Pemuda Pesantren Punya Modal, Hendaknya Lakukan Perubahan sosial

Pemuda Pesantren Punya Modal, Hendaknya Lakukan Perubahan sosial

177
0
El Mudi/Dok. Pribadi.

Sebelumnya baca:  Mudi: Pemuda Tarbiyah Belum Berbuat Banyak untuk Madrasah Tarbiyah Islamiyah

Kita akan fokus pada Sumpah pemuda yang terus diperingati pada 28 Oktober. Bagaimana pandangan Anda terkait progresifitas pemuda atau santri untuk kemaslahatan umat?

Pemuda selalu hadir menjadi bagian penting dalam setiap momen besar sejarah bangsa Indonesia. Merujuk kepada Sumpah Pemuda yang diselenggarakan pada tahun 1928, semangatnya adalah persatuan pemuda mewujudkan Indonesia Merdeka. Sedangkan kontek kekinian, tentu saja semangat Sumpah Pemuda diarahkan kepada peran Pemuda untuk mengisi kemerdekaan Indonesia.

Pasca keberhasilan pemuda meruntuhkan rezim otoritarianisme pada tahun 1997-1998 yang disambut dengan era reformasi yang masih bergulir hingga saat ini, itu merupakan momentum baik bagi pemuda untuk mengisi kemerdekaan secara komprehensif. Tetapi, dalam rentang waktu 16 atau 17 tahun peran Pemuda dan termasuk santri masih parsial dan tidak terkoordinatif.

Terkait dengan kemaslahatan umat, peran pemuda atau santri lebih banyak muncul dalam bentuk gerakan personal/individual yang tidak terorganisir dengan baik. Sehingga, kemaslahatan umat lebih dominan dimobilisasi oleh pemerintah atau umat itu sendiri yang mengorganisir diri mereka sendiri.

Santri misalnya, sebagai satu entitas yang merupakan bagian dari Pesantren atau ormas tertentu, ketika mereka terlibat dalam agenda kemaslahatan umat, dan agenda tersebut bukan merupakan misi yang diorganisir langsung oleh pesantren atau organisasi dimana santri tersebut aktif, melainkan lebih kepada inisiatif sendiri. Dalam kontek ini, kita melihat bawah semangat Sumpah Pemuda tentang “persatuan” atau dalam kata lain “kebersamaan” sudah mulai luntur.

Kepedulian pemuda atau santri terhadap kepentingan kemaslahatan umat lebih kepada kepedulian individual dan gerakannya juga individual, bukan kepedulian kolektif yang gekannya kolektif juga.

Kita tidak menafikan begitu saja progresifitas positif pemuda atau santri untuk kemaslahatan umat, khususnya di Sumatera Barat. Tetapi, secara jujur mesti di akui bahwa faktanya sebagian besar pemuda sudah terjebak dalam gaya kehidupan modern yang cenderung bersifat hedonis dan idividualis. Hedonisme sudah menjadi penyakit psikologi individu pemuda yang mempengaruhi kehidupan sosialnya. Hedonisme secara bertahap tapi pasti telah mencabut rasa kepedulian pemuda terhadap lingkungannya dari akar budayanya sendiri.

Menurut Anda, apa peran yang bisa diambil pemuda Tarbiyah pada umumnya, dan santri/urang siak khususnya, untuk menghadapi tantang zaman dan kondisi sosial politik yang cepat berubah sejauh ini?

Pemuda Tarbiyah yang terhimpun dalam satu wadah organisasi merupakan kekuatan sosial politik dan agama dalam menggerakkan diri sendiri maupun masyarakat banyak. Sebagai himpunan invidu-individu yang terdidik dalam lembaga keagamaan dan lingkungan yang berbudaya, maka Pemuda Tarbiyah menjadi pelaku perubahan, bukan sebaliknya. Perubahan sosial merupakan keniscayaan, dan setiap perubahan sosial tidak serta-merta semuanya adalah buruk dan atau destruktif bagi kemaslahatan umat. Pada posisi ini, Pemuda Tarbiyah dituntut mampu memilih dan memilah dalam menentukan sikap, mana perubahan sosial yang merupakan kemaslahatan dan mana yang merupakan kemudharatan. Kemampuan Pemuda Tarbiyah tersebut juga diiringi dengan kemampuan dalam mengolah dan mengendalikan setiap perubahan sosial atau modernisasi yang dikonversi menjadi sikap-tindakan/program kerja untuk kemaslahatan umat.

Sedangkan peran santri/urang siak sesungguhnya tidak berobah dari peran awalnya, yakni Mubaligh dan pendidik. Namun, dalam rangka menghadapi tantang zaman dan kondisi sosial politik yang cepat berubah saat ini, santri/urang siak bukan lagi hanya menjadi bagian dari masyarakat agamis yang hidup pada ruang dan waktu yang terbatas, tetapi santri/urang siak juga sudah menjadi bagian dari masyarakat ekonomi, politik dan sosial budaya atau kata lain masyarakat internasional. Berbagai media teknologi informatika modern saat ini sangat besar mempengaruhi perubahan kehidupan sosial masyarakat menuju masyarakat modern dengan budaya modern juga. Makanya, santri/urang siak dituntut mampu berperan sebagai penyaring nilai-nilai pembaharuan yang dibawa oleh gelombang modernisasi yang dapat saja mengikis nilai-nilai yang menjadi prinsip dalam agama maupun budaya.

Jika santri/urang siak tidak bijak dalam menyikapi setiap modernisasi tersebut, maka akan ditinggalkan oleh zaman (masyarakat/jamaahnya).

Dalam perjalanannya, peran sosial pemuda terus ditantang oleh banyak aspek. Pragmatisme dan gaya hidup hedonis di dalam diri para pemuda serta adanya sikap apatis dari masyarakat menjadi bagian dari tantangan tersebut. Bagaimana Anda melihat itu?

Bagi santri/urang siak sejatinya tidak lagi direpotkan dengan persoalan penyakit sosial seperti sikap pragmatis dan hedonis. Mereka sudah dibekali dengan pendidikan aqidah akhlak dan tasauf, disamping juga ditempa bertahun-tahun menjalankan kehidupan sederhana, bahkan kekurangan, selama menempuh pendidikan. Berbagai konsep dan praktik ilmu tasauf juga sudah menjadi “makanan harian”. Namun faktanya tidak sedikit juga santri/urang siak yang terjebak dalam kehidupan pragmatis dan atau hedonis. Jika kita berbicara Pemuda secara umum, tentu saja korban penyakit sosial yang dikenal dengan sikap pragmatis dan atau hedonis ini akan lebih banyak lagi. Namun poin kita bukan yang demikian, tetapi poinnya adalah sikap ketidakpedulian terhadap lingkungan (Ignorance/Passiveness) yang semakin parah.

Sikap kepedulian tidak bisa hanya dipelajari tanpa dipraktekkan dan dicontohkan. Mempraktekkan dan mencontohkan merupakan agenda/misi utama lembaga pendidikan dari tingkat PAUD hingga Perguruan Tinggi, selain juga rumah tangga.

Sangat disayangkan, lembaga pendidikan kita lebih mengutamakan aspek kognitif dari pada aspek afektif dan psikomotorik peserta didik. Pada sisi lain, kontrol sosial lingkungan masyarakat sekitar pun sangat lemah, terutama masyarakat di perkotaan. Dalam kondisi yang demikianlah Pemuda hidup dan tumbuh.

Jadi, baik pemerintah, khususnya Pemuda Tarbiyah, mesti jeli melihat kondisi yang demikian dan mengambil sikap antisipatif dengan memerangi penyakit sosial yang disebut dengan “ketidakpedulian” tersebut. Terkait dengan sikap apatis dari masyarakat, sesungguhnya hal itu lebih banyak disebabkan oleh perilaku pemerintah dan juga perilaku ormas/OKP yang jarang hadir ketika dibutuhkan oleh masyarakat.

Jika dibandingakan dengan pemuda kebanyakan, adakah Anda melihat nilai khusus yang dimiliki para santri dan orang-orang yang tumbuh dari pondok pesantren untuk menghadapi tantangan tersebut? Jika ada, bisa jelaskan.

Jelas ada, sebagaimana sebagiannya telah diterangkan di atas. Setidaknya ada tiga poin; Pertama, santri telah memiliki bekal keagamaan dan kebudayaan yang cukup kuat; kedua, santri sudah terbiasa hidup sederhana/kekurangan dalam waktu yang cukup lama selama menempuh pendidikan (walaupun sebagaian karena terpaksa); dan ketiga, santri sudah terbiasa menjadi pelaku pembangunan sosial kemasyarakatan, khususnya bidang keagamaan.

Salah satu persoalan bangsa kita akhir-akhir ini adalah konflik sosial di masyarakat. Media massa memberitakan sebagian dari konflik tersebut hadir dilatarbelakangi oleh faktor perbedaan agama atau paham dalam satu agama. Bagaimana Anda memandang ini?

Saya tidak percaya sepenuhnya bahwa konflik sosial, terutama yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia akhir-akhir ini, dikarenakan faktor perbedaan agama atau perbedaan paham dalam satu agama. Saya sangat percaya bahwa masyarakat Indonesia dapat menerima perbedaan dan sangat toleran. Bila kita sedikit mendalami latar belakang sejarah setiap konflik sosial yang terjadi, baik antar kelompok kecil masyarakat hingga antar bangsa pun, ditemukan rentangan benang merah yang hampir sama, bahwa konflik sosial muncul disebabkan oleh perebutan kekuasan politik dan ekonomi/sumber daya.

Karena kekuasan politik dan ekonomi dipegang oleh satu kelompok agama atau paham tertentu, maka untuk merebut kekuasan politik dan ekonomi itu senjata yang ampuh ialah memunculkan isu agama atau paham untuk menggalang solidaritas dan kekuatan massa, akhirnya konflik meletus dan masalah perbedaan agama atau paham jadi “kambing hitam”, atau dengan kata lain isu perbedaan agama atau paham sengaja dimunculkan untuk menyembunyikan isu yang sesungguhnya.

Terlepas dari setuju atau tidak bahwa perbedaan agama atau perbedaan paham dalam satu agama merupakan sumber konflik sosial, faktanya rumah ibadah dibakar, acara peribadatan suatu kelompok agama dilarang/dihalangi, gesekan fisik terjadi, darah bertumpahan, asap mengepul, api membara, minoritas diusir dari tanah kelahirannya dan sebagainya. Fakta-fakta tersebut sudah cukup sebagai bukti untuk menyatakan bahwa perbedaan agama atau perbedaan paham menjadi sumber konflik. Pada posisi ini, negara harus segera hadir. Seharusnya, kewenangan dan peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam rangka menegakkan hukum, mediasi perdamaian dan menjamin rasa aman masyarakat. Negara punya alat dan kemampuan untuk itu.

Tidak akan terjadi konflik sosial masyarakat apapun bentuknya jika negara hadir ditengah masyarakat, kecuali negara membiarkannya. Sikap pembiaran dan ketidakpedulian inilah sesungguhnya pemicu konflik sosial terjadi ditengah masyarakat.

Mobilisasi sosial kemasyarakatan yang dominan dipegang oleh kelompok mayoritas dibanding kelompok minoritas merupakan keniscayaan dimana saja pada belahan bumi kita ini. Kebijakan politik, ekonomi dan budaya pasti dikuasai oleh kelompok mayoritas. Oleh karena itu, sekali lagi, negara harus hadir sebagai penjamin hak-hak setiap jiwa individu rakyatnya tanpa lagi memandang mayoritas atau minoritas, semuanya diletakan di atas mata hukum dengan asas keadilan.

Menurut Anda, bagaimana hendaknya santri/urang siak/orang yang tumbuh dari pondok pesantren bersikap dalam persoalan tersebut?

Pertama, Mau atau tidak, cepat atau lambat, santri/urang siak harus menyadari bahwa mereka merupakan bagian dari masyarakat internasional yang terdiri dari berbagai ragam agama, paham, ras, dan kebangsaan. Oleh karena itu, sikap yang harus ditanamkan dan disemai ialah sikap toleransi.

Kedua, Mau atau tidak, cepat atau lambat, santri/urang siak harus menyadari bahwa mereka akan hidup dalam lingkungan masyarakat yang heterogen. Gesekan sosial pasti akan terjadi. Maka, santri/urang siak jangan terjebak dalam konflik sosial kemasyarakatan yang dibungkus dengan isu keagamaan. Dan ketiga, sudah saatnya santri/urang siak “melek” informasi dan memantau perkembangan dan perubahan kehidupan sosial kemasyarakatan.

Terakhir, apa agenda pemuda Tarbiyah Islamiyah kedepannya? Adakah pesan yang bisa Anda share kan kepada kami untuk kemajuan santri, urang siak dan orang-orang yang tumbuh dari pondok pesantren.

Agenda Pemuda Tarbiyah Islamiyah saat ini sedang melakukan penguatan internal. Kedepan, Ada tiga agenda besar yang sudah direncanakan dan akan dilaksanakan secara bertahap, yakni kaderisasi, penguatan lembaga pendidikan pesantren Tarbiyah Islamiyah dan pemberdayaan sosial kemasyarakatan warga Tarbiyah Islamiyah yang diturunkan ke dalam beberapa program/kegiatan strategis.

Saran kami kepada tarbijahislamijah.com agar dapat memuat hasil kajian yang kritis dari persoalan-persoalan keagamaan sebagai gambaran umum dari padangan Tarbiyah dan isu-isu sosial kemasyarakatan yang menjadi sorotan publik sebagai referensi bagi santri, urang siak dan atau orang-orang yang tumbuh dari pondok pesantren.[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY