Kitab Kuning: Pacar Santri Tarbiyah Islamiyah

Kitab Kuning: Pacar Santri Tarbiyah Islamiyah

192
0
Ilustrasi/Dok. Istimewa

Dulu sebelum masuk ke pesantren Tarbiyah Islamiyah, saya pernah mengalami kejadian yang menarik. Waktu itu saya masih duduk di bangku kelas 2 SD, dan saat itu kakak sulung saya yang sekolah di Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Pasir sedang pulang kampung. Masih teringat dengan jelas sampai sekarang, pagi itu saya dan sang kakak duduk bersama angku-angku dan bapak-bapak di lapau kopi ibu saya. Seorang bapak yang tahu kalau kakak saya ini bersekolah di pesantren Tarbiyah Islamiyah, berkata:

“Biasanya orang yang mengaji ke pesantren darek (sebutan untuk daerah di dataran tinggi) itu mahir dalam membaca kitab kuning, kitab yang tidak berbaris. Seandainya ayat di dalam al-Qur’an dihilangkan seluruh harkatnya, mereka tetap bisa membacanya, bahkan juga bisa mengartikannya sekaligus menyurahkan isi kandungan dari ayat tersebut.”

Wow. Saya pun kaget, tidak percaya mendengar perkataan bapak itu dan menolak pernyataannya terebut. Malahan di dalam hati saya bergumam, “Gila bapak ini. Mana mungkin al-Qur’an yang tidak ada harkat bisa dibaca, bahkan untuk diartikan. Saya saja, al-Qur’an yang sudah berharkat masih terbata-bata membacanya.” Kejadian itu terjadi pada tahun 2005 silam. Maklum, karena waktu itu saya masih sangat kecil. Fragmen pengalaman inilah yang membuat saya penasaran terhadap Tarbiyah Islamiyah, umumnya kepada dunia pesantren.

Sekarang saya rasakan, ternyata perkataan bapak-bapak yang saya anggap gila waktu itu betul adanya. Saya sekarang menjadi seorang santri di salah satu pesntren Tarbiyah Islamiya yaitu, Pondok Pesantren Tarbiyah Islamiyah (PPTI) Malalo; Tarbiyah di tepi Singkarak. Para santri Tarbiyah Islamiyah pada umumnya mampu membaca kitab kuning yang tidak berharkat tersebut, sekaligus bisa mengartikan dan menyurahkan isinya.

Dari dulu, pesantren Tarbiyah Islamiyah itu terkenal dengan kitab kuningnya. Di samping itu, alasan kenapa judul tulisan ini berjudul ‘Kitab Kuning: Pacar Santri Tarbiyah Islamiyah’, karena memang kitab kuning lah yang menjadi pelajaran pokok dan yang selalu menemani para santri setiap harinya di pesantren Tarbiyah Islamiyah. Seolah-olah jika seorang ingin belajar ke pesantren Tarbiyah Islamiyah itu artinya sama saja ingin menggeluti kitab yang tidak berbaris dan ber-pacaran dengan kitab kuning tersebut. Sehingga, jika sesorang menyebutkan nama pesantren Tarbiyah Islamiyah, maka yang terbayang di benak kepalanya adalah pelajaran kitab kuning.

Sementara itu ada aggapan, seandainya sebuah pesantren yang beralmamater Tarbiyah Islamiyah tidak menjadikan kitab kuning sebagai pelajaran utamanya, katakanlah ada selingkuhan selain daripada kitab kuning, atau tidak ada mempelajari kitab kuning sama sekali, dengan mengutamakan pelajaran-pelajaran madrasah dan meninggalkan peajaran kitab kuning, maka itu akan dipertanyakan ke-tarbiyahan-nya. Jika Tarbiyah Islamiyah diibarakan sebuah tubuh, maka kitab kuning menjadi rohnya.

Dari pengantar di atas, satu hal yang ingin penulis jelaskan adalah kenapa harus kitab kuning yang menjadi pelajaran utama di pesantren Tarbiyah Islamiyah. Bahkan kitab kuning langsung diajarkan kepada santrinya sejak dari kelas 1, dan kebanyakan pesatren Tarbiyah Islamiyah mengaji kitab kuning siang dan malam.

Kegunaan Kitab Kuning                                                

Sebelum kita masuk ke pembahasan, terlebih dahulu kita kenali siapakah pacar para santri Tarbiyah islamiyah ini. Kitab kuning, panggilan itu merupakan istilah yang disematkan pada kitab-kitab berbahasa Arab yang biasa digunakan di banyak pesantren sebagai bahan pelajaran, termasuk Tarbiyah Islamiyah. Dipanggil dengan nama kitab kuning karena kertasnya berwarna kuning. Dikenal juga degan sebutan ‘kitab gundul’ sebab karena disandarkan pada kata per katanya dalam kitab memang tidak memiliki harkat (fathah, kasrah, dhammah, sukun). Secara umum, kitab kuning dipahami sebagai kitab referensi keagamaan yang merupakan produk pemikiran para ulama pada masa lampau (al-salaf) yang ditulis dengan format khas pra-modern.

Dalam keseharian santri Tarbiyah Islamiyah selalu ditemani oleh pelajaran-pelajaran kitab kuning yang beragam. Mulai dari pelajaran tauhid, akhlaq (tashawuf), tata bahasa Arab, ilmu tafsir, Ilmu mushthlah hadis, Ilmu ushu al-fiqih, Ilmu fiqih, Ilmu sastra, Sejarah, dan lain-lain, yang semua itu sama-sama utama dan berkaitan satu sama lain.

Tetapi untuk kebutuhan da’wah -dari sekian banyak pelajaran kitab kuning- yang paling menjadi andalan adalah adalah fiqih, yang merupakan hasil istinbat hukum yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah. Meski demikian, para santri yang ingin mendalami ilmu fiqih juga perlu merujuk kepada literatur yang megupas tentang ilmu fiqih. Dalam membaca dan memahami fiqih tanpa pemahaman nahwu dan sharaf itu sama saja ngawur bagi para santri Tarbiyah Islamiyah, umumnya memahami bahasa Arab dengan benar.

Syekh Sulaiman Arrasuli atau dikenal juga dengan sebutan Inyiak Canduang –sang penggagas Tarbiyah Islamiyah– di dalam sebuah tulisan mengungkapkan bahwa bahasa al-Qur’an dan Sunnah dengan bahasa Arab yang ada sekarang itu sangat jauh berbeda. Untuk bisa mengambil hukum dari al-Qur’an dan Sunnah, kita harus memahami terlebih dahulu ‘bahasa Arab dahulu’ dengan benar. Dan juga harus mengetahui ilmu-ilmu pendukung lainnya seperti, ilmu asbab al-nuzul dan sebagainya.

Memahami bahasa Arab dengan benar adalah jalan pertama yang mesti ditempuh, mengingat dua sumber utama dalam Islam yakni al-Qur’an dan Sunnah mengunakan Bahasa Arab. Bahkan, dengan bahasa yang sangat tinggi. Ilmu yang mesti dikuasai para santri dalam bidang ini setidaknya meliputi, ilmu alat/gramatika Arab (nahwu-Sharaf), sastra Arab/balaghah (badi’, ma’ani, bayan), logika bahasa (manthiq), sejarah bahasa, mufradat. Hal ini penting guna meminimalisir kesalahan dalam mengidentifikasi makna yang dikehendaki syari’at dari sumbernya secara harfiyah (tekstual), juga untuk mengidentifikasi nash-nash yang bersifat ‘am, khash, muthlaq, muqayyad, berlaku hakiki atau majazi dan seterusnya.

Sedangkan ilmu fiqih adalah ilmu yang sangat vital untuk mengambil hukum dari dua sumber asli ajaran Islam tersebut. Bisa dikatakan bahwa tanpa ilmu fiqih, maka manfaat al-Qur’an dan Sunnah menjadi hilang. Sebab manusia bisa saja dengan seenaknya membuat hukum dan agama sendiri lalu mengklaim suatu ayat atau hadis sebagai landasannya.

Adalah hal yang naif jika ada yang berani mengatakan, “Halal-Haram, Sah-Batil, Sahih-Dha’if” hanya berdasarkan pemahaman dari terjemahan al-Qur’an atau Sunnah saja. Padahal terhadap al-Qur’an dan Sunnah itu kita tidak boleh asal kutip saja. Harus ada kaidah-kaidah tertentu yang harus dijadikan pedoman. Kalau semua orang bisa seenaknya mengutip ayat al-Qur’an atau Sunnah, lalu kesimpulan hukumnya bisa ditarik kesana kemari seperti kajai kandua (karet melar), maka apa jadinya agama ini.

Dengan begitu, mempelajari dan menguasai ilmu fiqih sangatlah penting. Ilmu fiqih lah yang akan menjadi benteng untuk melindungi kedua sumber ajaran Islam itu dari pemalsuan dan penyelewengan makna. Salah satu media untuk mempelajari ilmu fiqih terebut adalah dengan kitab kuning. Maka sebab itulah pesantren Tarbiyah Islamiyah menjadikan kitab kuning sebagai bahan ajaran yang paling diutamakan.

Tempat Mengadu

Pesantren Tarbiyah Islamiyah adalah tempat pendidikan agama Islam di mana urang siak (ulama) berkumpul. Mereka sering dijadikan rujukan oleh masyarakat dalam permasalahan sehari-hari. Dalam hal ini, santri Tarbiyah Islamiyah membutuhkan dalil-dalil untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat ataupun satu pokok permasalahan.  Biasanya mereka selalu megadu kepada pacarnya yaitu kitab kuning. Di samping itu, mereka juga menanyakannya kepada guru atau Buya.

Ini membuktikan bahwa antara kitab kuning dengan dunia santri Tarbiyah Islamiyah memiliki kaitan erat. Saking eratya –bak seorang pacar- merekapun tidak pernah bisa lepas sepenuhnya dari dari bayang-bayang kitab kuning yang mewariskan pemahaman ulama-ulama pakar terdahulu (ulama al-salaf).

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY