Kembali Pada Khittah yang Sesungguhnya

Kembali Pada Khittah yang Sesungguhnya

225
0
Ilustrasi/Dok. Istimewa

Sebagai salah satu organisasi tertua di Indonesia selain Muhammadiyah dan NU, Tarbiyah Islamiyah tak lagi terdengar suaranya. Hampir dalam segala aspek kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara, Tarbiyah Islamiyah (Perti-Tarbiyah) boleh dikatakan telah tiada. Sebab adanya sama dengan tidak adanya, atau dalam bahasa pesantren wujuduhu ka ‘adamihi. Hal itu tak hanya terjadi di tataran pengurus pusat tapi juga di daerah asalnya Sumatera Barat.

Ini menandakan bahwa organisasi Islam satu ini sudah benar-benar tercerabut dari akarnya. Baik akar kulturalnya maupun akar idelogisnya. Meski madrasah, lumbung kader yang disiapkan oleh para pendiri masih tetap berjalan dan tak terhentikan gerakannya. Impilkasi dari ‘matinya’ organisasi Ahlussunnah waljam’ah yang Mazhab Syafi’i, ini berdampak pada kehidupan masyarakat yang tak jelas pegangannya dalam beragama. Baik secara teologis maupun mazhab. Umat terombang-ambing dalam ketidakjelasan dan mereka beragama berdasarkan selera pasar. Belakangan sudah kita dapati masyarakat yang dulu bersifat terbuka dalam beragama kini satu persatu sudah berubah menjadi masyarakat yang menutup diri. Bahkan tak sedikit pula menjadi muslim yang gemar hujat menghujat dan mengafirkan orang yang berbeda pandangan keislaman dengannya di tengah masyarakat di Sumatera Barat.

Sementara itu, para pengurus organisasi (baik Perti-Tarbiyah) masih sibuk dengan klaim ketarbiyahan mereka dan sesekali ikut berpolitik praktis ketika musimnya datang. Mereka dengan bangga menyebutkan bahwa Persatuan Tarbiyah Islamiyah sebagai gerakan Islam tertua dan berpengaruh. Mereka nampaknya tak menyadari bahwa ketarbiyahan (Perti-Tarbiyah) yang bertahan saat ini hanya ada pada kader yakni siswa dan alumni Surau dan Madrasah Tarbiyah bukan masyarakat.

Masyarakat mana di Sumatera Barat yang mengerti dengan Tarbiyah ataupun Perti dan berani mengatakan bahwa ia adalah orang berpegang teguh pada Ahlussunnah waljama’ah, beriktikad Asy‘ari dan bermashab Syafi’i? Boleh dikatakan bahwa tidak ada orang yang berani menapuk dada dan berkata demikian.

Masalah ini sudah tumbuh lama dan terus berkembang di masyarakat Tarbiyah sejak lama dan cukup disadari oleh para petinggi organisasi. Selain akarnya yang sudah tercerabut, juga arah organisasi yang tak jelas ‘duduk-tegaknya’ selain ‘jenjang karir’ orang-orang hebat belaka. Dibandingkan dengan organisasi yang semasa, seperti NU dan Muhammadiyah, arah organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti-Tarbiyah) lebih cenderung bergantung pada musim pilkada dan musim pilpres. Selain itu, Persatuan Tarbiyah Islamiyah, masih berpikir dalam lingkungan sangat terbatas (untuk tidak menyebutnya primitif) untuk kepentingan kelompok.

Tidak munculnya pembicaraan umat dalam Persatuan Tarbiyah Islamiyah, menunjukkan bahwa organisasi (baik skala nasional maupun daerah) belum menanggapi persoalan umat secara serius. Dengan kata lain, makna bersatu dalam Iktikad Ahlussunnah dan Mazhab Syafi’i, bagi elitnya tidak lebih penting dari ego kelompok dan kuasa sesaat.

Hal di atas memang nampak sederhana, tapi impilkasinya besar untuk sebuah eksistensi dan perkembangan organisasi. Jauh lebih penting dari eksistensi organisasi adalah kondisi umat (yang selama ini di bawah naungan Persatuan Tarbiyah) kian hari kian memprihatinkan. Jangankan bantuan hukum, rumah sakit, pergurun tinggi berkulitas, sekedar soal pokok agama saja mereka tidak tahu ke mana mereka harus berlindung dari ajaran yang dianggap menyimpang dan ajaran yang keras sebagai sumber kegaduhan.

Hari ini generasi muda Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti-Tarbiyah) mulai bosan dengan elitisme pengurus organisasi nenek moyangnya. Ada kerinduan dari generasi muda Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti-Tarbiyah) untuk kembali menyatu. Kerinduan itu dijawab dengan diadakannya mubes dan muktamar bersama, tapi tetap saja masih ada Perti-Persatuan Tabiyah Islamiyah.

Selain itu, di tingkat intelektual hingga elit Tarbiyah -diakui atau tidak- sedang terbangun blok superior-inferior, hegemoni kuasa dan ide, sikap ‘merasa berhak’ terhadap Persatuan Tarbiyah. Belajar dari banyak gerakan organisasi yang pernah ada, egosentris adalah satu masalah yang menjadi halangan dan sebab kegagalan persatuan umat sepanjang sejarah.

Sikap ini pula yang menyebabkan kegagalan islah Persatuan Tarbiyah sejak awal reformasi. Mafri Amir mencatat bahwa pada prinsipnya kedua organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti-Tarbiyah) sepakat untuk menyatu kembali tetapi terganjal dengan persyaratan yang diajukan masing-masing. Misalnya Perti mengajukan syarat agar nama yang digunakan setelah islah adalah nama Perti lengkap dengan lambang Masjid. Sedangkan Tarbiyah mengajukan agar Perti melepaskan baju Politik PPP sebagaimana Tarbiyah tidak lagi berafiliasi dengan Golkar.

Meski perundingan-perundingan tak berhenti dilaksanakan tiap tahunnya selama 17 tahun lamanya, sejak reformasi sampai sekarang, baik ditingkat pusat maupun daerah, upaya itu belum membuahkan hasil maksimal. Adanya nama Perti-Persatuan Tarbiyah Islamiyah, menunjukkan keduanya belum bisa melepaskan beban sejarah dari pundak masing-masing. Beban sejarah yang membuat keduanya bersikukuh dalam keegoannya tanpa memikirkan umat yang kepayahan dan terombang ambing yang menjadi tanggungjawab mereka.

Oleh karenanya, untuk membangun kembali Persatuan Tarbiyah agar berjalan sesuai dengan khittahnya, tak lain adalah dibutuhkanya kebesaran jiwa dan keluasan horison setiap individu. Kebesaran jiwa tak lain adalah untuk mengatasi kekerdilan kepentingan sempit demi tujuan bersama yaitu Iktikad Ahlussunnah wal Jama’ah dan Mazhab Syafi’i.

Artinya, generasi baru Persatuan Tarbiyah mesti mengutamakan kepentingan ketarbiyahan secara luas. Persatuan Tarbiyah Islamiyah harus dipahami sebagai organisasi yang memegang teguh Ahlussunnah wal Jamah, I’tikad Asy’ari dan Mazhab Syafi‘i serta menyampingkan segala yang tidak berkaitan dengannya.

Tarbiyah Islamiyah yang dipahami mesti Tarbiyah sebagai organisasi yang memegang teguh Ahlussunnah walJamah, I’tikad Asy’ari dan bermazhab Syafi‘i, bukan Tarbiyah sebagai perkumpulan orang-orang yang pernah belajar di Madrasah Tarbiyah.

Semoga kian hari, sikap primordialisme dan sektarianisme dapat dilebur ke dalam semangat ketarbiyahan sebagai organisasi yang hidup sesuai dengan prinsip yang telah disepakati oleh para pendiri. Sehingga keinginan untuk kembali pada khittah perjuangan benar-benar menjadi cita-cita bersama.

Jika yang terjadi adalah hal sebaliknya, maka keinginan itu nampaknya hanya akan menjadi hasrat sesaat dan respon ketidakpuasan. Malanglah umat yang lahir dari keluarga Persatuan Tarbiyah. Mereka harus terkubur di liang kepentingan kelompok dan egoisme para elit.[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY