Ketika Hidup Dirundung Penyesatan

Ketika Hidup Dirundung Penyesatan

302
0
Ilustrasi/Dok. Istimewa

Bak menghangatkan masakan basi, seperti itu lah isu keberagamaan di Indonesia. Masalah lampau kembali dikomporin agar seksi lagi untuk dibicarakan dan dikupas secara tajam setajam silet. Belakangan ini kembali mencuat resistensi terhadap Syiah. “Syiah sesat” itulah berita yang ramai di media sosial. Aduahlah. Ini isu tahun berapa coba? Masa iya kita masih mempeributkan soal beginian, seperti orang telat lahir saja. Orang lain sudah mau beli tanah di planet Mars, sementara kita masih sibuk untuk menarik perseteruan masa silam ke sini. Sekedar untuk mengambil hikmah mari kita tarik ingatan kita ke belakang.

Konon sejarahnya dulu umat Islam terpecah belah gara-gara sesat menyesatkan. Tak ayal, wafatnya nabi Muhammad SAW menjadi pemicu terbelahnya pemahaman di kalangan umat Islam. Hingga kemudian muncullah berbagai sekte dalam Islam yang mengklaim kebenaran masing-masing. Laiknya rendang, kala itu masalah “sesat menyesatkan” masih baru matang dan masih enak dimakan. Barangkali wajar karena wafatnya Muhammad mengakibatkan umat Muslim kehilangan arah. Saya kira seluruh ustadz dan tokoh agama memahami hal ini dengan baik.

Jadi begini mari kita beranggapan bahwa seluruh tokoh agama adalah mereka yang paham betul dengan agama. Mereka tidak mungkin ngomong “asal bacot”. Dapat dikatakan sebagai tokoh agama tentunya mereka paham dengan segala aspek tentang agama, pun sejarah. Mereka juga paham bahwa gak jamannya lagi sesat menyesatkan, kecuali mau dilabeli “kolot”. Menurut asumsi bodoh saya, tokoh agama -dengan segenap ilmu yang mereka miliki- mesti bijaksana menyikapi perbedaan. Namun karena pada kenyataannya berbeda barangkali wajar saya bertanya, kenapa masih ada yang suka menyesatkan?

Di sini saya ingin beranjak dari tokoh agama. Tokoh agama yang gemar menyesatkan menurut saya ada dua macam. Pertama, tokoh agama yang terlalu pintar, kedua, tokoh agama yang terlalu penakut.

Mari kita bahas! Pertama, tokoh agama yang terlalu pintar. Kalangan ini biasanya memiliki stok ayat dan hadits yang berlimpah ruah. Jika ditanya tentang agama maka jawabannya pasti pakai ayat atau hadits. Dikir-dikit ayat, dikit-dikit hadits. Satu pernyataan mesti ditopang dengan satu potong ayat atau hadits, bahkan lebih. Karenanya apapun yang mereka katakan pasti benar. Termasuk fatwa mereka tentang sesatnya suatu kelompok sudah pasti benar, wong mereka sudah selevel dengan Tuhan. Demikian kepintaran mereka melebihi diri mereka sendiri. Ini yang saya sebut dengan terlalu pintar (pintar keterlaluan).

Bahkan, jika ditanya tentang persoalan ekonomi, sosial, dan budaya mesti dikaitkan dengan syariah. Masalah kebakaran hutan dapat dijawab dengan syariah. Masalah kemiskinan dapat dijawab dengan syariah, masalah kebijakan publik dapat dijawab dengan syariah. Ujung-ujungnya seluruh masalah bangsa ini -maksud saya Indonesia- dapat dijawab dengan syariah. Ah sudahlah ujung-ujungnya tegakkan khilafah. Dengan alasan bahwa sistem pemerintahan yang sesuai syariah itu hanya khilafah. Astaghfirullah, terkadang di sini saya merasa sedih.

Kedua, tokoh agama yang terlalu penakut, kalangan ini yang bikin mumet. Pasalnya mereka kerap terlalu khawatir dan cemas berlebihan. Akibatnya mereka cendrung possessive kayak orang pacaran. Laiknya seorang pacar, agama itu mesti 100 persen persis dengan apa yang ia inginkan. Dalam bahasa psikologi ini namanya inferior kompleks. Kenapa saya katakan terlalu penakut? Sebenarnya sederhana saja, mereka sensitif dengan kata toleransi. Ketika muncul gagasan baru mereka akan mati ketakutan seperti melihat Annabele dan Chucky. Karenanya mereka akan sibuk mengompori masyarakat dengan kata hati-hati, waspada, dan tolak. Padahal, katanya mereka mayoritas.

Untuk mengidentifikasi tokoh agama seperti ini mudah saja. Kerap mereka gemar memberi gelar ustadz, kiyai, buya, dan sebagainya di depan nama mereka. Buat apa coba melabeli diri sendiri? Menurut saya selain komersialisasi, paling banter ini adalah bentuk kecemasan tadi. Kecemasan dari “tidak dianggap”. Jadi ceritanya mereka tidak mau menjadi kiyai yang tak dianggap. Lebih jelasnya, lihat saja nama akun mereka di medsos. Biasanya kalangan ini kompor semua tuh vroh!. Dengan bermodalkan ayat yang terkadang pakai ilmu cocoklogy, sontak segala yang baru menjadi sesat.

Demikian perkara tokoh agama. Sebenarnya tidak sampai di sini. Persoalan yang tidak bisa dikesampingkan adalah “netizen”. Provokasi di dunia maya ikut disemarakkan oleh likers, “tim hore”, cheerleaders atau tukang semarak yang over confidence dengan segala penyesatan. Berbagai macam penghinaan dan kata-kata kebun binatang ikut meramaikan kolom komentar. Benar ini negara demokratis, tapi masa sih sebagai bangsa yang cerdas, pahit langsung dibuang, manis langsung dimakan. Mana tau ente makan taik ayam yang dibungkus sama kembang gula.

Tapi ya sudahlah, agar tulisan ini tidak menjadi suatu yang absurd, laik absurdnya kita bernegosiasi. Sebagai penutup kata ada baiknya saya mengutip kata Cak Nun (Emha Ainun Nadjib). Kira-kira begini “Jangankan menuduh Kafir, menuduh Muslim pun saya tak berani”. Dengan memaknai kata-kata ini semoga kita mampu memaknai penyesatan dengan lebih elegan. Wallahu a’lam.[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY