Ngobrolin Pemuda dan Alam Pikir Minangkabau bersama Taufik (#2)

Ngobrolin Pemuda dan Alam Pikir Minangkabau bersama Taufik (#2)

181
0
Muhammad Taufik

Sebelumnya baca Ngobrolin Pemuda……….. (#1)

Beberapa waktu lalu, tokoh senior Minangkabau, Buya Syafii Maarif sempat mengkritik generasi Minangkabau hari ini yang krisis intelektual dan Kepemimpinan, bagaimana pendapat Anda soal ini?

Apa yang disampaikan Buya sebenarnya juga kerisau kita semua. Tapi bukan berarti Intelektual dan pemimpin dari Minang tidak ada sama sekali bersuara di pentas nasional atau internasional. Kita mafhum, apa yang disampaikan buya adalah sebuah kritik yang tajam dan pedas. Saya melihat  Minang hanya bisa memproduksi bibit, namun tidak memiliki persemaian yang hebat. Oleh sebab itu “rantau” tetap memberikan kontribusi yang besar dalam membangun generasi intelektual dan pemimpin.

Ah ya, Jika berbicara sejarah, pada masa lalu, generasi muda Minangkabau sempat mengisi teras politik pembangunan bangsa. Kita tak akan bernostalgia dengan masa lalu. Tapi perlu membaca kondisi hari ini. Mengingat posisi Anda sekarang sebagai seorang dosen, Bagaimana pandangan Anda tentang kebanyakan mahasiswa hari ini?  Ya karena mahasiswa adalah generasi muda intelektual bangsa.

Saya memahami bahwa mahasiswa (juga intelektual) lahir dalam ketidakpastian dunia.  Produksi gagasan mereka diharapkan menjadi counter terhadap produksi gagasan konvensional yang dilahirkan oleh kekuasaan. Memang berat menjadi seorang mahasiswa, tidak hanya pergi ke kampus, kuliah, ke perpustakaan, pulang, pacaran, tidur dan ngising. Makna lainnya menjadi mahasiswa adalah berani menanggung konsekuensi sosial, politik serta budaya, berani menjadi palu ketimbang paku, berani menjadi kusir dari pada kuda, berani menjadi man of intellectual.

Namun sayangnya yang diprodusksi hari ini adalah mahasiswa hibrida. Hibrida di sini dimaknai (sebagai) sebuah kebudayaan tertutup. Di dalamnya elemen-elemen -yang sebetulnya mengandung bentrokan identitas- yang berbeda dan bersifat diametris, secara pasti meleburkan mereka dalam upaya (re)produksi identitas yang lebih tinggi, yang bersifat eksternal dari mereka.

Karakter hibrida ini, secara sederhana, dapat diinderai lewat perilaku mahasiswa yang menentang globalisasi (atau juga Amerikaisasi) namun juga menikmati sebotol Coca-Cola dengan sepotong Mc donald. Siang hari di jalanan mereka masih meneriakkan ketertinggalan dunia ketiga, namun malamnya masih menikmati tontonan film-film Holywood . Begitulah realitas mahasiswa, satu sisi berharap bisa mengubah lingkungan, namun naifnya mereka juga ikut larut dengan lingkungan.

Pada gilirannya kita akan sangat sulit mendefinisikan mahasiswa secara ideal karena mereka tampil dalam bentuk identitas baru yang sangat diametris dengan atribut yang ditompangkan selama ini. Satu sisi bisa mengembangkan budaya lokal, namun sayangnya mereka terkesima dengan budaya instan. Satu sisi memompa pikiran-pikiran radikal, kritis analitis, namun otak mereka -lewat perilaku- mengamini cara pikir kapitalis. Itulah generasi hibrida; generasi latah dan bingung, karena bentroknya dua identitas -juga nilai dan realitas- yang susah dilogikakan.

Kondisi sosial dan politik nasional cepat sekali berubah, ini seiring dengan cepatnya pergantian isu dan informasi yang dikonsumsi masyarakat. Menurut Anda, Bagaimana hendaknya generasi muda membentuk diri mereka untuk menghadapi kondisi tersebut agar tak terjebak pada krisis identitas?

Bagi saya kapitalisme menjadi manfaat sekaligus bahaya besar bagi generasi muda.  Seharusnya ada upaya mengembalikan diri pada keautensitasnya; mengembalikan sirih ke gagangnya dan pinang ketampuknya. Tentu saja konsep ini harus didekati dengan hati-hati dan arif.   Hal itu dikarenakan membangun peradaban bangsa, tidak harus menelisik ke ruang “sebelah”. Kadang bangsa ini jamak menggunakan pakaian orang lain untuk dirinya. Menguak kembali tabir kesejarahan dan kebudayaan akn menjadi sesuatu yang bernilai-guna saat ini. Mengembalikan identitas mereka ketampuknya menjadi pekerjaan yang penting dan segera.

Semakin kuat ideologi impor semakin mendesak dilakukan gerakan-gerakan kebudayaan dalam bentuk yang revolutif. Mengembalikan sirih ke gagangnya bisa juga dimaknai mengembalikan masyarakat komunal dengan segala identitas dan pemaknaan mereka kepada keasalianya. Memasukkan rezim pemaknaan baru terhadap kehidupan yang tidak sejalan dengan diri mereka akan mendorong mereka kepada ketidakpastian identitas. Selanjutnya ketidakpastian identitas akan mempermudah pemaksaan identitas baru. Pembajakan ini tentu saja akan berdampak negatif bagi mereka.

Membiarkan mereka mencerna hal baru yang datang kepada mereka dengan cara dan mekanisme mereka sendiri adalah sikap yang arif. Toh, masyarakat Minangkabau adalah sosok masyarakat yang terbuka dan mudah menyesuaikan sesuatu yang baru. Hal ini terbukti dalam kehidupan keseharian mereka.

Krisis identitas adalah persoalan yang mesti dijawab untuk menghindari masalah yang lebih besar lagi di masa depan, krisis identitas bangsa. Jika berbicara untuk keperluan hari ini, menurut Anda apa peran dan pos-pos yang mesti diperhatikan oleh generasi muda untuk menjaga identitas bangsa Indonesia?

Pertama, generasi muda harus mendorong terciptanya revolusi kebudayaan. Kedua, Perlu mendekonstruksi etos dan visi lama dan membangun etos dan visi gerakan pemuda hari ini  dengan jalan penguatan kembali etos gerakan kepemudaan atas dasar semangat keberpihakan, kepedulian, keprihatinan dengan berlandaskan pluralisme dan multikulturitas bangsa.

Citra praktisi politik yang buruk ikut membantu apatisme generasi muda pada jalur politik. Ini tentu sangat merugikan jika kita melihat politik sebagai salah satu mekanisme efektif untuk menciptakan perubahan sosial. Menurut Anda, Bagaimana hendaknya generasi muda membangun identitas dirinya dengan relasi politik?

Generasi muda sekarang telah dinetralisir oleh kekuatan koruptif kelompok status quo. Hal ini diakibatkan konsolidasi kekuatan reformasi yang tidak pernah terwujud, khususnya di Sumatera Barat. Dan ini juga menjadi salah satu dosa aktivis reformasi . Meskipun ada sebagian yang mencoba konsisten dengan perjuangan dan transformasi sosial, tapi itu dikalahkan, sekali lagi oleh pemuda yang  sudah dinetralisir oleh kekuatan status quo. Bahkan banyak dari aktivis reformasi menjadi pemain utama dalam lingkaran status quo tersebut, menjadi mesin-mesin partai. Padahal yang waktu reformasi dulu mereka berhasrat sekali ingin membubarkannya.

Kita butuh generasi yang mempunyai ideologi yang kuat dalam membangun relasi dengan partai politik. Persoalannya adalah kita sangat jarang menemukan generasi muda yang memang memiliki mimpi dan cita-cita menjadi politisi yang berintegritas. Saya melihat menjadi politisi bagi generasi muda adalah bentuk lain dari sebuah lapangan pekerjaan.

Belakangan, konflik atas nama agama acap kali terjadi. Banyak pihak membaca bahwa ini berakar dari ketidakharmonisan relasi kelompok masyarakat di ruang-ruang sosialnya, juga ketidakadilan pada soal ekonomi politik di masyarakat. Menurut Anda apa peran yang bisa diambil pemuda dalam persoalan tersebut?

Peran yang harus dilakukan oleh pemuda adalah, pertama melakukan transformasi dengan mengubah cara berfikir (mindset). Bangsa ini sebagai bagian yang masih “terjajah”, baik secara ekonomi, politik, budaya dan agama. Kedua, menjadi provokator damai  dalam ruang-ruang sosial. Ketiga, melakukan ideologisasi terhadap paham pluaralitas dan multikultural terhadap masyarakat luas. Selanjutnya membangun gerakan bersama melalui diskusi masyarakat perihal relasi-relasi yang terjadi dalam jaringan sosial hari ini. Sehingga masyarakat paham bagaimana bersikap dengan bijaksana dan tidak mudah terprovokasi oleh ideologi-ideologi lain.

Terakhir, mengingat Anda adalah alumni Pondok Pesantren, apa pesan Anda kepada generasi muda yang juga dari kalangan pesantren agar dapat berkontribusi pada perbaikan nasional?

Pertama, benar apa yang disampaikan Gramsci, pertarungan kekuasaan dapat dilihat dari sudut pandang pertarungan ide-ide. Gramsci lebih menekankan bagaimana sebuah ide memengaruhi masyarakat dengan cara-cara yang lebih santun dan manusiawi serta counter wacana terhadap kritikan-kritikan dari pelbagai pihak.  Dalam luhak ini generasi muda yang alumni pesantren bisa memainkan peran dengan memproduksi ide-ide kebangsaan dan khususnya keagamaan dalam bingkai NKRI.  Kedua, alumni pesantren mampu menjadi lokomotif dalam gerakan masyarakat sipil sebagai bagian dari penguatan demokrasi dengan memberikan pendidikan politik yang menumbuhkan sikap politik yang sadar dan kritis masyarakat.[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY