

Al-Imam Abu al-Walid Sulaiman Ibn Khalaf Ibn Sa‘d Ibn Ayyub al-Baji (w.474H);

ولا خلاف أنه لا يجوز الأكل بعد طلوع الفجر

“Tidak ada perbedaan pendapat ulama dalam larangan makan setelah terbit fajar”

(Al-Baji, Al-Muntaqâ Fî Syarh al-Muwattha’, vol.1, hal.168)

Al-Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya Ibn Syarf al-Nawawi (w.676H);

ولا يتعلق بالفجر الأول الكاذب شيء من الأحكام بإجماع المسلمين … هذا الذي ذكرناه من الدخول في الصوم بطلوع الفجر وتحريم الطعام والشراب والجماع به هو مذهبنا ومذهب أبى حنيفة ومالك وأحمد وجماهير العلماء من الصحابة والتابعين فمن بعدهم

“Tidak ada kaitan hukum dengan fajar kadzib (pertama) berdasarkan ijma‘ umat muslim… Kemudian mengenai dimulainya puasa dengan sebab terbit fajar, haramnya makanan, minuman dan jima‘, itu adalah mazhab kami (syafi‘iyyah)), mazhab Abu Hanifah, Malik, Ahmad dan jumhur sahabat, tabi‘in dan orang-orang setelah mereka”

(Al-Nawawi, al-Majmû‘ Syarh al-Muhadzzab, vol.6, hal.305)[]

Nb: Tulisan ini disadur dari akun media sosial penulis

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY