Lelaki Minang Tak Berjodoh dengan Kampungnya (Bagian 1)

Lelaki Minang Tak Berjodoh dengan Kampungnya (Bagian 1)

1352
0

…Halangan yang amat besar bagi saya, niscaya akan datang dari pihak kaum keluarga saya, dan adat istiadat negeri saya, dalam hal perkawinan. Sebagai orang Minangkabau, saya harus kawin dengan perempuan disana, bukan sekali saja,melainkan beberapa kali; lebih banyak lebih baik. Jika tak saya turuti adat ini, niscaya tidaklah saya akan dapat hidup disana dengan baik. –Hamli (Memang Jodoh, hal 451)

Lagi-lagi adat Padang (baca; Minangkabau) ditampih.Nirunya berwujud sebuah Novel.Ditulis oleh seorang yang telah tiada, Marah Rusli si Keras Hati.Dan pikiran saya sebagai salah seorang pembaca berdarah Minang terasa digoncang-goncangkan, layaknya beras diatasniru tersebut. Ada masalah besar dalam adat istiadat masyarakat Minangkabau..!

Seperti halnya Adi novel SittiNurbaya, karya fiksi ini diangkat dengan tema seputar percintaan dalam kehidupan dan romansa pernikahan.Kedua poin itu diikat dengan kondisi sosial masyarakat Minangkabau pada khususnya, dan nusantara pada umumnya.Dan seperti halnya Novel Nurbaya, novel ini dapat kita katakan pelengkap sikap Rusli, sebagai penulis, pada adat atau tatanan hidup masyarakat kampungnya.Iakritisi dan ia anggap perlu ditinggalkan, setidaknya soal tata hidup pernikahan.

Bedanya, novel ‘Memang Jodoh’ ini adalah sebentuk biografi bagi si penulis.Biografi, yang lebih banyak bercerita pada liku dan terjal pernikahannya, ini adalah kado untuk istrinya, atas pernikahan mereka yang setengah abad.Pernikahan yang sebagaimana diceritakan dalam novelnya ini sebagai ketetapan Tuhan dan telah tertulis di LauhulMahfudz.Kekal, abadi dan tak tergoyahkan di tengah banyaknya rintangan sertanya cobaan.Dan yang paling keras cobaan itu, adalah dari adat dan perilaku masyarakat Minangkabau.

……………………….

Hamli adalah tokoh utama kisah ini.Cerita bermula dari keinginan ayahnya yang menginginkan Hamli melanjutkan sekolah ke Belanda. Tapi Ibunya, SitiAnjani, tak menginginkananaknyakesana. Takut kalau anaknya akan hidup dan berpikiran layaknya orang-orang barat. Terlebih lagi, takut jika anak semata wayangnya itu menikah dengan perempuan bule. Tentu pernikahan yang demikian akanmenjahui anaknya itu dengan keluarganya, adatnya, juga dengan kampungnya.

Saking takutnya itu,ia mengancam akan bunuh diri jika anaknya tersebut berangkat jua. Hamli getir juga dibuatnya.Maka diurungkannya niatnya belajar ke negeri Belanda.Ia akan melanjutkan sekolah ke Jawa saja, masuk sekolah pertanian di Bogor. Untungnya sang ayah tak bekeras hati memaksanya ke sana, meskipun ia telah menyiapkan uang dan rencana keberangkatan.

Pada mulanya Anjani cukup kesal.  Ia, sebagai ibu, tak dimintai pendapat oleh ayah Hamli atas rencana sekolah anaknya ke tanah penjajah itu. Memang, Anjani dan suaminya tak lagi serumah.Suaminya menikah lagi dan mendapat perintah kerja sebagai Hop Jaksa Medan.Sedangkan Anjani tinggal di Padang, hidup mengurusi keluarga besarnya, adik dan keponakannya. Tentang alasan kenapa Anjani tak ikut suaminya ke Medan akan diceritakan nanti seiring dengan cerita dan tekad Hamli.

Hamli sadar sabab kekesalan ibunya itu.Ia pun tak ingin menambah sakit hati ibunya dengan keras hati ingin menuruti keinganan ayahnya belajar ke Belanda. Sebenarnya ia pun sangsi apakah belajar ke Belanda itu adalah keputusan yang tepat untuk dirinya. Ia memang menginginkan melanjutkan pelajaran setelah sekolah enam tahun diBukittinggi. Tapi yang lebih diinginkannya lagi adalah merantau, keluar dari tanah Padang kampung halamannya. Maka itu, ia pun tak terlalu bermasalah jika tak ke Belanda.

Hingga muncul opsi melanjutkan pelajaran di tanah Jawa.Tarik-ulur hingga muncul solusi ini sangat menarik dicermati, antara Hamli dan ibunya.

“Li, cobalah ceritakan kepada ku, apa gunanya kau ke negeri Belanda itu?”

Maka dijawablah oleh Hamli bahwa melanjutkan pelajaran ke negeri Belanda akan menjadikan dirinya seorang yang berpangkat tinggi. Dan otomatis dalam perkerjaan, iaakanmendapatkan gaji yang lebih besar jumlahnya daripada orang yang hanya lulusan sekolah pribumi. Perbedaan gaji tersebut cukup besar, Rp. 25,- dan Rp. 175,-

“Lihatlah saudara sepupumu si Hasan!Berapa gajinya sebagai seorang juru tulis?dari tak bergaji sedikit pun setelah beberapa tahun bekerja, barulah dapat gaji Rp. 7.5 sebulan. Tetapi dapat juga dia hidup dengan sempurna bersama anak dan istrinya.Pergi ke Kantor memakai jas dan bersepatu pula.Mengapa kau takkan dapat senang dengan gaji permulaan yang banyaknya lebih dari tiga kali itu?

Dan jika benar terbukti kelak gajimu itu hanya cukup untuk kau sendiri, janganlah kau pikirkanaku.Dengan keadaan sekarang ini, akau telah senang dan kau tak punya saudara perempuan.Apalagi yang akan kau pikirkan?”Anjani menelisik.

Hamlikemukakanlah alasannya.Ia tak bisa seperti Hasan. Sepupunya itu dapat hidup “bahagia” dalam keluarganya karena istri dan anak-anaknya ditanggung biaya hidupnya oleh keluarga istrinya, mamak dari anak-anaknya. Sedangkan ia tak ingin seperti itu. Baginya, istri dan anak-anaknya adalah tanggungan suaminya.Maka hendaklah seorang suami yang juga seorang ayah bertanggungjawab atas kebutuhan binidananaknya.

“Ajaib”, demikian sontak ibunya mendengar penjelasan anaknya.

Sangat aneh seorang laki-laki Padang -keturunan bangsawan pula- yang mempunyai pikiran demikian. Sudah jadi adat bagi masyarakat Minangkabau: Laki-laki dipinang oleh keluarga perempuan, yang juga bertanggung jawab atas membiayai kebutuhan keluarganya.Tapi ini, dihadapannya, anaknya sendiri berpikiran lain. Barangkali inilah buah pikiran barat, akibat bersekolah didikan Belanda.

Tak sampai disitu,Hamli lanjutkan katanya bahwa adat yang demikian telah pincang dan tak sesuai lagi dengan kehendak zaman sekarang. Kenapa?

“Pertama, karena perkawinan dipandang sebagai perkara ibu, bapak, dan mamak, bukan perkara anak yang akan dikawinkan; sehingga anak yang akan menjalani dan akan merasakan buruk-baik perkawinan itu seumur hidupnya, tanpa tahu apa-apa, harus menurut saja kehendak orang tua atau mamaknya.“

“Karena orang tua telah mempunyai pengalaman dalam perkawinan.Anak-anak belum,” Anjani siap menjawab argumen anaknya.

“Oleh sebab, itu tak baik anak-anak itu dikawinkan muda-muda, tatkala mereka belum tahu, apa perkawinan itu, apa maksudnya dan bagaimana caranya.inilah sebabnya, anak sekarang tak suka kawin lekas-lekas, karena mereka hendak mempelajari dulu perkawinan itu; ya, setidaknya hendak mengetahui pula siapa yang akan menjadi pasangannya, supaya dapat menyaring dengan sebaik-baiknya.

Kedua, karena suami dipandang sebagai orang semenda, orang datang, yang tak punya hak apa-apa atas istri dan anaknya, sehingga dia tidak punya tanggung jawab atas anak dan istrinya itu,” Hamli tak terjungkal dengan argumen ibundanya.

Bertambah paniklah ibunya dengan jawaban itu.Panik karena, dalam pembicaraan ini sebenarnya, terselip keinginan agar anaknya menikah.Telah sampai umurnya (pada kebiasaan ketika itu) dan juga telah banyak orang yang datang kepadanya untuk meminang.Mendengar jawaban anaknya ini tentu surutlah keinginan Anjani untuk memaksa anaknya dalam hal kawin ini.

Lagi pula, dalam hatinya, ia mengakui kebenaran dalam omongan anaknya. Memang pada adat masyarakat Padang, seorang laki-laki –apalagi ia seorang bangsawan dan terpandang- melengkapi hidupnya dengan pernikahan dengan perempuan Minangkabau.Seorang ibu akan dibuat malu karenanya jika anaknya tak menikah, dianggap “tak laku” anaknya. Seorang laki-laki Minangkabau berhak menikah dengan perempuan yang meminangnya. Tak apa juga jika yang meminang itu lebih dari satu. Jika ia suka, ia bisa menikah lebih dari satu orang istri. Bahkan hal yang terakhir ini akan lebih baik rasanya dilakukan oleh bangsawan Padang, sebagai bentuk kemuliaan atas kebangsawanannya.

Anjani sebenarnya tak pula suka dengan pernikahan yang demikian, dan karena itulah ia menolak bercampur lagi dengan suaminya. Ayah Hamli telah dipaksa menikah lagi oleh keluarganya, dan tak dapat menolak.Anjani lebih memilih berpisah dengan lakinya itu daripada dimadu.Dan membiarkan suaminya pergi bekerja di Medan. Tapi ia tak mau berpisah dengan anaknya. Dan mengetahui anaknya akan meneruskan belajar ke Belanda, adalah alamat luka untuk hatinya. Belum lagi luka yang disebabkan oleh Hidup kepadanya.

“Sungguhpundemikian,ku pinta juga kepdamu, dengan sepenuh-penuh permintaan, batalkanlahniatmu hendak pergi ke negeri Belanda itu. Takkan mungkin kau dapat menyenangkan hatiku jika kau pergi juga.Aku takut, aku jadi sakit atau gila karena memikirkan dirimu disana. Bagaimana jika malang disebut, mujur yang datang, terjadi apa-apa atas dirimu disana? Bagaimana aku akan dapat melihatmu? Sebab kesana,bukan perjalanan sehari dua hari. Di laut berbulan, di daratan entah berapa lama pula, dengan tak tahu tempat dan tujuan, tak tahu adat dan bahasa.

“Jika kau hendak pergi juga meneruskan sekolahmu, pergilah ke tanah Jawa. Di sana kabarnya banyak sekolah, yang lebih tinggi dari di sini. Jika ada apa-apa, dalam tiga hari, dapat aku bertemu dengan kau,” kata Anjani.

Telah menjadi jalan hidupnya, Hamli menuruti ingin ibunya.Ia tak jadi berangkat ke tanah berkincir angin, memutar kemudi rantau ke tanah Jawa, ke Bogor. Kota, dimanaia akan bertemu dengan Din Wati, jodoh hidupnya itu. Dan dari sinilah dimulai drama: bahwa ini “memang, dan memang jodoh” setelah diketahui dikemudian hari bahwa Din Wati pun sebenarnya hendak belajar ke negeri Belanda, namun tak jadi. Arus hidup mengalir ke muara yang sama.

……………………..

Ada yang bosan membaca novel ini?Ya, saya adalah salah seorang diantaranya.Saya bosan karena kebodohan dan keledoran saya dalam memperhatikan pesan dan semangat penulisnya.Kebodohan itu pula yang telah memaksa saya menyusun standar-standar tertentu dalam membaca sebuah novel.

Pada mulanya, ketika mengetahui bahwa roman ini adalah roman bernuansa Minangkabau, dalam batok kepala saya bertumpuk harapan akan bertemu dengan ‘kekayaan’ bahasa, ‘kenyamanan’ rima, alur yang ‘mengejutkan’ dan hal-hal intrinsik lainnya dari sebuah karya fiksi. Saya tahu Minangkabau dan Melayu cukup mahir dalam hal terakhir ini. Juga barangkali karena Diri, saya mengharapkan –setidaknya- akan menjumpai novel ini sebagai bentuk ‘pulang kampung’ yang belum kesampaian.

Otak yang bodoh, biasanya paralel dengan hati yang dangkal.Keduanya menjelma jadi ketidakcermatan dalam berpikir dan kemarahan yang tak berasalan.Hampir setengah dari novel ini dibaca, saya tak juga “pulang kampung”.Saya kesal. Properti berbau Minangkabau, semisal saluak, domino, kalamai, rendang, gulaipangek,dendengberlada (balado), gulai paku dan hal-hal lain hanya datang sesekali menyelingi, seperti iklan di televisi. Saya malah berpikir Rusli gagal menghadirkan seorang pemuda Minangkabau bernama Hamli.

Dan karya yang baik adalah karya yang menelanjangi kebodohan pembacanya.Saya malu, karena Rusli ingin hadirkan tema yang lebih besar dari keinginan saya untuk ‘pulang-kampung’ tersebut. Seolah-olah ia, dengan novelnya ini, hidup dan memukul kepala saya tiga kali. Pukulan pertama karena kebodohan saya yang tidak melihat bagaimana novel ini mampu hadirkan masalah pelik “zaman peralihan”, dimana semangat baru telah berkobardihati para pemuda, dan segala yang tua –baik orang yang umurnya sudah tua atau adat itu sendiri yang telah tua- mesti dipikirkan, kalau perlu ditinggalkan (setidaknya dalam persoalan perkawinan).

Pukulan kedua karena kelancangan saya, sebagai makhluk zaman ini, yang anggap novelnya ini sebagai opium, penerbit gairah, dan hiburan. Seolah ia yang tetap hati dan sikap–seperti halnya di dalam novel- berujar dengan mengejek, “Inilah anak zaman dua-ribuan.” Dan, plaakkk..!! datang pukulan ketiga. Ini pukulan agar saya ingat dengan pukulan pertama dan kedua.

Semoga Anda tidak seperti saya.

Perangai Urang Sumatera di Tanah Rantau

Singkat cerita,bertemulahHamli dengan jodoh dari tuhannya, Seorang perempuan Sunda, juga seorang bangsawan tinggi di kota Bogor, Din Wati namanya. Pertemuan ini memang telah ditetapkan, juga telah diprediksi sebelumnya oleh MpokNur si tukang ramal.MpokNur, telah ditanyai oleh Din Wati dan bibinya perihal jodoh Wati. Tukang ramal ini dengan kartunya menunjukkan kepada mereka, jodoh Wati berasal dari negeri seberang, laki-laki dari Sumatera.Dan masa pertemuannya sangatlah dekat.

Memang dekat. Sepulang dari rumah MpokRamal, Din Wati rencananya akan menjemput bibi angkatnya di stasiun. Bibi angkatnya ini adalah teman karib ibunya, dan –siapa sangka-bibi kandung Hamli.Maka pertemuan mereka, karena Hamli juga menjemput bibinya di stasiun itu adalah pertemuan mereka yang berjodoh.

Hamli, diceritakan dalam roman ini sebagai laki-laki yang mempunyai penyakit serius: Penyakit Pilu. Penyakit ini sedikit aneh, dokter dan dukun tak bisa mengobatinya.Penyakit pilu ini yang menjadi sababHamliacap bersedih hati, acap meratap.Ia hendak pergi melalang jauh, merantau terus mencari “sesuatu” yang dapat mengobati sakit pilunya ini. Ia sendiri pun tak tahu apa ‘sesuatu’ itu. Ia hanya merasakan akan menemukan penawarnya dengan terus merantau, kalau perlu dengan meninggalkan sekolah pertaniannya di Bogor.

Sakit itu dialaminya sebelum bertemu dengan Din Wati.Gadis Sunda ini amat iba melihat penderitaan pemuda ‘peratap’ itu.Ia ingin mengobati sakit pilu ini. Disamping itu, ia pun telah suka dengan Hamli. Apakah lelaki Padang ini yang telah diprediksi akan menjadi jodohnya; Menjadi bapak dari titisan guru ayahnya yang telah meninggal belasan tahun silam; Menjadi laki-laki Sumatera yang diprediksi MpokNur.

Tentangan menjadi titisan guru ayahnya, itu juga sebuah cerita unik. Dikisahkan, ketika  Wati masih kecil, ia diajak ayahnya ke pendopo pengajian gurunya. Gurunya ini adalah seorang ulama yang arif dan bijaksana. Di pendopo pengajian, telah berkumpul banyak murid sang guru, sedih. Guru ini akan mendekati ajal. Dan ketika ayah Wati menghadapkan anaknya itu kepada gurunya ini, Gurunya sangat gembira. Pasalnya pertemuannya dengan Wati, menurutnya, adalah pertemuan dengan ibunya di masa depan. Sang guru mengatakan bahwa dikemudian hari, ia akan menjadi anak Din Wati. Watiakan menikah dengan seorang laki-laki dari Sumatera yang akan menjadi ayahnya.

Maka jadilah titah gurunya itu menjadi prediksi perjodohan Din Wati dengan Hamli sebelum prediksi MbokNur. Tapi layaknya orang yang akan menikah, kadang ia ragu juga. Apakah Hamliakan menjadi jodohnya? Walaupun Hamli memang dari Sumatera, pulau itu kan cukup luas. Ada Padang, Medan, Lampung juga Palembang. Meskipun Hamli berasal dari Sumatera, belum tentu ia akan menjadi orang yang diprediksi tersebut. Mana tahu laki-laki yang diprediksi tersebut adalah orang Medan atau Palembang?

Maka jadilah penyakit pilu yang diderita Hamli tersebut menjadi jalan jodoh tersebut.Pasalnya ketika Hamliberkawan dekat dengan Wati, penyakit suka ratapnya ini hilang.Hamli sangat suka bergaul dengan Wati, begitu juga sebaliknya.Bibi Hamli dan neneknya yang berada di Bogor ketika itu sangat gembira dengan kesembuhan Hamli.Mereka juga suka pula dengan Din Wati.Maka pernikahan adalah jalan terbaik untuk keduanya, untuk Hamli yang suka sedih, untuk Wati yang juga suka menjadi penawar kesedihan Hamli, apalagi telah ada embel-embel prediksi itu sebelumnya.

Sebenarnya prediksi bahwa mereka akanberjodoh tidak hanya dari pihak Wati saja. Pihak Hamli pun demikian. Ibu Hamli, Anjani sebelumnya sudah memperkirakan itu bakal terjadi. Ketika Hamli dalam kandungan, bermimpilahAnjani menerima hadiah dari Ayah Hamli yang baru pulang dari Jawa.Hadiah itu adalah burung dan sangkarnya.Anjani sangat menyukai hadiah tersebut. Dan ketika sadar mimpi itu adalah sebuah pertanda, ketika dikonsultasikan dengan seorang dukun pula, ia mengetahui bahwa burung itu adalah tanda perjodohan anaknya dengan seorang perempuan yang baik pula dari tanah Jawa.

Sampai disini mungkin semua seperti sudah direncanakan oleh Yang Punya Kuasa.Dan masalah timbul pertama kali dari pihak keluarga Wati.Sebagaimana diketahui, Wati juga seorang seorang bangsawan tinggi layaknya Hamli.Wati pun telah banyak dipinang seperti halnya Hamli ketika di kampung halamannya.Apalagi yang melamar Wati bukanlah orang-orang sembarangan, bahkan seorang calon Bupati (pangkat paling tinggi yang bisa diraih oleh pribumi).

Hamli pun seorang bangsawan. Tak akan tercela jika Wati menikah dengan Hamli yang juga tinggi harkat keluarganya. Masalahnya terletak pada orang Sumatera itu sendiri.Orang-orang di bumi Andalas itu banyak meninggalkan perangai buruk di perantauan. Salah seorang keluarga Wati telah menjadi “korban” dibuatnya: Menikah dengan orang Sumatera, kemudian dibawa pulang ke Sumatera. Namun mereka tak kembali dan tak diketahui rimbanya.Mungkin sudah dijual ke Singapura, sangka hati keluarga Wati.

Terlebih lagi ketika hendak memasuki ke jenjang perkawinan, tak sedikit cobaan berdatangan.Selain dari godaan seorang mamakHamli yang juga menyukai Din Wati, godaan datang dari pengalaman Julaiha, gadis Sunda yang telah menikah dengan seorang laki-laki Padang.Julaiha dulunya cantik dan bagus badannya.dalam waktu singkat, telah menjadi kurus kering. Tinggal kulit pembalut tulang.Pakaiannya yang dulu bagus-bagus dan perhisaannya yang mahal-mahal, tak kelihatan lagi dipakainya sekembali dari Padang.

Sutan Melano, yang jadi suaminya telah dipaksa oleh keluarganya untuk kawin kembali di tanah Minang. Keluarganya tak menganggap baik pernikahan SutanMelano dengan Julaiha.Ketika Julaiha di tanah Minang, diperlakukanlahJulaiha layaknya orang luar yang tak tahu apa-apa.“Sebentar-sebentar saya dimarahi, salah tak salah.Dikatakan tak tahu adat istiadat, tak tahu sopan santun, tak hormat kepada yang tua-tua dan tak segan kepada yang muda-muda, terlalu bebas dalam perkataan, perbuatan dan tingkah laku,” sedih Julaiha.

Bahkan harta benda Julaiha sendiri, dipinjam namun tak dikembalikan oleh sanak famili SutanMelano.Disangkanya itu adalah harta SutanMelano dan Julaiha tak berhak memakai untuk dirinya sendiri.Julaiha tak tahan dengan perlakuan sanak famili suaminya, apalagi SutanMelano pun tak kuasa menolak ketika dipaksa nikah kembali dengan perempuan Minang.

Julaiha kabur.Ia pulang kembali ke Bogor seorang diri, dibantu oleh seorang tukang gadai yang kasihan dengan penderitaannya. “Karena tak tertahankan oleh saya siksaan yang telah dijatuhkan atas diri saya, hanya karena takdir saya, harus bersuami laki-laki Padang.”Cerita Julaiha pasti melecut telinga siapa saja yang mendengar, apalagi bagi Din Wati yang hendak menikah dengan laki-laki yang juga berasal dari Padang.

…………………………

Saya punya kenalan seorang perempuan.Dia pernah bercerita bahwa keluarganya sangat benci jika keturunannya menikah dengan orang Padang. Perkaranya hampir sama dengan pengalaman Julaiha. Tapi mungkin tak separah Julaiha yang kabur kembali ke rumahnya.Laki-laki Padang suka berbini dan meninggalkan bininya, tak kembali lagi.Saya kira, wajar saja keluarga itu sakit hati.Perempuan mana sih yang rela beristri seperti itu.

Perkara berbini banyak orang Sumatera –termasuk urang Padang- sudah dikenal banyak orang di perantauan, setidaknya di Jawa yang saya kenal.Saya kira letak persoalan ini berpangkal dari orang Minang yang “Ciluah” dan “ketidakmampuan mereka untuk berpikiran luas dalam memandang adat istiadat.” Orang Minang yang amat terikat dengan adat dan rasa Minangkabau akan menemukan persoalan serius jika becampur dengan kehidupan orang “Luar”. Dalam kehidupan keluarga yang banyak rintangan dan cobaannya, dua orang dengan adat istiadat yang berbeda, logika dan perasaaan yang tak sama, tentu jika tak “awas” akan menghadirkan pertikaan yang tak sedikit.

Biasanya akan ada yang mengalah, entah suami atau istri. Orang Minang dengan standar hidup dan rasa yang terlalu kaku –acap- menuntut lebih pada pasangannya. Tuntutan ini, dalam bentuk yang lebih keras, dapat menjadi hinaan atau cemoohan pada adat kebiasaan lain.  Bukankah aneh rasanya Jika adat kita saja yang kita perturutkan, sedangkan kehidupan kita lebih luas dariadat itu sendiri?

Urang Kampung yang Begis

Singkat cerita, Hamli memang menikah dengan Din Wati.Pernikahan mereka pada mulanya tak mendapat restu dari kedua belah pihak keluarga besar.Memang ada kesalahan informasi yang diterima kedua belah pihak.Keluarga Hamli menyangka Din Wati adalah seorang Nyai Belanda yang hina.Keluarga Wati pun meraguiHamli sebagai bangsawan dari Sumatera.Yang menjadi benteng pertahanan Hamli dan Wati cuma nenek, bibi dan ibu Wati.Ayah Hamli menyetujui, bahkan mengirimkan ongkos perkawinannamun tak hadir dalam pernikahan mereka.Pernikahan dilangsungkan diam-diam dan sederhana.

Sedangkan Anjani, setelah tahu bahwa menantunya bukan Nyai Belanda tak mempermasalahkan pernikahan anaknya. Berbeda dengan mamakHamli yang murka ketika megetahui pernikahan tersebut. Ia kecewa Hamli lebih memilih Wati, orang luar Minang,daripada anaknya sendiri. Kemurkaannya berujung pada pemutusan hubungan keluarga. Ia tak lagi mengganggapHamli sebagai kemenakannya, Anjani sebagai saudaranya, dan Khodijah –nenek Hamli- sebagai ibunya karena telah menerbitkan malu bagi dirinya dan keluarga besarnya yang ‘melepaskan’ Hamli kepada orang luar. “Manggadangkankabauurang”.

Malu itu benar-benar terasa bagi keluarga dan adat Hamli. Ketika Hamli pulang kampung, ia dihadapkan pada rapat adat niniakmamaknya. Ia diminta menceraikan Din Wati atau –kalau tidak mau menceraikan- mengambil lagi seorang/lebih istri berdarah Minang. Maka terjadilah perdebatan dan sambut-menyambut argumen antara para niniakmamak dan Hamli.

Perdebatan ini menarik, karena Rusli menghadirkan perdebatan antara dua perbedaan cara pandang dalam menjalani kehidupan, khusunya dalam persoalan perkawinan. Disinilah kita dapat melihat, Hamli sebagai anak muda mengedepankan paham baru dalam berkeluarga: Monogami. Sebuah pandangan yang sudah “wajar” di zaman sekarang.Tapi masih dianggap “aneh” ketika itu, apalagi bagi keluarga bangsawan.

Dalam novel ini, sebuah karya yang terlambat terbit, kita dapat melihat bahwa sebuah ide yang dahulunya dianggap “aneh” ternyata hari ini malah dijunjung tinggi, bahkan sebagai sesuatu yang sudah semestinya pula. Dewasa ini orang malah dianggap hina beristri banyak.Kehidupan sosial kita tidak menjamin lagi kelangsungan hidup keluarga yang berpoligami tersebut.

Novel ini menggambarkan akibat seorang yang beristri banyak sebagai kecelakaan hidup,yang menyesengsarakan dirinya hingga kuburan. Adam, seorang sahabat Hamli d iSekolah Raja Bukittinggi, meninggal muda karena empat orang istrinya. Adam “diobati” oleh mertua istrinya agar suka pada anaknya daripada madunya lain. Begitu juga istri yang lain itu melakukan hal yang sama kepadanya. Maka jadilah ia seorang yang makan banyak “obat” dari istrinya-istrinya. Bahkan ketika dia meninggal pun, istri-istrinya berebut mengambil harta-hartanya, sampai kemenakannya mengusir semua istri Adam.Harta itu pun habis karena biaya penguburan dan kenduri pengajian.

Paham monogami yang dibawa Hamli dalam masyarakat Padang ketika itu bukannya diterima dengan baik-baik saja.Dalam kelangsunga keluarganya Hamli tak hentinya dipinta untuk menikah lagi. Permintaan itu dengan berbagai cara, dari pinangan baik-baik sampai pada cara buruk dengan mencelakakan Din Wati. Sempat pula Din Wati coba diguna-gunai hingga meninggal.Ini terjadi dengan mengirimkan seorang dukun yang sakti juga sangar ke rumah Wati. Meskipun tak berhasil, cerita mengguna-gunai ini memperlihatkan kepada kita buruknya cara dan usaha masyarakat Minangkabau dalam mencapai keinginan mereka. Bagi pembaca yang berasal dari Minangkabau bisa dipastikan mengenal cara ini, terlebih lagi dalam percintaan.

Rapat adat itu tak berakhir bahagia, seperti bahagianya akhir novel ini.Hamli dikeluarkan dari Adat.Keras hatinya menolak tuntutan para tetuah adat, dan mungkin juga karena kuat cintanya pada Din Wati.Ia terima putusan itu, meninggalkan adat dan pikiran Minangkabau bahkan tanpa penyesalan sedikit pun.

Dengan kuat hati ia katakan,

“Lebih-lebih yang telah cerdik pandai, karena tak sesuai lagi pikirannya dengan pikiran orang di Padang ini. Dengan demikian, sekalian kepandaiannya tak dapat dicurahkannya di negerinya sendiri, melainkan akan jatuhlah ke tangan orang lain, yang lebih dapat menghargai kepandaian itu. Yang akan tinggal di padang ini, hanyalah yang tua-tua, yang masih terikat oleh aturan negerinya. Tetapi, mereka ini pun tak lama pula akan hidup; segera akan meninggalkan bangsa dan negerinya. Siapa lagi yang akan mengurus negeri? ataukah akan menjadi seperti yang dikatakan orang Padang sendiri sekarang ini: Apabila dari ‘Minangkabau’ minangnya telah keluar dari Padang ini, dan yang tinggal hanya ‘kabaunya’ lagi di negeri kita ini, untuk mempertahankan adat lembaga mereka, yang kian lama kian tak dapat lagi disesuaikan dengan peraturan dunia, yang akan menyerbu juga ke dalam Kota Padang ini, walau ditahan bagaimanapun. Karena, orang Padang pun akan terseret oleh arus dunia yang amat kuat itu. Tak dapat mereka menentang atau menyingkirkannya sendiri.Jika dipaksakannya juga kemauannya itu, niscaya akan tercecerlah dia tinggal di belakang seorang diri dan akhirnya lenyap dari dunia ini tanpa meninggalkan bekas.” (Memang Jodoh, hal 357) []

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY