Imajinasi Kearaban, Lidah Minang dan Fantek

Imajinasi Kearaban, Lidah Minang dan Fantek

1139
0
Halaman MTI Canduang

Di bagian akhir Kopi Pahit episode sebelumnya dinyatakan bahwa negosiasi budaya di Madrasah Tarbiyah Islamiyah dan sekolah-sekolah agama tradisional pada umumnya adalah proses yang memanjakan dan sekaligus memupuk imajinasi pelajar dan pengajarnya.

Dalam episode kali ini akan diutarakan pengalaman subjektif penulis sebagai argumen pendukung untuk klaim tersebut. Namun sebelumnya perlu disampaikan sebuah catatan. Pengalaman yang akan diutarakan ini adalah pengalaman auditif (pengalaman yang terkait dengan suara/bunyi yang didengar). Bagaimana mengisahkan lagi pengalaman auditif ini dalam bentuk wacana verbal adalah tantangan tersendiri, karena apa yang dialami dan dirasakan ketika mendengar harus diterjemahkan ke narasi verbal. Di antara jalan yang paling mudah adalah analogi, yaitu dengan merujuk pada sesuatu yang lain yang dipandang mirip.

Di almamater penulis, Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang, pernah ada seorang ustazd senior bernama Buya H. Izzudin Marzuki LAL. Beliau adalah lulusan al-Azhar, Mesir. Gelar LAL itu diperolehnya di sana pada tahun 1960-an, namun penulis kesulitan menemukan kepanjangan dari gelar ini. Beliau pernah menjabat sebagai dekan Fak. Adab IAIN Imam Bonjol Padang periode 1966-1976. Sebagai uztad senior, beliau lebih banyak terlibat urusan administrasi sekolah dan hanya mengajar di kelas-kelas yang lebih tinggi. Penulis hanya berkesempatan mendapat pengajaran dari beliau di masa kelas III MTI, itu pun karena beliau menggantikan uztad yang berhalangan hadir hari itu.

Sebagaimana cara belajar di MTI dan sekolah agama tradisional pada umumnya, Buya mengajar dengan terlebih dahulu membacakan lafaz bahasa Arab dari penggalan kitab yang dipelajari lalu menerjemahkannya. Setelah itu barulah beliau menguraikan maksud dan contoh-contoh dari pembahasan yang termuat dalam penggalan kitab tersebut.

Yang ingin penulis kisahkan dari Buya Izzuddin Marzuki LAL almarhum ini adalah cara beliau membacakan matan kitab (membacakan bahasa Arab kitab yang dipelajari). Tidak ada sama sekali logat ke-arab-arab-an yang terdengar dari cara beliau membaca. Intonasi dan warna suara yang dipakai tetap menggunakan “lidah Minang” yang khas. Pendek kata, langgam bahasa Minang yang khas ini tetap tersua pada pelafalan beliau terhadap kitab yang dipelajari. Kekhasan ini hanya bisa diketahui dengan mendengar atau mengakrabi orang yang memang dibesarkan dengan bahasa Minang sebagai bahasa ibunya. Contoh paradigmatik dari langgam yang penulis maksud dapat didengar dari cara berbicara Buya Syafi’i Ma’arif dan Taufik Abdullah.

Fenomena ini memang tidak berbekas sama sekali pada diri penulis saat itu, masa yang sudah lewat sekian belas tahun lalu. Namun justru ketidakberbekasan itulah yang sekarang penulis nilai secara retrospektif sebagai bukti dari hal utama yang ingin disampaikan dalam episode Kopi Pahit kali ini, yaitu: bahwa Buya Izzuddin Marzuki LAL saat itu sengaja atau tidak sengaja tidak mendikte imajinasi penulis tentang apa itu bahasa Arab, dan lebih luas lagi, apa itu ke-Arab-an! Dengan membacakan matan kitab seperti cara ustaz-ustaz lain yang hanya lulusan lokal, beliau membebaskan imajinasi penulis untuk membayangkan sendiri bagaimana akan mengucapkan bahasa Arab kitab. Buya Izzuddin sengaja atau tidak sengaja tidak menggiring lidah kami untuk jadi lidah Arab.

Sayangnya Buya Izzuddin Marzuki LAL sudah pulang kehadirat-Nya, sehingga tidak bisa ditanyai lagi mengapa beliau tidak membacakan kitab dengan logat dan langgam penutur bahasa Arab yang khas pula. Di antara kekhasan tersebut jika dibandingkan dengan lidah penutur bahasa Minang atau bahasa Indonesia pada umumnya dapat ditandai pada bunyi huruf ha, ‘ain, dan qaf.

Harap dicatat yang dimaksud dengan logat dan langgam di sini bukanlah standar-standar yang terdapat dalam ilmu tajwid. Jika diukur dengan ilmu tajwid dasar, maka bacaan matan Buya Izzuddin Marzuki kala itu tidak ada yang salah. Yang dimaksud di sini adalah gaya lagak lagu dalam berbahasa yang khas (idiosinkratik). Perbedaan kekhasan ini bahkan ditemukan di antara penutur satu bahasa yang hanya dibedakan berdasarkan wilayah (nagari). Kalau dalam bahasa Indonesia kita akan menangkap perbedaan langgam bahasa Indonesia orang Minang, Batak, Bali, Jawa, Makassar, Papua dan sebagainya.

Refleksi retrospektif (perenungan atas pengalaman masa berlalu) tadi muncul ketika penulis mengamati kecenderungan lain yang berbeda dari apa yang dilakukan Buya Izzuddin Marzuki LAL.

Belakangan ini, beberapa penyiar Islam yang pernah belajar di lembaga-lembaga pendidikan yang berbasis kebudayaan berbahasa Arab cenderung melakukan pendiktean –baik sengaja maupun tidak—terhadap imajinasi pendengar tentang bagaimana berbahasa Arab dan lebih jauh lagi tentang apa itu ke-arab-an. Latarbelakang pendidikan mereka dari lembaga pendidikan yang berbasis kebudayaan berbahasa Arab dengan gampang bisa ditandai dari gelar akademis Lc yang dibubuhkan di belakang nama para penyiar ini.

Beliau-beliau ini berusaha sepersis mungkin menjadi arab dengan mempraktikan langgam, gaya, intonasi, lagak lagu, penutur asli bahasa Arab saat membacakan penggalan kitab, potongan ayat atau hadits. Bahkan tidak itu saja, kata-kata dalam bahasa Indonesia pun, meski memang serapan dari bahasa Arab, diucapkan dengan gaya dan langgam bahasa Arab, seperti kata “ulama” misalnya. Kata ini sudah diserap jadi bahasa Indonesia dan bunyi “u” di awal kata diucapkan seperti “u” di dalam kata “ujung”. Para penyiar agama ini diucapkan dengan sengau yang khas arab untuk menunjukkan bahwa kata “ulama” berasal dari kata ‘ulaama dalam bahasa Arab. Tidak itu saja, kata “harus” pun diucapkan dengan bunyi “h” yang ditarik ke pangkal kerongkongan seperti saat mengucapkan kata hadits dalam bahasa Arab.

Mereka yang tidak lagi duduk di bangku sekolah agama atau pesantren yang diajar oleh penyiar agama sebagaimana yang dimaksud di atas tidak akan kesulitan mencari media untuk mendengarkan contoh yang penulis maksud. Di media sosial Youtube bertebaran rekaman-rekaman ceramah dari beliau-beliau ini. Begitu pula dengan beberapa acara tv kabel yang khusus memuat ceramah-ceramah mereka seperti Rodja TV, Insan TV, Wesal TV, Yufid.TV.

Di antara yang menarik didengar adalah siaran dari salah seorang penyiar di Youtube (Lihat klik di sini). Dari sisi kandungan siarannya tidak ada yang menarik, karena yang namanya wacana kodratnya adalah dibicarakan ulang, baik didukung maupun dikritis. Yang menarik adalah langgam, gaya, intonasi, lagak lagu dari penyiar yang terdengar ingin meng-arab-kan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar yang dipakai dalam siaran ini, terlepas dari beliau sengaja atau tidak. Dari sisi fonetik, semua fonem-fonem bahasa Indonesia dilafalkan dengan sistem fonetik bahasa Arab.

Menurut hemat penulis, fenomena ini justru membatasi imajinasi tentang bagaimana mengucapkan bahasa Arab dan apa itu ke-arab-an. Sebab apa yang dilakukan oleh penyiar-penyiar itu membuat pendengar menjadi berkesimpulan “ooh, seperti itu bahasa Arab yang benar”, “Ooh seperti itu yang Arab itu ya!”

Tidak ada yang penting diobrolkan kalau bahasan di atas hanya dibatasi pada soal cara membaca kitab di ruang kelas sekolah agama atau pesantren, sebab substansinya di situ adalah penguasaan atas materi pelajaran. Namun obrolan jadi serius jika imajinasi kultural yang dimaksud di awal tulisan ini dibawa ke level kebudayaan secara umumnya.

Yang dilakukan oleh Buya H. Izzuddin Marzuki LAL dan ustaz-ustazd lain yang belajar di daerah berkebudayaan dan berbahasa Arab seperti Gus Dur dan Gus Mus, untuk menyebut sedikit contoh yang populer, adalah tidak menginstantkan pengertian akan ke-arab-an. Mereka tidak berpretensi menyampaikan ke-arab-an secara esensialistik. Pelajar atau pendengar diberi kebebasan untuk menemukan esensi ke-arab-an yang notabene memang tidak bisa dipisahkan dari keberagamaan seorang Muslim.

Sebaliknya, yang dilakukan oleh penyiar-penyiar sebagaimana dicontohkan di atas adalah menawarkan ke-arab-an secara instant dan berpretensi yang ditawarkan itu esensial. Konsekuensi dari cara seperti ini adalah lahirnya parodi. Parodi adalah salah satu jalan perlawanan (resistensi) yang bisa ditempuh oleh pihak yang dikungkung. Di mana ada pengekangan, di situ ada perlawanan. Dalam kasus bahasa Arab ini, parodi yang bisa kita lihat adalah bully dan cemooh di media sosial. Bahasa Indonesia diplesetkan sedemikian rupa sehingga terkesan menjadi cemooh dari bahasa penyiar-penyiar yang berbahasa Indonesia namun dengan lagak ke-arab-arab-an. Maka, kita temuilah istilah “Karena fulus itu fenting, maka biarlah fentungan yang bicara” yang merupakan plesetan dari kalimat “Karena fulus (uang dalam bahasa Arab) itu penting, maka biarlah pentungan yang bicara.” Parodi ini muncul karena di dalam sistem fonetik bahasa Arab tidak ada fonem “p”, yang ada hanya fonem “f” yang diwakili oleh huruf “fa”.

Konsekuensi lainnya adalah pretensi menawarkan yang esensial tadi mengakibatkan lahirnya kontroversi tentang hal yang sebenarnya remeh-temeh, tidak substansial. Artinya, bukan yang esensi. Inilah yang terjadi ketika beberapa waktu lalu muncul perdebatan sengit antara halal/haram, boleh atau tidaknya membaca al-Quran dengan langgam Jawa oleh Kiai Muhammad Yaser Arafat dalam peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad di Istana Negara. Pihak yang mengatakan langgam Jawa dilarang karena selama ini sudah dicekoki dengan pretensi bahwa gaya ke-arab-arab-an yang ditampilkan oleh para penyiar agama populer adalah yang sesungguhnya, adalah yang esensial.

Oleh karena itu, hendaknya mereka yang berlidah Minang tetaplah memakai logat, langgam, gaya, dan lagak lagu bahasa Minang ketika membaca kitab, tidak usah berpura-pura jadi orang yang bahasa ibunya adalah bahasa Arab. Kalau tidak demikian, maka suatu saat kata “Pantek” akan berubah pengucapannya jadi “fantek.”[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY