Manusia dan Penampakan Kusam Ingatannya

Manusia dan Penampakan Kusam Ingatannya

159
0
Ilustrasi/Sampul buku "Seekor Burung Kecil Biru di Naha

Perpunggungan antara sejarah dan ingatan setidaknya ditandai oleh tiga hal. Pertama, meminjam Budiawan dalam Sejarah dan Memori: Titik Simpang dan Titik Temu (2013), ingatan lahir sebagai peristiwa yang ditubuhi (embodied) dan dialami (experienced). Sementara sejarah diciptakan sebagai data yang ditempelkan (embedded) dan dicangkokkan (imbricated). Kedua, ingatan kerap berisi riwayat keluh-kesah dan trauma. Sedangkan sejarah acap disarati dengan kisah nostalgia dan pengunggulan para penguasa. Ketiga, karena itu, di saat sejarah dituliskan, ingatan hadir untuk mengisbatkan gigitan dan gugatan.

Judul Buku      : Seekor Burung Kecil Biru di Naha: Konflik, Tragedi, Rekonsiliasi

Penulis             : Linda Christanty

Penerbit           : Kepustakaan Pupuler Gramedia (KPG)

Cetakan           : Pertama, Februari 2015

Tebal                : xi+134 halaman

ISBN                : 978-979-91-0826-5

Berdamai dari Bawah (hlm. 1-16), tulisan pembuka buku berisi tigabelas tulisan anggitan Linda Christanty ini, langsung membuktikan. Telah jamak diketahui bahwa sejarah pernah mencatat prestasi pemerintah RI dalam ‘menjaga’ Aceh dalam keutuhan NKRI. Namun, ingatan orang Aceh seperti Khatijah justru mengingkari kegemilangan itu. Khatijah adalah istri Tengku Harun, salah satu anggota pasukan pertama Hasan Tiro, pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Perempuan beranak tiga itu pernah ditangkap oleh pasukan TNI sebagai ganti atas kegagalan penangkapan Tengku Harun (hlm. 2). Ia baru dibebaskan pasca perdamaian antara pemerintah RI dan GAM pada tanggal 15 Agustus 2005. Sayangnya, ia masih disekap oleh trauma, marah, dan sakit hati pangkat tiga.

Selain Khatijah, takdir buram juga ikut mengintimi Nurhaida, warga desa Billie Aron, Teupin Raya, Bireun, Aceh. Di masa Aceh masih berstatus DOM (Daerah Operasi Militer), suaminya meninggal karena stress gara-gara setiap hari menyaksikan penyiksaan manusia atas manusia. “Di halaman Rumah Geudong, dia pernah melihat orang ditelanjangi dan diikat di pohon pisang dengan kepala ditutupi plastik selama berhari-hari. Laki-laki. Akhirnya orang itu meninggal”, katanya. Sanusi, salah seorang anak Nurhaida, juga menderetkan kesaksian seirama; teriakan kesakitan dan minta tolong itu terdengar setiap hari mulai jam sembilan malam sampai jam tiga pagi. Di tahun 1998, penyiksaan terjadi setiap hari, lebih dari masa sebelumnya (hlm. 5).

Penertawaan dan hal-hal paradoks

Ingatan juga acap menukil penertawaan atas berampai-rampai keganjilan, absurditas, dan kelucuan sejarah. Panglima Amir dan Ayamnya (hlm. 32-41) merupakan jawara di sini. Panglima Amir adalah nama bandar udara Pangkal Pinang yang diambil dari nama Amir, tokoh pengobar peperangan melawan Belanda di Bangka-Belitung. Hanya saja, kisah kepahlawanan Amir yang diingat oleh masyarakat Bangka-Belitung ternyata tak seheroik fatwa sejarah tersebut. Soalnya, sewaktu hendak berjuang dulu, Amir tak pernah memoles peluru pertama bedilnya dengan niat bela negeri.

Alkisah, pada tahun 1830, pemerintah Hindia-Belanda pernah mengangkat Amir menjadi pejabat pengganti ayahnya, Bahrin. Ia dikuasakan untuk mengurusi dua desa; Mendara dan Mentandai. Setelah setahun berkursi, ia dipecat karena dianggap tak cakap administrasi. Saat ayahnya meninggal, ia menuntut pemerintah Hindia-Belanda untuk mengalihkan jatah pensiun sang ayah kepadanya. Sayangnya, tuntutannya ditolak. Sejak itu, bersama Batin Tikal, Amir turun ke gelanggang perang. Batin Tikal adalah kakek Linda yang lebih dulu mengangkat senjata. Linda mengulas profil sang kakek dalam Kakek Saya, Opa Manusama, dan Opa Willem (hlm. 89-96).

Selain penertawaan, ingatan sering pula menampakkan hal-hal paradoks yang dialami manusia, namun, cenderung dicap sesat oleh sejarah. Linda mengaduk-aduknya dalam beberapa esai renyah. Ada Nama Saya Wanda yang menuturkan nasib lelaki Aceh yang merasa dirinya seorang perempuan sejak masih kanak-kanak (hlm. 17-21). Ada pula Rumah bagi Mereka yang Tua yang mewartakan lika-liku nasib kaum jompo dalam kehidupan keluarga metropolitan (hlm. 22-31). Tak ketinggalan, Seloyang Pizza di Shinjuku yang mengabarkan perbuhulan pengaruh globalisasi dalam makanan dan nasib para perempuan lajang di Jepang (hlm. 60-64).

Latar konflik sosial

Macam-ragam penampakan kusam ingatan di atas tentu saja tidak menyeruak secara swadiri. Ia, seperti diisyaratkan peraih Khatulistiwa Literary Award 2004 & 2010 ini dalam Mendengar Bisikan Sungai Brahmaputra (hlm. 42-54), Karbala (hlm. 55-59), Seekor Burung Kecil Biru di Naha (hlm. 65-70), dan Continental Club (hlm. 120-131), membuncah dari sejarah usik-ubah manusia. Bahkan ia akan terus melestari saat manusia berkubang dalam konflik sosial berikut rupa-rupa cara negara memadamkannya. Pada aras inilah, betapapun subversifnya, ingatan menampil sebagai ayat sahih untuk memahami konflik sosial, terutama yang bernuansa etnis-agama.

Dari jendela ini, Percik Api di Timur dapat dinetra (hlm. 97-119). Di sana, Linda melansir ingatan anak-anak muda peserta kelas menulis asuhannya di Ternate yang menemukan fakta bahwa agama dan etnisitas bukanlah sebab berbagai konflik sosial di wilayah Timur Indonesia. Ini terbukti, misalnya, dalam perang antara Suku Makian dan Suku Kao di Maluku Utara, yang awalnya bermula dari percekcokan agraria sejak era Orde Baru. Ribut-ribut pemekaran daerah di era reformasi, ulah politik para bangsawan lokal, dan keterlibatan laskar sipil-religius dari “luar” kemudian menyeret percekcokan itu ke dalam perseteruan ‘etnik-agamis’.

Bagi pemerintah, pemuka adat, tokoh agama, dan akademisi, reportase investigatif  Linda di atas harus betul-betul diresapi untuk menyokong perekatan kohesi sosial di sekujur tubuh negeri. Ditambah Berdamai dari Bawah, yang juga diisi Linda dengan penggaungan keabsenan agama dan etnisitas dalam konflik sosial. Sayangnya, fokus peresapan barangkali agak terganggu dalam Percik Api di Timur. Soalnya Linda terlanjur menyela-nyelanya dengan analisis atas konflik sosial di Serbia dan Bosnia serta negara Balkan lainnya. Ternyata teknik penyela-nyelaan ini juga ia amalkan dalam Tentang Dua Tragedi: Masa Nazi di Jerman dan 1965 (hlm. 82-88). Tampak sekali Linda bermaksud membandingkan dua-tiga kasus beraura sama.

Memang, pembandingan merupakan kerja strategis untuk meluaskan wawasan. Namun, di balik objek-objek yang dibandingkan itu tentu saja ada perbedaan ke-apa-an, ke-mengapa-an, dan ke-bagaimana-an. Akan lebih baik bila pisau pembandingan itu ia tikamkan ke dalam perut kasus-kasus “terdekat” saja, dalam hal ini, konflik sosial di Jawa pada era tanam paksa antara tahun 1830-1870 sebagaimana ia senggol sedikit di bagian akhir Percik Api di Timur (hlm. 118). Selain agar tak terkesan melempar-jauh pembaca ke negara Balkan, sedu-sedan ingatan anak-anak bangsa di hamparan bumi nusantara lain pun tentu harus lebih banyak dihikayatkan.[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY