Ponpes Ashhabul Yamin Agendakan Temu Alumni Juli 2017

Ponpes Ashhabul Yamin Agendakan Temu Alumni Juli 2017

138
0
Buya Zamzami Yunus di tengah para santri/dok. Ashhabul Yamin

Pondok Pesantren Ashhabul Yamin Juli depan akan menyelenggarakan temu alumni. Pesantren yang berdiri sejak 1992 telah meluluskan ribuan alumni. Rinal Wahyudi ditunjuk sebagai ketua panitia penyelenggara hajatan akbar ini. Acara disusun sebagai bentuk syukur, ungkapnya, atas telah berjalannya Ponpes binaan Buya Zamzami Yunus selama 25 tahun.

Tarbijah Islamijah mewawancarai Wahyudi tentang ide besar acara ini. Pembicaraan juga berlajut pada dunia pesantren, dimana Ashhabul Yamin dan alumninya ikut terlibat dalam dinamikanya. Berikut petikannya;

Bisa Anda ceritakan latar belakangan acara temu alumni Ashhabul Yamin Juli depan?

Acara diagendakan 8-9 Juli 2017. Rencana awalnya untuk mengadakan tasyakuran 25 tahun Ponpes Ashhabul Yamin. Salah satu agendanya adalah temu alumni. Namun bukan agenda utama. Tapi memang sudah lama temu alumni tidak diadakan. Kepengurusannya juga sudah lama tidak ditukar. Acara-acara alumni juga sudah lama tidak ada. Jadi temu alumni ini jadi ajang refresh-lah dengan (pergantian) kepengurusan yang rasanya bisa lebih aktif.

Bgaimana Anda melihat perjalanan Ponpes Ashhabul Yamin 25 tahun ini dengan niat awalnya pendiriannya?

Salah satu agenda acara nanti, rencananya, akan diputar semacam video dokumentar, tapi tidak telalu mendalam. Isinya Flesback kisah dari dulu sampai sekarang, untuk mengenang perjalanan pondok pesantren.

Terkait dengan rencana yang telah ditargetkan di awal (pendirian sekolah) alhamdulillah (sudah tercapai). Murid di Ashhabul Yamin sudah banyak. Targetnya seperti motto Ashhabul Yamin; ulama waristastul ambiya. Untuk menciptakan itu, beberapa alumni Ashhabul Yamin pun sudah banyak yang membuka (mendirikan) pesantren, seperti di Tembilahan dan Batam.

Rinal Wahyudi/dok.pribadi
Rinal Wahyudi/dok.pribadi

Melihat pendirian awalnya untuk menjawab krisisi moral di masyarakat, sejauh ini bagaimana kehadirian Ponpes Ashhabul Yamin untuk memenuhi harapan tersebut?

Kalau untuk memenuhi semua keinginan masyarakat tentu tidak (terpenuhi). Namun sebagian harapan masyarakat sudah terpenuhi, misalnya kalau ingin mencari imam untuk salat tidak susah, mencari khatib untuk salat Jumat tidak susah. Saat ini, pola masyarakat pun juga banyak yang berubah. Masyarakat sekarang juga telah banyak yang mengerti tentang agama.

Target ke depannya, kalau bisa, kita bayangkan alumni dapat ikut mengembangkan sekolah dengan mempertahankan pola-pola yang sudah ada dan tambahannya disesuaikan dengan modernnya.

Modern, maksudnya?

Iya. Disesuaikan dengan zamannya. Contohnya e-learning. Mungkin yang ingin belajar kitab bisa ditambah dengan video. itu salah satunya.

Terkait dengan belajar kitab, Ashhabul Yamin dikenal kuat dengan pembelajaran kitab kuningnya. Bisa Anda gambarkan kunci pendidikan kitab kuning di Ashhabul Yamin?

Yang lebih tepat menjawab tentu pihak sekolah bagian pendidikan. Cuma yang pernah saya rasakan, sebagai pengalaman; Pertama. Gurunya mesti gigih. Target yang ingin dicapai, misalnya ingin membuat santrinya mengerti kajian dasar di pondok pesantren, target itu mesti tercapai di akhir tahun. Kedua, dalam ilmu pendidikan, bisa (cakap belajar) itu karena terbiasa. Pribahasa Minangnya, pasa jalan dek batampuah, lancar kaji dek baulang. Mengaji malam hari sebagai upaya mengulang kaji. Apapun yang sudah dipelajari siangnya, bisa diulang malam harinya. Jadi pelajaran bisa hapal tanpa dihapalkan.

Ketiga, lingkungan. Misalnya santri tinggal di asrama, seniornya sering bertanya, jadi kompetisi sesama santri. Begitu juga lingkungan belajar di kelas. Kontribusi guru sangat penting, misalnya ketika belajar kitab kuning, murid ditunjuk langsung secara acak oleh guru untuk memberi harkat. Jadi, jauh hari murid sudah siap. Tanpa sengaja dia akan mengerti dengan apa yang akan dipelajarinya.

Jadi rumusnya adalah guru, murid, dan lingkungan. Semuanya mendorong agar murid dapat gigih dalam belajar. Buya pun begitu, apa pun yang sekiranya menghambat santri untuk belajar kitab kuning, dihapuskan. Misalnya belajar silat malam hari, karena dapat menjadi alasan tak maksimalnya belajar besok harinya, belajar silat pun dihapuskan.

Melihat tiga kunci tersebut, apa rencana dan program kongkret alumni untuk menjaga dan meningkatnya?

Kita lihat nanti. Kita juga belum tahu siapa yang akan menjadi ketua alumni dan program-programnya (sambil ketawa).

Tapi kalau ide yang muncul sudah banyak. Salah satunya adalah bimbingan konseling untuk guru. Harapannya setiap guru dapat membaca karakter murid. Sebenarnya, kalau hati murid senang dalam belajar, ilmu bisa didapatkan.

Untuk murid, melihat pengalaman, biasanya ada murid yang pindah ketika naik kelas lima. Rencananya ke depan ada orientasi untuk murid di kelas empat. Bagaimana caranya agar adik-adik di kelas empat tidak pindah ketika naik ke tingkat Aliyah.

Kalau mengembangkan sekolah, dengan memperbanyak promosi dan memperbaiki mutu internal sekolah. Intinya pada mutu sekolah.

“Ide yang muncul sudah banyak. Salah satunya adalah bimbingan konseling untuk guru. Harapannya setiap guru dapat membaca karakter murid.”

 

Selanjutnya, bagaimana Anda melihat peran alumni pesantren dengan persoalan agama yang terjadi di masyarakat belakangan ini?

Persoalan agama (belakangan ini) dapat kita katakan besar. Mungkin kita bisa pakai stategi; ikuti arus, asal bisa sampai ke tujuan.

Maksudnya?

Iya, sedikit moderat dalam beragama. Nabi pun dahulu seperti itu dalam menyebarkan agama, tidak keras. Nabi menjadi keras karena cara-cara lunak tak mungkin lagi dilakukan. Sebenarnya masalahnya saat ini sudah kompleks. Banyak orang tua membiarkan anak-anaknya. Tetangga pun begitu, jika melihat seorang anak salah juga dibiarkan.

Terakhir, apa harapan Anda untuk pesantren-pesantren dalam hal ini?

Pesantren-pesantren menjadi tempat bertanya masyarakat. Pesantren juga harus saling menyokong dalam undang-undang beragama. Jadi jangan sampai salah paham antar pesantren atau berbeda paham. Karena mimpi kita sama dalam beragama. Pesantren punya visi yang sama, meskipun misi dan langkahnya berbeda-beda.[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY