Islam dan Peradaban

Islam dan Peradaban

199
0
Ilustrasi/Dok.Istimewa

Ada banyak definisi yang dikemukakan oleh para ahli tentang kebudayaan dan peradaban. Ada yang membedakan antara keduanya, dan ada pula yang menyatakan kedua hal itu sama dalam hakikatnya. Namun, keduanya merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya. Kebudayaan lebih dimaknai sebagai nilai atau sistem nilai, sementara pencapaian-pencapaiannya akan terlihat pada apa yang disebut sebagai peradaban.  Arnold Toynbee, misalnya, mendefinisikan peradaban sebagai kebudayaan yang sudah mencapai taraf perkembangan teknologi yang lebih tinggi.

Alfred Weber mendefinisikan kebudayaan lebih mengacu kepada pengetahuan dan juga intelektual, sementara peradaban murapakan kumpuluan cara yag sifatnya teknis dan digunakan untuk mengendalikan alam. Peradaban, kata Spengler, merupakan kebudayaan yang tidak lagi mempunyai aspek produktif, sudah membeku dan mengkristal, sementara kebudayaan merupakan sesuatu yang mengacu kepada hal-hal yang hidup dan juga kreatif. Kebudayaan merupakan sesuatu yang sedang terjadi, sementara peradaban merupakan sesuatu yang sudah selesai. Boleh dikatakan bahwa peradaban merupakan produk atau buah dari kebudayaan yang sudah mengkristal dan dapat dilihat secara fisik, seperti ilmu pengetahuan dan teknologi, atau juga pola tatanan kehidupan berupa perilaku sosial masyarakat suatu negeri atau bangsa. Sebuah peradaban mengalami siklus dalam ruang dan waktu. Ia mengalami pasang dan surut, sedang kebudayaan lepas dari kontradiksi ruang dan waktu. Ia memiliki ukuran tersendiri seperti benar atau salah, tepat atau tidak tepat, berguna atau tidak berguna dalam pemikiran.

Ada dua kata kunci yang menjadi pilar utama dari kebudayaan dan atau peradaban, yaitu intelektualitas dan spiritualitas. Dari intelektualitas lahir pemikiran yang kemudian beruwujud sebagai ilmu dan teknologi, dan dari spiritualitas muncul adab, akhlak  atau perilaku yang diamalkan dalam pergaulan hidup, termasuk dalam membangun produk-produk kebutuhan hidup yang akhirnya dinikmati sebagai peradaban. Membangun peradaban adalah membangun negeri atau kota berbarengan dengan membangun akhlak secara bersamaan.

Dalam skala global, seorang futurolog bernama Jared Diamond memprediksi ada tiga peradaban di dunia yang akan runtuh dalam beberapa dekade mendatang, yaitu Kolombia, Philipina dan Indonesia.

Saya belum menemukan apa alasan yang digunakan oleh Diamond untuk  memprediksi kenapa Indonesia masuk dalam tiga peradaban tersebut. Tapi untuk membantu kita memahami apa yang dikemukakannya, ada baiknya dilihat terlebih dahulu  ciri -ciri masyarakat berperadaban (civil society) yang dikemukakan oleh para ahli. Ciri-ciri itu antara lain adalah: pertama, pertumbuhan bandar atau kota yang baik; kedua, mempunyai tingkah laku yang luhur dan murni; ketiga, maju secara  material dan spiritual. Masyarakat dengan ciri-ciri seperti itu disebut sebagai civil society, yaitu masyarakat yang adil, terbuka, demokratis, egaliter, menghargai ilmu pengetahuan, berorientasi pretasi (bukan prestise). Intinya adalah masyarakat yang maju, berkualitas secara intelektual dan spiritual. Inilah masyarakat yang dibangun dan berhasil  diwujudkan oleh Nabi di Madinah. Para ahli menamakan masyarakat itu sebagai masyarakat madani, nama yang dinisbahkan kepada nama kota Maninah. Kalau itu yang dijadikan ukuran, maka berarti bahwa maju atau runtuhnya suatu peradaban diukur dari seberapa tinggi atau rendahnya penghargaan mereka kepada ilmu pengetahuan dan juga moral.

Dulu, sebelum kemerdekaan sampai parohan awal orde baru, Indonesia sebagai negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia, memiliki hampir semua ciri tersebut. Tapi mendekati akhir orde baru dan sampai tahun ke 18 reformasi, satu persatu dari ciri itu mulai luntur atau bahkan runtuh secara berangsur namun pasti. Hampir semua ciri masyarakat berperadaban itu melemah secara sifnifikan, intelektual apalagi lagi moral, dan tertinggal jauh dari bangsa-bangsa lain di dunia.

Dari segi intelektual, terutama bidang pendidikan, Indonesia tertinggal begitu jauh dari negara-negara lain. Bila di Amerika Serikat (AS) terdapat 6.500 doktor dari setiap satu juta orang, Prancis 4.700 doktor, Jerman 5.000 doktor, Jepang 4.800 doktor, Israel 15.000 doktor. Indonesia hanya 65 doktor dalam 1 juta penduduk. Bila doktor sains dan teknologi di Tiongkok mencapai 30.000 orang (dalam rentang waktu 1995-2005), sementara Indonesia kurang dari 1.000 orang. Negara-ngara Islam memiliki 8.8 insyinyur dan teknisi per 1000 penduduk, sementara negara-negara maju memiliki 139,3. Untuk sejajar dengan negara-negara maju, Indonesia membutuhkan sedikitnya 30.000 doktor di bidang sains dan teknologi hingga 2030.

Kondisi  seperti di atas diperparah oleh adanya migrasi tenaga ahli (brain drain) dari negara-negara Islam ke negara maju tiga dekade terakhir. Lebih dari 500,000 ilmuan dari negara dunia ketiga bermigrasi ke Eropa, Amerika, Kanada, dan Australia. 55% di antaranya berasal dari negara-negara Islam, seperti Iran, Pakistan dan Turki; tiga dari negara Islam yang paling banyak kehilangan ilmuannya. Hal yg sama juga dialami oleh Mesir, Aljazair, dan Maroko. Begitu juga Suriah, Lebanon, dan Yordania.

Dr. Abdussalam dan Dr.Ahmed Zewail meraih hadiah nobel Fisika dan Kimia setelah hijrah dari Pakistan ke Inggris, dan dari Mesir ke Amerika. Sebagai ilmuan, negeri mereka tidak memberi kesempatan untuk maju dan berkembang di negeri sendiri, tetapi  negara Barat membuka peluang untuk itu.

Begitu juga di bidang peradaban. Menurut Data Sience Citation Index 2004, 46 negara Islam memberi kontribusi 1,17% pada penerbitan karya ilmiah dunia, lebih rendah dibandingkan hanya satu negara seperti India, 1.66%, dan Spanyol 1,48%. 20 negara Arab menyumbang 0.55% dari total karya ilmiah dunia, sementara satu negara Israel 0.89%, Jerman 7.1%, Inggris 7.9%, Jepang 8.2%, dan AS 30.8%. Pada umumnya, negara-negara Islam hanya mengalokasikan dana 0.45% dar GNP untuk riset, sementara negara-negara maju sampai 2.30 % dari GNPnya.

Kemudian, dari segi moral, umat Islam umumnya, Indonesia khususnya mengalami degradasi yang cukup serius. Keberanian untuk menegakkan kebenaran dan keadilan yang dulu dimiliki oleh para pendahulu kita di negeri ini, kini begitu mendegradasi karena penyakit kecintaan kepada jabatan dan kekayaan yang sangat tinggi. Bila dulu para pejuang hanya takut kepada Allah dan berani kepada yang selain Allah, kini berbalik menjadi takut kepada selain Allah, lalu berani kepada Allah. Takut kepada partai, kepada pejabat atau jabatan, kepada popularitas, kepada materi, lalu berani menentang Allah dengan tidak patuh kepada perintahnya, dan melanggar larangan-larangannya. Tidak lagi teguh kepada pendirian, sehingga mudah dirayu, bahkan telah menular sampai kepada orang-orang yang dipandang sebagai ulama oleh masyarakat. Berbuat jauh dari keikhlasan, sehingga mudah disogok, berprilaku primordialistik, sehingga memecah belah persatuan umat dan bangsa. Tidak komit dalam melaksanakan hukum yang diyakininya benar, tapi ditinggalkan karena berlawanan dengan kepentingan. Bahkan, kelemahan terparah dikalangan umat Islam hari ini adalah perpecahan karena berebut kepentingan yang berdampak kepada tidak toleran dalam perbedaan.

Akibat dari itu semua adalah semakin lengah dan lemahnya kekuatan umat Islam dalam menjaga dan mengelola kekayaan sumber daya alam dan potensi-potensi lainnya yang ada di negeri-negeri muslim. Padahal, sumber itu adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam mencapai kemajuan peradaban secara substansial. Akibatnya, potensi-potensi itu banyak dikuasai oleh pihak asing yang pada umumnya bukan muslim. Sebagai bahan renungan, ada baiknya dilihat sudah berapa besar pihak yang disebut terakhir mendominasi kekayaan negeri muslim, khususnya Indonesia seperti berikut:

Sektor bisnis dibuka untuk asing:

  1. Pelabuhan, mencapai 49%
  2. Operator Bandara, bisa 100%
  3. Jasa Kebandaraan, 49%
  4. Terminal darat untuk barang, 49%
  5. Periklanan, terutamanegara- negara anggota ASEAN, bisa mencapai 51%
  6. Perbankan = Setidaknya, 12 bank swasta di Indonesia dimiliki oleh investor asing, antara lain: ANZ Banking Group Limited (99%), Bank UOB Indonesia (98,84%),HSBC Asia Pacific Holdings (UK) Limited (98,96%), CIMB Niaga(97,93%), OCBC Overseas Investment (85,06%) Aset perbankan Nasional = Asing = 50.60%, Nasional = 49.40%. Bank Mualamat, 60 % Arab (Data tahun2011).
  7. Pertambangan: Migas = 70% asing, Batubara, bauksit, nikel dan timah = 75% asing, tembaga  dan   emas: 87 % asing.
  8. Perkebunan = 40% dari 8.9 juta ha lahan sawit dikuasai asing.
  9. Telekomunikasi = umumnya dikuasai asing.

Kiranya, sedikit gambaran di atas memberi kesimpulan tentang betapa lemahnya komitmen pemegang kekuasaan di negeri ini untuk menjaga dan mengembangkan potensi yang dimiliki dalam rangka membuat bangsa dan negara Indonesia maju secara budaya dan peradaban. Apresiasi kepada dunia pendidikan dan ilmu penegetahuan yang begitu rendah membuat Indonesia tertinggal dari bangsa lain. Apresiasi kepada penegakkan hukum yang juga begitu rendah, membuat moral bangsa jatuh dan mendekati kehancuran. Dunia pendidikan yang telah dimasuki oleh nilai dan praktik-praktik politis telah menjadikan Indonesia tidak lagi sebagai bangsa yang berbudi, tetapi justru menjadi bangsa yang warna politik praktisnya dominan, seperti tidak jujur, korup, suka berbohong, hedonis, yang semuanya menggerus jiwa patriotisme. Orang Indonesia, terutama elitnya, sudah terkesan menjadi anak partai, anak golongan, dan anak aliran ketimbang sebagai anak bangsa. Umat Islam pun sudah seakan-akan menjadi umat dari mazhab atau alirannya, ketimbang sebagai umat dari agama Islam sendiri. Masing-masing berlomba untuk mencari keuntungan sendiri, sehingga ukhuwwah Islamiyah akhirnya menjadi slogan kosong, lalu dimanfaatkan oleh pihak lain untuk mencari keuntungannya sendiri.

Islam dan Peradaban

Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa penciptaan manusia dan menurunkannnya ke bumi adalah untuk membangun peradaban. Makna kata khalifah yang terdapat di beberapa surat dalam al-Qur’an mengandung pesan bahwa tujuan Allah mencipta manusia memang untuk itu. Surat al-Baqarah ayat 30 “wa izqulna lil malaikati inni ja’ilun fil ardhi khalihaf, dilanjutkan dengan ayat 31 “wa’allama adaamal asma a kullaha.., diteruskan lagi dengan perintah kepada Adam untuk mengajarkan kepada malaikat ilmu yang diajarkan Allah kepadanya dalam ayat 33,” qala anbi’hum bi asmaa ihim...” mengandung makna bahwa sejak awal penciptaannnya, manusia (Adam) sudah diperintah untuk menyampaikan ilmu sebagai pilar utama dari peradaban. Hal itu berulang kali diingatkan Allah dalam surat  al-An’am ayat 165,  surat Yunus ayat 14, surat Faathir ayat 39, dan surat al-Hadiid ayat 7. Begitu juga perintah Allah kepada manusia untuk melakukan perbuatan atau berkarya secara sungguh-sungguh  (surat al-An’am ayat 135, surat al-Taubah ayat 105) untuk menghasilkan peradaban yang bermutu.

Bila al-Qur’an menggunakan kata khalifah sebagai sebutan untuk manusia yang diciptakan Allah di muka bumi, maka nabi menggunakan kata raa’in untuk mengatakan bahwa manusia itu adalah pemimpin. Pemimpin dengan makna raa’in adalah pengembala yang bertugas melindungi, memelihara, mendidik, dan membuat gembalaannya menjadi berguna untuk orang lain. Itulah tugas-tugas kebuduyaan, tugas-tugas peradaban. Inilah yang disebut dalam ungkapan leader is the cultural builder.

Tugas-tugas itulah yang dilakukan oleh Nabi di Medinah, membangun peradaban, dan tugas-tugas itu pulalah yang dilanjutkan oleh para sahabat sepeninggal beliau yang akhirnya menciptakan sebuah dunia baru peradaban moderen. Dunia Barat kini mengakui bahwa dunia atau peradaban moderen di mulai di Medinah, lalu menyebar ke Eropa.  Islamlah yang membuat dunia menjadi  berperadaban moderen.

Amat disayangkan, tugas-tugas seperti disebut di atas kini dilengahkan oleh sebagian besar umat Islam, sehingga dunia muslim terpuruk dalam keterbelakangan. Mereka lalai dalam membenahi dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan, abai dalam penegakkan hukum, dan hidup dengan orientasi jangka pendek. Semua itu berarti  pengabaian terhadap ajaran substansial Islam tentang peradaban.

Peran Pesantren

Sejarah pendidikan di nusantara dimulai dari pesantren. Pesantrenlah yang menjadi lembaga pendidikan formal pertama di Indonesia atau di nusantara pada umumnya. Dari pesantren lahir pemimpin-pemimpin, formal ataupun tradisional. Para pahlawan Indonesia banyak berasal dari pesantren. Ilmunya memadai, akhlaknya terpuji, sebagai pilar utama tumbuh dan bangunnya kebudayaan dan peradaban.

Fenomena terkahir yang cukup menyentak hati di Indonesia adalah lahirnya sebuah Yayasan Peduli Pesantren (YPP) yang didirikan dan diketuai oleh Hari Tanoe (HT) Sudibyo, seorang pengusaha, dan ketua partai politik beragama nasrani. Berdalih dan berperformance sebagai “orang baik hati,”  karena prihatin melihat kondisi pesantren, HT ingin memberikan bantuan untuk membangun dan membuat pesantren lebih baik, lebih humanis, lebih maju demi Indonesia.

Secara yuridis, hal itu tentu tidak ada yang salah. Tetapi secara sosiologis, kehadiran YPP di saat Islam menghadapi serangan bertubi-tubi di segala lini, membuat umumnya umat Islam tersentak dan tersinggung, bahkan curiga. Karena, bukankah sudah banyak bukti bicara bahwa bantuan-bantuan seperti itu selalu diiringi oleh agenda-agenda terselubung yang akhirnya merugikan. Tidak hanya terhadap umat Islam Indonesia secara khusus, tetapi bahkan terhadap negara dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Manuver yang dilakukan oleh HT dan dibantu pula oleh kiyai-kiyai tertentu membuat sebagian besar umat Islam merasa dipermalukan di rumahnya sendiri, seakan-akan pesantren-pesantren yang ada di tanah air ini telah begitu lemah dan miskinnya, sehingga perlu menadahkan tangan kepada orang lain yang sama sekali tidak paham tentang apa itu pesantren, apalagi Islam. Ini bukan persoalan kecil, sekadar ada orang yang peduli dan ingin membantu. Ini persoalan besar dan harga diri. Ini persoalan besar, bagian dari strategi proxy war. Ini persoalan besar, bagian ujian terhadap patriotisme. Ini persoalan besar, ujian terhadap keimanan.

Tidak ada jaminan pesantren-pesantren di negeri ini akan lebih baik dan lebih berbudi pekerti bila dibantu oleh YPP dibanding dengan sebelumnya. Tidak ada jaminan pendidikan di negeri ini akan lebih memiliki daya saing global setelah dibantu HT. Yang akan ada, sangat mungkin terjadi, akan terjadi penurunan kualitas. Ini bukan prediksi yang berlebihan apalagi paranoid. Ini prediksi berbasis analisis data dan pengalaman panjang ketika negeri ini dulu sebelum menerima bantuan dari negara-negara kapitalis seperti IMF atau World Bank dan lain sebagainya. Bangsa ini kehilangan kemandirian lalu kehilangan harga diri. Bukankah Belanda melakukan itu untuk menguasai wilayah Indonesia secara berangsung-angsur lalu menjajah sampai beratus tahun. Bukankah itu yang dilakukan Lee Kuan Yu terhadap orang Melayu di Singapura sampai akhirnya negeri itu benar-benar menjadi negeri orangnya Lee Kuan Yu. Bukankah cara itu juga yang dilakukan oleh Cina di Zimbawe, Mongolia,  Nepal dan lain sebagainya, sehingga negeri-negeri tersebut lumpuh dan akhirnya membiarkan dirinya dikuasai oleh Cina? Orang Minang mengatakan, “lidah lah taimpik, iduang lah dicucuak, tali dielo urang, awak manuruik kama kamauan urang, harago diri lah tagadai” Inilah politik berudang di balik batu. Politik tanam budi untuk sebuah tujuan jangka panjang. Orang tua di Ranah Minang mengingatkan “Ariflah manengok rantiang nan kamanyangkuik, dahan nan ka maimpok. indak arif badan binaso.”

Saya pikir, di sinilah kita perlu meningkatkan intensitas perhatian terhadap madrasah atau pesantren. Modernisasi yang terkesan bermuatan westerniasasi dan mengharu biru dunia pendidikan Indonesia sejak awak Orde Baru, teryata tidak mampu membuat anak-anak bangsa menjadi manusia-manusia yang berkualitas secara intelektual dan apalagi spiritual. Jenjang pendidikan yang tinggi ternyata tidak berkorelasi positif dengan ketinggian moral sebagai modal utama (soft skill) maju atau mundurnya peradaban di suatu bangsa. Keteguhan madrasah dan pesantren dalam menerapkan sistem pendidikan atau metode pengajaran yang dipraktekkan sedari dulu, dan ternyata terbukti mampu menjadikan anak-anak didiknya cerdas secara intelektual dan spiritial, harus dipertahankan. Keteguhan pesantren dalam membiayai diri sendiri serta ketulusan guru menurunkan ilmu kepada murid seperti yang telah dilakukan oleh guru-guru kita dulu harus dipertahankan dan dikembangkan sekuat tenaga. Upaya-upaya untuk mencari sumber-sumber pendanaan yang halal namun tidak mengikat harus senantiasa digesa agar kondisi yang ada dapat diperbaiki, dan ketergantungan kepada orang lain dapat dihindari. Masyarakat Indonesia harus kembali menjadi madrasah atau ‘pesantren minded’, agar intelektual dan spiritual generasi penerus dapat dibina secara integrated dan terkontrol secara proporsional. Mari gali kembali potensi diri. Mari kembali menegakkan harga diri. Tidak ada yang besar karena orang, tapi besar karena kemauan dan kemampuan mmgembangnkan potensi diri diri.  Al-i’timaadu ala al-nafsi asasu al-najah.[]

Canduang, 29 Desember 2016.
Prof. Dr. Alaiddin Koto, MA

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY