Legitimasi al-Qur’an terhadap Pemimpin Non-Muslim

Legitimasi al-Qur’an terhadap Pemimpin Non-Muslim

398
0
Ilustrasi/Dok.Istimewa
Ilustrasi/Dok.Istimewa

Perdebatan tentang pemimpin Negara dari kalangan non-muslim merupakan suatu hal yang sering dibahas oleh para ulama muslim saat ini. Ketika agama Islam mulai menyebar luas berbagai belahan dunia, baik Negara yang dihuni mayoritas Islam maupun yang minoritas Islam, muncullah problematika ini. Problematika tersebut kemudian memancing para ulama untuk berijtihad menggunakan akalnya untuk menyelesaikan permasalahan ini.

Ada dua kelompok yang memberikan pendapatnya dalam masalah ini. Pertama kelompok yang menyatakan non-muslim tidak boleh menjadi pemimpin Negara dan kelompok kedua, kelompok yang memperbolehkan pemimpin Negara dari non-muslim. Kelompok yang pertama didukung oleh al-Jashash, Ibn Arabi, Ibnu Katsir, al-Shabuni, al-Zamakhsyari, al-Mawardi, Abdul Wahab Khallaf, Hassan al-Banna dan lain-lain.[1] Mereka menggunakan kurang lebih 12 ayat Qur’an untuk mendukung argumentasi mereka. Mereka menolak pemimpin Negara dari kalangan non-muslim apabila jumlah masyarakat di daerah tersebut mayoritas Islam.

Sedangkan kelompok yang memperbolehkan pemimpin Negara non-muslim antara lain Mahmoud Mohammad Thaha, Abdullah Ahmed al-Na’im, Asghar Ali Enginer dan Muhammad Abduh.[2] Kebanyakan mereka dari kalangan liberalis dengan penafsiran kontekstual. Bahkan kebanyakan dari mereka tidak menggunakan teks al-Qur’an sebagai dalilnya secara langsung. Hanya ada satu orang yang menggunakan dalil dari al-Qur’an yaitu Muhammad Abduh. Adapun Muhammad Abduh mendasarkan pandangannya dengan surat al-Mumtahanah ayat 7-9.

Oleh karena itu, di sini akan dilihat penafsiran kontekstual surat al-Mumtahanah 7-9. Apakah pendapat Abduh sesuai dengan penafsiran kontektualis atau tidak. Surat al-Mumtahanah ayat 7-9 termasuk kelompok Surat Madaniyah dan diturunkan setelah Surat al-Ahzab. Adapun redaksi Surat tersebut adalah:

عَسَى اللَّهُ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِينَ عَادَيْتُمْ مِنْهُمْ مَوَدَّةً وَاللَّهُ قَدِيرٌ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Ibnu Katsir menulis dalam tafsirnya: “Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang (rasa cinta setelah permusuhan, rasa sayang setelah benci, dan persatuan setelah perpecahan) di antara kamu dengan orang-orang yang pernah kamu musuhi di antara mereka Allah Mahakuasa (Allah berkuasa untuk menyatukan setelah pertikaian dan kebencian, maka disatukanlah hati-hati mereka setelah permusuhan dan menjadikan satu umat yang mempunyai kesepakatan) dan Allah Maha Pengampun (Allah mengampuni orang-orang kafir atas kekafirannya ketika mereka bertaubat, mereka bertaubat kepada Tuhan dan mereka menyatakan keislaman, dan Allah Maha Pengampun kepada semua hambanya apapun dosa yang dilakukannya).

Melalui ayat ini Allah memberi kabar gembira kepada umat muslim yang berhijrah ke Madinah. Umat muslim yang hijrah ke Madinah mempunyai kerabat di Mekah yang belum berhijrah. Pada awal hijrah umat muslim ke Madinah, Nabi memutuskan hubungan dengan mereka sampai beberapa tahun. Bahkan umat muslim berperang dengan mereka di dalam beberapa kali peperangan.

Tetapi sebagian dari kaum non-muslim yang tinggal di Mekah masih ada beberapa orang yang tidak memusuhi umat muslim dan tidak mengusir umat muslim, bahkan mereka sebenarnya beriman akan tetapi belum berhijrah. Melalui ayat ini Allah memberitahukan bahwa Dia akan menimbulkan kasih sayang di antara umat muslim yang hijrah ke Madinah dengan non-muslim (kafir Quraiys) yang tinggal di Mekah.[3] Allah akan menjadikan mereka kelompok yang bersatu setelah sebelumnya mereka saling bermusuhan satu sama lain.[4] Allah berkuasa untuk melakukan itu dan Allah Maha Pengampun yang akan mengampuni sebagian dosa mereka serta Allah Maha Pengasih yang akan memberikan kasih sayangnya terhadap umat manusia.

Allah tidak melarang umat muslim untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi mereka dan tidak mengusir mereka. Sikap adil yang dilakukan umat muslim adalah sebuah cerminan tingkah laku yang dicintai Allah. Allah hanya melarang umat muslim menjadikan orang-orang yang memusuhi Islam dan mengusir umat muslim sebagai teman. Karena orang yang menjadikan mereka teman, sama saja dia menganiaya dirinya sendiri.

Dalam penafsiran kontektualis salah satu poin penting untuk mengkaji penafsiran ayat adalah dengan aspek linguistic. Dalam ayat ini aspek linguistic yang perlu dibahas adalah kata. An tawallawhum (أَنْ تَوَلَّوْهُمْ). Abduh menafsirkan kata ini dengan kata wali yang mempunyai arti “mengangkat pemimpin”. Dalam tafsir al-Maraghi kalimat ini ditafsirkan: “jika kamu menjadi wali dan penolong mereka”[5]. Di dalam kitab al-Wujuuh wa an-Nadzair dijelaskan bahwa kata walaya (و ل ي) mempunyai 10 arti. Di antaranya adalah orang tua, sahabat dan teman dekat, akan tetapi secara khusus didalam surat ini artinya adalah sebagai teman pemberi nasehat.[6] Sedangkan dalam kitab Lisaanul Arab al-Farrau menyatakan bahwa mereka yang tidak memerangi agama Islam adalah Khuza’ah yang sudah mengadakan perjanjian dengan nabi Muhammad SAW, oleh karena itu nabi memerintahkan untuk berbuat baik dan memenuhi janji sampai pada waktu yang ditentukan. An tawallawhum (أن تولوهم) mempunyai arti ay tansuruuhum (أي تنصروهم), meminta tolong/menolong mereka, yaitu ahli Mekkah[7]. Jadi kalau melihat beberapa penafsiran ulama klasik dari segi bahasa (linguistic), ayat ini tidak ada kaitannya dengan pengangkatan seorang pemimpin.

Aspek kedua yang perlu diperhatikan dalam penafsiran kontektualis adalah aspek asbabun nuzul (social historical context) atau sebab-sebab turunnya ayat al-Qur’an. Adapun sebab turunnya ayat ini dalam beberapa tafsir dijelaskan :

  1. Ayat ini turun untuk memberikan janji kepada umat muslim di Madinah bahwa Allah akan menyatukan mereka dengan keluarga mereka di Mekah dengan balutan kasih sayang. Kebanyakan non-muslim yang di Mekah akhirnya memeluk Islam, bahkan nabi dinikahkan dengan anak perempuan Abu Sufyan yaitu Ummu Habiibah.[8]
  2. Abu Sholih Manshur mengabarkan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan datangnya Qutailah binti Abdu al-Uzza kepada anak perempuannya Asma binti Abi Bakar dengan membawa beberapa hadiah, akan tetapi Asma tidak menerima hadiah tersebut, kemudian Aisyah bertanya kepada nabi tentang masalah ini, maka turunlah ayat ke-8.[9] Sedangkan Bukhari menyatakan bahwa Asma binti Abi Bakar bertanya langsung terhadap masalah ini kepada nabi, lalu turunlah ayat ke-8 ini.[10]

Sebagai konsekuensi dari keyakinan yang berbeda, umat muslim menyatakan bahwa mereka berlepas diri atau berpisah dari komunitas kaum musyrik, sebagaimana yang diteladankan kepada mereka oleh bapak para nabi, yaitu nabi Ibrahim yang melepaskan diri dari kaumnya yang berbeda keyakinan dengan mereka. Tetapi karena kaum Muslim dan kaum musyrik sebagiannya masih ada ikatan kekeluargaan, mereka merasa keberatan dan menginginkan jalan keluar dari masalah ini.

Karenanya turunlah surat al-Mumtahanah ayat 7-9 ini sebagai respon untuk mereka bahwa Allah akan mengubah tabiat orang-orang musyrik dan menanamkan rasa cinta dan kasih sayang antara mereka. Dan nyatalah janji Allah tersebut dengan penaklukan kota Mekah. Pada awalnya agama Islam memisahkan kekeluargaan mereka, akan tetapi akhirnya Allah menganugerahkan sifat cinta dan kasih sayang di antara mereka.

Pada ayat ke delapan selanjutnya Allah memberikan kelonggaran terhadap mereka untuk berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya, dengan syarat bahwa mereka bukanlah orang yang memusuhi dan memerangi Islam, serta mereka juga tidak mengusir umat muslim pada saat awal perkembangan Islam di Mekah. Namun, dalam hal ini hanya hubungan sebagai teman, bukan dalam hal pengangkatan seorang pemimpin.

Jadi, setelah melihat aspek bahasa dan sebab turunnya ayat ini, pendapat yang dinyatakan Abduh bahwa melalui ayat ini Allah memperbolehkan untuk diangkatnya pemimpin dari kalangan non-muslim tidak bisa dibenarkan, karena tidak sesuai dengan pengkajian analisa bahasa dan sebab turunnya ayat. Di awal sudah dijelaskan bahwa hanya Abduh lah yang mengemukakan dalil dalam membela pendapatnya “memperbolehkan pemimpin non-muslim”, akan tetapi dalil yang digunakan Abduh sudah tidak bisa digunakan lagi. Maka ketika ada pertanyaan “adakah legitimasi pemimpin non-muslim dalam al-Qur’an?”, maka pertanyaan ini bisa dijawab dengan mudah, bahwa tidak ada satupun dalil dalam al-Qur’an yang melegitimasi pengangkatan pemimpin non-muslim.[]

Daftar Bacaan

[1] Ibnu Syarif, Mujar, Presiden Non-Muslim di Negara Islam, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2006), h. 79

[2]Ibid, h. 140

[3]Al-Thabari, Abu Ja’far, Jaami’ al-Bayaan fii Ta’wiil al-Qur’an, Juz 23, (Mu’assasah ar-Risaalah, 2000), h. 320

[4]Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Adzim, Juz. 8, (Daaru Thoybah, 1999), h. 89

[5]Ahmad Musthafa Al-Maraghiy, Tafsir Al-Maraghiy, Terj. (Semarang: Toha Putra, 1989), h. 115

[6]Muqotil bin Sulaiman al-Balkhi. Al-Wujuuh wa an-Nadzair fi al-Qur’ani al-Adziim, (Dubai: Markaz jama’atu al-Maajid li ats-Tsaqofah wa at-Tuuros, 2006), h. 498

[7]Ibnu Mandzur, Lisaanu al-Arab, (al-Qahirah, Daarul Ma’arif), h. 4921

[8]An-Naysaburi, Abu al-Hasan Ali bin Ahmad al-Wahidi, Asbaabu an-Nuzuul, h. 211

[9]Ibid, h. 211

[10]Al-Suyuti, Lubaab an-Nuquul fii Asbaab an-Nuzuul, (Maktabah Masykaat al-Islamiyah), h. 84

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY