Orang Minang, Ayo Bermain Kelereng

Orang Minang, Ayo Bermain Kelereng

953
0
Ilustrasi/Dok.Istimewa

Ada yang mengatakan orang Minang itu sangat pintar belajar dari alam, seperti jargon ‘alam takambang jadi guru’ misalnya. Kalau beranjak dari jargon tersebut, secara formal berarti orang Minang tidak butuh ustad atau pak guru di sekolah bukan? Tapi disitulah bedanya orang Minang dengan kuda pacu yang jago berlari. Bagaimana tidak, kuda terlatih berlari karena ada orang yang melatihnya dengan serius. Tapi kalau berdasarkan alam takambang jadi guru tentunya orang Minang terlatih tanpa pelatih. Di sini orang Minang terlatih untuk mandiri.

Tapi munafik juga kiranya bila serta merta dikatakan orang Minang itu tidak butuh pelatih. Coba perhatikan lelaki Minang bersilat tanpa pelatih, batu di pinggir jalan sering menjadi sasaran empuknya. Oleh karena itu dapat dipahami ada hal-hal tertentu yang bagi orang Minang secara formal memang butuh pelatih atau guru. Dalam contoh menunggangi kuda di atas, tentunya pelatih bukan untuk memahami nilai-nilai yang terkandung pada menunggangi kuda tersebut, akan tetapi di sini pelatih berperan mengajari cara yang baik dalam menunggangi kuda.

Lain halnya dalam menunggangi kuda, dalam permainan yang akan saya ceritakan berikut ini tidak mesti harus ada pelatih loo…. Syarat utama permainan ini hanyalah; Anda mesti aktif, kreatif, dan punya jiwa kesederhanaan serta kebersamaan.

Kali ini saya ingin mengajak pembaca untuk mengenali salah satu permainan tradisional. Saya yakin dan percaya semua orang pasti mengenali permainan kelereng. Dalam permainan kelereng Anda tidak usah mengeluarkan banyak uang, tidak usah pakai sepatu futsal, tidak pakai sandal pun juga tak masalah. Di sini akan sangat konyol bila Anda bermain memakai payung. Ya, begitulah sederhananya bermain kelereng.

Permainan kelereng seakan-akan tidak mengenal istilah Karl Marx. Kaum borjuis dan mereka yang proletar sekalipun dapat bergabung bermain kelereng. Dalam hal ini jelas Anda harus siap kumuh, dan bernaung di bawah panasnya terik matahari. Kalau pun diguyur hujan  tidak masalah, yang penting bermain dan sama-sama happy. Oleh karena itu, tentunya halaman rumah yang becek dan bebas polusi udara akan sangat akrab dengan Anda yang bermain kelereng.

Dalam permainan ini Anda juga tidak butuh biaya yang mahal, misalnya monitor dan stick untuk bermain playstation, atau monitor yang dilengkapi dengan signal internet pun tidak perlu. Cukup dengan modal keberanian, ditambah dengan sedikit rasa kebersamaan, Anda sudah dapat bermain kelereng. Di sini tidak diharuskan memiliki kelereng, tidak punya kelereng pun dengan meminjam dulu pada temannya juga bisa ikut bermain.

Singkat kata kalau lu merasa jagoan, berarti lu harus siap sakit. Karena biasanya setelah bermain kelereng banyak yang demam karena bermainnya di ruangan lepas tanpa AC, dan hanya ditemani suara musik klasik yang dikicaukan oleh burung-burung yang juga sedang menikmati suasana kampung yang asri. Ini adalah suasana yang tidak akan dapat kita rasakan di apartemen-apartemen mewah atau di rumah-rumah megah yang berpagarkan besi atau beton yang tinggi. Uniknya, walaupun terbiasa bermain di lingkungan kumuh, hayalan selfie di tugu Monas atau sekadar melihat dan nonton bola bareng di gelora Bung Karno tak ayal mereka impikan.

Di samping itu, bagi mereka yang pernah bermain kelereng tentunya sudah terbiasa mengatur strategi. Kita bisa langsung belajar cara memilih kawan dan lawan. Anda juga dapat belajar berkoalisi dalam permainan ini. Koalisi bukan hanya strategi untuk menang, melainkan bentuk loyalitas sesama kawan, sekaligus sebagai tempat berhutang kelereng untuk modal bermain.

Permainan kelereng, meskipun terlihat perang strategi, kebersamaan sangat kuat di dalamnya. Kebersamaan itu dapat dilihat dari tak segan-segannya Anda mencomot es milik lawan bermain Anda. Tak ada yang jera bermain, meskipun ia kalah. Ya, karena permainan ini memang menuntut kebersamaan. Anda tak akan asyik bermain kelereng sendiri. Permainan ini telah ditakdirkan untuk dimainkan bersama, tertawa bersama-sama.

Inilah permainan kelereng, semua kalangan dapat mengaksesnya, karena perbedaan status sosial dalam permainan ini tidak berlaku.

Kerinduan saya terhadap permainan kelereng itu tentunya bukan tanpa alasan. Rindu terhadap permainan yang tidak membuat sekat antara si kaya dengan si miskin, permainan yang mendidik seseorang agar bergaul dan menyatu dengan lingkungannya. Permainan semacam ini patut dilestarikan. Dengan permainan ini kita bisa terlatih melawan arus teknologi yang cenderung mendidik seseorang menjadi individualis. Permainan tradisional ini juga bentuk ‘jihad kecil’ pada permainan berbasis teknologi yang menjadikan manusia apatis dengan lingkungannya.

Permainan kelereng menghadirkan opsi lain dalam mendidik seseorang untuk berinteraksi dengan orang lain dan lingkungannya. Paling tidak nilai-nilai yang terdapat dalam permainan kelereng itu mengajarkan kita untuk tidak cengeng dalam bersikap. Tangguh dan jiwa mandiri adalah tuntutan dalam permainan kelereng yang sekarang ini sering terlupakan.

Jika nilai-nilai kebersamaan, kreatifitas, kemandirian, serta kesederhanaan dalam permainan kelereng tersebut dapat diaplikasikan pada kegiatan sosial kemasyarakatan, tentunya masyarakat Minang akan terus menyumbangkan pemikir-pemikir baru untuk Indonesia.

Saya jadi ingat pernyataan Buya Syafi’I beberapa bulan lalu. Buya mengatakan, Minangkabau itu dulunya merupakan industri otak. Pernyataan Buya itu bisa ditemukan pada nama-nama tokoh Minang seperti Tan Malaka, Bung Hatta, Agus salim, Syahrir, dan tokoh-tokoh lain pada zaman itu.

Melihat kaya dan efektifnya nilai sosial dalam permainan kelereng itu dan agar krisis pemikir di Minangkabau tidak berlanjut, saya usulkan untuk orang Minang; Ayo sama-sama bermain kelereng.[]

 

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY