Kecamuk di Rumah Gadang

Kecamuk di Rumah Gadang

230
0
Ilustrasi/Dok.Istimewa
Ilustrasi/Dok.Istimewa

Dilihat dari tampilannya Rumah Gadang memang enak dipandang. Setidaknya cukup untuk menambah referensi lokasi selfi untuk dedek-dedek gemes dan mamah-mamah muda. Karena Rumah Gadang memang ditampilkan sebaik mungkin dengan lukisan-lukisan, warna-warna, serta corak yang menarik perhatian. Konsep konstruksi bangunannya berasal dari alam, seperti konsep burung elang terbang, gajah duduk dan lain-lain.

Jika anda memasuki rumah tersebut dan mengamati apa yang terjadi di dalamnya. Maka anda akan menyaksikan peralatan rumah tangga, bisa juga pakaian yang digantung yang seolah menampakkan kepongahan masing-masing penghuninya. Setiap pintu kamarnya dihiasi dengan foto-foto penghuni kamar. Dengan demikian, mungkin saja anda akan beranggapan bahwa di Rumah Gadang terdapat persaingan antar penghuni kamar yang satu dengan penghuni kamar yang lainnya.

Bicara soal persaingan. Anda jangan berharap untuk melihat semenda berada di rumah di siang harinya. Kalau pun ada semenda sedang di rumah di siang harinya, mungkin semenda itu sedang libur kerja, atau mungkin sedang sakit. Karena berada di rumah di siang hari, merupakan suatu hal yang tabu, tidak pantas dilakukan oleh seorang semenda. Lebih dari itu, jika mpeyan seorang semenda di Rumah Gadang dan sering berada di rumah pada siang harinya, maka mpeyan harus kuat-kuat melihat cibiran (istilah minangnya tunjuak bibia) dari semenda dan/atau penghuni kamar lainnya.

Benar, di Rumah Gadang tak jarang terjadi masalah. Walaupun tetap bertegur sapa, namun jika ditelisik secara mendalam, bisa jadi anda menemukan hati yang sering berkecamuk. Rasa iri, dengki, dan persaingan yang tidak sehat. Terlebih, bila anda menikah dengan modal celana dalam doank. Jika iya, jangan harap anda akan disegani oleh semenda lainnya. Bahkan, kasih sayang mertua akan terlihat jelas teruntuk kepada menantu lain yang lebih kaya. Saya jadi berpikir bahwa mertua di Rumah Gadang sama matre-nya dengan masyarakat kota yang sudah tak lagi bersentuhan dengan budaya lokal.

Selain itu, di Rumah Gadang sudah ada pembagian wilayah atau tempat-tempat yang dibagi berdasarkan “wilayah tuan rumah dan wilayah urang masuak”. Tuan rumah terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak. Sedangkan “urang masuak” adalah menantu dari pemilik rumah. Dalam hal ini, seorang semenda tidak boleh menempuh wilayah “mamak rumah (mamak tungganai atau saudara laki-laki dari istri). Begitu juga “mamak rumah” pun tidak diperbolehkan menempuh wilayah “semenda”. Biasanya, wilayah semenda ini ditandai dengan “anjuang” atau lantai rumah yang ditinggikan dari lantai lainnya. Dengan kalimat lain, lantai yang tinggi adalah wilayah semenda, sedangkan lantai yang rendah adalah wilayah mamak rumah.

Lalu dimana wilayah orang tua? Maka di sini ada istilah “rumah dapur”, dimana, wilayah ini adalah bagian terkecil dari Rumah Gadang yang dihubungkan oleh pintu masuk. Ia tidak dapat ditempuh serampangan saja, baik oleh semenda atau pun bagi mamak rumah. Di rumah dapur inilah suasana haru menyelimuti hati sepasang kekasih, yang usianya sudah larut ditelan masa. Rasa haru akan hadir ketika kehidupan di Rumah Gadang berjalan harmonis. Sebaliknya rasa sedih akan muncul ketika kehidupan di Rumah Gadang tak lagi nyaman dengan kepongahan para penghuninya. Tak ayal, terjadinya rasa benci hanya bertumpu kepada semenda yang hidupnya butung (hidup kere).

Sekalipun mereka tinggal serumah, namun dalam memasak mereka sendiri-sendiri loh. Setiap KK (Kartu Keluarga) memiliki peralatan dapur masing-masing. Di sini, timbul pertanyaan kenapa di tengah masyarakat komunal (hidup bersama dalam satu rumah atau dalam satu wilayah) seperti itu, ternyata kehidupan mereka bercorak individualis. Aneh bukan?

Mulanya, saya mengira kehidupan keluarga di Rumah Gadang seperti kekompakan dalam sebuah klub sepak bola. Kesebelas pemain berjibaku berjuang dalam mengalahkan klub lawannya. Mereka satu tujuan, yakni membawa nama baik klub menjadi berprestasi. Ternyata apa yang terjadi selama ini adalah terdapatnya beberapa klub. Persaingan antar klub sudah pasti terjadi.

Ngomong-ngomong masyarakat Minang sekarang ini, masih respek dengan identitasnya nggak ya? Karena sadar akan identitas adalah penting, untuk melawan gaya hidup nan individualistik. Salah satu caranya adalah dengan menguatkan rasa primordialisme.

Sepertinya orang Minang harus merenungkan pepatah berikut: “nan buto paambuih lasuang, nan pakak palansa badia, nan lumpuah panjago rumah, nan cadiak tampek batanyo”. Oo ya, ada yang lebih penting nehkalo nan kayo tampek bahutang”.

Baiklah, sampai di sini telisik akan rumah gadang saya cukupkan dulu nggeh. Saya sarankan bagi laki-laki Minang, jika panjenengan sedoyo ingin tetap eksis dan betah tinggal di Rumah Gadang, maka sampean harus memiliki status sosial yang kuat. Karena, hanya orang-orang yang bermuka roti malabar-lah, yang betah dengan kondisi kehidupan ber-Rumah Gadang. Salam rindu buat Rumah Gadang yang nyaman untuk para penghuninya.[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY