Mimpi Gani, Anak Pulau Pergi Merantau

Mimpi Gani, Anak Pulau Pergi Merantau

208
0

“Indokku itu, meskipun tak pernah merasakan duduk di bangku sekolah, tapi optimis menyekolahkan aku sampai Yogya. Padahal jika melihat kondisi kami di Batam sana, rasanya mustahil aku bisa berangkat ke mari. Untuk makan sehari-hari saja sulit. Dan indokku tak segan-segan untuk menjual harta warisan ayahku, sebidang tanah kebun karet itu, untuk biaya aku kuliah. Bayangkan, Bil. Aku gemetar saat terima uang hasil penjualan kebun karet itu, karena itu adalah satu-satunya peninggalan ayahku paling berharga. Tapi indokku tenang saja. Matanya tegas menatap mataku dan bilang “Pergilah menuntut ilmu, Nak. Setingginya. Kelak jika kamu pandai dan berilmu, nasibmu akan berubah. Kamu juga bakal mampu menolong dirimu sendiri dan orang banyak.

“Indokmu tak menyinggung-nyinggung uang itu?”

“Sama sekali tidak. Ia hanya meletakkan uang itu di saku koperku yang ku beli dari hasil jual kebun karet itu. Bahkan indokku juga tak mengambil sepeser pun dari uang itu. Utuh seluruhnya untuk aku ke Yogya.”

Kerasnya kehidupan tak menyurutkan keinginan sang  indok (ibu) untuk menyekolahkan anaknya. Harapannya, sang anak kelak bisa menjadi orang besar dan tidak bodoh seperti dirinya.

Cukuplah orang-tuanya saja yang bodoh. Anakku harus lebih pandai dan lebih bagus nasibnya kelak.”

Kerasnya perjuangan dan besarnya pengorbanan yang di lakukan sang ibu, apalagi semenjak kematian sang Ayah, secara tidak langsung membuat ibunya harus menjadi satu-satunya orang yang akan mengampu hidup Gani bersaudara.  Gani semakin bersemangat untuk melanjutkan sekolahnya setinggi mungkin . Kegalauan ingin meringankan beban yang menghimpit Indoknya, sempat membuat Gani berpikir untuk melanjutkan saja pekerjaan Ayahnya, menyadap karet dan menjual kopra. Namun, kerasnya dorongan sang Indok, mampu membuat Gani bangkit.

Tak cukup hanya sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) di Pangkal Pinang, bermodal nekat, Gani mengayuh sampan ke pulau harapan. Ia berangkat ke kota yang terkenal sebagai gudang ilmunya Jawa, bahkan Indonesia. Ia menuju. Yogyakarta,  meninggalkan sang indok, meninggalkan adik-adiknya, meninggalkan pulau tercintanya, menuju pulau yang teramat asing , yang dulu bahkan dalam mimpi sekalipun tak berani ia bayangkan.

Asin garam hidup Yogya telah di rasai Gani, mulai jadi kuli bangunan, menanti jatah makan dari takmir masjid saat Ramadhan, ngebon di warung si Mbah , menjual rokok di PMII. Itu semua dilakukannya demi sesuap nasi, penyambung semangat untuk tetap kuliah, dikarenakan kiriman yang tidak menentu datangnya.

Kisah percintaan pun ikut mewarnai perjalanan hidup Gani. Percintaan yang mengantarkan ia pada jenjang pernikahan, dengan gadis impiannya, adik tingkat di UIN Sunan Kalijaga. Perjalanan cinta Gani juga tak bisa di katakana mulus, pada awalnya hubungan mereka ditentang oleh keluarga sang istri, yang tidak menginginkan menantu dari luar pulau.

Perjuangan Gani untuk mendapatkan hati calon mertuanya tak sia-sia, walaupun jalan mulus enggan menghampiri proses lamaran dan akad nikahnya. Gani pun akhirnya mampu menyunting sang purnama hatinya.

Pedihnya kehidupan masa lalu, tak menyurutkan Gani untuk melangkah maju, terbukti dengan pencapaian yang dapat diraihnya. Meskipun pada awalnya Gani sempat di tolak saat dia menawarkan diri untuk bekerja di Otorita Batam (OB) pada akhirnya ia ditawari melakukan penelitian yang memberi dampak besar bagi perjalanan kariernya. Ia akhirnya mampu mengantarnya meraih posisi tertinggi di OB.

Sikapnya yang kompeten dan inovatif membuat perjalanan karirnya mulus. Cara Gani memperlakukan semua orang dengan tanpa membedakan satu sama lain, membuat ia dicintai banyak kalangan. Gani juga dengan besar hati menawarkan diri untuk menikahi sekretarisnya yang diceraikan suaminya karena tidak mampu memberikan keturunan.

Gani di mata bawahannya merupakan calon pemimpin Batam yang menjanjikan. Ia dapat merangkul semua kalangan di bawah arahannya, termasuk para preman.

Saya sering datang di acara-acara keagamaan yang di selenggarakan di rumah pak Gani, dan beliau selalu menemui saya, meskipun saya ini orang biasa. Bukan penjabatlah!, aku Jaya.

Mantan preman yang diserahi bagian keamanan saat Gani masih di pelabuhan ini, sejak tahun 1974 sudah tinggal di Batam, jadi ia tahu karakter para pemimpin Batam. Menurutnya, jika kelak Gani dicalonkan untuk jadi pemimpin  Batam , sangat cocok dan oke, karena beliau seorang pemimpin yang bisa merangkul banyak kalangan, berbagai-bagai kalangan yang ada di masyarakat.”

Penulis   :Abidah El Khalieqy
Judul buku: Mimpi anak Pulau
Penerbit  : AR-RUZZ MEDIA
Cetakan I : Januari, 2015

Gani juga seorang yang tegas dan mau menerima masukan dari siapapun, termasuk para bawahannya yang dinilai mampu membawa perubahan yang baik. Ide-ide yang terus mengalir untuk membawa perubahan yang besar bagi Batam mengantarkannya pada puncak karir. Ia juga seorang yang peduli dan percaya pada orang lain, tak peduli ia sedang tidak mempunyai uang. Jika ada yang meminta bantuan ia akan mencarikan jalan keluarnya, termasuk harus menggadai milik pribadinya sendiri. Pribadinya yang tidak tegaan sewaktu kuliah dulu, saat telah sukses pun tak berubah.

Masa lalu yang menyedihkan sebagai seorang yatim-miskin, membuat Gani peduli terhadap perkembangan pendidikan orang lain. Ia banyak mendirikan yayasan dan berpartisipasi dalam kelanjutan pendidikan orang-orang yang tidak mampu. Ia sekolahkan orang-orang yang dianggapnya mempunyai potensi besar, bahkan hingga mencapai gelar profesor.

Selain merupakan seorang pemimpin yang menjadi idaman setiap orang. Gani juga merupakan sosok teladan yang dapat mengampu keluarganya dalam keharmonisan dan keselarasan. Ia tidak pernah memaksakan kehendaknya pada anak-anak dan istri–istrinya. Ia juga seorang yang sangat memuliakan tamu yang datang kepadanya, tak peduli saat sakit sekalipun.

Buku ini menyajikan seluruh kisah inspiratif seorang anak pulau, yang dapat dijadikan teladan dan motivasi bagi orang-orang yang merasa hidupnya begitu suram dan tidak mempunyai harapan.

Penyajian biografi yang unik membuat buku ini menarik untuk dibaca. Cerita masa kecil Gani dilontarkan dalam bentuk karangan dimana Gani menjadi sebagai orang pertama pelaku utama. Pada pertengahan novel, ciri-ciri utama sebuah biografi mulai terlihat dalam cara penyajian penulis terhadap tokoh Gani. Ia tak lagi menjadi  tokoh utama dalam menyajikan kisah hidupnya sendiri. Bak seorang pengamat, penulis menceritakan perjalanan karir Gani. Demikian berlangsung hingga akhir novel.

Kekurangan buku ini terlihat signifikan pada ketidaktelitian editor dalam mengedit cerita, terbukti dengan banyaknya huruf-huruf dan penulisan kata-kata yang tidak tepat. Namun, selebihnya penulis menyajikan novel biografi ini dengan teknik yang menarik. Buku ini  sangat disarankan untuk dibaca. Didalamnya banyak terdapat nilai pendidikan, perjuangan hidup, dan yang patut diteladani.[]

BERBAGI
Artikel sebelumyaDurian Terakhir
Artikel berikutnyaRahmi: Mereka Punya Hak Hidup Bebas di Alam dengan Tenang
Penulis adalah alumni MTI Pasia, saat ini kuliah di jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY