Menghapus Trauma Sejarah antara Timur dan Barat

Menghapus Trauma Sejarah antara Timur dan Barat

525
1
Dok. Istimewa

Sejarah memang kadang tidak menyenangkan, mengandung banyak luka, coretan, sayatan, dan bau tidak sedap. Sejarah, jika kita jujur, banyak memberikan pelajaran berharga bukan karena indahnya sejarah masa lalu manusia, tetapi betapa buruknya sejarah manusia itu hadir dan ditulis (Al Makin).

Demikian Al Makin menuliskan gambaran tentang sejarah manusia dalam bukunya yang berjudul Antara Barat dan Timur, Batasan, Dominasi, Relasi, dan Globalisasi, yang diterbitkan oleh Serambi Ilmu Semesta. Buku ini belum lama diterbitkan yaitu baru berjarak tujuh bulan dari bulan sekarang, tepatnya 1 Maret 2015. Dalam buku ini, Al Makin mencoba membawa pembaca kepada suatu penegasan bahwa telah buyarnya batasan antara Barat dan Timur yang dipengaruhi oleh arus globalisasi, dan memang batasan itu hanya berada dalam tataran imajinasi.

Namun, Al Makin melihat untuk konteks Barat dan Timur, sebagian masyarakat masih menyimpan batasan antara keduanya, dengan sifat membenci bukan kritis. Hal ini terlihat dengan munculnya anggapan-anggapan yang dikembangkan masyarakat itu sendiri, semisal di Indonesia yang digolongkan Timur, banyak muncul anggapan-anggapan bahwa Barat adalah lawan, Barat berniat untuk menghancurkan Islam, Barat ingin menghancurkan Timur, dan semacamnya. Sehingga anggapan-anggapan seperti itu dikonstruksi dan mengkristal dalam diri masyarakat.

Al Makin mengatakan, kita harus menganalisa semua yang tengah berkembang dalam kehidupan kita sehari-hari, apakah itu politik, ekonomi, budaya, dan lain-lain. Supaya kita tak terjebak dan salah kaprah dalam bertindak. Seperti yang ditulis di atas, sejarah memang sakit dan memilukan, tetapi kita harus bangkit dan mengkritisi semua perkembangan yang ada.

Al Makin dalam membahas bukunya berangkat dari dua perangkat, yaitu data-data yang berkaitan antara Barat dan Timur, dan juga menggunakan pengalaman pribadinya keluar Negeri, sempat tinggal, mengajar, serta meneliti di sana. Tentunya dengan dua perangkat ini membuat pembahasan lebih efektif.

Buyarnya Batasan Barat dan Timur

Ketika berbicara tentang Barat dan Timur, kita tak bisa lepas dari salah satu tokoh yang menghasilkan karya monumental terhadap kajian ini, yaitu Edward W. Said dengan judul bukunya Orientalisme. Said dengan latar belakang Palestina dan mengenyam pendidikan Barat, mengkaji Timur dan Barat dengan menggunakan teori Michel Foucault.

Orientalisme dalam bahasa Perancis Orient (dibaca oriong) yang berarti Timur dan lawan dari kata tersebut adalah Occident (dibaca okzidong) yang berarti Barat, sedangkan dalam bahasa Jerman Timur di istilahkan dengan Morgenland (dunia pagi) sedangkan Barat Abendland (dunia malam). Maksudnya, dunia Timur identik dengan tempat terbitnya matahari dan Barat tempat tenggelamnya matahari.

Dalam Orientalisme, kita mempelajari kultur, budaya, politik, ekonomi, sejarah, agama, dan bahasa Timur. Bahasa menjadi poin penting bagi para orientalisme maupun occidentalisme dalam melakukan pembahasan, karena bahasa adalah sumber dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Bahasa Timur yang dimaksud adalah bahasa selain Barat, yaitu bahasa Arab, India, Jawa, Sumatera, Urdu, Persia, dan bahasa-bahasa lokal lainnya, sedangkan bahasa Eropa terdiri dari; Inggris, Jerman, Prancis, Belanda, Spanyol, dan Latin.

Untuk yang pertama, Al Makin melihat Orientalisme dari segi sejarah. Semangat awal Orientalisme adalah pada masa Romantisme era penjajahan, dengan bertemunya budaya Eropa yang mendominasi awal abad ke-15 sampai awal abad ke-20 dengan budaya lain (baca: Timur). Setelah gerakan renaisans yang berkiblat kepada rasionalitas, orang-orang Eropa mulai menanyakan nilai-nilai ideal dalam ajaran Gereja, serta rasionalitas yang mendorong kepada industrialisasi.

Kelahiran industrialisasi di Eropa membuat ekonomi dan kekuasaan saling bertemu dan membuat persaingan semakin ketat. Di antara negara di Eropa yang bersaing seperti Inggris, Belanda, Portugis, dan Spanyol. Mereka harus mencari tempat baru, dan akhirnya menemukan Timur (Asia, Afrika, dan Amerika Latin). Perlu dicatat, semangat awal orang Eropa untuk pergi ke Timur dengan dasar rasionalitas.

Dari pertemuan itu, maka timbul rasa penasaran bagi orang-orang Eropa melihat orang-orang ‘Timur’, begitu pun juga sebaliknya. Maka dari sana mereka mempelajari Timur. Timur menjadi objek pada berbagai lini kehidupan, termasuk agama. Mereka berbaur, tinggal, bahkan ada yang menikah dengan orang Timur.

Seperti yang telah ditulis di atas, Al Makin mengutip Said untuk menuturkan batasan Timur dan Barat. Mereka mempunyai kesimpulan yang sama: hanya sebatas imajinasi atau angan-angan. Semisal Indonesia yang digolongkan kepada Timur, Indonesia hanya mengalami dua musim yaitu penghujan dan kering, sedangkan Jerman yang digolongkan kepada Barat, jika pada musim dingin diliputi oleh awan tanpa sinar matahari, begitu juga dunia Barat lainnya seperti Amerika, Kanada, dan dunia lain di zona Eropa akan terasa malam jika tiba musim dingin.

Sekarang kita lihat Australia yang digolongkan kepada dunia Timur dari segi geografis. Australia memakai budaya dan kultur ala Barat, seperti memakai bahasa Inggris. Sedangkan Rusia terletak antara Barat dan Timur, begitu juga Turki antara dunia Arab yang muslim dan dunia Eropa yang merasa telah terasionalkan. Rusia penduduknya berkulit putih dan berambut pirang. Mungkin orang Indonesia mengatakan bahwa Rusia adalah Barat, namun Rusia tidak mau digolongkan kepada Barat dan juga Timur, ia hanya menyebut diri Rusia saja.

Jelasnya, batasan Barat dan Timur hanya pada imajinasi. Said menjelaskan, sangat masuk akal berpendapat bahwa perbedaan tersebut hanya rekaan pikiran. Barat dan Timur mungkin ada secara objektif. Tapi sebetulnya hanyalah realitas fiksi belaka. Ini sama halnya seperti kelompok orang yang tinggal di beberapa hektar tanah dan membuat batasan antara tanah mereka dengan tetangganya. Kemudian mereka katakan, “tanah milik orang Barbar” (Said 1976, 54).

Al Makin menambahkan dengan melihat kemajuan di era globalisasi ini, batasan itu menjadi tidak ada. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan telah merubah dunia jika dibandingkan dengan masa kolonial dahulu. Semisal, kita ingin keluar negeri. Kita hanya membutuhkan waktu beberapa jam dengan menaiki pesawat. Padahal pada zaman dahulu, kita harus berbulan-bulan mengarungi lautan, dan harus membawa bekal yang lengkap. Sekarang untuk berbicara dengan saudara di luar negeri, tinggal ditelpon, bahkan bisa melihat langsung dalam layar kaca telpon. Lagi pula sekarang negara-negara telah banyak mengklaim diri sebagai negara yang multikultural, sehingga batasan antara Timur dan Barat sudah tidak bisa ditemukan lagi.

Islam dan Barat

Ada kalimat yang menarik dari Edward W. Said. Dalam bukunya Penjungkir-balikkan Dunia Islam, ia menuturkan; secara salah, Islam ditafsirkan sebagai salah satu yang bertentangan dengan Barat. Tensi ini telah menciptakan suatu kerangka yang sangat membatasi pengetahuan tentang Islam. Selama ini masih mengakar, Islam -pengalaman yang hidup secara vital bagi kaum muslim- tidak dapat diketahui (hlm 172).

Orang Timur -yang mayoritas beragama Islam- melihat sesuatu dengan kaca mata teologi, sedangkan Barat melihat sesuatu berdasarkan aspek sejarah, kondisi sosial, dan apa saja yang membuat sesuatu itu terbentuk. Kita ingat lagi, orientalis pada awalnya mengkaji Timur karena rasa penasaran mereka terhadap Timur itu sendiri. Hal demikian disertai dengan meruaknya semangat rasionalitas di kalangan mereka. Di mana pada masa itu mereka menerobos otoritas Gereja sebagai suatu kekuatan. Jadi jika Barat mengkritik agama Islam, itu bukan sesuatu yang baru lagi bagi mereka.

Orang Barat adalah lawan. Barat berniat menghancurkan Islam. Mereka sedang melakukan taktik dan berbagai macam persiapan untuk menghancurkan Islam. Pandangan-pandangan seperti ini telah disuarakan juga oleh Sayyid Qutb yang memakai teori konspirasi, dimana orang-orang seperti ini ingin semua penduduk dunia menjadi satu warna. Namun usaha itu bisa berakhir kepada radikalisasi dan fundamentalisme.

Sebagai catatan terakhir untuk masyarakat Indonesia, kebencian kepada Barat masih mengakar dalam diri kebanyakan masyarakat. Semua dari Barat ditolak tanpa dikritisi dan ditinjau ulang, dipikirkan, serta direnungkan. Padahal sampai saat sekarang ini kita masih menggunakan produk-produk dari Barat, begitu pun juga dengan para akademisi yang menikmati pendidikan di Barat dan belajar dengan orang Barat.[]

1 KOMENTAR

  1. […] Dalam diskusi ini, Hanafi sendiri tidak menggunakan istilah Masyriq atau Mahgrib. Menurutnya pembagian ini (masyriq dan mahgrib) adalah istilah yang dibuat dalam era kolonialisme. Pembagian tersebut dibuat dengan dua tujuan; Pertama, Pengkotak-kotakkan dunia Islam dan Arab. Kedua, pembagian dunia Arab menjadi Masyriq dan Maghrib. Oleh karenanya ia lebih suka dengan ungkapan Mesir dan Maroko. Faishal Jalul dalam pengatar buku ini menjelaskan, bahwa penyebutan Masyriq dan Maghrib hanya berdasarkan geografis, tidak terkait dengan konsep yang dikembangkan oleh kolonialisme. (Baca juga: Menghapus Trauma Sejarah antara Timur dan Barat) […]

LEAVE A REPLY