Kiai Hansen dan Rockstar

Kiai Hansen dan Rockstar

144
0
Ilustrasi/Sumber: www.artmajeur.com
Ilustrasi/Sumber: www.artmajeur.com

“Kurang ajaaar!” Terdengar lolongan dari kamar gedek paling barat.

“Whooii, siapa tuh yang buang sampah ke telinga orang?” sahutan membelasut dari kamar depan itu tak kalah tinggi suaranya.

Dua makian ini jelas diperuntukkan sumber suara dari ujung paling timur deretan pondok kayu, suara musik yang sejatinya lebih mirip kambing digorok daripada suara orang menyanyi.

Awalnya, para santri di hari Jumat pagi itu masih angguk-angguk kepala ketika Rock Bersatu-nya Gribs yang berkumandang. Namun, beberapa saat kemudian, setelah terdengar nyanyian yang sepintas lebih menyerupai geludug daripada bunyi pedal drum; bercampu-aduk dengan lengkingan nada yang tak jelas sol-mi-sa-si-nya, lebih merupakan dengung lebah daripada disebut sebagai melodi, berubahlah suasana. Slowly We Rot, dengan growling vokal John Tardy dari Obituary itu bagaikan sampah organik yang dibuang sembarangan ke tengah halaman rumah yang baru saja disapu.

“Sialan itu anak. Nyetel lagu kenceng banget, mana pake teriak-teriak gak karuan lagi!”

“Apa, Sin?” tanya seorang lelaki gempal.

“Tau, tuh, si Hamid, bikin rusuh saja. Aku mau hafalan nadzam Jurumiyah nih gak bisa konsen.”

Tiba-tiba, seorang lelaki bertubuh tambun bergegas menuju sumber suara. Tanpa panggil salam, tanpa basa-basi, ia menggedor pintu kamar dimaksud beberapa kali. Musik langsung terhenti. Pintu dibuka secara sontak. Mata lelaki tambun membelalak. Yang tampak di depan matanya sungguh sulit dipercaya.

“Hamid, kamu harus menghadap. Kami tunggu di kantor keamanan!”

“Apa salahku, hah?”

“Nantang kamu?”

“Apa salahku, muter lagu di hari Jumat itu kan tidak dilarang?!”

“Tapi kamu nyetel lagunya keras-keras, mana lagu rock nggak jelas.”

“Itu tidak ada dalam aturan.”

“Dasar! Kamu nantang, ya?”

“Aku tidak nantang. Aku hanya yang benar.”

gambar oleh Zainur Rahman van Hamme

* * *

Malam itu, selepas shalat berjamaah Isya’, Kiai Hansen memanggil para pengurus. Beliau menanyakan kisruh di pondok yang terjadi tadi pagi. Kordinator keamanan pesantren, Huzaimi, bersama ketua pengurus, membawa Rasin, Hamid, Supri, serta beberapa saksi untuk menghadap kiai. Mereka tidak menyangka, masalah yang mereka anggap sepele ternyata jadi berabe.

Huzaimi mengambil posisi jubir setelah kiai menanyakan ini-itunya.

“Begini, Kiai. Hamid ini suka memutar lagu keras-keras sehingga teman-temannya yang lain terganggu, terutama yang mau belajar dan menghafal. Tadi itu, Supri menegurnya atas permintaan Rasin, namun Hamid malah menantang.”

“Betul begitu, Rasin?”

“Iya, Kiai. Saya terganggu karena tadi siang saya sedang menghafal nadham Jurumiyah.”

“Hamid,” kali ini, Kiai Hansen menatap Hamid, “mengapa kamu bikin ribut?”

Yang ditanya diam saja, malah menundukkan kepala, seperti tertuduh dan merasa bersalah. Hamid diam seribu bahasa. Lalu, karena mendapati Hamid di posisi yang lemah, Agus, sebagai saksi dan kebetulan juga teman dekat si Rasin, cepat-cepat angkat bicara.

“Beberapa kali ini Hamid kena kasus, Kiai.”

Namun, Agus segera menahan sendiri ucapannya. Dia sadar, dia tidak boleh memberikan informasi sepihak. Sebagai ketua pengurus, dia merasa wajib bersikap bijak.

“Sebetulnya, betul apa yang dikatakan Agus itu, Kiai. Hamid memang ketahuan membawa gitar ke pondok. Kami sudah menegur dan melarangnya. Kami bilang, santri tak boleh bawa gitar bolong ke pesantren dan Hamid berjanji untuk menyerahkannya kepada pengurus. Kejadian ini kira-kira dua bulan yang lalu.” Huzaimi yang justru menjelaskan.

Diam sesaat. Karena tidak ada suara yang lain menimpali, Huzaimi menyela pembicaraannya sendiri.

“Nah, gara-gara masalah yang tadi, pengurus malah mendapatkan temuan baru, yakni sebuah gitar, audio player, dan amplifier, di cangkruknya Hamid, Kiai.”

Meskipun bilik-bilik santri di Pondok Pesantren Al-Ma’adien as-Tsaqilah itu sudah menggunakan bangunan permanen, namun sisa-sisa pondok cangkruk, pondok kayu berkaki dan berdinding papan/gedek, masih banyak tersisa dan terawat di pesantren asuhan Kiai Hansen itu. Dan santri yang tinggal di kamar cangkruk biasanya tinggal sendirian saja. Kebetulan pula, Hamid tinggal di cangkruk yang ukurannya cuma 2 X 2,5 meter saja, kecil sekali. Jadi, selama ini, tidak ada yang tahu apa saja yang ada di dalam biliknya.

“Sekarang, saya mau tanya sama Hamid. Betul apa yang dikatakan oleh mereka itu, Mid?” Kiai mulai melakukan interogasi.

“Betul, Kiai,” jawab Hamid dengan polos.

“Lalu, kenapa kamu mutar lagu keras-keras?”

“Soalnya ini hari Jumat, Kiai, hari bebas.”

“O, ya, baiklah. Kamu mutar lagu apa? Kata mereka, suaranya berisik sekali.”

“Slowly We Rot, Kiai.”

“Lalu?”

“Marty Friedman and Jason Backer, Kiai, album Speed Metal Symphony.”

“O, album pertama Cacophony itu, ya?”

Hamid mengangkat wajahnya. Ia tidak menatap, hanya mencuri pandang, mencari tahu perubahan air muka Kiai Hansen. Ada suasana asing yang kini membuat hatinya lebih tenang. Pertanyaan Kiai membuatnya senang.

“Betul, Kiai.”

Rasin dan Supri, sebagaimana Agus dan Huzaimi, sedikit bingung pada pembicaraan dua arah ini, pembicaraan Kiai dan Hamid. Referensi musik mereka yang selama ini hanya seputar Ungu, Wali, dan ST12, seolah membuat mereka tertutup tempurung informasi tentang band-band seperti Obituary dan Cacophony. Nama-nama ini sama sekali baru bagi mereka.

“Musik memang boleh diputar, tapi mengapa kamu bawa gitar, Mid? Aturan pesantren kan sudah jelas; santri dilarang membawa gitar! Apa benar kamu bawa gitar?”

“Iya, Kiai. Menurut peraturan pesantren, saya dengar dari pengurus, yang dilarang itu adalah membawa gitar bolong.”

“Emangnya kamu…”

“Saya bawa gitar elektrik, bukan gitar bolong.”

“Astaghfirullah. Ngapain kamu, Mid?” Suara Kiai Hansen meninggi. “Sudah dibilang tidak boleh bawa gitar, tapi alasanmu kok, ya, seperti itu. Alasanmu memang benar, tapi itu kenakak-kanakan.”

Hamid terdiam. Agus dan Huzaimi menampakkan wajah datar. Rasin dan Supri merasa lebih lega sekarang. Semua orang membisu. Kiai Hansen menyapu pandangan. Semua orang tetap membatu. Kiai lantas menugaskan Huzaimi dan Agus untuk menggeledah kamar Hamid. Cara ini demi keadilan, menurutnya, agar yang menuduh dapat menunjukkan bukti; yang tersangka dapat memberikan penjelasan. Sejurus kemudian, sungguh Kiai Hansen tidak dapat menyembunyikan air muka kegalauannya manakala Agus datang membawa segulung kabel dan sebuah amplifier mini Marshall MS-2; sedangkan Huzaimi tampak menjinjing gitar Jackson dan Pandora sound effector-nya.

“Wah, ini semua? Jadi, ini semua ada di dalam kamar Hamid? Apa orang tuamu sudah tahu, Nak?” Kiai Hansen kaget setengah membelalak, tak percaya pada yang dilihatnya.

Hamid diam. Semua yang ada di situ masih tercengang-cengang. Kiai Hansen tak henti geleng-geleng. “Pegang ini!” kata beliau sambil menyodorkan gitar kepada Hamid. “Aku ingin tahu lagakmu!”

Kiai bahkan ikut membantu memasukkan jack dan menyalakan amplifier Marshall itu, serta membuka sedikit potensio meter-nya.

“Mainkan intro Just Take My Heart dari Mr. Big!”

Hamid menggelang, “Nggak bisa, Kiai.”

“Kalau begitu, mainkan intro 5150-nya Van Halen!”

“Juga nggak bisa, Kiai.”

“Kalau begitu, intro Wasted Years-nya Iron Maiden!”

“Tahu, sih, Kiai, tapi saya juga tidak bisa memainkannya.”

“Kalau begitu, lagu Santai dari Rhoma Irama; atau Balada Sejuta Wajah-nya God Bless; atau Nyanyian Badai-nya Mel Shandy! Masa’ tak satu pun dari lagu-lagu itu kamu tak ada yang bisa?”

“Saya tahu semua lagu itu, Kiai. Sebagian besar dari lagu-lagu itu merupakan pelajaran wajib dari guru saya. Tapi saya belum bisa memainkannya, masih genjreng-genjreng, Kiai.”

Hamid berhenti, lalu mencoba memberanikan diri mengangkat wajahnya. Dan lagi, dengan tanpa merasa bersalah dan tatapan yang polos, Hamid malah balik bertanya.

“Oh, maaf, Kiai. Kok Kiai hafal semua judul-judul lagu itu? Maaf, Kiai, sekali lagi maaf, saya cuma penasaran saja, Kiai. Saya kira kiai itu…”

“Cukup!”

* * *

Kiai Hansen pun akhirnya mengusut sabab-musabab mengapa Hamid membawa gitar elektrik ke pondok. Akhirnya, terkuak sudah. Konon, dengan bantuan sepupunya, Hamid berhasil menyelundupkan gitar seperangkat itu ke pesantren pada suatu malam, tentu tanpa seizin orang tuanya. Dengan polos, Hamid mengaku bahwa dia ingin belajar ilmu agama tetapi tetap tak ingin ketinggalan dalam jagad musik yang telah ia geluti sebelumnya. Itulah alasan mengapa ia berani melakukan ini semua.

“Sekarang, kamu belajar saja. Lupakan gitar itu dan kembalikan ia ke rumah. Konsentrasikan dirimu untuk belajar fiqih, ushuluddin. Belajarlah agama, karena itu lebih mendesak untuk tata hidup kita sehari-hari. Soal gitar belakangan saja. Mudah urusan itu. Kamu tak perlu cemas, santri pun bisa melakukannya.”

Kiai Hansen menatap Hamid lekat-lekat.

“Sini, mana gitar itu!”

Kiai Hansen tiba-tiba mengambil alih Jackson, mengubah potensio meter amplifier Marshall itu ke OD (overdrive) dan langsung memainkan intro lagu Future Wolrd dari Helloween. Jemari kanan mengocok dawai, jemari kirinya menari-nari di atas fret.

Pengurus dan santri bersitatap. Semua mata tertuju. Semua mulut ternganga. Semua pikiran terbuka, tak dinyana. Satu hal lagi yang baru hari ini mereka tahu, sesuatu yang tak pernah mereka bayangkan: Kiai Hansen, kiai mereka, ternyata tidak melulu hanya bisa tahlilan dan mulang kitab saja. Mereka membatin, rupanya Kiai Hansen menyimpan banyak ‘ternyata…’ yang lain.

* * *

“Begini cara memainkannya, Mid,” kata Kiai kepada Hamid disambut senyum. “Sekarang”, kata belaiu sekali lagi, kali ini kepada pengurus, “Hamid ini saya yang urus. Pengurus kembali ke kantor. Santri-santri balik ke bilik.”

Namun, saat mereka hendak pamit keluar, tiba-tiba ada panggilan salam.

“Assalamualaikum..”

Serempak salam dijawab bersama. Seorang lelaki gondrong lagi tampan, masuk, diantar seorang pengurus yang masuk mengendap-endap.

“Oh, Mas Reza?”

“Iya.”

Tamu yang sebut “Mas Reza” itu kemudian memeluk Kiai Hansen dan duduk setelah dipersilahkan. Sementara pengurus dan santri tak jadi pergi karena setelah kiai mempersilakan mereka bersalaman kepada tamu yang baru datang, Kiai Hansen juga meminta mereka duduk kembali.

“Tahu sama orang ini? Beliau adalah mas Reza, vokalis Gribs”

Semua santri tersenyum, setengah mengangguk tanda tahu.

“Tumben, Mas, hari yang indah. Kejutan apa yang Anda sehingga tiba-tiba muncul di sini?”

“Mmmm… begini.” Lelaki gondrong kribo itu menahan ucapan sejenak sebelum meneruskannya. “Saya ingin tinggal di pondok ini beberapa waktu lamanya. Saya ingin tahu panjang-pendek bacaan, tebal-tipis vokal-konsonan, juga agar saya tahu di mana idghom itu mesti dipakai. Saya tak ingin seperti teman-teman yang lain, yang suka mendengung pada saat seharusnya kita berteriak dengan pekikan…”

Kiai Hansen tersenyum nyaris tertawa.

“Ini dia Mas Rezanov, para santri. Dia mau datang ke pelosok sini meskipun dia sudah ngetop di penjuru negeri. Dia merasa perlu banyak belajar padahal pengetahuannya sudah segudang. Ingat, ya, santri itu harus seperti ini. Santri itu harus serbatahu tapi tak boleh sombong dan belagu.”

Kiai Hansen menoleh  kembali ke arah Rezanov, menantap wajahnya lekat-lekat setelah barusan menyapu pandangan pada semua santrinya.

“Jadi, mau belajar apa nih?”

“Saya mau belajar ilmu tajwid,” jawab Rezanov mantap.

“Baiklah, Reza. Jadi, Anda libur konser selama ada di sini?

“Yeah! Keep on rockin, Kiai…”

“Kalau begitu, okay we roll...” []

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY