Pengumuman Beasiswa Santri Tarbiyah Islamiyah

Pengumuman Beasiswa Santri Tarbiyah Islamiyah

308
0
Ilustrasi/Anwar Zhaky

Penulis bukan seorang rasul. Prosais bukan seorang nabi yang berkhotbah kepada umatnya. Esais bukan seorang paderi yang berdiri di ketinggian dan memandang persoalan di bawahnya dengan sinis dan sok suci. Sama sekali bukan. Esai yang baik juga bukan sebuah tulisan yang menyelesaikan berbagai dinamika, tapi menawarkan sebuah jalan lain dalam menyikapi berbagai persoalan dan realitas sosial masyarakat. Jalan lain yang dimaksud tentu sebuah reinterpretasi; bagaimana melihat kasus dengan sudut pandang berbeda, menafsir fakta secara terukur dan koheren, menawarkan solusi -jika ada- dengan tidak menciderai integritas. Dan yang terpenting: terkerangka dengan apik.

Banyak tulisan yang masuk ke mail redaksi. Tulisan-tulisan itu menarik perhatian tim penilai. Salah satunya, Tarbiyah Islamiyah Dulu Kini dan Harapan untuk Masa yang akan Datang. Esai ini menjadi tulisan pamungkas yang layak diapresiasi. Tulisan ini menjanjikan dari segi tema dan isi. Analisis dan pembacaan penulis terhadap materi yang diangkat sebagai tema cukup mendalam dan menjanjikan. Sudut pandang penulisnya dalam menyikapi persoalan juga terkemuka dengan baik dan jernih. Selanjutnya, Kitab Kuning: Pacar Santri Tarbiyah Islamiyah. Tulisan bergaya eksposisi ini lebih kepada reportase singkat pengantar kurikulum kitab kuning yang dipelajari di Madrasah Tarbiyah Islamiyah. Menarik memang, namun masih banyak pintu dan ruang ekplorasi yang belum dibuka dan dimasuki oleh penulisnya.

Dari sekian banyak tulisan, tim penilai telah memilih 5 tulisan yang layak mendapatkan beasiswa santri Tarbiyah Islamiyah, yaitu:

  • Tarbiyah Islamiyah Dulu Kini dan Harapan untuk Masa yang Akan Datang”, | Melawati
  • Mengutamakan Kitab Kuning; Referensi Keagamaan”, | Anesty
  • Kitab Kuning: Pacar Santri Tarbiyah Islamiyah”, | Kamil Alhakimi
  • Santri MTI sebagai Penerus Agama dan Negara”, | Mifatahus Sa’adah
  • Masyarakat dan Pendidikan di Tarbiyah Islamiyah”, | Lailatus Sakinah

Para calon esais ini mengudar dinamika Tarbiyah Islamiyah dengan cukup baik dan mendalam. Melalui esai-esai mereka kita bisa melihat Tarbiyah Islamiyah dari kacamata santri—hal yang cukup jarang kita temukan di tubuh Tarbiyah Islamiyah. Mereka bicara banyak soal urgensi pendidikan kitab kuning, realitas kesantrian para santri Tarbiyah, dan peran fungsi lembaga pendidikan Tarbiyah Islamiyah di tengah masyarakat—biarpun pada beberapa bagian masih terkesan utopis dan klise.

Pada akhirnya kita tetap dan akan terus berharap, melalui ajang ini maupun ajang-ajang sejenis setelah ini, akan lahir karya-karya tulis dari tangan generasi santri pelanjut keberlangsungan Tarbiyah Islamiyah. Semoga.

Tim Penilai:
Akhyar Fuadi | Cerpenis dan esais sekaligus pengajar di Ponpes Ashabul Yamin.
Intan Pratiwi | Wartawan harian Republika.

Catatan: Selanjutnya para penerima beasiswa akan dihubungi oleh redaksi melalui kontak yang telah diberikan.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY