Profil Ponpes Ashhabul Yamin

Profil Ponpes Ashhabul Yamin

1754
1
Ponpes Ashabul Yamin, Lasi, Kabupaten Agam.

       Pondok pesantren Ashhabul Yamin terletak di kaki gunung Marapi. Kawasan dengan udara sejuk dan pemandangan persawahan yang menghijau tersebut tak lain adalah sebuah desa yang bernama Lasi Tuo, terletak di Kecamatan Canduang Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Di masa dahulunya, Lasi Tuo adalah sebuah desa yang minim sarana pendidikan dan kehidupan masyarakat masih di bawah garis kemiskinan. Masyarakat Lasi Tuo pada saat itu masih buta tentang pentingnya pendidikan, kemiskinan, kesenjangan sosial telah menutup pemikiran mereka. Oleh karena tu, animo masyarakat sangat kurang terhadap pendidikan. Keadaan itu sangat berimbas pada pembangunan desa yang terbilang lambat.

Pondok Pesantren Ashhabul Yamin dibangun pada Agustus 1992 oleh inisiatif dan keinginan Buya Zamzami Yunus. Buya sendiri adalah seorang ulama yang berasal dari Lasi Tuo. Beliau merupakan alumni MTI Canduang, dan alumni Busthanul Muhaqqiqin, Malalo. Buya juga pernah mengajar di dua madrasah tersebut selama puluhan tahun. Saat mengundurkan diri sebagai tenaga pendidik di MTI Canduang, beliau berniat membangun sebuah pondok pesantren. Beliau berkeinginan memajukan Lasi Tuo dan masyarakat umumnya.

Buya bekerjasama dengan sejumlah tokoh masyarakat Lasi Tuo, yaitu Bapak Malin Daro. Pembangunan pondok pesantren dimulai di sebuah tanah waqaf milik Malin Daro tersebut.

Pondok pesantren Ashhabul Yamin berhasil dibangun. Kala itu ponpes masih sangat sederhana bangunannya. Ashhabul Yamin hanya menerima 19 murid dengan empat tenaga pengajar, yaitu Buya Zamzami Yunus, Ustad Marzuk Malin Kayo, Ustad Syafrizal Khatib Mangkuto, Ustad Ahmad Dardir Pakiah Bandaro dan Ernawati (almh) di bidang tata usaha.

Sistem pendidikan yang dianut Ashhabul Yamin pada waktu itu adalah sistem pendidikan salafiah atau halaqah. Kurukulum yang di pakai hanya terbatas pada kurikulum pondok. Kurikulum ini diatur untuk pendalaman ilmu Nahwu, Sharaf, tafsir, fiqih dan lain–lain.

Pada mulanya hanya terdapat tiga ruangan semi permanen untuk proses belajar mengajar. Perkembangan proses belajar mengajar pada waktu itu masih sangat memprihatinkan. Para santri hanya belajar pada ruangan sederhana. Uang sekolah yang dipungut dari santi hanya cukup untuk membeli kapur tulis. Dan para tenaga pengajar digaji dari infak masyarakat.

Dari segala keterpurukan itu, Ashhabul Yamin bangkit mengepakkan sayapnya. Dengan tekad yang kuat, buya bersama Ketua Yayasan mengembangkan Ashhabul Yamin sebagai wujud lentera di tengah hitamnya kehidupan masyarakat.

Struktur Organisasi Pondok Pesantren Ashhabul Yamin

Pada mulanya, struktur organiasi di Ashhabul Yamin hanya memakai sistem pondok. Seiring berkembangnya waktu dan demi mengikuti arus zaman, Ashhabul Yamin mulai ikut berkecimpung dalam pendidikan modern. Dalam pendidikan umum, ada dua tingkatan, yaitu Madrasah Tsanawiyah yang merupakan sekolah setingkatan SMP, dan Madrasah Aliyah setingkatan SMA. Kedua tingkatan ini memiliki masa belajar tiga tahun.

Struktur organisasi pondok memfokuskan pada program pelajaran kitab kuning atau kitab gundul, seperti pelajaran Nahwu, Sharaf, Mantiq, Balaghah dan lain–lain. Pelajaran-pelajaran itu tak lain adalah alat untuk dapat membaca sendiri kitab–kitab lain, seperti Fiqih, Tashauf, Hadist, Tafsir. Pelajaran tersebut juga berguna untuk memahami kaedah–kaedah bacaan di dalam kitab gudul lainnya. Proses belajar di pondok selama tujuh tahun.

Tampak dari depan, gedung Ponpes Ashhabul Yamin, Lasi, Agam, Sumatera Barat. Dok. Istimewa.
Tampak dari depan, gedung Ponpes Ashhabul Yamin, Lasi, Agam, Sumatera Barat. Dok. Istimewa.

Sarana dan Prasarana Pondok Pesantren Ashhabul Yamin

Sarana dan prasarana sekolah meliputi berbagai hal, diantaranya: lokal, perpustakaan, ruangan labor, kantor dan ruangan guru, kantin sekolah dan sistem sanitasi atau pembuangan di sekolah. Pada saat ini, sarana dan prasarana di Pondok Pesantren Ashhabul Yamin masih dalam tahap perkembangan. Pada 2015 ini Ashhabul Yamin dalam penambahan bangunan. Hal ini disebabkan karena membludakya peserta didik dua tahun ke belakang ini.

Bagi santri yang berasal dari luar kota atau luar daerah, disediakan beberapa asrama yang cukup memadai. Asrama putri berada di dalam komplek sekolah. Sedangkan untuk asrama putra terletak di luar komplek sekolah. Untuk perpustakaan, ruangan administrasi dan kantor sudah memadai. Sedangkan untuk ruangan labor masih dalam tahap pengembangan.

Walaupun Ashhabul Yamin berada di sekitar pemukiman penduduk, udaranya cukup bersih dan jauh dari polusi dan pencemaran. Setiap santri diajarkan untuk hidup bersih dan sehat. Mereka dilarang membuang sampah sembarangan dan bagi yang melanggar akan diberi sanksi yang tegas.

Minimnya sarana dan prasarana di Ashhabul Yamin tidak menyurutkan semangat para peserta didik. Ini malah berguna untuk mengajarkan mereka hidup apa adanya, dan mengajarkan mereka berpikir bagaimana caranya berprestasi di tengah keterbatasan.

Tenaga Pendidik  dan  Santri di Ashhabul Yamin

Tenaga pengajar di Ashhabul Yamin merupakan lulusan dari berbagai perguruan tinggi di dalam dan luar Sumatera Barat. Khusus pendidikan pondok, tenaga pengajar didominasi oleh alumni Ashhabul Yamin sendiri. Kebanyakan mereka adalah guru laki–laki/ustad. Sedangkan dalam pendidikan umum, kebanyakan guru berasal dari luar Ashhabul Yamin. Mereka kebanyakan adalah guru perempuan yang datang dari berbgai daerah, seperti Canduang, Kamang, Padang Panjang, dan beberapa guru dari Lasi Tuo.

Hingga saat ini, tercatat 177 santri dan 128 santriwati di Ashhabul Yamin. Para peserta didik datang dari berbagai tempat. Selain dari Lasi Tuo sendiri, banyak dari mereka datang dari luar kota dan luar Lasi, diantaranya dari Riau, Bengkulu, Jambi, Pekan Baru, Tembilahan, Bukittinggi, Payakumbuh, Pasaman, Padang Panjang, Nusa Tenggara dan lain–lain. Kenyamanan yang telah diberikan, membuat mereka betah belajar di Ashhabul Yamin. Masyarakat yang ramah membuat mereka merasa menjadi bagian dari masyarakat Lasi Tuo. Para santri dan santriwati yang berasal dari luar kota dan luar daerah ditempatkan di asrama yang telah disediakan oleh pihak sekolah, dimana mereka dapat tinggal dengan nyaman.

Tidak semua santri dan santriwati memiliki keadaan ekonomi yang bagus. Sebagian mereka masih ada yang berada di bawah garis kemiskinan. Hal ini disebabkan karena sebagian orang tua mereka hanya berprofesi sebagai petani dan penggarap lahan yang hasilnya tidak menentu. Pihak sekolah sudah sangat memahami keadaan seperti itu, uang SPP pun sangat sesuai dengan pendapatan orang tua murid.

Kurikulum Pondok Pesantren Ashhabul Yamin

Ada dua kurukulum pendidikan di Pondok Pesantren Ashhabul Yamin, kurikulum pondok dan kurikulum 2013. Kurikulum pondok sebenarnya tidak ada perubahan yang mendasar pada setiap tahunnya. Namun apabila kita melihat beberapa puluh tahun ke belakang, kitab kuning tidak dijarkan dalam bentuk formal di sekolah. Orang–orang belajar kitab kuning di surau–surau atau di rumah seorang ustad, yang tidak terikat aturan–aturan tertentu. Berbeda dengan sekarang ini, mempelajari kitap kuning sudah secara formal dan terikat dengan aturan-aturan tertentu.

Sedangkan dalam pendidikan umum, sudah banyak terdapat perubahan-perubahan yang dapat dilihat dari masa ke masa. Di tahun 2015 ini telah dipakai kurikulum baru, yaitu kurikulum 2013. Kurikulum 2013 lebih mengedepankan keaktifan siswa. Mereka dituntut mampu untuk belajar sendiri dengan bimbingan yang intens dari seorang guru, sehingga guru hanya fasilitator dan mentor. Penerapan kurikulum 2013 sudah terlaksana, namun belum dipakai secara menyeluruh.

Kegiatan ekstrakurikuler

Setiap sekolah memiliki organisasi siswanya sendiri, misalnya di sekolah-sekolah lain pada umumnya bernama OSIS. Organisasi santri di Ashhabul Yamin bernama ISPA, singkatan dari Ikatan Santri pondok Pesantren Ashhabul Yamin. ISPA membawahi kegiatan ekstrakurikuler santri, seperti kegiatan mukhadarah, diskusi, cerdas-cermat, tidak lupa pula kegiatan olahraga. Dalam muhadharah, santri akan diajarkan motode berdakwah dengan baik, sehingga nilai-nilai kehidupan dapat dipetik dari pidato yang dibawakan.

Dalam kegiatan diskusi dan cerdas cermat, pengetahuan santri akan diuji. Diskusi adalah forum perdebatan antara nafi dan musbit, atau perdebatan antara penanya dan penjawab. Kegiatan diskusi mengangkat tentang masalah pelajaran seperti Nahwu, Syaraf, Mantiq, Balaghah. Biasanya dalam diskusi santri akan disajikan potongan ayat, para santri diberi tugas untuk memecahkan masalah pada ayat tersebut. Perdebatan bisa berlangsung sengit dan disitulah saat-saat menyenangkan.

Kegiatan ekstrakurukuler di Ashhabul Yamin bertujuan untuk mendidik para santri untuk lebih kreatif dan mandiri. ISPA contohnya, santri akan dilatih menjadi seorang pemimpin yang baik dan dapat bekerja sama dalam organisasi tersebut.

****

Setiap harinya, pondok pesantren Ashhabul Yamin selalu terlihat bercahaya dari pagi sampai malam, karena kebanyakan santri menghabiskan waktunya di sekolah. Dari pagi hari hingga sore, para santri mengikuti pelajaran formal seperti biasa. Pada sore harinya santri, khususnya yang tinggal di asrama, melakukan kegiatan yang beragam, seperti takhasus, olahraga dan latihan rebana.

Pada malam hari, santri tetap belajar. Ashhabul Yamin memiliki ciri khas yang sangat berbeda dengan sekolah–sekolah lain. Ada sistem kegiatan belajar yang unik. Selain mengikuti pelajaran formal dari pagi sampai sore, pada malam harinya juga akan ditemukan kegiatan belajar-mengajar. Kegiatan ini biasanya disebut ngaji malam. Biasanya para pelajar melakukan kegiatan belajar di rumah sendiri. Berbeda dengan Ashhabul Yamin, para santri melakukan kegiatan belajar bersama–sama. Dengan bimbingan seorang guru.

Selain dari kegiatan belajar malam, ada satu hal lagi yang menarik di Ashhabul Yamin, yaitu kegiatan takhasus. Takhasus adalah kegiatan belajar tambahan untuk menambah pengetahuan santri. Takhasus dimentori kakak kelas atau senior.  Hal ini merupakan satu hal yang sangat bagus, karena para santri dan santriwati tidak hanya dididik dengan materi pelajaran, namun juga diajarkan bagaimana menjadi guru yang baik. Hal ini bukan tidak beralasan. Takhasus dapat melahirkan tenaga pengajar sangat dibutuhkan beberapa tahun ke depan di Ashhabul Yamin. Kegiatan ini merupakan salah satu syarat kelulusan bagi santri dan santriwati yang telah duduk di kelas tujuh, sebagai ujian akhir di Pondok Pesantren Ashhabul Yamin.[]

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY