Instrumentalisasi Pendidikan

Instrumentalisasi Pendidikan

233
0

Isu lama yang menghangat lagi akhir-akhir ini dalam dunia pendidikan adalah persoalan pencangkokkan kepentingan teknis-instrumental ke dalam kurikulum pendidikan. Yang kita maksud dengan kepentingan teknis-instrumental di sini adalah kepentingan untuk menjawab persoalan-persoalan seketika yang lagi marak di tengah-tengah masyarakat. Persoalan itu biasanya bersifat isu yang, sebagaimana biasanya sebuah isu, datang tiba-tiba dan pergi pula seketika, tergantung pewacanaannya. Misalnya, ketika reformasi bergulir dan otonomi daerah mendapatkan bentuknya, orang berebutan bicara tentang penguatan pemahaman budaya lokal di kalangan siswa dengan memasukkan beberapa pelajaran muatan lokal. Ketika tauran antar pelajar marak beberapa waktu yang lalu, orang juga tergoda untuk memasukkan kembali pendidikan budi pekerti ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Dan akhir-akhir ini kita dengar pula banyak lontaran untuk memasukkan pendidikan anti korupsi ke dalam kurikulum pendidikan sebagai bagian dari usaha untuk memberantas korupsi. Pertanyaannya, apakah pendidikan memang harus melayani kepentingan-kepentingan teknis instrumental tersebut?

Tulisan ini akan memberikan tiga argumen untuk menentang usaha seperti itu. Argumen pertama muncul dari keyakinan bahwa sebuah pendidikan haruslah merupakan aktus liberasi. Aktus liberasi adalah misi profetis yang diemban oleh pendidikan untuk mengembalikan manusia pada posisinya sebagai pengambil keputusan atas dan untuk dirinya di hadapan berbagai pilihan dalam kehidupan. Untuk tujuan itu, di samping transfer pengetahuan sekolahan yang bersifat tematik ada proses transformasi lain yang tak kalah, bahkan mungkin lebih penting diberikan kepada peserta didik, yaitu transformasi pengetahuan formal atau pandangan dunia yang bersifat general. Karena dengan pengetahuan formal inilah para peserta didik bisa mencari dan memutuskan sendiri status ontologis dan etis segala sesuatu. Dengan bahasa lain, mentransformasikan dua bentuk pengetahuan ini bisa diibaratkan sebagai usaha memberikan ikan atau kail kepada orang miskin.

Maka, memberikan materi-materi pengatahuan teknis dalam jumlah yang banyak tentang tingkah laku misalnya, seperti pendidikan budi pekerti atau pendidikan anti korupsi dan lain-lain dengan harapan akan muncul kesadaran moral, hanyalah akan menumpulkan kreatifitas berpikir dan karenanya juga akan memandegkan aktus liberasi itu sendiri. Yang harus ditransformasikan kepada peserta didik dalam konteks pendidikan liberatif seharusnya adalah alat untuk menilai apakah korupsi itu baik atau tidak, atau sikap seperti ini berbudi atau tidak. Dan selebihnya terserah mereka untuk membuat keputusan sendiri berdasarkan alat yang sudah diberikan itu.

Argumen kedua, diturunkan dari keyakinan pertama. Karena pendidikan haruslah merupakan aktus liberasi maka pendidikan seharusnya juga merupakan sebuah ruang yang memiliki otonomi relatif dalam menjalankan transformasi liberatif itu. Yang kita maksudkan dengan otonomi relatif adalah bahwa pendidikan tidak seharusnya diperhambakan kepada kepentingan-kepentingan di luar dirinya, seperti kepentingan politik, ekonomi, kebudayaan atau sosial. Namun bukan berarti pula ia harus terlepas sepenuhnya dari kepentingan-kepentingan tersebut, karena di atas kepentingan-kepentingan itulah kehidupan nyata berjalan. Agaknya hubungan yang ideal antara kedua variabel ini adalah bahwa pendidikan berada di luar kepentingan-kepentingan itu, namun dalam jarak yang relatif saja, dan bukan jarak absolut, sehingga di samping bisa memberikan kontribusi pada kepentingan-kepentingan  itu terlebih penting lagi ia bisa melihatnya dengan jernih dan kritis dari luar. Dengan begitu pendidikan pun tidak hanya menjalankan fungsi instrumentalnya dengan mentransformasikan kemampuan “mengolah dunia”, tapi juga fungsi kritis dan reflektifnya untuk menyikapi dunia di hadapannya, dengan menolak atau menerimanya.

Memasukkan materi-materi yang bersifat teknis-instrumental tanpa mempertimbangkan dampak-dampak khususnya hanya akan menyudutkan pendidikan pada jurang “kolonisasi”. Meminjam konsep Habermas, kolonisasi adalah sebuah kondisi di mana subsistem reflektif dan adabtif didominasi oleh subsistem teknis dan instrumental. Kondisi ini nantinya akan menimbulkan krisis sistem di mana sistem tidak lagi menjalankan fungsinya karena kesatuannya sudah pretel. Dalam dunia pendidikan kolonisasi itu berlangsung ketika kepentingan teknis instrumental yang di masa lalu tercermin dalam bidang studi tertentu seperti pancasila dan sejarah mendominasi kepentingan kritis-reflektif (liberatif) yang tercermin dalam transformasi pengetahuan formal-general tadi. Wujud nyata dari krisis yang berlangsung pada tubuh sistem pendidikan adalah ketidakmampuannya untuk melakukan transformasi secara maksimal, baik untuk kepentingan teknis instrumental semata maupun untuk kepentingan kritis-reflektif. Dan menurut perspektif teori sistem, krisis ini akan pulih ketika kolonisasi itu dihilangkan.

Argumen ketiga, bahwa pengajaran materi-materi yang bersifat teknis itu akan membuka kembali ruang ideologisasi dalam proses pendidikan. Itu artinya pendidikan akan memainkan lagi peran lamanya sebagai instrumen hegemoni. Dan di masa lalu kita telah kenyang dengan kenyataan bahwa pendidikan bisa dengan mudah dimanfaatkan sebagai media untuk melakukan transfer ideologi kelas dominan. Yang perlu ditegaskan adalah bahwa tidak selamanya ideologisasi itu, dan karenanya juga hegemoni, berlangsung lebih kuat pada aras ideal-konseptual. Pada aras praksis-teknis pun ia bisa bekerja. Bahkan menurut saya proses ideologisasi itu akan berlangsung lebih menohok dan tajam pada aras teknis ini, karena aras teknis, sebagaimana halnya teknologi, seringkali diterima begitu saja dan diluputkan dari proses pemeriksaan kritis (critical scrutiny).

Semakin kuatnya pandangan tentang pendidikan sebagai sarana transformasi sosial, media perebutan kapital simbolik dan instrumen rekayasa sosial, membuat kita semakin cemas tentang nasib semangat liberasi pendidikan. Selamanya instrumentalisasi akan berdiri berseberangan dengan liberasi. Dan kita pun akan segera dihadapkan pada pilihan: transformasi atau liberasi. Namun sebelum memilih perlu ditimbang sungguh-sungguh, memilih adalah menyisihkan, menyisihkan berarti membuang, dan hati-hatilah.. Jangan membuang sembarangan.[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY