Nilai Luhur Makan Bajamba

Nilai Luhur Makan Bajamba

602
1
Ilustrasi/Sumber: rri.co.id
Ilustrasi/Sumber: rri.co.id

Makan bajamba adalah salah satu prosesi adat yang menggambarkan kehidupan komunal di Minangkabau. Betapa tidak, begitu banyak nilai-nilai kebersamaan yang terkandung dalam prosesi tersebut. Karenanya menarik untuk melihat bagaimana perkembangan praktik prosesi makan bajamba di tengah masyarakat Minangkabau dewasa ini.

Secara historis, makan bajamba berawal dari kebiasaan masyarakat Nagari Koto Gadang, Kabupaten Agam dan diperkirakan telah berlangsung sejak Islam masuk ke Minangkabau sekitar abad ke-7 H/ 13M. Tradisi ini kemudian berkembang dan menyebar luas ke nagari lainnya di Minangkabau.

Dalam praktiknya, makan bajamba dilakoni oleh empat hingga enam orang yang makan bersama dalam satu piring besar yang disebut talam. Aturan duduk melingkar pun diatur dalam prosesi ini. Artinya, tidak boleh “centang parenang” (sesuka hati), melainkan diatur sedemikian rupa. Untuk kaum laki-laki duduk baselo (bersila) dan bagi padusi (perempuan) duduk basimpuah (bersimpuh).

Secara rinci ada empat nilai pokok yang terkandung dalam prosesi makan bajamba. Pertama, kebersamaan. Kebersamaan yang dilihat dari prosesi makan bajamba adalah adanya rasa kekeluargaan. Kenapa demikian? seseorang yang mempunyai pantangan terhadap suatu makanan tidak pernah menyebutkan bahwa ia tidak suka, namun orang lain tentu arif memahami hal tersebut.

Sealur dengan pengertian kebersamaan, dalam Islam pun Nabi Muhammad menganjurkan umat Islam untuk terbiasa makan bersama-sama pada satu piring. Karena diyakini makan bersama dapat menurunkan keberkahan pada makanan saat disantap bersama-sama. Oleh karena itu, semakin banyak jumlah orang yang makan bersama, maka keberkahan juga akan semakin bertambah. Jabir bin Abdillah menyatakan bahwa ia telah mendengar Rasulullah SAW bersabda; “Makan satu orang itu cukup untuk dua orang. Makanan dua orang itu cukup untuk empat orang. Makanan empat orang itu cukup untuk delapan orang” (HR Muslim No. 2059)

Dalam Kitab Hadis Fath al-Baari karangan Ibnu Hajar dituliskan, dalam hadis dari Ibnu Umar yang diriwayatkan Thabrani terdapat keterangan tentang illat (sebab) terjadinya keberkahan ketika makan bersama. Pada awal hadits tersebut dinyatakan, “makanlah bersama-sama dan janganlah sendiri-sendiri karena sesungguhnya makanan satu orang itu cukup untuk dua orang”. Potongan Hadis ini menunjukkan bahwa ada unsur keberkahan ketika makanan disantap bersama-sama.

Nilai kedua yang dapat diambil dari prosesi makan bajamba adalah nilai manajemen dalam kehidupan. Ini terlihat dari cara mengisi talam, di mana orang yang akan makan bajamba selalu mempertimbangkan jumlah nasi yang untuk takaran bersama, sehingga kemungkinan untuk mubazir amatlah kecil. Lalu dalam praktiknya juga, setiap orang yang makan tidak akan mengambil bagian milik temannya.

Nilai ketiga yaitu pentingnya meletakkan sesuatu pada tempatnya. Saat duduk dalam makan bajamba, semua orang dari strata sosial yang tinggi dan rendah tidak dibeda-bedakan. Selain itu seperti yang dikemukakan di atas, seorang yang umurnya lebih kecil bertugas menuangkan air, lauk atau nasi ke dalam talam. Pepatah Minang juga mengatur pentingnya meletakkan sesuatu pada tempatnya. Bunyinya, nan buto paambuih lasuang, nan pakak palapeh badia, nan lumpuah paunyi rumah, nan kuek pambao baban, nan binguang disuruah-suruah, nan cadiak lawan barundiang.

Nilai terakhir yang dikemas dalam makan bajamba adalah pentingnya kontrol perilaku. Kenapa demikian? saat makan bajamba seseorang akan berpikir-pikir untuk mengambil sebuah lauk, karena tidak semua lauk yang ada boleh untuk disantap. Hal ini mengajarkan betapa seseorang harus menimbang-nimbang untuk mengambil keuntungan pribadi dalam pergaulan di tengah-tengah masyarakat. Contoh lain, dalam makan bajamba juga ditekankan untuk tidak bacapak (berbunyi) saat mengunyah. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya memelihara sikap dan etika dalam pergaulan.

Pudarnya Budaya Makan Bajamba 

Dewasa ini, prosesi makan bajamba telah mulai pudar di tengah-tengah masyarakat Minangkabau. Sangat jelas terlihat dalam prosesi baralek (kenduri), di mana kebanyakan masyarakat telah mengganti budaya makan bajamba dengan hidangan prasmanan. Hal ini bahkan terlihat dalam pai maanta dan makan nasi dingin yang menjadi bagian dari ritual kenduri. Meskipun demikian, prosesi makan bajamba masih dapat ditemukan pada acara adat lainnya seperti batagak pangulu, malewakan gala dan bakaua.

Melihat pentingnya nilai-nilai yang terkandung dalam prosesi makan bajamba, tentu sudah selayaknya tradisi tersebut terus dipertahankan dan dilestarikan. Sebab, tentu kita tidak menginginkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam prosesi makan bajamba tidak lagi melekat dalam perilaku masyarakat karena minimnya kesempatan untuk mempelajari nilai-nilai tersebut.[]

Tulisan ini pernah diterbitkan di padang ekspres dengan judul “Menilik Nilai Luhur Prosesi Makan Bajamba” pada tanggal 16 Februari 2016. Tulisan ini disunting kembali dengan tujuan pendidikan.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY