Membaca Kemunculan Jamaah Shalahuddin, LDK Tertua di Indonesia

Membaca Kemunculan Jamaah Shalahuddin, LDK Tertua di Indonesia

604
0

    Penelitian ini dilakukan tahun 2012-2013. Penelitian ini merupakan tesis penulis yang fokus pada studi kasus atas Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Jamaah Shalahuddin, Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Alasan saya memilih penelitian ini adalah karena Lembaga Dakwah Kampus Jamaah Shalahuddin (selanjutnya akan di sebut JS) merupakan LDK yang tertua di Indonesia dan merupakan sebuah lembaga yang digerakkan oleh mahasiswa.

Sejenak kita menilik dulu dalam perjalanan bangsa Indonesia Modern, gerakan mahasiswa menurut saya menempati posisi khusus sebagaimana yang dijelaskan oleh Arif Budiman, “mahasiswa adalah sekelompok kaum muda yang selalu menyuarakan apa yang disebut dengan “Kekuatan Moral” (moral force) dalam setiap perubahan sosial yang terjadi di Indonesia”. Salah satu bentuk gerakan mahasiswa itu disalurkan dalam bentuk organisasi-organisasi kemahasiswaan. Hal ini merupakan salah satu era yang menandakan betapa pentingnya dan berperannya gerakan mahasiswa dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, katakanlah periode transisi kekuasaan rezim orde lama ke orde baru dengan posisi mendukung dan mengusung Soeharto menuju kursi kepresidenan. Meski di tahun 1970-an kondisi itu berubah menjadi “penentang rezim Orde Baru”. Persoalan ini muncul disebabkan karena adanya ancaman akan terusiknya kemandirian bangsa (Baca: nasionalisme). Gerakan kemahasiswaan ini menjadi bumerang dalam pemerintahan orde baru.  Di tahun 1974 pasca terjadinya peristiwa Malari, Presiden melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan -saat itu dijabat oleh Daoed Yoesoef- mengeluarkan kebijakan tentang NKK/BKK.

NKK/BKK inilah yang menjadi senjata ampuh untuk melumpuhkan gerakan mahasiswa saat itu. Nuansa politik di kampus boleh dikatakan “lumpuh”. Kelompok atau gerakan yang membawa misi dan ideologi selain Pancasila akan dihabisi oleh penguasa Orde Baru dan dicap sebagai “gerakan pemberontak”. Namanya mahasiswa tentu saja tidak akan berhenti sampai di sana, mereka mencari tempat dan celah untuk bisa melakukan sesuatu “perubahan” dengan membuat kemasan yang sedemikian rupa dengan mengadakan bentuk kegiatan dan mengaktualisasikan kritik lewat gerakan Masjid.

Ada hal penting yang mesti kita cermati dari gerakan dakwah kampus yang berkembang di Yogyakarta dasawarsa 1970–1980-an, sesuai temuan M.M. Billah, bahwa sifat “fundamentalis” yang diarahkan kepada kelompok-kelompok dakwah masjid kampus itu justru tidak ditemukan. Billah menduga tudingan fundamentalis itu lahir dari pihak pemerintah yang -di zaman itu memang- menginap semacam “ketakutan” tidak berdasar terhadap kelompok. Takut kalau mereka akan mengubah negara Indonesia menjadi negara Islam.

Jika M.M Billah menyimpulkan bahwa gerakan dakwah kampus di Yogyakarta bermanfaat untuk “pembangunan manusia seutuhnya seperti yang disebutkan dalam GBHN” –ini merupakan sebutan yang khas Orde Baru, serta mereka dengan bangga disebut fundamentalis yaitu “orang atau kelompok yang memegang teguh nilai keagamaan dan norma sosial yang dilandasi nilai dan moral keagamaan”, maka gerakan dakwah kampus di Yogyakarta tidak akan melahirkan kelompok yang justru memiliki ciri-ciri fundamentalis sebagaimana yang ditudingkan pemerintah di tahun 1980-an. Namun di tahun ini gerakan meraka terkekang oleh pemerintahan yang represif.

Di antara kelompok ini ada yang ingin menegakkan khilafah Islamiyah itu seperti kelompok HTI, atau penyeruan jihad fisik seperti MMI (Majelis Mujahidin Indonesia), JAT (Jamaah Ansharut Tauhid), serta Lasykar Jihad, atau kelompok yang ingin berkecimpung dalam badan legislatif dengan mencari terobosan kendaraan baru, seperti Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dengan Partai Keadilannya, karena merasa kendaraan lama seperti NU atau Muhammadiyah sudah tidak memadai yang di saat itu mereka bergerak melalui jalan bawah tanah.

Setelah era reformasi bergulir hampir 15 tahun, tentu saja perkembangan yang dialami lembaga-lembaga dakwah kampus di Yogyakarta sudah sangat banyak. Di era 1970-an, penyebaran bahan bacaan disiapkan dengan mengandalkan mesin tik, sementara di tahun 1980-an mengandalkan fotokopi, di tahun 1990-an mengandalkan printer, dan sekarang di era 2000-an dengan mengandalkan file PDF yang bisa dibaca dan dibagi-bagi secara kilat lewat situs internet, dengan menggunakan perangkat tablet atau lainnya.

Kemudian pertanyaannya adalah bagaimanakah perkembangan Lembaga Dakwah Kampus di Yogyakarta di era reformasi, setelah berlalu hampir satu dasawarsa? Maka jawaban atas pertanyaan ini akan dilukiskan dalam gambaran yang selalu akan ditentukan oleh pertanyaan: Apa saja peluang yang ditawarkan oleh Lembaga Dakwah Kampus JS yang terus berubah?

Pascaruntuhnya orde baru yang dikuasai oleh Soeharto selama 32 tahun, kebangkitan Islam kontemporer di Indonesia melahirkan berbagai organisasi Radikal seperti MMI, FPI, Laskar Jihad, gerakan Tarbiyah dan lain sebagainya. Organisasi-organisasi dakwah tersebut dikatakan sebagai “gerakan Islam baru” (New Islamic Movement). Gerakan ini secara jelas adalah gerakan impor dari Timur Tengah. Gerakan yang paling kentara pemikiran dengan pemikiran Ikhwanul Muslimin adalah gerakan Tarbiyah dan Hizbut Tahrir.

Salah satu dakwah yang sangat agresif melakukan gerakan dakwah adalah Jamaah Tarbiyah. Dalam kancah perpolitikan di Indonesia, kelompok ini kemudian berevolusi menjadi Partai Keadilan (PK) dan berevolusi lagi menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Asal gerakan Tarbiyah itu sebenarnya gerakan yang ingin menyebarkan Islam, namun ditengah jalan gerakan yang mereka lakukan berubah menjadi gerakan kanan keras dengan dalih pendidikan yang bercirikan pada pendidikan Nabi. Pendidikan gerakannya fokus pada pendidikan pribadi, pola kajiannya dalam bentuk kelompok atau yang mereka namakan dengan haloqah, usrah atau liqo’. Biasanya kelompok itu hanya terdiri dari lima sampai enam orang, salah satu diantaranya ditunjuk sebagai mentor yang mereka sebut dengan Murabbi.

Dalam kelompok kajian itu, mereka selalu menggunakan bahasa, sikap dan bahkan pola rekrut kader jamaah dari kalangan orang Islam yang berpendidikan  umum seperti  akademisi atau mahasiswa yang dalam taraf “kebingungan” atau “haus” akan ilmu agama. Para mentor atau pemimpin jamaah inilah yang akan memberikan “oase iman” bagi mereka yang merasa kehausan ini.

Karena gerakan Jamaah Tarbiyah sudah mulai gencar berdakwah di Indonesia sejak tahun 1980-an, maka UGM sebagai kampus sekuler pun tidak luput dari perhatian jamaah ini. Pengaruh Jamaah Tarbiyah di UGM, sangat terasa di dalam tubuh Jamaah Shalahuddin, kita dapat dilacaknya sejak kepindahan markas JS dari Gelanggang Mahasiswa ke Masjid Kampus UGM.

Pengaruh signifikan yang dirasakan Jamaah Shalahuddin adalah melalui gerakan Tarbiyah, dan kegiatan dakwah yang sifatnya kultural berubah corak dengan kegiatan yang penuh dengan berbagai bentuk kajian keagamaan, mulai dari tafsir, kajian kontemporer dan banyak lagi kegiatan lainnya yang bercorak normatif. Ditambah lagi kevakuman JS selama lebih kurang tiga tahun. Kevakuman ini juga membawa pengaruh yang negatif terhadap jalannya dan berkembangnya JS, karena terjadinya ‘loss’ generasi.

Selama dalam kondisi vakumnya Jamaah Shalahuddin, mengakibatkan putusnya komunikasi dengan para alumni Jamaah Shalahuddin, gerakan Tarbiyah semakin menguat. Dan pengaruh serta perubahan lain yang cukup signifikan sangat mencolok dan kentara di tubuh JS. Kegiatan dan kajian agama, yang cenderung monoton, dan tidak begitu menyisakan kenangan seperti Jamaah Shalahuddin di gelanggang. Begitu juga dalam pemikiran, banyak mengadopsi pemikiran dari tokoh-tokoh Islam Timur Tengah dengan bentuk usrah. Kurikulum yang dijadikan sebagai acuan kajian adalah standar dari materi-materi Tabiyah, lebih merupakan penerjemahan konsep-konsep Islam yang disusun oleh tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin, melalui buku-buku yang telah di terjemahkan. Artinya, secara sederhana dapat dikatakan model pembinaan dalam kelompok-kelompok kecil tersebut kini telah menemukan sandaran geraknya pada gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir.

Menguatnya gerakan Ikhwanul Muslimin di tubuh Jamaah Shalahuddin terlihat setelah rangkaian acara Ramadhan di Kampus (RDK) tahun 2003. RDK memicu terjadinya konflik, sebuah acara dialog bertemakan “DIARI” (dialog anak negeri) yang mengundang tokoh-tokoh besar bangsa saat itu: Susilo Bambang Yudhoyono (menjabat Menkopolkam), Wiranto, KH Kholil Bisri, dan Nurcholis Madjid. Tapi tokoh yang bisa memenuhi undangan hanya KH. Kholil Bisri, yang lain berhalangan, namun acara tetap berjalan sebagaimana adanya.

Seusai acara RDK tahun 2003 inilah bibit konflik di tubuh JS kelihatan. Acara RDK tahun 2003 ini dianggap mencitrakan NU. Sebagaimana penjelasan informan dalam wawancara mengenai JS berikut kutipannya.

“Saat kami mengadakan acara semacam ini maka muncul tulisan di Kedaulatan rakyat “jamaah Shalahuddin pro militer” dan politik Indonesia lagi santer-santernya menghadapi Pemilu 2004, kemudian berkaitan dengan Alm. KH. Kholil Bisri beliau adalah seorang NU, As. Hikam juga NU, kemudian dalam dialog ramdhan I juga mengundang Muhaimin Iskandar, dan Prof. Heru Nugroho (psikolog UGM), kemudian topiknya juga kontroversial dari biasanya” maka dari sinilah berkembang image bahwa RDK 1424 H itu adalah RDK NU, karena mencitrakan dan mewakili NU, yang pada akhirnya muncul klaim dari teman-teman tarbiyah bahwa RDK tahun 2003 ini adalah RDK-nya NU”.

Tudingan yang dilontarkan kepada panitia RDK 2003 adalah cerminan dari kegelisahan anggota Tarbiyah di JS yang saat itu Partai Keadilan sibuk mencari dukungan massa, mulai dari kampus, organisasi pemuda agar bisa ikut dalam pesta politik tahun 2004.

Akhirnya, konflik JS itupun mengalami puncaknya saat laporan pertanggungjawaban Musyawarah Tengah Tahun (MTT). Polarisasi jamaah sangat terlihat jelas karena sudah jelas pro dan kontra terhadap kader Tarbiyah. Pihak yang pro terhadap kader Tarbiyah mendukung kritik habis-habisan kepada Departemen Layanan Publik yang mengadakan acara RDK itu. Acara yang digelar oleh Departemen Layanan Publik itu dianggap “tidak syar’i” oleh mereka yang pro terhadap tarbiyah.

Selain acara diatas, Departemen Layanan Publik juga pernah mengundang mantan pelacur, pakar psikologi UGM, dan ustadz Iip Wijayanto. Kemudian, Departemen Layanan Publik kembali mengadakan acara dengan mengundang DJ (disk jokey: seniman yang membawakan musik dugem di tempat hiburan malam).

Dari uraian-uraian penulis di atas, penulis menganalisa bahwa peluang politik yang ada saat itu, dimanfaatkan golongan Tarbiyah dalam tubuh JS, mereka berani dengan terang-terangan menuding acara tersebut tidak syar’i, mereka merasa di atas angin. Perasaan di atas angin ini bisa jadi muncul karena adanya Partai Keadilan Sejahtera, yang notabene adalah partai golongan Tarbiyah, partai yang berhasil mendapat suara signifikan dalam Pemilu 2004. Peluang politik berupa “naik daunnya” PKS di kancah perpolitikan Indonesia secara tidak langsung juga dimanfaatkan oleh anggota JS yang berhaluan Tarbiyah untuk menyingkirkan lawan politik mereka dalam peta kekuasaan di tubuh Jamaah Shalahuddin. Saat itu Departemen Layanan Publik yang jadi penggagas acara RDK jadi sasaran empuk mereka karena seluruh anggota departemen ini teridentifikasi sebagai anggota yang berhaluan non-Tarbiyah.

Secara substantif, kader Tarbiyah di JS tidak mampu mengedepankan alasan yang jelas dan tegas untuk membuktikan bahwa acara tersebut tidak sesuai syar’i.  Bahkan jika dilihat dari perjalanan sejarah JS, dalam acara Maulid POP pernah mengundang seorang pastor Katolik, yakni Romo Mangunwijaya, akan tetapi acara yang dilaksanakan oleh Departemen Layanan Publik ini masih dianggap bidah/tidak syar’i.

Sebagai penutup, penulis simpulkan beberapa sepak terjang historis Jamaah Shalahuddin, yaitu; Pertama, Mahasiswa yang sebelumnya jadi lahan dakwah Jamaah Shalahuddin tidak tergarap lagi, karena tarbiyah mengedepankan simbol-simbol yang tidak merakyat sehingga disisi lain mengakibatkan bahwa dakwahnya doktrinatif, eksklusif, bukan kultural. Kedua, Dakwah Jamaah Shalahuddin tidak bisa mengelak dari politik, sebab struktur politik yang ada selalu membuka peluang konflik kekuasaan. []

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY