PPTI Malalo, Tarbiyah Islamiyah di Tepi Singkarak

PPTI Malalo, Tarbiyah Islamiyah di Tepi Singkarak

772
1
Pondok Pesantren Tarbiyah Islamiyah Malalo.

Pondok Pesantren Tarbiyah Islamiyah (PPTI) Malalo terletak di Jorong Padang Laweh, Kenagarian Padang Laweh Malalo, Kec. Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, tepatnya di tepi Danau Singkarak.

Sebelum berdirinya Madrasah ini, masyarakat mempelajari ilmu agama di masjid, surau dan rumah-rumah penduduk. Kegiatan yang dikenal dengan wirid” ini sudah mendarah daging bagi masyarakat yang diikat filosofi hidup,Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”. Adapun pelajarannya adalah dari kitab kuning, seperti; Nahwu, Sharaf, Fiqih, Ushul Fikih, Tauhid, Tasauf, dan lain-lain.

Melihat apresiasi masyarakat yang tinggi terhadap pendidikan agama melalui kegiatan wirid tersebut, timbullah gagasan dari pemuka masyarakat, alim-ulama serta cadiak pandai untuk mendirikan sebuah sekolah agama di Nagari Malalo. Kerja sama Syekh H. Zakaria Labai Sati bersama seluruh lapisan anggota masyarakat akhirnya berhasil mendirikan sekolah yang diberi nama Madrasah Tarbiyah Islamiyah di Nagari Malalo, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, Sumbar. Madrasah ini berdiri tahun 1930 dan langsung dipimpin oleh Syekh Zakaria.

Dibantu guru-guru yang lainnya, seperti Buya Dt. Pangulu Kayo dan Engku Lukman Hakim, tahun demi tahun Madrasah ini popular di tengah-tengah masyarakat. Terbukti dengan banyaknya santri yang berdatangan untuk menuntut ilmu, hingga mencapai seribu orang. Santri tersebut berasal dari berbagai daerah, ada yang dari Jawa, Aceh, Palembang, Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, serta dari Sumatera Barat sendiri.

Jumlah santri yang terus berdatangan setiap tahunnya tentu memerlukan pemondokan, untuk sarana tinggal mereka selama belajar di Madrasah ini. Maka dibangunlah sebuah Mushalla yang dikenal dengan sebutan ‘Surau Tinggi’ sebagai tempat tinggal Kepala Sekolah sekaligus Asrama Putri. Sementara untuk yang putranya ditampung di rumah-rumah penduduk dengan penuh rasa kekeluargaan.

Tahun demi tahun santri Madrasah ini kian bertambah jumlahnya sehingga sarana pendidikan yang tersedia tidak mampu lagi menampung para santri. Pada tahun 1996, masih di daerah Jorong Padang Laweh, di sebidang tanah wakaf, dibangunlah sebuah bangunan tujuh ruang belajar. Bangunan tersebut dibangun dengan dana swadaya masyarakat serta bantuan pemerintah. Kegiatan pembangunan lokal ini dilaksanakan oleh masyarakat dan santri secara gotong royong.

Pendidikan di Madrasah ini laksana obor yang menerangi kegelapan malam. Namun perjalanan madrasah tidaklah mudah. Tahun 1973 Buya Zakaria selaku pendiri serta tulang punggung Madrasah meninggal dunia. Ini cobaan yang sangat berat bagi kelangsungan pendidikan di Madrasah ini. Dapat dibayangkan betapa haru dan sedihmya suasana yang menyelimuti Madrasah ini pada waktu itu.

Selanjutnya kepemimpinan Madrasah dilanjutkan Tengku Datuak Tianso Nan Putiah. Namun kepemimpinannya tidak berjalan lama. Pada tahun itu juga kepemimpinan tersebut beliau serahkan kepada putra sepupunya, Buya Tengku M. Yunus. Beliau memimpin Madrasah ini dalam waktu yang tidak begitu lama. Kepemimpinan Madrasah, ia serahkan pula kepada anak kandungnya, Buya Tengku Aidarus Z. Tak berakhir disitu, Buya Aidarus Z menyerahkan pula kepemimpinan madrasah ini pada Ustadz Samsuardi. Masa pergantian kepemimpinan yang silih berganti ini terjadi dalam satu tahun setelah kepergian Buya Zakaria .

Pada akhir 1974, kepemimpinan Madrasah ini dipercayakan kepada Nur’aini Z, putri Buya Zakaria. Di masa beliau inilah perlahan-lahan laju pendidikan Madrasah mulai bangkit dari keterpurukkannya sepeninggalan Buya Zakaria. Ia memimpin Madrasah ini sampai akhir hayatnya.

Tepat pada 26 September 1986 M, beliau meninggal dunia. Dengan begitu, para pemuka masyarakat mengadakan musyawarah guna mencari pengganti Nur’aini Z. Musyawarah ini menemukan kata sepakat. Pemuka masyarakat meminta kesedian Buya H. Thaharuddin Labai Sutan untuk melanjutkan jalannya roda pendidikan Madrasah. Buya dilantik sebagai Pimpinan Madrasah Tarbiyah Islamiyah oleh Bupati Tanah Datar Ikasuma Hamid dan di hadiri pula oleh Pembantu Gubenur Wilayah II Hasan Basri pada akhir tahun 1986 M.

Pada 28 Desember 1988 Madrasah ini resmi menjadi Pondok Pesantren dengan nama Pondok Pesantren Tarbiyah Islamiyah Malalo, diresmikan Gubernur Sumatra Barat Azwar Anas. Dalam masa kepemimpinan Buya H. Thaharuddin Labai Sutan kepengurusan pondok, yang dulunya semua kepengurusan diemban Pimpinan, dibagi. Kepengurusan Aliyah dikepalai oleh satu orang kepala sekolah bagitu pun dengan bagian yang Tsanawiyahnya.

Setelah sekian lama Buya Thaharuddin Labai memimpin, semakin hari kesehatannya semakin menurun dan tidak dapat melaksanakan tugas sepenuhnya. Untuk itu Buya Thaharuddin Labai berinisiatif menyerahkan kepemimpinan kepada orang yang bisa mengantikan.

Kepemimpinan diserahkan kepada putra kandung Almarhum Buya H. Zakaria Labai Sati, yaitu Izzuddin Datuak Ponduko Nan Banso, 4 Dzulhijjah 1432 H/11 Desember 2010 M. Dan pengukuhan Kepemimpinan tersebut dilaksanakan tanggal 27 Muharram 1432 H/2 Januari 2011 M. Izzuddin Datuak Ponduko Nan Banso masih menjabat sampai sekarang. Untuk mendukung kepemimpinan ini supaya kegiatan Pesantren berjalan dengan lancar maka di bentuklah struktur kepegurusan Pondok Pesantren Tarbiyah Islamiyah Malalo sebagai berikut:

STRUKTUR ORGANISASI PPTI MALALO PERIODE 2015 / 2020

NoJABATANNAMA
1DEWAN PELINDUNGCamat Batipuh Selatan
Kapolsek Batipuh Selatan
KUA Batipuh Selatan
UPT Dinas Pendidikan
Wali Nagari Padang Laweh Malalo
Wali Nagari Guguk Malalo
H. Nurijal
Samsuar Pakiah Marajo
H. Agus Salim
2KETUA YAYASANDrs. Asril Lusa, SH. MH
3PEMBINAM. Karimuddin PK. Batuah
4KETUA PEMBANGUNANM. N. DT. Rajo Langik
5PIMPINAN PONDOKIzzuddin DT. Panduko Nan Banso
6WAKA KESANTRIANHeri Fakhrial
7WAKA KURIKULUMLasykar Harun Tgk. Nan Kuniang
8KEPALA SEKOLAH TK ALIYAHZulmas S.Pd. I
9KEPALA SEKOLAH TK TSNAWIYAHDarnis, BA
10SEKRETARIS IErmawati S.Pd.I
11SEKRETARIS IIVivi Lolita
12BENDAHARA IHusnil Hidayah
13BENDAHARA IINur Azizah
14KAUR TURita Milhayati

 

Bangunan lama PPTI Malalo.
Bangunan lama PPTI Malalo.

Setelah pembongkaran bangunan kelas pada awal tahun 2015, saat ini Pesantren memiliki 10 lokal permanen untuk belajar, perpustakaan, kantor majelis guru, kantor Pimpinan, ruangan TU, Kantor OSTI, kantin sekolah,  sarana olahraga (lapangan vollyball, lapangan futsal, lapangan takraw, lapangan bulu tangkis dan pimpong), Mushala, asrama putra, dan asrama Putri. Semuanya dalam satu komplek Pesantren seluas 5,348 M2.

Saat ini santri yang belajar di Pesantren ini berjumlah 230 orang. 70% santriwati dan 30% santriwan. Para santri ini berasal dari berbagai daerah. Mereka berasal dari Sumbar sendiri seperti dari Pesisir Selatan, Pariaman, Padang Panjang, Solok, Solok Selatan, Pasaman, Darmasraya, Sijunjung, dan Sawah Lunto. Ada juga yang berasal dari luar Sumbar seperti Riau, Bengkulu, Palembang, Sumatera Selatan dan Jambi. Bagi santri perantau yang berasal dari negeri yang jauh, mereka semuanya tinggal di asrama. Mereka tidak boleh mengontrak. Santri rumahnya dekat dengan Pesantren, mereka pulang-balik setiap hari. Kelas I semuanya wajib tinggal di asrama.

Di Pesantren ini santri dididik selama tujuh tahun; tingkat pertama empat tahun tingkat Tsanawiyah dengan menerima Ijazah Tsanawiyah Pondok dan Ijazah Tsanawiyah Negeri. Dan tingkat keduanya tiga tahun tingkat Aliyah dengan menerima Ijazah Aliyah Pondok dan Ijazah Aliyah Negeri.

Adapun kurikulumnya, di tingkat Aliyah memiliki satu jurusan yaitu, Jurusan MAK, dan di tingkat Tsanawiyah disetarakan dengan pelajaran MTsN. Dan pelajaran kitab yang diajarkan kepada santri adalah;

  1. Fiqih : Matan Taqrib, Fathul Qarib, I’anah Ath-thalibin, Al-Mahalli
  2. Nahwu : Matan Jurumiyah, Mukhtashar Jiddan, Al-Kawakib, Al-Khudri
  3. Shorof : Matan Al-Bina, Al-Kailani, Mathlub
  4. Tauhid : Matan As-Sanusi, Kifayatul ‘Awam, Fathul Majid, Ad-Dasuqi
  5. Tasauf : Akhlaquli Banin, Taisirul Khalaq, Muraqil ‘Ubudiyah, Al-Hikam
  6. Tafsir : Al-Qur’an, Jalalain
  7. Hadits : Arba’in Nawawiyah, Mukhtarul Ahadits, Jauharul Bukhari
  8. Tarekh : Khulashoh Nurul Yaqin Juzu’ I, II & III, Nurul Yaqin
  9. Musthalah : Mushtalah Hadits, Baiquniyah
  10. Ushul Fiqih : Waraqat, Lataiful Isyarah, Ghayatul Ushul
  11. Mantiq : Idhahul Mubham, As-Sulam Lilmalwi
  12. Balahgah : Majmu’ Khamsu Ar-Rasail, Jauharul Maknun

Terkhusus bagi kelas I tingkat Tsanawiyah, santri tidak belajar umum. Santri hanya diajarkan pelajaran pondok. Karena di kelas I inilah dimulai pembekalan ilmu, teristimewa pelajaran Nahwu dan Sharaf. Kelas I ini juga merupakan masa orientasi serta penentu untuk kelas-kelas selanjutnya. Kalau misalkan di kelas I sudah mantap, maka untuk ke kelas atasnya akan mudah, begitupun sebalinya.

Kegiatan ekstra kurikuler untuk pembekalan para santri yang ada di Pesantren ini adalah; Ilmu Tariqat Naqsabandi, Tariqat Satari, Tahfizul Qur’an, Muhadharah, Kaligrafi, Tilawah, Jurnalistik, ilmu bela diri dan Olahraga (renang, sepak bola, futsal, vollyball, takraw, bulu tangkis, pimpong).

Santri berpose di depan PPTI Malalo
Santri berpose di depan PPTI Malalo

Supaya para santri terbiasa dengan suasana organisasi, dan juga sebagai sambung kaki tangan para guru. Ada organisasi santri yang bernama Organisasi Santri Tarbiyah Islamiyah Malalo atau disingkat dengan OSTI Malalo. Kalau ada acara-acara akbar yang diadakan di Pesantren, maka OSTI lah yang menjadi panitianya. Selain itu, santri yang hobi tulis-menulis dan yang berbakat di bidang jurnalistik ada pula organisasinya. Organisasi ini bernama Tarbiyah Islamiyah Malalo Enter Reporter atau disingkat dengan TIMER. Berita atau tulisan yang ditulis di Mading sekolah dan dipostingkan ke blog TIMER.

Asrama sama juga seperti di sekolah, santri memiliki organisasi kepengurusa asrama, yang dibimbing oleh guru pembina asrama. Pengurus ini ditunjuk kepada santri yang senior, supaya bisa mengatur adik-adik di bawah kelasnya dalam belajar, beribadah dan kedisiplinan. Para senior yang berprestasi ditugaskan untuk mengajar adik-adik kelasnya pada malam hari. Hanya sekedar menyumbangkan ilmu yang sudah didapat dan menambah mantapnya ilmu tersebut serta mendidik mereka menjadi pemimpin di tengah-tengah komunitasnya. Dari dulu hingga sekarang tradisi seperti ini masih tetap dipertahankan.

Tamat dari Pesantren ini, melalui ujian praktek khusus dari sekolah, para santri harus bisa membaca kitab yang tidak berbaris; kerap dikenal dengan sebutan Kitab Kuning, hafidz al-Qur’an paling kurang dua juz, pandai mengajar, bisa menyelenggarakan mayat, khotbah dan keterampilan lainnya. Hal ini dipersiapkan agar alumni-alumni tamatan Pesantren ini bisa lansung terjun ke masyarakat.

Bagi santri yang sudah menginjak tingkat Aliyah diperbolehkan untuk masuk dan berbai’at serta mengamalkan kajian Tariqat. Selain itu, masyarakat yang dekat rumahnya dengan komplek Pesanren juga bisa ikut serta. Mursyidnya adalah guru di pesantren ini sendiri yaitu, Buya M. Karimuddin Jamal Pakiah Batuah. Beliau boleh membai’at dua buah Tariqat, satu Tariqat Naqsabandi dan satu lagi Tariqat Satari. Tetapi, yang beliau prioritaskan yang untuk diamalkan bagi para santri hanya Tariqat Naqsabandi. Kegiatan Wirid Tariqat Naqsabandi tersebut dilaksanakan setiap malam Selasa di Mushallah Raudhatul Ibadah yang berada di komplek Pesantren, dan dipimpin langsung oleh Buya Karim sendiri.

Beliau menuntut ilmu Tariqat Naqsabandi ini langsung dari pendiri pondok yaitu Syeikh Zakariya Labai Sati. Sedangkan untuk Tariqat Satari beliau dapat dari menuntut kepada Syekh Ali Imran, pendiri Pondok Pesantren Nurul Yaqin di Pariaman. Ilmu Tariqat ini beliau ajarkan juga ke masyarakat banyak yang sepaham dengan beliau.

Diluar itu, yang menarik dari Pesanren ini adalah letaknya yang strategis. Teletak tepat di tepi Danau Singkarak yang diapit oleh Gunung Merapi dan Gunung Talang. Pemandangan air danau beriak-riak terbentang  indah yang dikelilingi oleh bukit-bukit yang membuat hati senang menyapukan pandangan serta penghilang stres bagi para santri setelah menghafal. Di tepi danau tersebut dibuat tempat duduk di bawah naungan pohon yang nyaman untuk tempat santai untuk menghafal.

Para santri mandi di danau ini. Mereka juga mencuci pakaian, berwudhuk dan lain-lain di sana. Asrama (putra dan putri) terletak di tepi danau, jaraknya hanya lima meter dari bibir danau. Hal ini sangat menguntungkan para santri, airnya tidak akan habis-habis bila dipakai, selain juga asik dan nyaman.[]

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY