Ijma’: Status Puasa Akibat Cumbu dan Ciuman

Ijma’: Status Puasa Akibat Cumbu dan Ciuman

125
0
Ilustrasi/Dok. Istimewa

Titik kesepakatan ulama dalam hal ini adalah keabsahan puasa seseorang yang dicium atau mencium dan mencumbui istrinya yang tidak membuat spermanya keluar akibat rangsangan yang dirasakannya. Sedangkan bila hal tersebut membuatnya terangsang dan mengakibatkan spermanya keluar maka puasanya menjadi batal. Adapun riwayat dari beberapa sahabat Nabi yang melarang melakukan hal demikian adalah lantaran mempertimbangkan terjerumusnya seseorang pada melakukan yang halal dalam kondisi haram, yakni berhubungan dengan istri di siang Ramadhan.

Berikut keterangan dari beberapa sahabat radhiyallâhu ‘anhum;

Umar Ibn al-Khatthab radhiyallâhu ‘anhu;

إن عاتكة ابنة زيد بن عمرو بن نفيل امرأة عمر بن الخطاب كانت تقبل رأس عمر بن الخطاب وهو صائم فلا ينهاها

“Sesungguhnya ‘Atikah bint Zaid Ibn ‘Amr Ibn Nufail, istri Umar Ibn al-Khatthab mencium kepada Umar Ibn al-Khatthab ketika ia sedang berpuasa, dan Umar tidak mencegahnya”

(Malik Ibn Anas, al-Muwattha’ bi Riwâyah al-Laytsî, vol.1, hal.292, no.643)

Ali Ibn Abi Thalib karramallâhu wajhah;

عن علي، قال: لا بأس بالقبلة للصائم

“Dari Ali, ia berkata bahwa tidak mengapa orang yang berpuasa melakukan ciuman”

(Ibn Abi Syaibah, al-Mushannaf, vol.3, hal.59, no.9458)

Aisyah Ummul Mu’minin radhiyallâhu ‘anhâ;

عن أبي النضر مولى عمر بن عبيد الله أن عائشة بنت طلحة أخبرته أنها كانت عند عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم فدخل عليها زوجها هنالك وهو عبد الله بن عبد الرحمن بن أبي بكر الصديق وهو صائم فقالت له عائشة ما يمنعك أن تدنو من أهلك فتقبلها وتلاعبها؟ فقال: أقبلها وأنا صائم؟ قالت نعم

“Dari Abu al-Nadhr (pelayan Umar Ibn Ubaidillah), bahwa Aisyah bint Thalhah mengabarinya bahwa ketika ia bersama Aisyah istri Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, datanglah suaminya (Abdullah Ibn Abdurrahman Ibn Abi Bakr al-Shiddîq) yang sedang berpuasa. Lalu Aisyah (ummul mu’minin) berkata; Apa gerangan yang membuatmu tidak ingin mendekati istrimu untuk mencium atau bermesraan dengannya? Abdullan menjawab: Apakah saya dapat menciumnya saat puasa? Tentu, jawab Aisyah”

(Malik Ibn Anas, al-Muwattha’ bi Riwâyah al-Laytsî, vol.1, hal.292, no.644)

Abu Hurairah, Sa‘d Ibn Abî Waqqâsh dan Sa‘d Ibn Malik radhiyallâhu ‘anhum;

إن أبا هريرة وسعد بن أبي وقاص كانا يرخصان في القبلة للصائم

“Sesungguhnya Abu Hurairah dan Sa‘ad Ibn Abi Waqqash membolehkan ciuman bagi orang yang berpuasa”

(Malik Ibn Anas, al-Muwattha’ bi Riwâyah al-Laytsî, vol.1, hal.292, no.645)

عن زيد بن أسلم قال: قيل لأبي هريرة: تقبل وأنت صائم؟ قال: نعم، وأكفحها، -يعني يفتح فاه إلى فيها- قال: قيل لسعد بن مالك: تقبل وأنت صائم؟ قال: نعم وأخذ بمتاعها

“Dari Zaid Ibn Aslam, ia berkata: Abu Hurairah ditanya: Anda mencium istri ketika puasa? Ia menjawab: Iya, bahkan sama-sama mempertemukan bibir. Zaid Ibn Aslam berkata lagi bahwa Sa‘d Ibn Malik pernah ditanya: Anda mencium istri ketika puasa? Ia menjawab: Iya, saya pun menikmatinya”

(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.4, hal.185, no.7421)

عن سعيد المقبري أن رجلا سأل أبا هريرة، فقال: رجل قبل امرأته وهو صائم، أأفطر؟ قال: لا، قال: فغيرها؟ قال: فأعرض أبو هريرة

“Dari Sa‘id al-Maqbari, suatu ketika seseorang bertanya kepada Abu Hurairah tentang seorang suami yang mencium istrinya apakah batal? Ia menjawab: Tidak. Orang itu bertanya lagi: Bagaimana kalau mencium perempuan yang bukan istri? Maka Abu Hurairah langsung berpaling”

(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.4, hal.185, no.7422)

Abdullah Ibn Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ;

إن عبد الله بن عباس سئل عن القبلة للصائم فأرخص فيها للشيخ وكرهها للشاب

“Abdullah Ibn Abbas pernah ditanya tentang ciuman bagi orang yang berpuasa, maka beliau membolehkan bagi orang yang sudah tua dan memakruhkan bagi yang masih muda”

(Malik Ibn Anas, al-Muwattha’ bi Riwâyah al-Laytsî, vol.1, hal.293, no.648)

عن عطاء قال سمعت ابن عباس يسئل عن القبلة للصائم فقال: لا بأس بها إن انتهى إليها، فقيل له: أفيقبض على ساقها؟ قال أيضا: اعفوا الصائم لا يقبض على ساقها

“Dari ‘Atha’, ia berkata: Aku mendengar Ibn Abbas ditanya tentang ciuman bagi orang yang berpuasa. Ia menjawab: Tidak mengapa (tidak batal) bila hanya sampai disitu saja. Ia ditanya lagi: Apakah boleh memeluk/mengusap betisnya (istri)? Ia menjawab: Hendaklah orang yang berpuasa menahan dirinya, jangan sampai melakukan itu pada betisnya”

(Abdurrazzaq, al-Mushannaf, vol.4, hal.184, no.7413)

Abdullah Ibn Umar radhiyallâhu ‘anhuma;

إن عبد الله بن عمر كان ينهى عن القبلة والمباشرة للصائم

“Abdullah Ibn Umar melarang berciuman dan bercumbu bagi orang yang sedang berpuasa”

(Malik Ibn Anas, al-Muwattha’ bi Riwâyah al-Laytsî, vol.1, hal.293, no.649)

Dan beberapa sahabat lainnya seperti Abdullah Ibn Mas‘ud, Abu Sa‘id al-Khudri, Hudzaifah, dll, radhiyallâhu ‘anhum.

Berikut keterangan ijma‘ ulama mazhab;

Al-Imam Abu al-Hasan Ali Ibn Muhammad Ibn Muhammad Ibn Habib al-Mawardi al-Bashri (w.450H);

أما إن وطئ دون الفرج أو قبل أو باشر فلم ينزل فهو على صومه لا قضاء عليه ولا كفارة، وإن أنزل فقد أفطر ولزمه القضاء إجماعا

“Suami yang mencumbui istrinya yang tidak sampai pada berhubungan, ataupun melakukan ciuman dan bermesraan tanpa ada sperma yang keluar, maka puasanya tetap sah, tidak ada yang perlu diqadha, apalagi kafarat. Namun jika spermanya keluar, maka puasanya batal dan wajib diqadha berdasarkan ijma‘”

(Al-Mawardi, Al-Hawi al-Kabir Syarh Mukhtashar al-Muzani, vol.3, hal.945)

Al-Imam Abu Muhammad Abdullah Ibn Ahmad Ibn Qudamah al-Maqdisi (w.630H);

ولا يخلو المقبل من ثلاثة أحوال : أحدها أن لا ينزل فلا يفسد صومه بذلك لا نعلم فيه خلافا … الحال الثاني : أن يمني فيفطر بغير خلاف نعلمه

“Ada tiga kondisi yang dapat dialami oleh orang yang melakukan ciuman : (1) Mencium tanpa sampai mengeluarkan sperma, maka puasanya tetap sah tanpa ada perbedaan pendapat yang kami ketahui. (2) Sampai mengeluarkan sperma, maka puasanya batal tanpa ada perbedaan pendapat yang kami ketahui”

(Ibn Qudamah, al-Mughni Syarh Mukhtashar al-Kharqî, vol.3, hal.336)

Al-Imam Abu al-Abbas Ahmad Ibn Idris Ibn Abdirrahman al-Qarrafi (w.684H);

لا يعلم خلاف في عدم تحريم المباشرة للانسان امرأته بعد الفجر

“Tidak diketahui adanya perbedaan pendapat ulama tentang tidak diharamkannya bercumbu dengan istri setelah fajar”

(Al-Qarrafi, al-Dzakhîrah, vol.2, hal.504)[]

BERBAGI
Artikel sebelumyaIjma': Puasa dalam Keadaan Berhadas Besar
Penulis adalah alumni MTI Canduang dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY