Nuzul Quran di Tengah Ironi Kemanusiaan

Nuzul Quran di Tengah Ironi Kemanusiaan

472
0
Ilustrasi/Dok.Istimewa

Sebelum berangkat lebih jauh membicarakan nuzul al-Quran sebagai dirgahayu diturunkannya al-Quran, yang katanya diturunkan di lauhul mahfuz pada 17 Ramadhan, kemudian disampaikan oleh malaikat Jibril secara berangsur-angsur kepada nabi Muhammad selama masa kerasulannya, barangkali ada sebuah pertanyaan yang mesti diajukan, “Mengapa nuzul al-Quran itu diperingati?”

Dalam hajatan nuzul al-Qur’an tersebut, sering kita temui berbagai acara perlombaan, seperti Musabaqah Tilawatil Quran, Musabaqah Syarhil Quran, Musabaqah Fahmil Quran, dan Musabaqah bla-bla al-Quran lainnya. Dalam hal ini, sepertinya benar apa yang disampaikan W. Graham (1993) bahwa al-Quran adalah spoken word. Di antara kitab-kitab suci yang ada, hanya al-Quranlah yang dilantunkan, didayukan dan didendangkan oleh pemeluk agama, sehingga al-Quran tersebut hidup di tengah masyarakat muslim dengan budaya oral (terucap).

Namun, untuk menjawab pertanyaan di atas agaknya kita memerlukan cara pandang lain, agar peringatan nuzul al-Quran tak melulu soal euforia.

Al-Qu’ran sebagai Kitab Rahmat

Islam diturunkan di tengah ironi kemanusiaan, bahasa populernya Jahiliyyah. Budaya manusia di tanah Arab ketika itu katanya ala rimba, anak perempuan aja dikubur hidup-hidup lantaran malu. Hadirnya Islam adalah rahmat. Muhammad adalah Rasul rahmat. Al-Quran pun adalah kitab rahmat. Jadi Islam adalah agama kasih sayang. Dalam hal ini, dapat dikatakan Muhammad dan al-Quran instrumen yang akan mengantarkan manusia kepada realitas yang penuh kasih sayang.

Ironisnya sekarang –bagi sebagian kalangan- al-Quran justru ditafsirkan dengan otoritatif, sehingga merusak rahmat dari al-Quran itu sendiri. Ada juga yang mengatakan al-Quran adalah kitab hukum maka dengan dalih al-Quran, logika hitam putih pun dipaksakan, karenanya terjadilah budaya bar-bar di tengah kehidupan manusia. Atas nama agama pembunuhan dan kekerasan berseliweran dimana-mana, sekadar contoh, liat konflik agama di Sampang, Madura. Bahkan yang lebih tragis lagi, MUI juga ikut serta melegitimasi perbuatan tersebut. Seolah-olah Islam miliknya saja. Menurut saya, hal ini terjadi hanya karena “mereka” lupa. Lupa kalau Islam itu rahmat.

Dalam rangka melawan lupa, rahmat al-Quran tersebut mesti dilestarikan dengan senantiasa melakukan upaya-upaya mengingat, hari ini dan di sini. Mestinya ia tidak hanya diperingati dengan musabaqah yang sifatnya seremonial. Sehingga nuzul al-Quran tidak miskin nilai.

Memang, tak dapat dipungkiri bahwa dengan musabaqah, al-Quran senantiasa hidup. Saya sepakat dengan amat dan teramat. Namun, pertanyaannya adalah, tak perlukah kita berpikir untuk keluar dari kemapanan yang telah memenjarakan cara kita dalam memperlakukan al-Quran? Pertanyaan ini bukan untuk menghakimi, apalagi menyalahkan budaya oral umat muslim terhadap al-Quran. Budaya yang demikian justru adalah keistimewaan bagi umat muslim yang masih tetap mempertahankan budaya oral terhadap al-Quran. Hanya saja, dengan pola peringatan demikian, sudah sejauh mana nuzul al-Quran mengingatkan kita tentang kerahmatan al-Quran? Bukankah memperingati bertujuan untuk mengingatkan?

Takutnya begini, jangan-jangan kita hari ini beranggapan budaya jahiliyyah sudah tak ada, sudah habis sama sekali. Kekerasan sudah tidak ada, diskriminasi sudah tidak ada. Ketidakadilan sudah hilang di muka bumi. Rakyat sudah hidup dalam kesejahteraan, ketenteraman tanpa ada kemiskinan dan penderitaan. Sehingga tak perlu lagi mengingat mengapa al-Quran diturunkan.

Jika demikian, saya coba ngacung jari deh. Saya usul peringatan nuzul al-Quran dilakukan dengan merenung saja, jungkir balik, smack down, atau apa pun juga boleh, yang penting ngingetin. Habis tarawih kita beraktifitas sampai pagi, tentunya dalam rangka mengingat bahwa al-Quran adalah rahmatan lil alamin. Mana tau nanti dapat Lailatul Qadar.

Mudah-mudahan, dengan demikian di nusantara yang tercinta dunia akhirat ini, tidak akan ada lagi batasan identitas, apalagi kekerasan baik fisik atau simbolik berdasarkan ras, suku, dan agama. Karena dengan “mengingat” seluruh bangsa bisa paham bahwa al-Quran adalah rahmatan lil alamin, bukan rahmatan lil muslimin, lin nahdiyin, limuhammadiyyin, li sekuleriyyin, liliberaliyyin dan bagi kelompok-kelompok yang lain seperti littarbiyyin. Tapi syaratnya, seluruh bangsa mesti begitu. Wah, Utopis sekali.

Ya Sudahlah, saya tidak mengharapkan perubahan apa-apa dengan tulisan ini. Yang jelas, nuzul al-Quran itu penting untuk diperingati. Sebab dengan momentum Ramadhan yang penuh berkah, al-Quran hadir dengan keberkahan pula. Kalau boleh sih ya mbok diperingati dengan upaya-upaya yang menghasilkan berkah pula, bukan hanya sekadar ribut-ributan di toa Masjid.[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY