Menyambut Ramadhan, Merayakan Perbedaan

Menyambut Ramadhan, Merayakan Perbedaan

627
0

     Setiap menjelang masuk bulan Ramadhan, sudah rutin umat Islam di Indonesia diharu-biru oleh isu kapan tepatnya bulan yang mulia itu bermula.Ketidakpastian itu muncul karena dalam satu dasawarsa terakhir beragam sekali pendapat kelompok/aliran/organisasi Islam tentang penetapan 1 Ramadhan.Perbedaan awal puasa itu tidak hanya berselisih satu dua hari, tapi sampai seminggu.Perbedaan ini pada umumnya muncul karena penggunaan metode penentuan awal bulan yang berbeda.Metode yang paling umum digunakan adalah hisab (penghitungan) atau ru’yah (melihat langsung).Selain ini beberapa organisasi/komunitas kecil Islam seperti terdapat di Sulawesi dan Sumatera Baratmenggunakan metode yang tampaknya bukan bagian dari arus utama.

Masifnya perbedaan ini bagi sebagian orang mungkin agak mengherankan karena pemerintah sudah membuat kebijakan penetapan.Apakah kebijakan pemerintah itu sudah tidak legitmet sehingga seolah tidak didengar oleh sebagian masyarakat?

Secara normatif, kebijakan pemerintah ini sangat legitimet karena keterlibatan pemerintah dalam penetapan awal bulan tersebut adalah karena mandat yang diberikan oleh MUI melalui fatwa MUI No. 2/2004.Dalam fatwa ini MUI memberi kewenangan kepada pemerintah untuk menetapkan awal bulan Ramadhan,Syawal dan Dzulhijjah dan meminta seluruh umat Islam Indonesia untuk mengikutinya.Pemerintah kemudian menindaklanjutinya dengan melaksanakan mekanisme penetapan yang hasilnya diputuskan dalam sidang isbat setiap menjelang awal bulan-bulan tersebut.Sidang ini melibatkanrepresentasi berbagai organisasi keagamaan untuk membahas hasil rukyah yang dilakukan oleh pengamat tersumpah di beberapa lokasi yang sudah ditentukan.Menurut kementerian agama, sidang isbat yang dilaksanakan pemerintah Indonesia ini bahkan dirujuk oleh beberapa negara tetangga, seperti Brunei dan Malaysia.

Penetapan awal bulan Ramadhan yang dilakukan oleh pemerintah ini bisa dilihat dari segi kebijakannya.Meskipun Indonesia bukan Negara Islam, tapi Indonesia memiliki kementrian sendiri untuk mengurusi hajat hidup orang banyak terkait bidang keagamanaan.Karena mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, dan dalam isu penetapan awal bulan-bulan penting ini selalu jadi permasalah maka sangat masuk akal bila kemudian pemerintah turut serta dengan mengeluarkan kebijakan untuk menengahi berbagai perdebatan yang ada.Kelihatannya belum pernah ada studi yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana peran pemerintah ini telah berhasil menyelesaikan perbedaan penetapan awal bulan-bulan ini.Namun yang jelas setiap tahun kita menyaksikan bahwa Muhammadiyah dan beberapa organisasi atau aliran Islam tertentu menetapkan awal bulan-bulan itu secara berbeda dari pemerintah.

Argumen yang mengemuka kenapa perbedan ini muncul adalah bahwa penetapan awal bulan ini bukan saja soal metode, tapi keyakinan keagamaan masing-masing pihak.Oleh sebab itu masalah ini bukan sekadar urusan administrasi penetapan.Karena tidak mungkin kebjakan pemerintah bisa dan boleh mengubah keyakianpendudukanya.Sebaliknya, pemerintah malah berkewajiban memastikan warganya bisa menjalankan ibadat sesuai keyakinannya.Kalau begitu, bagaimana menyikapinya?

Sebetulnya perbedaan penetapan ini tidak perlu menjadi persoalan. Argumen pihak-pihak yang menginginkan adanya ketetapan yang mengikat untuk setiap muslim tentang awal bulan-bulan penting ini adalah untuk menciptakan kepastian dan menghilangkan kebingungan di kalangan orang banyak. Tapi yang jadi pertanyaan, apakah memang ada kebingungan di kalangan orang banyak?Bukankah masing-masing kelompok sudah memiliki mekanismenya sendiri? Kalau seorang muslim itu bagian dari komunitas NU dan Tarbiyah misalnya, umumnya mereka akan mengikuti penetapan pemerintah. Sementara kaum Muhammadiyah akan mengikuti penetapan dari PP Muhammadiyah, dan begitu juga anggota-anggota kelompok Islam lebih kecil lainnya. Sementara bagi yang tidak menjadi bagian dari kelompok manapun, mereka bisa mengikuti apa yang ditetapkan pemerintah. Berkembangnya media informasi seharusnya sudah bisa menjembatani persoalan seperti ini.

Dalam kenyataan sehari-hari, beberapa tahun belakangan di mana perbedaan penetapan awal bulan-bulan tersebut rutin terjadi, juga tidak ditemukan adanya masalah sosial yang berkembang.Belum pernah teradibentrokan karena isu beda awal puasa atau lebaran. Belum pernah juga terjadi orang gagal puasa atau lebaran karena tidak adanya kesepakatan bersama tentang kapan mulai puasa dan lebaran.Mungkin ada masalah-masalah yang skala dan dampaknya lebih kecil.Dan itu adalah sesuatu yang biasa. Kenyataan hidup yang komplek meniscayakan kita akan selalu menghadapi masalah. Tapi kenyataan hidup yang komplek itu juga telah mendorong masyarakat untuk mengembangkan mekanismenya sendiri untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut sehingga tidak menimbulkan dampak luas.

Keinginan untuk seragam sebagaimana tercermin dari argumen pendukung penetapan bersama awal Ramdahan di ataslah yang mungkin jadi masalah.Keinginan adanya keseragaman dengan dalih keharmonisan dan hilangnya kebimbangan adalah simtom romantisme masyarakat monolitik yang kampungan. Ini adalah bentuk lain dari kemunkaran terhadap kenyataan bahwa hidup ini penuh aneka ragam. Mengekang keragaman itu pada akhirnya hanya akan menghambat perkembangan masyarakat, karena hakikat perkembangan masyarakat itu adalah menguji kestabilan dan memungkirikeajegan. Pihak-pihak yang menginginkan keseragaman biasanya adalah bagian dari kemapanan, yang selalu merasa terganggu dengan setiap “lian”, sesuatu yang tidak sama dengan dirinya, karena dianggap akan mencemari “kesempurnaan”, bahkan akan menggerogoti kestabilan. Keinginan seperti ini adalah bagian dari gejala totalitarianism yang biasanya akan berujung kepada penggunaan kekerasan. Gejala seperti ini sangat kentara belakangan ini, teruatama di kalangan Islam garis keras, seperti FPI dan kelompok sebangsanya.Orang-orang seperti anggota FPI dan yang menginginkan keseragaman ini adalah mereka yang gagap dengan perkembangan zaman, tidak siap dengan perbedaan dan karenanya mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa hidup ini memang tidak bisa seragam.

Oleh karena keseragaman itu tidak mungkin dan tidak boleh diwujudkan karena itu berlwanan dengan kenyataan yang selama ini sudah kita terima dan jalani, maka seharusnya kita bisa lebih santai menyikapi perbedaan-perbedaan ini.Perbedaan adalah kehidupan yang kita jalani sehari-hari dan sudah kita terima dengan ikhlas.Perbedaan adalah rahmat, yang karenanya kehidupan menjadi lebih dinamis dan kemajuan bisa tercipta. Selamat beramadhan, selamat merayakan perbedaan.[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY