Ijma’: Waktu Berniat Puasa

Ijma’: Waktu Berniat Puasa

48
0
Ilustrasi/pexels.com

Pada bagian ini, kesepakatan ulama dalam persoalan niat berpuasa wajib adalah dari segi waktu pelaksaannya, yaitu di malam hari. Bukan dari segi pelaksanaannya setiap malam atau cukup satu kali, karena di dalam mazhab maliki diriwayatkan bahwa niat puasa Ramadhan dianggap sah bila dilakukan di malam pertama bulan Ramadhan tanpa harus berniat di setiap malamnya. Titik sepakatnya adalah pelaksaannya di malam hari. Kemudian hal lain yang disepakati dalam persoalan niat puasa disini adalah statusnya sebagai penentu keabsahan puasa seseorang, baik niat itu dianggap rukun puasa oleh sebagian mazhab maupun dianggap syarat oleh mazhab lainnya.

Berikut kutipan urgensi niat dari beberapa sahabat radhiyallâhu ‘anhum;

Abdullah Ibn Umar radhiyallâhu ‘anhumâ;

لا يصوم إلا من أجمع الصيام قبل الفجر

“Tidak sah puasa -wajib- orang yang tidak meniatkannya sebelum fajar”

(Malik Ibn Anas, al-Muwattha’ Bi Riwâyah al-Syaibânî, no.371, … Bi Riwâyah al-Laytsî, no.633)

عن عائشة وحفصة زوجي النبي صلى الله عليه وسلم بمثل ذلك

“Dari Aisyah dan Hafshah –dua Istri Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam- dengan riwayat sama”

(Malik Ibn Anas, al-Muwattha’ Bi Riwâyah al-Laytsî, no.633)

Ummul Mu’minîn Hafshah bint Umar Ibn al-Khatthâb radhiyallâhu ‘anhumâ ;

عن حفصة، أنها قالت: لا صيام لمن لم يجمع الصيام قبل الفجر

“Dari Hafshah, ia berkata; Tidak sah puasa orang yang tidak meniatkannya sebelum fajar”

(Ibnu Abi Syaibah, al-Mushanaf, vol.3, hal.32)

Berikut nukilan keterangan ijma’ oleh para ulama;

Al-Imam Abu Zur‘ah Waliyyudin Ahmad Ibn Abdurrahim Ibn al-Husain al-Kurdi al-‘Iraqi (w.826H);

وقد أجمعوا على وجوب النية فيه

“Dan mereka berijma‘ bahwa wajib berniat saat itu (sebelum fajar)”

(Abu Zur‘ah, Tharh al-Tatsrîb Fî Syarh Taqrîb al-Asânîd wa Tartîb al-Masânîd, vol.2, hal.12)

Al-Imam Abu Bakr Muhammad Ibn Ibrahim Ibn al-Mundzir al-Naisaburi (w.319H);

وأجمعوا على أن من نوى الصيام كل ليلة من الصيام شهر رمضان فصام أن صومه تام   

“Dan mereka berijma‘ bahwa orang yang berniat puasa setiap malam Ramadhan, lalu puasa itu dilaksanakannya maka puasanya sempurna”

(Ibn al-Mundzir, al-Ijmâ‘, hal.48)

Al-Imam Abu al-Hasan Ali Ibn Khalaf Ibn Abdil Malik Ibn Batthal (w.449H);

إجماع الجميع من أهل العلم على أن المرء قد يكون مفطرًا بترك العزم على الصوم من الليل مع تركه نية الصوم نهاره أجمع، وإن لم يأكل ولم يشرب

“Berdasarkan ijma‘ seluruh ulama bahwa seseorang dinggap telah berbuka disebabkan tidak berkeinginan berpuasa semenjak malam harinya serta tidak berniat di malam harinya untuk puasa di siang harinya meskipun dia sama sekali tidak makan dan tidak minum”

(Ibn Batthal, Syarh Shahîh al-Bukhârî, vol.4, hal.102)

Al-Imam Abu Muhammad Ibn Ali Ibn Ahmad Ibn Sa‘id Ibn Haz al-Andalusi (w.456H);

قد صح الإجماع على أن من صام ونواه من الليل فقد أدى ما عليه، ولا نص ولا إجماع على أن الصوم يجزئ من لم ينوه من الليل

“Jelas ada ijma‘ bagi orang yang berniat puasa di malam hari maka dia telah menunaikan kewajibannya, dan tidak ada nash maupun ijma‘ yang menetapkan bahwa puasa –wajib- orang yang tidak berniat di malam hari dianggap sah”

(Ibn Hazm, al-Muhallâ, vol.6, hal.160)

Al-Imam Abu Muhammad Abdullah Ibn Ahmad Ibn Qudamah al-Maqdisi (w.620H);

وجملته أنه لا يصح صوم إلا بنية إجماعا فرضا كان أو تطوعا لأنه عبادة محضة فافتقر إلى النية كالصلاة

“Dari itu semua, tidak sah puasa tanpa niat berdasarkan ijma‘, baik puasa fardhu maupun puasa sunnat, karena puasa itu adalah ibadah mahdhah yang membutuhkan niat sebagaimana shalat”

(Ibn Qudamah, al-Mughni Syarh Mukhtashar al-Imâm Abî al-Qâsim al-Kharqî, vol.3, hal.17)

Al-Imam Abu Zakariya Yahya Ibn Syaraf al-Nawawi (w.676H);

تبييت النية شرط في صوم رمضان وغيره من الصوم الواجب فلا يصح صوم رمضان ولا القضاء ولا الكفارة ولا صوم فدية الحج غيرها من الصوم الواجب بنية من النهار بلا خلاف

“Berniat di malam hari adalah syarat dalam puasa Ramadhan dan puasa wajib lainnya, sehingga tidak ada perbedaan pendapat ulama bila puasa Ramadhan, puasa qadha’, puasa kaffarat, puasa fidyah haji dan puasa wajib lainnya diniatkan di siang hari”

(al-Nawawi, al-Majmû‘ Syarh al-Muhadzzab, vol.6, hal.289-290)[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY