Maanta Pabukoan: Komunikasi Simbolis antara Menantu dan Mertua

Maanta Pabukoan: Komunikasi Simbolis antara Menantu dan Mertua

557
0
Ilustrasi/Dok.Istimewa

Pada suatu kesempatan obrolan pribadi di dunia maya setelah shalat tarawih, seorang teman menyarankan saya untuk menulis masalah tradisi maanta pabukoan (mengantar makanan takjil). Tradisi ini memang jamak berlaku di masyarakat Minangkabau selama bulan Ramadhan. Hal menarik dari permintaan teman tersebut adalah latar belakang permintaannya. Menurut dia tradisi maanta pabukoan pada dasarnya adalah ajang kompetisi antarmenantu perempuan seorang ibu.  Saya kaget dengan pernyataan teman ini karena kejeliannya mengamati kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di tengah masyarakat dengan sudut pandang yang lebih dalam.

Oleh karena itu sebagian besar kandungan tulisan sederhana dan ringkas ini berangkat dari obrolan tentang pengalaman kami tadi.

Pengertian

Maanta pabukoan bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “mengantarkan per-buka-an.” Artinya, seorang menantu perempuan mengantarkan makanan untuk berbuka puasa kepada mertuanya. Tradisi ini jadi mungkin karena secara tradisional di masyarakat Minang berlaku sistem perkawinan eksogami, yakni suami tinggal di rumah keluarga perempuan sebelum mereka memiliki rumah sendiri (membentuk keluarga batih). Kebiasaan maanta pabukoan juga disebut manjalang mintuo (mengunjungi mertua), maanta konji (mengantar bubur kanji [salah satu hidangan berbuka yang terbuat dari tepung kanji]), babuko basamo jo mintuo (buka bersama dengan mertua), maantaan nasi lomak (mengantarkan nasi enak), bahkan ada di suatu nagari yang menyebutnya manyalang saa (meminjam puasa).  Tentu masih ada variasi lain dari istilah untuk tradisi maanta pabukoan ini di seluruh Ranah Minangkabau. Variasi ini wajar saja mengingat prinsip adat salingka nagari (adat selingkar nagari) yang maksudnya adat kebiasaan sehari-hari berbeda-beda sesuai nagari.

Menu

Prinsip  adat salingka nagari di atas juga menjadi alasan mengapa terdapat variasi menu pabukoan yang diantarkan kepada mertua dan bagaimana prosesi kebiasaan ini dilakukan. Makanan yang jadi isi pabukoan berbeda-beda seturut perbedaan nagari. Perbedaan ini terjadi akibat perbedaan nilai simbolis dari suatu makanan antarnagari. Misalnya jika di nagari A makanan yang paling menyimbolkan kemewahan,  kelezatan, baradaik  adalah rendang, bisa jadi di nagari B makanan itu berupa gulai daging, singgang ayam, atau gulai ikan. Begitu pula dengan makanan-makanan lain sebagai pelengkap menu pabukoan yang dibawa menantu perempuan. Di satu nagari makanan pabukoan yang patut dan pantas secara adat terbuat dari ketan, di nagari lain terbuat dari tepung beras. Di satu tempat menu pencuci mulut cukup dengan buah-buah seperti pisang atau lapek, sementara di tempat lain makanan pencuci mulut itu berupa agar-agar.

Saya belum menemukan suatu tulisan yang membahas tata boga dalam kebudayaan Minangkabau, terutama ditinjau dari sudut pandang simbolis. Artinya, tata boga Minangkabau dibicarakan sebagai “bahasa” tersendiri yang terdiri dari struktur atau pola-pola yang bisa dianalisis seperti kalimat yang memiliki subjek, predikat, objek dan keterangan.

Namun begitu saya akan mencoba menyampaikan apa yang pernah saya saksikan dahulu semasa menyiapkan menu pabukoan bersama ibu saya yang akan diantarkan kepada bako saya (keluarga ayah). Saya berlatar budaya Kurai, Bukittinggi, dan bako saya berbudaya Suliki, Payakumbuah. Seingat saya pabukoan yang akan diantarkan ibu biasanya dipersiapkan minggu kedua atau ketiga puasa. Waktu itu ibu biasanya bertanya-tanya kepada kami tentang apa yang akan dimasak untuk diantarkan kepada nenek (mertua ibu). Musyawarah kecil ini dimaksudkan ibu untuk mendapat masukan dari kami. Masukan yang ibu butuhkan bukan perkara usul tentang apa saja yang harus dibuat dan patut sebagai menu pabukoan, karena ibu pasti sudah tahu apa saja yang patut dan apa saja yang tidak patut. Ibu membutuhkan usulan yang sesuai dengan kondisi ekonomi keluarga pada bulan puasa saat itu. Musyawarah kecil di dapur ini mencerminkan bahwa kebiasaan maantaan pabukoan juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi keluarga. Dan memang wajarlah demikian sebab menu-menu yang layak diantarkan adalah menu-menu “terpandang”, artinya mewah dan oleh karena itu pasti lebih mahal dari pabukoan yang biasa kami konsumsi sekeluarga tiap berbuka.

Ibu saya biasanya menyiapkan menu pabukoan terdiri dari 4 jenis yang mewakili 4 kategori makanan. Masing-masing jenis makanan ini ditempatkan di rantang yang terdiri dari 4 wadah. Empat kategori makanan yang akan diantarkan itu adalah makanan pokok (nasi), lauk-pauk (samba), hidangan berbuka (pabukoan) dan pencuci mulut (parabuang). Suatu kali saya bersama ibu pernah menyiapkan hidangan berupa nasi, gulai ayam, kolak sarabi (apem), raga-raga (agar-agar).

Hidangan ini kemudian ditempatkan di masing-masing wadah rantang. Di rantang pertama (lantai 1) dimasukkan parabuangan (agar-agar), di rantang kedua (lantai 2) ditempatkan kolak sarabi, di rantang ketiga (lantai 3) dimuat gulai ayam, dan terakhir (di lantai 4) nasi.

Jika saya hitung-hitung biaya yang dihabiskan untuk komposisi menu pabukoan seperti di atas, biaya yang dihabiskan kira-kira Rp. 250-300 ribu berdasarkan harga persembakoan tahun 2016 ini. Jumlah ini muncul karena tidak mungkin membeli bahan-bahan pabukoan itu hanya untuk yang akan diantarkan kepada nenek saja. Keluarga saya tentu juga ingin menikmati hidangan ini. Selain itu biaya ini adalah untuk satu set rantang untuk satu orang sasaran, yakni nenek (mertua ibu). Jika sasarannya lebih dari satu orang, misalnya adik atau kakak nenek atau ipar-ipar ibu, maka jumlah biaya tentu akan membengkak sepertiga sampai setengah kali lipat untuk tiap set rantang tambahan untuk selain nenek.

Saya mencoba melakukan simulasi harga dengan menukar menu-menu di atas. Misalnya, gulai ayam ditukar dengan rendang daging atau cancang kambiang, atau pangek bada; kolak sarabi dengan cindua durian atau ampiang dadiah; atau agar-agar dengan lapek nago sari atau lapek bugih. Berdasarkan harga sembako sekarang, simulasi ini menunjukkan bahwa pola menu yang pernah ibu saya buat seperti diceritakan di atas tergolong sangat sederhana dari segi biaya. Saya menyimpulkan dari simulasi itu bahwa variabel yang menentukan biaya maantaan pabukoan adalah samba (lauk). Jika lauk yang akan diantarkan berbahan dasar daging sapi, tentulah biayanya akan membengkak, terutama jika diolah jadi rendang. Namun jika gulai ayam tadi ditukar dengan, misalnya, goreng ikan mas yang ditutupi samba lado merah goreng, total biaya relatif akan berkurang.

Prosesi

Proses maantaan pabukoan dimulai sejak pagi. Bahan-bahan dasar yang akan dijadikan menu pabukoan dibeli di pasar lalu menjelang siang mulai dimasak. Lama proses memasak ini bergantung dengan jenis menu yang akan diantarkan. Jika menu “berat” seperti rendang atau gulai cancang kambiang untuk lauk dan kolak atau nasi lomak (ketan) waktu yang dibutuhkan relatif lebih lama dari menu yang lebih “ringan”. Apapun menu yang dibikin, proses memasaknya harus selesai kira-kira waktu shalat Ashar.

Sesuai kebiasaan yang sudah sejak lama berlaku, masakan yang telah siap dimasukkan ke rantang yang susunannya seperti disinggung di atas. Rantang adalah perabotan pecah-belah yang mesti dimiliki satu rumah tangga di Minangkabau seperti halnya talam untuk makan bajamba, misalnya. Walaupun banyak model wadah yang juga memenuhi fungsi rantang, namun rantang memiliki keistimewaan. Keistimewaan rantang terletak pada bentuknya yang ringkas karena tidak banyak makan tempat untuk menempatkan beberapa jenis makanan berbeda dan bisa dijinjing. Dia terbuat dari logam yang tidak transparan.

Di sinilah letak rahasianya. Dengan dijinjing, orang bisa menyaksikan langsung bahwa seorang menantu sedang maantaan pabukoan tanpa tahu apa saja jenis pabukoan yang dibawanya. Memang ada wadah lain yang terbuat dari plastik dan lebih ringan, misalnya Tupperware yang harganya jauh lebih mahal dari rantang, namun tidak ringkas dan tidak bisa dijinjing. Dia harus dimasukkan ke dalam kantong atau tas sehingga tidak bisa dilihat orang banyak. Lagi pula kalau bahannya transparan, maka akan kelihatan langsung apakah di dalamnya terdapat makanan kering atau berkuah.

Setelah salat Asar menu pabukoan siap diantar ke rumah mertua. Siapa saja yang mengantarkannya juga bervariasi antar nagari. Di satu nagari, misalnya, di nagari Kurai, yang mengantarkan adalah istri dan suami. Ini berlaku terutama bagi pasangan yang baru menikah dan belum punya anak. Di nagari lain yang mengantarkan cukup istri (menantu) saja, tanpa didampingi suami. Ada pula di nagari lain yang mengantarkan cukup anak-anak. Ini berlaku bagi suami-istri yang sudah menikah agak lama dan usia anak-anaknya sudah bisa dimintai tolong.

Ketika sampai di rumah mertua, menantu yang datang bersama anak dan suaminya akan mengucapkan salam dan berkata, yang dalam Bahasa Indonesia kira-kira akan berbunyi begini “Bu, bagaimana kabarnya? Kami kangen berbuka di sini.” Perkataan ini versinya bisa bermacam-macam asal menyampaikan makna yang sama. Dia diucapkan sembari menaruh rantang tadi. Mendengar pernyataan ini ibu mertua akan menjawab kira-kira begini “Oh silahkan. Syukur alhamdulillah. Ibu juga sudah kangen dengan kalian. Tapi kok harus repot-repot begini, pakai bawa-bawa segala.” Dialog basa-basi ini akan berlanjut seakan-akan semua memang tanpa skenario. Padahal ibu mertua sudah tahu karena suami beberapa hari sebelumnya sudah memberitahu ibunya kalau menantu beliau akan datang maanta pabukoan.

Usai basa-basa ini anak-anak akan bermain dengan kakeknya, sementara suami akan melihat-lihat kondisi rumah dan memantau kondisi kemanakannya jika saudara perempuannya masih tinggal di rumah itu. Sementara sang menantu akan mengikuti mertuanya ke dapur membantu menyiapkan hidangan berbuka yang dibawanya dan hidangan yang juga sudah disiapkan mertua. Pada prinsipnya tindakan ini juga basa-basi karena semua pekerjaan dapur sudah beres sebelum kedatangan mereka. Namun menantu harus ikut ke dapur untuk menunjukkan dia tulus membantu mertuanya. Menyaksikan tindakan menantunya ini mertua akan menolak bantuan menantu dan berkata “Nde manga lo lah ka dapua lo. Ndak ado nan ka ditolong lai. Mangumuah-ngumuahi tangan sajo tu no hah. Bikoh kumuah gai baju. Baju lah rancak.” (Aduh, ngapain juga ikut ke dapur. Gak ada lagi yang perlu ditolong. Ngotorin tangan aja. Ntar bajunya kotor).

Satu lagi prosesi yang dilakukan setelah pabukoan yang dibawa menantu ini adalah pembagian pabukoan yang dibawa. Jika menantu hanya membawa satu set rantang, maka yang akan membagi pabukoan itu kepada mertua-mertua yang lain (bibi-bibi suami) adalah mertua kandung. Sementara jika menantu membawa beberapa rantang sesuai dengan jumlah ibu mertuanya, maka yang akan membagi adalah si menantu sendiri. Setelah selesai membagi ke rumah masing-masing, menantu akan kembali ke rumah mertua kandungnya untuk berbuka.

Kebiasaan seperti di atas adalah yang berlaku di nagari saya. Sementara di beberapa nagari lain prosesi yang berlangsung agak berbeda. Ada nagari di mana yang mengantarkan pabukoan hanya menantu, tanpa didampingi suami dan anak-anak. Ada pula nagari di mana yang mengantarkan cukup anak-anak saja. Di dalam kedua kasus ini yang mengantarkan langsung pulang. Ini biasanya berlaku bagi keluarga yang sudah lama menikah. Setelah pabukoan diserahkan menantu akan pamit dengan alasan anak-anak tinggal tanpa ada yang menjaga atau alasan lainnya yang bisa dipastikan diterima secara umum sebagai basa-basi. Biasanya menantu yang tidak akan berbuka di tempat mertuanya akan datang mengantarkan pabukoan lebih awal, sekitar sebelum salat Asar.

Dalam prosesi yang seperti ini berlaku pula kebiasaan yang berbeda-beda. Di satu tempat rantang yang dipakai untuk membawa pabukoan akan dibalas oleh mertua dengan mengisikan beras, telur atau lainnya. Ada pula nagari yang justru tidak dibalas dengan apa pun. Bahkan rantang itu tidak dicuci oleh mertua. Pendapat di nagari yang menerapkan kebiasaan seperti ini mengatakan bahwa rantang yang dicuci menunjukkan keinginan untuk memutuskan silaturahmi (mamutuih karik).

Fungsi

Gambaran ringkas dari proses maanta pabukoan di atas tidak bisa dianggap mewakili seluruh variasi yang berlaku di Ranah Minang. Sekali lagi ini dikarenakan prinsip adat salingka nagari. Namun demikian dari sedikit gambaran tersebut terdapat beberapa hal yang bisa dicatat sebagai fungsi maantaan pabukoan sebagai sebuah peristiwa simbolis di tengah masyarakat berbudaya Minangkabau.

Pertama, fungsi normatif. Kebiasaan maanta pabukoan adalah simbol penghormatan dan bakti menantu kepada mertua. Dengan mengantarkan pabukoan kepada mertua, menantu perempuan dan suaminya ingin menunjukkan ketulusannya dalam menjalin silaturahim. Begitu pula sebaliknya, dengan menerima pabukoan dari menantu, mertua menunjukkan rasa sayang dan terima kasihnya atas bakti menantu dan putranya.

Fungsi normatif inilah yang selalu dibanggakan orang Minang tentang adat kebiasaan yang berlaku dalam kebudayaannya. Akan tetapi jika ditelisik dengan kacamata selain normatif, kebanggan ini bisa jadi menutupi situasi remeh sehari-hari yang sebenarnya menjadi dinamika riil dan konkret di tengah masyarakat. Kita dapat mengidentifikasi situasi-situasi tersebut dengan memandang prosesi maantaan pabukoan berdasarkan fungsi selain fungsi normatif.

Kedua, fungsi komunikatif. Dalam prosesi maantaan pabukoan sebenarnya terjadi komunikasi menggunakan simbol-simbol, yang tak lain adalah pabukoan itu sendiri. Di antara pesan yang dikomunikasikan menantu lewat pabukoan yang dibawanya adalah ketulusan. Ini dapat terjadi pada menantu yang usia pernikahannya sudah agak lama. Tiap tahun dia mengantarkan pabukoan dengan menu yang tidak berubah. Keajegan menu yang diberikan inilah yang menyampaikan pesan bahwa rasa hormat dan sayangnya pada mertua tidak pernah berubah. Sebaliknya, jika menu tahun sekarang lebih murah harga maupun nilainya dari tahun sebelumnya, bisa jadi dia menyampaikan pesan bahwa suaminya (putra mertuanya) saat ini sedang menghadapi kesulitan ekonomi. Bisa pula pesan yang disampaikan bahwa tahun ini suaminya agak malas mencari uang. Ada pula menantu yang ingin menyampaikan pesan kemewahan meski memaksakan diri. Mertuanya tahu persis dari cerita putranya bahwa kondisi ekonominya sedang turun. Namun dilihat dari menu pabukoan yang dibawa menantu, simbol yang dibawa justru kemewahan.

Ketiga, fungsi kompetitif. Fungsi berjalan dengan melihat kebiasaan maanta pabukoan sebagai ajang persaingan antarpambayan (antarmenantu). Di dalam keseharian, seorang istri yang suaminya memiliki seorang saudara laki-laki atau lebih akan berusaha mencari tahu apa saja menu yang dibawa oleh istri saudara-saudara suaminya. Dengan mengetahui menu mereka, dia tidak ingin kalah. Dia ingin lebih dari mereka atau paling tidak sama. Tujuannya adalah untuk merebut hati mertua!

Keempat, fungsi manajemen konflik. Fungsi ini sebenarnya adalah implikasi dari fungsi kompetisi. Di sini yang jadi tokoh sentral sebenarnya adalah mertua. Dialah yang menjadi penentu apakah kebiasaan maanta pabukoan menjadi ajang kompetisi antarmenantunya atau bisa jadi wadah silaturahmi. Kompetisi, bahkan rasa iri, antarmenantu tercipta jika mertua menggunjingkan ke mana-mana tentang apa saja menu pabukoan yang dibawa menantu-menantunya. Gunjingan ini biasanya terjadi pada momen-momen di mana mertua berinteraksi dengan ibu-ibu yang seumuran dengannya, misalnya pada kesempatan habis tarawih atau Subuh berjamaah. Para tetangga akan menceritakan gosip ini dari mulut ke mulut hingga akhirnya sampai ke telinga para menantu.

Selain itu prosesi maantaan pabukoan juga dapat jadi momen di mana mertua dapat mencari tahu dengan cara yang arif bagaimana kondisi keluarga putranya. Apakah sedang dalam masalah ekonomi atau masalah lain. Berdasarkan simbol yang diberikan dia dapat menilai dan kemudian memutuskan memberi nasihat yang tepat kepada putranya. Di titik ini posisi mertua menjadi semacam stabilizer bagi keluarga putranya.

Posisi mertua menjadi penting karena dia adalah penentu keharmonisan dan produktivitas keluarga anaknya, menjadi tokoh sentral dalam membangun hubungan baik antarputra dan para menantunya dengan kearifannya sebagai orang tua. Sebaliknya, jika mertua tidak hati-hati, dia akan menjadi biang kerok masalah di tengah keluarga putra-putranya dengan menebar pujian untuk menantu yang satu serta menggunjingan kekurangan menantu yang lain.

Saya ingin menggarisbawahi bahwa kebiasaan maantaan pabukoan adalah salah satu alat uji (tester) dan ajang pembuktian fungsi mandeh/bundo kanduang yang selama ini diidealkan dan dimitoskan budaya Minangkabau yang matriarkat.[]

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Selfa Munandar atas diskusinya (Alumnus MTI Canduang dan Pemerhati Masalah Sosial Budaya).

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY