Instrumentalisasi (pada) Madrasah Tarbiyah Islamiyah (Bag. 1)

Instrumentalisasi (pada) Madrasah Tarbiyah Islamiyah (Bag. 1)

378
0
Madrasah Tarbiyah Islamiyah Kapau, Agam, Sumatera Barat

TUMBUH dan besar di lingkungan Tarbiyah Islamiyah, kemudian berinteraksi dengan individu-individu yang tak akrab, bahkan sama sekali tak mengenal apa dan bagaimana sesungguhnya hakikat Tarbiyah Islamiyah, kita seringkali dihadapkan pada pertanyaan yang menggelitik. Pertanyaan itu seperti, “Tarbiyah Islamiyah itu apa? Lantas, pengetahuan seperti apa yang dihasilkan oleh Tarbiyah Islamiyah sebagai sebuah institusi pendidikan? Lalu politik pengetahuan seperti apa yang ada pada tradisi Tarbiyah Islmiyah?” Pertanyaan ini merupakan modalitas untuk menemukan kembali Tarbiyah Islamiyah yang hari ini mulai tergerus senja.

Sebelum beranjak mencari jawaban atas dua pertanyaan tersebut, pertanyaan pembuka mestilah dijawab terlebih dahulu, dan itu adalah: “mengapa penting menemukan kembali Tarbiyah Islamiyah? Peran seperti apa yang layak “dimainkan” oleh warga Tarbiyah Islamiyah dalam era masyarakat berisiko?” Men-syarah dua pertanyaan itu meniscayakan untuk memahami konteks, dan dalam era seperti apa hari ini warga Tarbiyah Islamiyah hidup dan bertumbuh.

Pemaknaan atau pengistilahan terhadap era, dimana saat ini warga Tarbiyah Islamiyah tumbuh dan terus beradaptasi dengan kemajuan demi kemajuan di berbagai liang kehidupan, seringkali tak terlalu memuaskan: hidup di era modern; post-modern; atau pun post-industri. Istilah itu tentunya tak terlalu mewakili perasaan warga Tarbiyah Islamiyah secara utuh—perasaan antara ‘gamang’ dan ‘geram’ melihat perubahan dan kompleksitas yang semangkin cepat melesat, meninggalkan mereka. Hanya bisa menatap perubahan itu sendiri, tanpa kekuatan untuk masuk ke dalam kompleksitas itu sendiri.

Tidak hanya kompleksitas perilaku elit, yang kian menyeret dan mencampakkan Tarbiyah Islamiyah ke pojok kehidupan politik. Tetapi juga perkembangan pengetahuan dan bertumbuh-nya isu-isu sosial keagamaan, yang akhirnya menutut kontribusi Tarbiyah Islamiyah dalam mensyarahnya secara lebih inklusif, transformatif dan memanusiakan.  Sebab saat ini, warga Tarbiyah Islamiyah tengah menghadapi ‘gegap-gempita’ gerakan sosial keagamaan: sebuah realitas yang sangat kompleks dimana agama diposisikan sebagai berbagai sumber-sumber gerakan sosial, ekonomi bahkan agama tak luput dari kambing hitam dari hasrat-hasrat manusia yang terkadang tak manusia. Singkatnya, warga Tarbiyah Islamiyah hidup pada satu masyarakat yang diistilahkan oleh Ulrich Beck dengan the risk society: sebuah pemaknaan terhadap ironi, furious, projective dan parodi yang tumbuh “bersigesak” dalam kehidupan manusia modern (Beck: 2004). Pelbagai resiko itu tidak hanya menjadi produk dari struktur ekonomi, sosial ataupun politik. Tetapi kini berbagai varian resiko tersebut juga telah tumpah dalam kehidupan beragama.

Dalam kehidupan beragama resiko itu muncul dalam rupa yang sangat mengerikan seperti terorisme atas dasar sentimen keagamaan; fanatisme; bahkan politik takfiri yang mencuat kepermukaan. Konteks ini menyeret warga Tarbiyah Islamiyah pada dua ‘kemungkinan’—hanyut ke dalam arus masyarakat berisiko, dengan menjadi bagian dari ironi, parodi dan furious itu sendiri, atau mampu menyintas pelbagai resiko tersebut dengan tampil sebagai kekuatan baru yang menawarkan obat atas segala ironi tersebut (agak utopis). Pasalnya, saat ini Tarbiyah Islamiyah sebagai komunitas; buhul ideologis; organisasi; atau semacam ideologi sosial setara Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama, memperlihatkan indikasi mengalami stroke akut.

Menginderai hal itu dapat secara langsung melalui observasi kasat mata terhadap basis Tarbiyah Islamiyah, yakni pesantren yang semangkin kehilangan identitas ulah negara yang terlalu (sadis) memasuki bilik pesantren, mengacak-acak sistem kultural dan pengetahuan di dalam tubuh pesantren. Belum lagi, ulah elit Tarbiyah Islamiyah yang sibuk berpolitik dan berdagang sehingga membuat citra Tarbiyah Islamiyah semangkin melantai sebagai buhul ideologis; organisasi sosial; dan kumpulan umat yang bermashab Syafi’i. Itulah ironi yang mendera Tarbiyah Islamiyah hari ini. Lantas layakkah semua itu didefinisikan sebagai resiko? Lupton memberikan catatan bahwa kata resiko merujuk pada treat dan harm—terma yang seringkali disamakan dengan sesuatu yang membahayakan dan tak membahagiakan (Beck: 2004). Tentu saja ironi itu tak membuat bahagia. Justeru kian menimbulkan rasa miris, dan sedih yang tertahankan.

Madrasah Tarbiyah Islamiyah_tarbijah islamijahIroni di tubuh Tarbiyah Islamiyah telah melahirkan satu kondisi yang bagi sebagian, jika pun setidak seutuhnya, menyedihkan dan membuat luka di sanubari untuk mengatakannya ‘menangisi’. Tapi apa mau dikata, itulah fakta yang tengah dihadapi oleh Tarbiyah Islamiyah hari ini. Meskipun harapan terus hadir pada generasi-generasi baru, generasi yang terus mengeliat tumbuh. Itu terlihat dari upaya mereka mencari pseuma atau semangat dari reruntuhan kekayaan kultural dan nama besar ulama yang tumbuh dan membesar (doeloe) di Tarbiyah Islamiyah. Tentu hal itu adalah sebuah proses yang sangat alamiah, dan dasariah. (Barangkali) dengan cara itu daya tahan Tarbiyah Islamiyah akan terus direproduksi. Tanpa itu semua, tidak ada lagi harapan sembuh dari koma—sebuah kondisi dimana Tarbiyah Islamiyah tak lagi berdaya secara sosial; politik; bahkan untuk survive saja sudah payah—Madrasah Tarbiyah Islamiyah terus bertumbangan. Jika sudah demikian, bagaimana warga Tarbiyah Islamiyah “bermain” untuk masa depan?

Bagi sebagian elit Tarbiyah Islamiyah, hubungan harmonis yang dibangun dengan kekuatan politik adalah strategi untuk dapat bertahan dan menyambut masa depan yang lebih baik. Sementara di akar rumput menyibukan diri dengan gerakan kultural. Hanif terhadap pengetahuan adalah cara terbaik untuk memainkan peran pada dunia modern yang mengandalkan kecepatan atau velocity; dan kedataran atau flat. Keduanya tentu sah berimajinasi dengan tentang masa depan. Tetapi bagaimana pilihan mesti dilakoni? Inilah persoalan mendasar.

Tulisan ini tentu tidak bermaksud membela perilaku elit Tarbiyah Islamiyah yang sudah terlanjur membuat imajinasi liar, bahkan terjerembab pada banalitas. Namun tulisan ini akan mempersoalkan politik pengetahuan yang mesti dilakoni, paling tidak bagi penulis. Fakta historis sudah didedahkan oleh berbagai penikmat sejarah perkembangan pemikiran keislaman yang terproduksi dari tradisi Tarbiyah Islamiyah—pengkaji sepak terjang “ulama tuo” misalnya. Tidak diragukan lagi tentunya. Pun, tak disanksikan pula semisal pemikiran Inyiak Candung; Inyiak Jaho dan lain sebagainya telah tergores dengan tinta emas. Kendati demikian, mempersoalkan politik pemikiran di balik usaha ilmiah yang mereka lakukan tentu sangat penting. Terutama tatkala hal itu diposisikan sebagai fondasi bagi generasi Tarbiyah Islamiyah untuk menata peran dalam masyarakat yang berisiko, kini.

Merujuk kepada konsepsi Ulrich Beck tentang politik pengetahuan, baginya pengetahuan tidak bermakna tanpa menjadi sesuatu yang massif melalui proses sosial (Beck: 1992). Pengetahuan mesti punya daya kejut; pengubah; dan kekuatan transformatif. Pengetahuan hanya akan menjadi ironi ketika ia sekadar repetition-logics: sesuatu yang terus diulang-ulang kemudian dianggap sebagai sesuatu yang logis, karena diujarkan terus menerus dan dibiasakan. Kebenaran pengetahuan pun akhirnya diterima sebagai warisan. Bukan diproduksi dari proses ‘tanya’ yang konsisten dan radikal.

Tradisi pengetahuan yang ada pada madrasah Tarbiyah Islamiyah agaknya dapat dimaknai dari dua sudut pandang: Pertama, aspek historis-kultural dimana tradisi pengetahuan yang diproduksi dan kemudian diritualkan secara terus menerus di madrasah Tarbiyah Islamiyah merupakan suatu pakem yang mentradisi. Ini dapat dilacak dari metode dan materi pengajaran yang bersifat taken for granted, dan dianggap sesuatu yang mapan. Barangkali bagi sebagian pengamat, sistem dan tradisi pengetahuan semacam itu adalah repetition-logics. Namun pemaknaan semacam itu tak sepenuhnya tepat.

Dianggap tidak tepat karena setiap tradisi pengajaran dan materi yang ditransformasikan di dalamnya memiliki politik yang khas dan terkadang tak mudah dipahami mudah. Hal ini mendorong terjadinya simplikasi, dan menyerdehanakan hal yang begitu kompleks. Kompleksitas tersebut misalnya dapat dilacak dari kearifan mengapa tradisi pengajaran di Madrasah Tarbiyah Islamiyah terkesan begitu-begitu saja, tidak inovatif. Padahal tradisi pengajaran, yang mungkin bagi orang modern dianggap jadul, memiliki seikat pembenaran ilmiah dimana tradisi pengajaran di Madrasah Tarbiyah Islamiyah adalah model yang paling cocok dengan subjek pembelajaran yakni santri. Dianggap cocok, karena dengan tradisi yang semacam itu mereka sesungguhnya diajarkan bagaimana menjadi pembelajar sejati. Berbagai praktik pembelajaran muncul dari tradisi semacam itu misalnya kaji-batungkuihan; maulang-kaji melalui praktik mengajar ke kelas yang lebih rendah dan lain sebagainya. Itu adalah satu dari kearifan dari model belajar yang ditradisikan di Madrasah Tarbiyah Islamiyah.(Baca Kaji Batungkuihan, Tradisi Mengaji di Madrasah Tarbiyah Islamiyah)

Memahami politik pengetahuan di balik tradisi belajar-mengajar di Madrasah Tarbiyah Islamiyah, khususnya di MTI Candung, bukan hal ‘gamblang’. Upaya memahami itu mendorong paham akan konstruksi struktural seperti politik, ekonomi dan budaya dimana tradisi itu berlangsung. Usaha semacam itu berangkat dari keyakinan Joe L. Kincheloe (2008) bahwa dibalik setiap transformasi pengetahuan (selalu) mengandaikan adanya konstruksi ideologis, dan struktural yang mendasarinya–relasi epistemologi, ontologis, politik ekonomi dan ideologi. Relasi ini kemudian melahirkan bentuk dan ‘cangkang’ yang unik dari setiap tradisi transformasi keilmuan, tak terkecuali pada Madrasah Tarbiyah Islamiyah. Satu dari konstruksi yang mendasari tradisi transformasi pengetahuan di Madrasah Tarbiyah Islamiyah adalah fakta historis bahwa Madrasah Tarbiyah Islamiyah adalah produk reformasi pendidikan Islam yang digagas oleh ulama tuo, terutama Syekh Sulaiman Ar-Rasuli. Reformasi dari sistem klasik ke sistem madrasah yang lebih modern—salah satu bentuknya adalah menggunakan bangku dan meja layaknya model pendidikan modern di sekolah-sekolah kolonial waktu itu. Lantas apakah reformasi sistem pendidikan yang dipilih oleh Syekh Sulaiman ar-Rasuli ini merupakan respon terhadap konteks sosial; politik dan budaya saat itu atau justeru hanya sekadar produk dari kreatifitas-individual kemudian diamini sebagai identitas komunitas?

Mengurai jawaban pertanyaan di atas bukan hal ‘gampang’ atau mudah. Setidaknya diperlukan pemahaman terhadap dinamika pendidikan dan pertarungan ide saat itu. Dapat pula melalui pemaknaan terhadap komponen dari sistem yang “dilewakan” oleh Syekh Sulaiman ar-Rasuli. Opsi terakhir lebih mungkin dilakukan secara interpretatif. Agaknya Inyiak Ridwan Muzir melalui artikelnya yang bertajuk Mengaji Kitab Kuning ala Madrasah Tarbiyah Islamiyah, artikel yang menegaskan kekhasan transformasi pengetahuan yang lebih dialogis dan transformatif.( Baca klik di Sini)

Kekhasan itu menjadi tradisi hingga (mungkin) beberapa tahun belakangan. Kini tradisi itu (entah) masih bertahan atau tidak. Pasalnya, saat ini Madrasah Tarbiyah Islamiyah terpaksa menerima ide dan struktur pendidikan yang digodok oleh negara. Tak jarang, orientasi mengaji (kini) tergantikan dengan orientasi yang instrumental sekadar mendapatkan ijazah. Entah ironis, atau keniscayaan, doeloe Prof. Makmur Syarif pernah mengutarakan kegelisahannya tentang alumni Madrasah Tarbiyah Islamiyah yang tak lagi mampu membaca kitab. Ini agaknya (jika tak berlebihan) dapat dimaknai sebagai resiko dalam konsepsi Ulrich Beck.

Memang konsepsi risk society ala Beck lebih erat kaitannya dengan lingkungan, dan perilaku manusia modern. Tentu tak berlebihan juga jika menggunakan frame Beck itu untuk mengidentifikasi resiko yang tengah dihadapi Madrasah Tarbiyah Islamiyah, terutama resiko yang timbul sebagai konsekuensi dari interaksi yang terjadi antara warga Madrasah Tarbiyah Islamiyah dengan modernisme. Pertama, instrumentalisasi tujuan belajar di Madrasah Tarbiyah Islamiyah tak terbendung adanya. Hal itu dapat dilacak dari rasa rendah diri yang (barangkali) menyeruak di dalam diri faqiah jika hanya mengandalkan ilmu tarbiyah saja. Karena itu mereka juga berpacu untuk menguasai ilmu-ilmu umum yang ditawarkan melalui kurikulum Departemen Agama RI. Akibatnya, mereka menjadi pribadi yang mudah letih karena fokus sudah terbelah. Ini pula yang penulis rasakan doeloe ketika menyemai ilmu di Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung.

Kedua, instrumentalisasi keikhlasan. Dulu waktu masih mengeja ilmu di Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung, tak jarang menemukan guru-guru tuo yang begitu ikhlas mengajar tanpa pamrih. Tanpa muluk-muluk ingin mendapatkan sertifikasi atau tunjangan dari negara yang (kini) begitu mengiurkan. Masih ingat doeloe ketika Abuya Alimizar Amir yang mengakui mengabdikan karena amanah Angku Imam. Tapi kini, entahlah. Begitulah cara negara. Dengan kekuasaan, dan kapital negara mampu merubah nalar yang bertujuan, menjadi nalar-nalar instrumental. Begitulah adanya ancaman dalam balutan resiko yang dihadapai Madrasah Tarbiyah Islamiyah, kini. (Barangkali) masih ada resiko lain, entahlah? Agaknya untuk tetap menjadi rumah belajar, Madrasah Tarbiyah Islamiyah membutuhkan pribadi-pribadi yang tetap percaya bahwa pengetahuan Tarbiyah memiliki daya magis, menjadi tameng diri dari sihir-sihir modernisme. Sihir yang dapat merubah semangat subtantif menjadi semangat terinstrumentalisasi.[]

Bahan:

Barbara Adam. 2000. The Risk Society and Beyond: Critical Issues for Social Theory. (London: Sage Publication).

Ulrich Beck, Elisabeth Beck-Gernsheim. 2002. Individualization: Institutionalized Individualism and Its Social and Politicak Consequences. (London: Sage Publication).

Ulrich Beck. 1992.  Risk Society: Toward a New Modernity. (London: Sage Publication).

Gabe Mythen. 2004. Ulrich Beck: A Critical Introduction to The Risk Society. (London: Pluto Press).

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY