“Penistaan” dalam Pandangan Taqiyuddin al-Subki

 “Penistaan” dalam Pandangan Taqiyuddin al-Subki

399
0
Ilustrasi/Dok. Istimewa

Mengamati dan berusaha memahami kebisingan di dunia maya Indonesia akhir-akhir ini, menghantarkan kita pada kesimpulan bahwa Indonesia adalah bangsa yang gemar bersitegang urat leher. Meskipun nyatanya, rakyat Indonesia juga ‘galak’ dan keras hatinya jika sudah berhadapan pada kelaliman kekuasaan, tahun 1965; dan 1998 adalah buktinya. Tentu saja tulisan ini tidak akan mengkaji hal itu, apalagi hanyut dalam dua arus utama (meminjam istilah publik “pro dan kontra” terhadap ucapan Ahok yang blunder tentang Ulama-Penafsir, dan Tafsir mereka tentang Q.S. Al-Maidah:51) yang tengah bersitegang. Tulisan ini berupaya melacak pandangan ulama klasik, terutama Taqiyuddin Al-Subki (salah seorang fuqaha’ mazhab syafi’i) tentang ‘penistaan’ terhadap Islam dan komponen-komponennya, dan kemudian mencoba menariknya ke dalam realitas keindonesiaan dewasa ini.

Ulama klasik, atau dalam istilah yang populer ulama’ tabiin dan tabi’ tabiin adalah pribadi yang serius dalam mengkaji sesuatu. Perdebatan pecah dalam rupa yang paradoks. Tak jarang kalimat-kalimat keras seperti kafir, bid’ah, dan bahkan pengikut setan, berloncatan. Tapi semuanya adalah bagian dari perdebatan, dan dinilai sebagai ekses dari perdebatan ilmiah. Sehingga tidak menjadi kegaduhan sosial. Tidak jarang pula, antara ulama dan ilmuwan kristen, yahudi pun bersitegang tentang banyak hal, salah satu tema yang menarik  perhatian mereka adalah tentang penistaan atau السب. Sehingga seorang ulama syafi’iyah, Taqiyuddin ‘Ali bin ‘Abdul Kafi al-Subki al-Syafii, terpancing menulis sebuah buku yang berjudul al-syaif al-maslul ‘ala man sabba rasulallah, atau pedang terhunus bagi orang yang menghina rasulallah s.a.w. Membaca karyanya ini, memunculkan pertanyaan, bagaimana sejatinya pandangan Islam terhadap penista agama?

Terkait persoalan “hina-menghina” di zaman al-Subki, sekitar 683 H, telah menjadi tema yang menarik perhatian ulama. Perdebatan, dan khilafiah pun bermunculan terkait ini. Dicatat oleh Al-Subki terkait isu ini tampil ulama-ulama, lengkap dengan kitab-kitabnya seperti Imam Abu Abdullah Muhammad bin sahnun al-Qayrawani, melalui risalatan fi man sabba an-nabiya s.a.w; Imam al-Kabir al-Qadi ‘Iyad al-Maliki dengan karyanya Al-Syifa bi ta’rifi huquq al-Mustafa s.a.w; Abu Abas Ahmad ibn Taimiyah al-Harani Al-Hanbali tampil dengan karyanya Al-Syarim al-Maslul ‘ala Tsatam al-Rasul; Muhyiddin bin Qasim al-Ruumi al-Hanafi dengan kitabnya Al-Saif al-Mashur ‘ala al-dzindiq wa sabba rasul. Banyak lagi yang dicatat oleh Taqiyuddin al-Subki, sehingga dapat dipastikan persoalan penistaan ini sudah muncul di awal-awal Islam, hanya saja semangatnya bergulir dalam konteks ilmu. Kendati tidak jarang pula, kasus penistaan ini menimbulkan konsekuensi politik, tidak saja bagi pelaku bahkan bagi ulama yang diduga menistakan agama.

Berbagai pandangan ekstrim terkait penistaan dikalangan ulama Syafii; Maliki; dan Hanbali; serta Hanafi dapat dilacak pada kitab-kitab yang disebut di atas.  Misal, Syeikh al-Islam Zakariya al-Anshari dan muridnya Imam ibn Hajar al-Haitami dikelompok pada ulama yang mendukung pandangan bahwa orang yang dengan sengaja menghinakan rasulullah s.a.w dapat dikelompokkan sebagai orang yang rusak akidah mereka. Karena hukumnya adalah dibunuh. Tapi ada lawahiq atau syarat dari justifikasi seperti ini, yakni dengan sengaja atau qasd.

Menariknya, Taqiyuddin Al-Subki mengisyaratkan jika si-penghina menyadari kesalahannya, dan bertaubat, maka bagi mayoritas ulama’ Syafiyah menyebabkan gugurnya hukum mati. Kendati demikian, permaafan itu mestilah dibarengi dengan qarain atau fakta yang menunjukkan ia benar-benar mengakui kesalahan

Menariknya, Taqiyuddin Al-Subki mengisyaratkan jika si-penghina menyadari kesalahannya, dan bertaubat, maka bagi mayoritas ulama’ Syafiyah menyebabkan gugurnya hukum mati. Kendati demikian, permaafan itu mestilah dibarengi dengan qarain atau fakta yang menunjukkan ia benar-benar mengakui kesalahan. Lantas, apakah minta maaf termasuk qarain atau indikator yang menggugurkan hukum keras tersebut? Taqiyuddin Al-Subki menegaskan pandangannya bahwa mereka yang telanjur melakukan penghinaan kemudian mengakui kesalahan, maka tetaplah mereka dalam Islam, dan tidaklah pantas darah mereka bersimbah.

Taqiyuddin al-Subki tampaknya menyakini bahwa permintaan maaf dan mengakui kesalahan sudah cukup mengugurkan hukuman. Tidak perlu ada lagi fakta lain seperti kesungguh-sungguhan bertaubat. Sebab ini adalah persoalan batiniah, yang hanya Allah s.w.t yang paling Maha Mengetahui. Lantas, bagaimana jika dari kalangan non-muslim yang melakukan penistaan tersebut? Sebagian ulama memfatwakan untuk dihukum mati atas orang non-muslim yang secara sengaja menghina Rasulullah s.a.w, dengan berhujjah dengan taqriri Nabi s.a.w tatkala para sahabat membunuh Ka’ab bin al-Asyraf, seorang Yahudi Madinah, yang telah menghina Allah dan Nabi Muhammad melalui syair-syairnya. Inilah kemudian yang menjadi dasar mengapa Taqiyuddin al-Subki membenarkan hukuman yang keras pada kalangan non-muslim yang dengan sengaja menghina Islam. Namun, itu dilakukan setelah tampak dengan jelas orang tersebut secara konsisten mengobarkan kebencian terhadap Islam.

Dalam kitabnya al-saif al-maslul ‘ala man sabba rasul, mengkategorikan beberapa hukum terhadap penista. Pertama, jika dia seorang muslim, dan kemudian mengakui kesalahan, maka permaafan jauh lebih baik. Kedua, begitu juga adanya bagi orang kafir yang terlanjur menistakan Islam, apapun konteksnya, jika mereka mengakui kesalahan, maka cukup lah hal itu mengugurkan hukuman. Hal ini berpijak pada Q.S. Al-Anfal: 38. Kendati demikian, perlu juga memperhatikan bagaimana Nabi Muhammad s.a.w memperlakukan Ka’ab bin Zuhair melalui syairnya yang menghina dan memfitnah Nabi Muhammad s.a.w sebagai pemabuk. Lantas, Nabi Muhammad s.a.w membiarkan sahabat mencari dan akan membunuh Ka’ab bin Zuhair. Sampai akhirnya Ka’ab dengan cara yang menakjubkan datang, dan menyatakan permintaan maafnya. Lantas Nabi s.a.w pun memberi maaf, dan Ka’ab bin Zuhair pun memeluk agama Islam.

Bagaimana uraian al-Subki ini direlasikan dengan kasus Ahok? Terlepas berbagai pembelaan dan serangan terhadap Ahok, menistakan atau tidak, sejatinya setelah permintaan maaf Ahok, dengan kesunguh-sungguhannya untuk tidak mengulangi, cukuplah mengakhiri polemik ini. Ini adalah satu dari pendapat. Sementara pandangan lainnya, Ahok tetaplah dihukum, karena permintaan saja tidak cukup. Karena qarain permintaan maaf belumlah mengugurkan hukuman yang layak bagi Ahok. Kedua pandangan ini mestilah dilihat secara jernih, dan dicarikan kanal penyelesaiannya oleh negara. Sebab pandangan ini sudah ada dan berakar dalam tradisi intelektual Islam terkait penistaan terhadap Islam. Ini tidak akan berhenti, “sitegang-urat leher” akan terus berlanjut. Karena masing-masing mazhab punya dalil yang mendasarinya. Disinilah negara harus hadir. Menjadi kekuatan yang netral, lengkap dengan alat hukum serta mekanisme yang dimilikinya. Dengan demikian, kehadiran negara harus benar-benar nyata. Alhasil, selesailah polemik ini. Semoga.[]

Rujukan:

Taqiyuddin ‘Ali bin Abdul Kafi al-Subki al-Syafii. Al-Saif al-Maslul ‘Ala man Sabba Rasul saw. (Oman: Dar al-Fath: tt).

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY