Le Tragedy d’Esprit Pur

Le Tragedy d’Esprit Pur

187
0
Sumber/Ilustrasi: absolutearts.com

1/

Apa pun yang terjadi dengan kondisi Putra Ia berjanji akan merawat anak dalam kandungannya. Dan kalau perlu, ketika bayi mungilnya nanti lahir, Ia akan mengatakan Putra adalah ayah yang baik, perhatian, punya selera humor tinggi; dan akan diceritakan tentang apa saja yang bisa menghibur anaknya kelak, yang bisa membuat anaknya tidak bertanya dimana ayahku atau kenapa aku tidak punya ayah seperti teman-temanku.

Putra sekarat di Rumah Sakit Panti Rapih, dan dokter tidak punya hati nurani karena terang-terangan tidak sepakat Putra punya harapan siuman. Ia menangis sepanjang hari di ruang tunggu, mengutuk dokter mengapa tidak mau pura-pura mengatakan sebentar lagi Putra bakal tersadar lalu memeluknya sampai hari si bayi lahir. Ia sudah tak mau memperdulikan siapa pun! Nur Muhammad yang menghiburnya sedari mula diacuhkan dan tak pelak pula diusir. Ia tidak butuh hiburan. Sebaiknya hiburan disimpan untuk hari tua, katanya. Yang Ia inginkan Putra sadar dari koma saat itu juga.

“Aku sayang kamu, Put, aku janji akan selalu di sisimu,” isaknya. Ia berharap Putra mendengar, kemudian keajaiban datang.

“Sudahlah, Sanya. Itu tidak akan membuat Putra siuman!” kata Nur Muhammad, setelah Ia mendengar hanya kata-kata itu yang diulang. Ia kesal, Sanya keras kepala. Selalu merasa hanya dirinya yang dibutuhkan Putra. Padahal Putra, kalau mau, bisa mendapat pacar yang lebih baik dari Sanya, pikir Nur Muhammad. Sanya saja yang tidak tahu apa yang dilakukan Putra.

“Tapi aku mengandung anak Putra!” tangis Sanya menjadi-jadi.

Dan ketegangan merambat di udara, menyentak Nur Muhammad. Seketika ingin sekali Ia menghantam kepala Putra lantaran ceroboh menitip benih di rahim perempuan seperti Sanya. Dalam urusan perempuan Putra bodoh! Andai Putra tidak sekarat, sudah pasti Ia membabak-belurkan jidat kawan karibnya itu. Sanya hamil, dan kalau Putra mampus, akhirnya Ia yang harus bertanggung jawab kepada Sanya. Setidaknya membantu meringankan hidup Sanya sejauh yang Ia mampu.

Putra sebenarnya kawan yang cerdas, tapi sayang ceroboh. Coba saja Putra mendengarkan kata-katanya. Kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi. Sudah jelas di mata Nur Muhammad perempuan di depan mereka adalah Sanya, Putra tetap keras kepala kalau perempuan itu bukan Sanya. Sanya tidak semenggoda perempuan yang mengendarai motor Beat di depan mereka. Kata Putra, selera Nur Muhammad rendah sekali jika membiarkan perempuan itu lolos dari kejarannya. Itu bukan Sanya, itu perempuan lain, duplikasi bintang efteve. Akhirnya Putra yang menyetir, lalu mengejar perempuan itu sebelum dari arah berlawanan di pertigaan Gejayan sebuah mobil mengantar Putra ke rumah sakit.

Nur Muhammad lebih beruntung hanya luka ringan di paha kiri meski bahu kirinya sulit digerakkan. Ketika menikung ke arah barat, Putra kehilangan keseimbangan, motor mereka terlalu miring. Lalu Nur Muhammad terpental setelah motor mereka berguling dan sebuah mobil tidak sempat mengerem sehingga kepala Putra terlindas diiringi teriakan Nur Muhammad yang tidak bisa menghentikan mobil itu.

Ia menyesal meloloskan argumen Putra sehingga berakibat fatal sedemikian.

“Apa gunanya berpikir jika nanti hanya mencelakakan dirimu sendiri? Cobalah Put, hari ini saja kamu berambisi jadi orang bodoh.”

“Kamu hanya khawatir saja. Selama ini kita berdua selalu selamat kan?”

“Itu kebetulan saja, Put.”

“Tidak, itu bukan kebetulan. Hai, Nur Muhammad, memangnya siapa yang membikin kebetulan? Menurutmu, sesuatu yang kamu sebut kebetulan terbuat dari apa?” Uh, Putra memang keras kepala.

Tetapi memang benar Putra selalu bisa menghindar dari kecelakaan tiap kali iseng mengejar perempuan saat mengendarai motor. Pengalaman pertama Ia menabrak penjual siomay yang nyeberang jalan. Tetapi berikutnya berlangsung baik-baik saja. Sebelas kali kali Ia berhasil mencegat perempuan-perempuan yang Ia kejar dari percobaan yang tak terhitung kali. Enam di antaranya berhasil Ia kencani.

“Kamu lupa, bagaimana dulu kamu berpacaran dengan Sanya?” desak Nur Muhammad.

Ya. Putra tahu, Sanya satu di antara enam perempuan itu. Kejadiannya pun hampir sama dengan kejadian yang sekarang menyebabkannya sekarat. Di depannya Ia melihat seorang perempuan cantik. Celana pendek, kaos oblong, dan mengenakan topi kodok. Ketika dikejar, dan bisa dicegat di dekat Taman Kuliner, Ia sedikit kecewa. Kata Putra, itu kebetulan yang lain. Karena setelah peristiwa yang bagi Sanya ajaib itu, kedekatan mereka makin erat, dan Putra merasa diuntungkan oleh popularitas Sanya. Bagi Putra sendiri Sanya tidaklah terlalu mengecewakan seperti dikatakan Nur Muhammad yang habis-habisan mencecarnya lantaran berselera buruk. Ia selalu membalas ejekan Nur Muhammad dengan kelakar aku tidak pacaran dengan Sanya tapi pacaran dengan selera estetik Sanya sebagai perupa kontemporer. Ya, Sanya mahasiswi seni rupa, dan beberapa kali mengadakan pameran bersama komunitasnya.

Sebaliknya Sanya merasa beruntung berkasih-kasih dengan Putra. Selain karena dari bawah rambut keriting Putra bermunculan gagasan filosofis cerdas, Putra adalah tipe pria yang pasti diincar banyak perempuan. Andai Sanya tahu kebiasaan buruk Putra, penilaian Sanya barangkali berubah. Akan tetapi, benih Putra di rahimnya, lebih menentukan dari penilaian seperti apa pun itu.

Dan bagi Nur Muhammad pun, sekarang Sanya terlambat untuk tahu.

Dulu Ia selalu menasehati Putra agar menghentikan kebiasaan buruknya setelah Ia tahu Putra menghamili Meli, perempuan lain yang berhasil Ia kencani sebelum Sanya. Mungkin masih ada selain dua perempuan itu yang jadi tumbal gaya hidup Putra. Nur Muhammad mendebatnya. Katanya, untuk apa Ia belajar feminimisme dan pemikiran tetek-bengek lainnya di kampus jika Ia bersikap liar terhadap perempuan yang sering dibela dalam diskusi-diskusi mahasiswa.

“Bung, sekarang belajar filsafat atau pemikiran apa pun itu hanya gaya hidup, yang jika kamu belajar itu kamu lebih keren dari teman-temanmu. Dan bagiku, perempuan sama dengan filsafat, bagian dari gaya hidup juga.”

Nur Muhammad berdiri dan menggampar Putra saat itu. Kawan karibnya ini sudah keterlaluan. Nur Muhammad benar-benar marah.

“Kamu ini orang miskin, Put! Kalau terjadi yang diluar dugaanmu, apa yang akan kamu lakukan? Kamu pikir, pikiranmu bisa menyelasaikan semua masalah?”

Dan sekarang Sanya hamil sementara Putra berjuang lepas dari kematian. Ia pun seakan merasakan bayi dalam rahim Sanya menendang-nendang dan berteriak mohon belas-kasihannya.

“Soal itu aku tidak tahu apa-apa, Sanya. Kamu bicara sendiri sama keluarga Putra. Sebentar lagi mereka akan datang ke sini,” katanya kepada Sanya. Ia menelan ludah, tidak bisa membayangkan hal semacam apa yang akan terjadi nanti dengan keluarga Putra. Mengetahui anak mereka sekarat, sekaligus mengetahui anaknya adalah calon ayah bagi banyak bayi. Semua kemungkinan buruk bisa saja terjadi, pikir Nur Muhammad.

“Kumohon, Nur, bantuin aku, bantuin anak kawanmu ini.”

2/

Keluarga Putra baru tiba di Jogja pada hari ketiga Putra di rumah sakit. Sanya bakal mengira pengemislah yang menyusup ke ruangan Putra kalau lelaki tua itu tidak mengenalkan dirinya bernama Misrun sebagai bapak Putra, dan mengenalkan perempuan renta sebagai ibunya. Ini yang akan jadi kakek dan nenek bagi anakku? Ia berbisik kepada Nur Muhammad, sinis sekali. Ia melirik kepada sarung Misrun, plastik putih yang dibawanya, sampai kopyah hitam yang menampak merah. Nur Muhammad meremas tangan Sanya, memintanya tidak berpikir macam-macam.

Pikiran Nur Muhammad sedang kacau.

Misrun bertanya kepada Nur Muhammad bagaimana anak sulungnya itu bisa kecelakaan. Ia histeris mendengar penjelasan dokter tentang kemungkinan hidup Putra sangat tipis. Ia ingin tahu apa sebabnya sehingga Putra menjadi tak tertolong seperti sekarang. Apa yang akan dijelaskan Nur Muhammad? Kecelakaan itu terjadi ketika Putra hendak berangkat mengajar ke kampus dimana dulu Ia belajar. Putra diangkat sebagai asisten dosen, kata Nur Muhammad. Tetapi sayang, nasib mujurnya dihentikan truk yang menyerobot lampu merah ketika Ia dalam perjalanan ke kampus.

Sanya meremas tangan Nur Muhammad dan menggeleng-geleng.

“Ini semua gara-gara kamu, Pak!” kata Ibu Putra kepada Misrun memecah cerita Nur Muhammad.

“Lho, kok aku toh Mbok?”

Ibu Putra menangis lagi, lebih histeris. “Sudah Mbok bilangin hari itu agar Bapak shalat dhuha lebih dulu sebelum berangkat ke sawah, pasti sekarang anak kita selamat, Pak.” Bapak-Ibu Putra berdebat dalam tangis.

Kenapa jadi begini, Nur? Bisik Sanya. Nur Muhammad dan Sanya tidak mengerti. Mereka canggung di antara pertengkaran kecil keluarga Putra. Mereka melihat Misrun menunduk, memang seolah Ia yang bersalah, yang menjadi penyebab kecelakaan itu. “Kamu menggoyahkan keyakinanmu sendiri, Pak!” teriak Ibu Putra, melengking jauh. Ibu Putra ingin kembali pada hari itu, dan membayangkan Misrun shalat dhuha, dan Putra tiba di kampus dengan selamat. Ia dan Misrun yakin kejadian-kejadian kecil yang dialami mereka akan mempengaruhi Putra atau Fuad, adik Putra. Tetapi hari itu, ah, Misrun seperti lupa akan keyakinannya.

“Kalau anak kita bisa menjaga diri mereka sendiri, pasti tidak akan terjadi apa-apa dengan mereka kok Mbok. Bapak buru-buru,” kata Misrun, lalu berangkat begitu saja. Belum tiba di sawah kabar buruk itu menyusul lewat dering telepon.

“Bukannya Mbok sudah bilang toh, Pak?”

Misrun diam.

Nur Muhammad benar-benar ingin menghantam kepala Putra.

Putra sering bercerita kepada Nur Muhammad tentang keluarganya. Dan sekarang Ia tahu keadaan keluarga Putra. Ia tahu betapa besar kasih sayang mereka kepada Putra. “Kamu memang bangsat, Put,” kata Nur Muhammad. Ia menitikkan air mata saat tahu seperti itulah Misrun, yang kata Putra, sangat pelit sehingga hanya mau mengiriminya uang jajan jauh lebih sedikit dari teman-temannya. Ia tahu, Putra berasal dari keluarga miskin, sama seperti dirinya. Tetapi Ia suka Putra karena suatu ketika Putra mengatakan sesuatu yang membuat Nur Muhammad punya daya hidup yang meledak.

“Aku orang miskin, Bung. Kamu tahu pandangan mereka tentang orang seperti kita?”

“Ya, aku tahu, Put, kita tidak pernah ada. Kita seperti animasi.”

“Huh, kita animasi. Kita hanya animasi! Tapi kamu tahu Nur agar kita tidak lagi jadi animasi terus-menerus? Aku dan kamu harus berhenti mengasihani diri sendiri. Sapare aude! Pikiran ini akan mengantarkan kita pada dunia nyata, Bung!”

Begitulah, Ia mengingat kata-kata itu sampai Ia tahu segala rahasia baik-buruk Putra, sampai Ia melihat sendiri air mata Misrun jatuh. Karena tak tahan, Ia keluar dari ruangan Putra. Ia tidak mau ikut campur. Baik soal Sanya dan semua hal yang berkaitan dengan Putra!

“Mau kemana, Nur?” Sanya mengejarnya keluar.

Dan mengejarnya dengan berbagai pertanyaan. Sanya minta penjelasan yang sebenarnya dari Nur Muhammad. Siapa sebenarnya Putra, kenapa Ia bilang Putra adalah asisten dosen, mengapa cerita kepada keluarga Putra berbeda dengan cerita kepada Sanya.

“Sudah, Sanya! Aku hanya berpikir apa yang harus kukatakan agar mengurangi penderitaan mereka!”

“Tapi aku mengandung anak kawanmu itu, Nur!”

Ini bukan waktunya membahas janin itu, kasihan dengan keluarga Putra, kata Nur Muhammad. Ia menggenggam tangan Sanya tanpa berkata sepatah pun.

3/

Le Tragedy d’Esprit Pur, Tragedi Pikiran Murni, tulis Nur Muhammad. Ia menekan tombol kirim. Pesan pendek itu terkirim kepada Tukang bikin batu nisan. Ia minta agar itu ditulis di nisan yang Ia pesan. Kalau memang Putra tidak bisa sembuh, Ia akan menanam batu nisan itu biar pembaringan Putra tampak elegan seperti makam-makam tokoh sekaliber Simone de Beauvoir atau Samuel Beckett di Cimetiere du Montparnasse.1)

Dan Ia akan berkata kepada Sanya : “Jangan khawatir, Sanya. Putra telah meletakkan pikiran cerdas ke dalam perutmu.” []

2015

Catatan:

  1. Kompleks pemakaman di Paris, tempat disemayamkannya para intelektual dan sastrawan.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY