Kearifan Lokal Pengajaran Bahasa Arab di Surau Minangkabau

Kearifan Lokal Pengajaran Bahasa Arab di Surau Minangkabau

697
0

      Dalam tradisi keilmuan Islam, kemampuan bahasa Arab menempati posisi penting. Siapa saja yang ingin mengetahui seluk-beluk agama harus mempelajari dan mahir dalam bidang yang satu ini. Oleh karenanya bahasa Arab sering disebut sebagai ilmu Alat, yaitu perkakas yang wajib dimiliki sebelum mendalami ilmu-ilmu agama Islam lainnya. Berdasarkan hal demikian, keilmuan bahasa Arab menjadi mata pelajaran penting yang paling awal dipelajari oleh seorang ‘Anak Siak’ (sebutan santri di Minangkabau) sebelum terjun ke bidang-bidang lainnya. Hal ini berlangsung rata pada masing-masing lembaga pendidikan Islam sejak awal hingga sampai saat ini.

Surau, lembaga pendidikan Islam tradisional Minangkabau, merupakan salah satu contoh yang dapat kita lihat pada kali ini. Sejak awal kemunculan dan pengaruhnya, Surau telah memainkan peran intelektual yang sangat penting. Peran itu bukan hanya terletak pada transmisi keilmuan yang mengacu pada peradaban Timur Tengah, Makkah tentunya, lebih dari itu surau mampu menjadi rahim yang melahirkan jaringan intelektual yang luas, kaya, dan beragam. Hal ini dapat kita lihat dari transmisi keilmuan Surau yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Terdapat beberapa vak keilmuan yang diajarkan oleh komunitas surau, antara lain Fikih, Tauhid, Tafsir, Tata Bahasa Arab dan lainnya. Di awal perkembangan surau, kita dapati bahwa vak keilmuan dan literatur yang digunakan lebih sederhana. Hal ini dimungkinkan karena Islamisasi yang berjalan perlahan-lahan, memasuki jantung kebudayaan Minangkabau, sehingga pengajaran Agama hanya dimungkinkan untuk ilmu-ilmu yang dianggap penting, seperti tata cara ibadah (fikih), tauhid, tafsir dan bahasa Arab. Dengan mempelajari ilmu-ilmu ini, seorang urang siak diharapkan mampu mengembangkan diri dengan berkelana mencari surau-surau lain yang menawarkan corak keilmuan yang lebih beragam. Keadaan seperti ini terlihat merata di seluruh penjuru Minangkabau.

Fikih yang populer dan menjadi pegangan ulama-ulama Surau begitu juga masyarakat Minangkabau ialah Fikih Syafi’iyah. Dalam bidang fikih, literatur yang lebih menonjol ialah Minhaj al-Thaalibin karya magnum opus dari Imam Nawawi, seorang mujtahid mazhab dari kalangan Syafi’iyah. Meskipun terdapat beberapa literatur lain seperti Sharh al-taqrib, sebuah komentar terhadap Matn al-ghayah wa al-taqrib karya Imam Abu Suja‘, namun tidak begitu mendominasi di surau-surau sebelum abad XX. Menurut penuturan salah seorang ulama tua Minangkabau, Syekh Sulaiman Arrasuli, Minhaj al-thalibin merupakan karya fikih terpenting bagi ulama-ulama surau sebelum abad XX. Kitab ini menjadi rujukan, bukan hanya dalam ibadah, tapi urusan-urusan sosial, pernikahan, dan hukum. Sehingga ada pameo: “Islam-nya Minangkabau disebabkan oleh kitab Minhaj al-thalibin.[1]

Dalam literatur ilmu tauhid, dikenal kitab al-Sanusiyah karangan Imam Sanusi, sebuah risalah ringkas mengenai dasar-dasar ilmu tauhid dalam kalangan Asy’ariyah yang kemudian banyak dikomentari (diberi sharah) oleh ulama-ulama besar setelah. Kitab ini tersebar luas hampir di seluruh surau-surau sebelum abad XX. Hal ini terlihat dari peninggalan koleksi naskah dari berbagai surau yang menyimpan naskah al-Sanusiyah ini. Bagian yang terpenting dari al-Sanusiyah ialah mengenai Sifat Dua Puluh, yaitu dua puluh sifat-sifat yang wajib bagi Allah, yang menjadi ciri khas tersendiri bagi beberapa surau. Sifat Dua Puluh menjadi salah satu bentuk mengajaran tersediri karena terdapat beberapa ulama yang menghubungkan pemahaman Sifat Dua Puluh dengan ilmu tasawuf.

Aspek keilmuan yang terpenting lainnya dalam komunitas surau ialah tasawuf. Hampir semua surau yang berpengaruh sebelum abad XX berinisiasi kepada salah satu ordo sufi, apakah Naqsyabandiyah, Syattariyah, atau Sammaniyah. Dengan demikian, tarekat dengan segala bentuk praktiknya menjadi salah satu ciri khas dari surau-surau itu, artinya sebuah surau benar-benar akan diakui sebagai “suaru” kalau mengajarkan satu praktek tasawuf seperti tarekat ini. ada banyak literatur tasawuf yang diajarkan di surau, terutama mengenai karya-karya yang berhubungan dengan ordo sufi tertentu. Kitab al-Hikam karya monumental dari Sufi Mesir, Ibnu Atha’illah, merupakan karya tasawuf yang dikaji secara umum di surau-surau tersebut.

Pada Surau Syattariyah, literatur tasawuf yang banyak dipakai ialah karya-karya ulama Aceh yaitu Syekh Abdurra’uf al-Fansuri yang ditulis dalam bahasa Arab dan Melayu. Karya-karya tersebut umumnya berbicara mengenai ilmu tasawuf yang terbilang tinggi, karena mencakup kajian Martabat Tujuh yang bersifat filosofis. Dalam kalangan Syattariyah, Martabat Tujuh terurai dalam istilah “Kaji Diri”, yaitu mengetahui hakikat diri yang bertujuan untuk mengenal (ma’rifat) kepada Allah, sesuai dengan hadis yang populer dari ordo sufi ini: Man ‘arafa nafsahu fa-qad ‘arafa rabbahu (siapa yang mengenai dirinya, niscaya ia akan mengenal Tuhannya). Meskipun sebagian ulama meragui kalimat ini merupakan hadis, namun secara substansi merupakan ungkapan yang penting terkait dengan intropeksi diri yang kemudian melahirkan kesadaran ber-Tuhan. Inilah yang menjadi poin penting bagi kalangan Syattariyah.

Surau
Surau

Cabang keilmuan yang penting dan berhubungan dengan semua keilmuan Islam yaitu bahasa Arab. Kajian bahasa Arab di surau lebih menekankan aspek kemahiran membaca dan memahami isi teks dibandingkan kemampuan bercakap-cakap. Hal ini dikarenakan asumsi bahwa seorang ulama mesti mampu menguraikan isi sebuah literatur keilmuan Islam secara baik, benar, dan tepat sesuai dengan maksud pengarangnya. Oleh sebab itu pengetahuan bahasa Arab menjadi suatu yang penting. Di berbagai surau, pengetahuan tentang tata bahasa Arab menjadi studi dasar yang bersifat wajib sebelum seorang urang siak (santri) belajar ilmu-ilmu agama lanjutan, seperti fikih, tafsir, dan tasawuf. Malah terdapat beberapa surau yang berkosentrasi untuk mengajar ilmu bahasa Arab secara khusus. Hal ini kita lihat misalnya di Surau Kamang yang dikenal sebagai pusat ilmu Nahwu.

Karena pentingnya ilmu bahasa Arab di surau, maka terdapat beragam literatur tentang ilmu ini. mulai dari teks yang dianggap ringkas dan sangat pendek, hingga literatur yang berjilid-jilid dan rumit (muthawwalat). Kitab-kitab itu dipelajari sesuai dengan jenjang dan kemampuan urang siak. Secara umum, kitab-kitab dalam bidang bahasa Arab di berbagai surau dapat dikategorikan sebagai berikut:[2]

  1. Dasar

Literatur bahasa Arab tingkat dasar diberikan kepada santri yang baru belajar bahasa Arab. Kitab-kitab ini terbilang ringkas, dengan bahasa yang mudah, dan tidak rumit. Kitab-kitab dari tingkat ini seperti: (1) Matan Ajurumiyah karangan Imam Shanhaji, (2) Kitab Dhammun yang merupakan syarah ringkas terhadap al-‘Awamil al-Jurjani, (3) Matan al-Bina’ wa al-Asas, dan (4) Matan al-‘Izzi. Juga termasuk deretan kitab-kitab dasar yaitu syarah (komentar-perluasan) dari kitab-kitab matan tersebut, antara lain (1) Mukhtashar Jiddan karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan yang merupakan syarah dari Matan Ajurumiyah, dan (2) Syarah Kailani karya Syekh al-Kailani, yaitu syarah dari Matan al-‘Izzi.    

  1. Lanjutan

Pada tingkat lanjutan, terdapat beberapa literatur mengenai tata Bahasa Arab yang agak luas, antara lain (1) Syarah Mutammimah Ajurumiyah, (2) Hasyiyah Khalid ‘ala Syarah Ajurumiyah. Kitab-kitab pada tingkatan ini merupakan perluasan dari kitab-kitab matan, biasanya merupakan hasyiyah, perluasan dari syarah.

  1. Mahir 

Pada tingkat mahir, terdapat beberapa kitab yang menjadi rujukan, antara lain (1) Syarah Qatrun Nada karya Syekh Ibnu Hisyam al-Anshari, (2) Kitab Alfiyah dengan berbagai syarah dan hasyiyah-nya, diantaranya Syarah Ibnu ‘Aqil dan Syarah al-Asymuni. Literatur pada tingkatan ini umumnya telah membicarakan tentang perdebatan-perdebatan berbagai Mazhab Nahwu, seperti Mazhab Kufah dan Bashrah. Selain itu dalam pembahasannya juga sering mengutip tokoh-tokoh Bahasa Arab seperti Sibawaihi, Furra’, Kisa’i, dan lain-lainnya.  

Pengajaran Bahasa Arab di surau umumnya menggunakan literatur-literatur klasik yang berbeda format dan tertib babnya dibandingkan dengan kitab-kitab modern. Oleh sebab itu, pemahaman terhadap kitab-kitab itu tergolong pelik. Namun kepelikan itu mempunyai sisi positif, antara lain:

  1. Anak Siak dididik untuk jeli memperhatikan titik, koma, dan paragraf dalam fragmen kitab-kitab itu, sebab umumnya kitab-kitab itu dicetak tanpa titik dan koma, dan juga paragraf. Hal ini setidaknya mendorong Anak Siak untuk menfokuskan pikiran dalam menganalisa kalimat perkalimat dalam teks yang mereka baca;
  2. Anak Siak didorong untuk mampu membuat ringkasan (mukhtashar) dari sebuah teks, sehingga mereka dapat memetakan pelajaran mereka;
  3. Anak Siak dibiasakan dengan hafalan, sebab matan kitab pelajaran mereka di surau semacam paragraf pendek atau sebuah nazham (susunan sya’ir). Biasanya paragraf pendek itulah yang diberi penjelasan dan diuraikan dengan panjang lebar pada tingkat-tingkat selanjutnya;
  4. Membiasakan Anak Siak untuk mengulang pelajaran hingga benar-benar dhabit (sangat hafal). Biasanya bab-bab kitab diajar dengan berulang-ulang dengan tingkat kerumitan yang semakin tinggi.

Selain penggunakan teks klasik, pengajaran Bahasa Arab di surau mempunyai kearifan lokal tersendiri. Terdapat beberapa kekhasan pengajaran Bahasa Arab di surau, diantaranya:

  • Terjemahan Bahasa Minang yang terikat dengan tata Bahasa Arab

Kitab-kitab pelajaran di surau, tak terkecuali bidang Bahasa Arab, diterjemahkan dan dijelaskan dengan Bahasa Minang oleh guru. Terjemahannya itu sangat terikat dengan tata Bahasa Arab, sehingga memudahkan Anak Siak dalam memahami terjemahan sesuai dengan gramatikalnya.

Misalnya, ungkapan al-Kalam huwa allafzhu al-murakkab al-mufid bi al-Wadh’i, diterjemahkan Sebermulo kalam, ba-a baramulonyo, iolah lafazh yang disusun…

Kata baramulo menunjukkan mubtada dalam Bahasa Arab. Dengan demikian Anak Siak, setiap mendengar terjemahan Baramulo, akan langsung paham bahwa kalimat itu terjemahan dari teks yang merupakan mubtada. Begitu seterusnya.

Terjemahan seperti ini membantu Anak Siak dalam memahami teks sesuai dengan tata bahasa yang benar. Bila Anak Siak telah selesai belajar, kemudian, misalnya terjun kedunia penerjemahan, maka ia hanya cukup mengubah gaya terjemahannya sesuai dengan tata Bahasa Indonesia, tanpa mesti memikirkan lagi gramatika teks yang akan diterjemahkan.

  • Memahami teks dengan penggunakan Mantiq

Adalah kemahiran, bahkan telah menjadi adat, bahwa guru-guru di surau pintar bermain kata-kata, dalam hal ini mantiq. Hal ini juga dibutuhkan ketika mengajar, tak terkecuali Bahasa Arab, ketika melatih daya nalar Anak Siak. Pernah satu ketika Syekh Muhammad Jamil Jaho menjelaskankan tentang isim maushul di depan Anak-anak Siak-nya.

Beliau menyatakan bahwa Isim maushul ialah membutuhkan shilah dan ‘a-id.  Namun kemudian beliau menimpali: “Kalau sudah mempunyai shilah dan ‘a-id, tentu bukan lagi disebut isim maushul.” Para Anak Siak bingung mendengar penjelas yang terakhir. Padahal kalimat yang diucapkan beliau hanya sekedar kelihaian berpikir, yang intinya beliau menegaskan bahwa isim maushul itu berhajat kepada shilah dan ‘a-id. Bila Anak Siak memahami ungkapan beliau, semua tertawa, sebab telah dipermainkan gurunya lewat kata-kata.

  • Mengaitkan Bahasa Arab dengan ilmu-ilmu lain, seperti tasawuf

Telah maklum dikalangan ulama-ulama surau bahwa Bahasa Arab itu terkait dengan ilmu-ilmu lainnya, salah satunya Tasawuf. Sebab, untaian huruf, menurut mereka, ataupun letak baris dan titik mempunyai hikmat yang luas seluas lautan tak bertepi. Lautan yang bila ditempuh dengan kapal ilmu bisa membawanya ke pulau ma’rifat. Sebagai contoh, dalam sebuah kitab Nahwu yang terdapat di Ulakan, berjudul Risalah Burhaniyah (barangkali dikarang oleh anak murid Syekh Ulakan) disebutkan pertanyaan:

“Mengapa wazan fi’il itu ditimbang dari fa’ala, bukan kalimat lainnya?”

kemudian dalam kitab itu disebutkan jawaban: “Karena fa’ala menunjukkan perbuatan Tuhan, sedangkan kalimat lainnya menunjukkan perbuatan hamba.”

Dalam contoh ini, pengarang menyebutkan bahwa fa’ala itu perbuatan Tuhan (fi’il Allah), dan fi’il Allah meliputi sekalian alam. Ini jawaban merupakan bagian dari ilmu Tasawuf. Oleh sebab itu pada beberapa surau-surau lama ditemui kitab-kitab Nahwu yang bertali dengan ilmu tasawuf yang rumit. Salah satu kitab itu, misalnya, ialah kitab Sinni al-Mathalib, berisi teks Nahwu dasar dengan syarah berupa kajian tasawuf.

Selain dalam ilmu tasawuf, bahasa Arab juga dikaitkan dengan ilmu bela diri Minang atau silek. Konon beberapa aliran silek diinspirasi dari model tulisan Arab pada kitab-kitab kuning itu.

Inilah sedikit kekhasan yang menjadi kearifan lokal pengajaran Bahasa Arab di surau-surau Minangkabau. Ketika sistem surau tidak begitu populer, setelah disaingin madrasah dengan sistem klasikal, kekhasan ini tetap terpelihara, antara lain oleh madrasah-madrasah Tarbiyah Islamiyah. Maka dikenallah dua Madrasah Tarbiyah Islamiyah yang menonjol dalam bidang Bahasa Arab, yaitu Madrasah Tarbiyah Islamiyah Jaho dengan tokoh sentralnya Syekh Muhammad Jamil Jaho, dan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Tobek Godang Payakumbuh dengan tokohnya Syekh Abdul Wahid Asshalihi al-Khalidi Naqsyabandi. Bila ada guru yang menemui kesulitan dalam memahami gramatikal Bahasa Arab, maka mereka akan berpulang kepada dua madrasah ini. Sampai-sampai Syekh Sulaiman Arrasuli, menurut penjelasan orang tua-tua, bila ia telah “tersangkut” dalam memaknai bahasa, maka ia menunggu Syekh Jamil Jaho datang ke Candung. []

 

[1] Sulaiman Arrasuli, Keadaan Minangkabau Dahulu dan Sekarang, dalam Majalah al-Mizan. No. 1 (Fort de Kock, 16 Maret 1938), 6-9.

[2] Pengkategorian ini berasal dari penulis artikel ini, dengan pertimbangan tingkat pengajaran dan kerumitan bahasannya. Dasar kategori ini dari berbagai koleksi naskah surau di Minangkabau.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY