Pada Mustadh’afin dan Dhu’afa, Islam Jangan Buta

Pada Mustadh’afin dan Dhu’afa, Islam Jangan Buta

351
0
Islam Kiri Melawan Kapitalisme Modal-dari Wacana Menuju Gerakan

Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Mereka itu tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar) (Al-Baqarah; 17-18)

Gaya keagamaan yang ‘tuli dan buta’ pada penderitaan sosial perlu diganti dengan model keagamaan yang ‘peduli dan memihak’ kepada kaum miskin serta mereka yang terlantar (Eko Prasetyo, hlm 307)

Eko Prasetyo memulai bukunya dengan sebuah kegelisahan. Ia melihat kemiskinan imajinasi di kalangan umat Islam, ketidakadilan struktur ekonomi, hukum, politik dan kultur  yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Buku ini diberi judul ‘Islam Kiri Melawan Kapitalisme Modal-dari Wacana Menuju Gerakan’. Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Insist Press dan dicetak oleh Pustaka Pelajar tahun 2002, dengan 367 + iii-xIviii halaman. Meskipun diterbitkan 13 tahun lalu, buku ini menurut penulis layak dijadikan bahan analisa untuk membaca kondisi masyarakat Indonesia.

Islam Kiri sebagai model keagamaan tentu memiliki perbedaan dengan golongan-golongan Islam yang selama ini kita kenal. Dalam kata pengantar, Mansour Fakih menjelaskan pembagian golongan umat Islam di Indonesia yang dilakukan oleh para akademisi. Ia  menemukan hasil yang tidak memuaskan, semisal pembagian tipologi kultural keagamaan yang ditulis Cliford Geertz, yakni priyai, santri, dan abangan. Pembagian tersebut sudah kabur untuk kondisi sekarang, dalam santri terdapat abangan, dan begitu juga sebaliknya.

Apakah berhenti di situ?  tentu jawabannya tidak!

Monsour Fakih membagi golongan umat Islam Indonesia berdasarkan ideologi, bukan berdasarkan organisasi. Ia membagi kelompok Islam jadi empat golongan, yakni; tradisionalis, modernis, revivalis, dan transformatif. Setiap organisasi keagamaan, sebutlah NU, Muhammadiyah, Tarbiyah Islamiyah, dan organisasi keagamaan lainnya berada dalam keempat ideologi tersebut. Ideologi itu nantinya menetukan sikap bagaimana individu menanggapi kondisi sosial masyarakat, terlebih terhadap kemiskinan.

Islam Kiri ini, lebih dominan kepada golongan transformatif. Gerakan ini beranggapan bahwa kemiskinan yang terjadi di masyarakat disebabkan oleh ketidakadilan sistem, struktur ekonomi, politik, dan kultur masyarakat. Agendanya adalah melakukan transformasi struktural dan kultural. Perubahan itu dilakukan secara fundamental dengan menciptakanan relasi yang baru. Relasi ini diagendakan untuk menciptakan keadilan dalam bidang ekonomi, politik, kultur, serta penghormatan terhadap HAM. Mereka yang patut dibela, dilindungi, dan diperjuangkan adalah msyarakat tertindas (Mustadh’afin dan  Dhu’afa). Perlu dicatat, gerakan Islam Kiri bukan bermaksud untuk menegakkan kediktatoran. Islam Kiri ingin menciptakan tranformasi masyarakat yang lebih adil.

Mengapa Islam Kiri memihak kepada kemiskinan?

Eko mengutip alasan Bani Sadr yang mengatakan; Pertama kemiskinan sangat berlawanan dengan konsep Islam sebagai rahmat bagi alam. Kemiskinan adalah ekpresi kehidupan yang kalah dan terdindas. Kedua, kemiskinan bertentangan dengan martabat manusia sebagai makhluk Allah yang mulia dan dimuliakan. Kemiskinan telah menjatuhkan martabat manusia sebagai makluk yang bebas dan merdeka. Ketiga, al-Qur’an meletakan prinsip keadilan sebagai kunci ketaqwaan yang sejati dan sempurna (lihat hlm 6).

Semasa Nabi, Allah SWT mengutus rasulnya untuk menyelamatkan orang miskin, memperbaiki sistem ekonomi, melawan penindasan, dan kesewenangan penguasa. Mereka memperkenalkan nilai-nilai keadilan yang ditelikung oleh penguasa, memperkenalkan konsep kesetaraan, penghormatan kepada kaum yang tidak mampu, menebar kasih sayang untuk semua orang. Dalam kehidupannya sendiri, tak jarang para rasul adalah orang miskin, dan hidup dari keringat sendiri.

Penindasan terhadap Mustadh’fin dan Dhu’afa

Dalam al-Quran, mustadh’afin berarti orang-orang yang ditindas atau dilemahkan. Kata mustadh’afin dipakai untuk menunjukan kesenjangan struktural. Dhu’afa adalah orang yang lemah, lemah dari segi materi dan ilmu. Bedanya, kata Dhu’afa dipakai untuk menunjukan kesenjangan kultural. Islam Kiri mengambil sikap untuk membela sekaligus juga memihak kepada dua golongan ini.

Subagio Sastrowardoyo melukiskan orang miskin dalam sajaknya yang berjudul Pidato di Kubur Orang.

Ia terlalu baik untuk dunia ini/ ketika gerombolan membuka pintu/ dan menjarah miliknya/ Ia tinggal diam dan tidak mengadakan perlawanan/ Ketika gerombolan memukul muka/ Dan mendepak kepadanya/ Ia tinggal diam dan tidak menanti pembalasan/ Ketika gerombolan menculik istri/ Dan memperkosa anak gadisnya/ Ia tinggal diam dan tidak memendam kebencian/ Ketika gerombolan membongkar rumahnya/ Dan menembak kepalanya/ Ia tinggal diam dan tidak mengucap penyesalan/ Ia terlalu baik untuk dunia ini.

Kalimat “Ia terlalu baik untuk dunia ini” bernada ironi. Sapardi mengatakan, kalimat itu menunjukkan nilai-nilai moral -yang mungkin agung-  tidak memiliki ruang untuk hidup. Dan terkadang nilai moral yang agung tersebut mesti dikubur.

Al-Quran tidak menjelaskan penindasan dengan cara Marxian yang melimpahkan kesalahan kepada penindas. Al-Quran menyalahkan keduanya, penindas dan yang tertindas. Untuk yang pertama, karena arogansinya, kekayaannya, dan kekuasaannnya. Sedangkan yang tertindas bersalah karena menerima penindasan alias tidak melakukan perlawanan (lihat halaman 317).

Dari hasil analisa yang dilakukan Eko, penyebab tidak munculnya perlawanan dari umat Islam Indonesia, karena perkembangan teologi yang jarang menyentuh kaum lemah. Hal ini terlihat dari pertanyaan yang diajukan, semisal; Siapa yang turut berdoa untuk arwah Marsinah yang dibunuh secara kejam? Adakah ulama yang menuntut atas hilangnya mahasiswa yang diculik? Siapa ulama yang berteriak ketika harga bahan pokok dan BBM naik, harga karet murah, dibunuhnya Salim Kancil? Dan pertanyaan semacamnya.

Namun yang sering disebut kafir oleh kebanyakan ulama adalah mahasiswa dan buruh yang sering demo demi memperjuangkan rakyat miskin dan terdindas, bukan para koruptor dan penindas. Bahkan menanggapi pertanyaan seperti itu kebanyakan ulama kebingungan, dan biasanya hanya dikembalikan kepada Allah SWT serta masyarakat disuruh untuk bersabar.

Berkaitan dengan itu, menarik apa yang diistilahkan oleh Harvey Cox. Ia mengatakan terdapat pandangan negatif dalam beragama; Pertama, menganggap kemiskinan sebagai kehendak Allah SWT, dimana buah keyakinan bersifat fatalistik. Kedua, semua masalah adalah ulah perangai individu. Ketiga, Islam dipugar satu persatu keyakinan’radikalnya’ menjadi ajaran yang berorientasi pada kemenangan akhirat sehingga kaum miskin cukup diberi candu dan pahala yang diterimanya di surga kelak. Keempat, disebarkan pemahaman keagamaan yang sifatnya mempertahankan status quo. Kelima, Islam sebagai agama yang bermuara disegelintir tokoh yang memegang kendali kekuasaan bahkan pengetahuan tentang baik dan buruk.

Untuk membongkar itu, Eko mengkritik model ‘pengajian’ yang dilakukan di  mesjid-mesjid, surau, dan di tempat-tempat yang lain, guna untuk meningkatkan daya kritis masyarakat. Semisal; praktik khotbah atau pengajian hendaknya dimanfaatkan juga sebagai ruang konsolidasi bagi semua agenda persoalan kemanusiaan, terutama yang bersangkutan dengan kehidupan riil masyarakat tertindas. Mengutuk para koruptor, mengutuk pabrik-pabrik yang mangaji rendah buruh, melawan imprealisme, memperjuangkan orang yang ditindas akibat permainan hukum oleh penguasa, dan sekaligus mengajak umat supaya tidak menumpuk kekayaan.

Jauh dari itu, Eko juga mencanangkan karakter ideologi Islam Kiri ini dengan populis. Dengan mengadopsi ideologi itu, maka perhatian terbesar hendaknya dipusatkan kepada isu pemerataan ekonomi, pengahargaan terhadap HAM, anti terhadap neomiliterisme, dan juga keadilan dalam bidang hukum. Karena mengingat persoalan yang akan dihadapi masyarakat setelah ini, di mana pemerintah dikendalikan oleh pemodal dan militer sebagai keamanan untuk menjaga stabil bagi bekerjanya modal. Melalui penerapan ideologi populis itu, maka basis massa tidak lagi berdasarkan mazhab keagamaan, melainkan atas dasar kepemihakan terhadap yang tertindas.

Agaknya kita sudah tau dan mungkin bisa merasakan, betapa sakitnya orang miskin dan orang tertidas disuruh bahkan dipaksa untuk bersabar. Untuk menjawab tantangan hari ini kita harus mengedepankan persoalan riil yang terjadi di masyarakat, supaya kita tidak kewalahan dan membiarkan penindasan. Untuk itu, Islam Kiri menekankan kepada peningkatan daya kritis masyarakat, melakukan dakwah advokasi, dan melakukan revolusi sosial. Langkah-langkah seperti itu dilakukan supaya terciptanya kondisi yang adil bagi masyarakat.

Pemikiran-pemikiran keagamaan yang berangkat dari kesadaran untuk melakukan kontrol sosial, merintis perubahan struktural dan kultural, serta berwatak alternatif, memang banyak berguna bagi sebuah rangsangan ilmiah. Pada kenyataannya ‘kesadaran struktural dan kultural’ bisa diukur secara empiris.[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY