Profil SD Tarbiyah Islamiyah Curup

Profil SD Tarbiyah Islamiyah Curup

284
0
SD Tarbiyah Islamiyah Curup

Sekolah Dasar Tarbiyah Islamiyah Curup adalah sebuah sekolah swasta yang berada di Jalan Merdeka No. 45, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Curup. Lembaga pendidikan dasar yang secara resmi berdiri pada tanggal 22 Juni 1953 ini semula bernama Sekolah Rakyat (SR) Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Dengan tugas dan fungsi pokoknya menjalankan misi utama dari Persatuan Tarbiyah Islamiyah yaitu pendidikan (tarbiyah). Sebagai unit pelaksana tugas pendidikan dasar Persatuan Tarbiyah Islamiyah di Rejang Lebong, SR Perti Pasar Baru Curup mendapat pengakuan sebagai sekolah/madrasah tingkat rendah yang melaksanakan kewajiban belajar sesuai Undang-undang Pendidikan dan Pengadjaran No. 12 Tahun 1954 jo. No : 4 Tahun 1950 pasal 10 ayat 2. Hal itu tertuang dalam Piagam Pengakuan Kewadjiban Beladjar yang dikeluarkan oleh Djawatan Pendidikan Agama Kementerian Agama Republik Indonesia di Jakarta pada 1 April 1960.

Berangkat dari nilai historisnya, baik sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Kota Curup dan sekitarnya maupun sebagai bagian dari perjuangan inti Persatuan Tarbiyah Islamiyah di Rejang Lebong, Sekolah Dasar Tarbiyah Islamiyah (SDTI) Curup yang bersertifikat Nomor Pokok Sekolah Nasional 10700765 yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia pada tanggal 9 November 2009 memang menjalankan fungsi sebagai sekolah rakyat di Kota Curup dan sekitarnya. Demikian sekiranya dapat menjadi harapan umat dan warga Persatuan Tarbiyah Islamiyah Kabupaten Rejang Lebong.

Jati diri sebagai sekolah rakyat harapan umat ini telah berlaku pada SDTI Curup sejak awal kelahirannya hingga sekarang. Praktek pendidikan kerakyatan atau kemasyarakatan yang dapat dengan mudah diakses oleh semua masyarakat, terutama kalangan ekonomi menengah ke bawah, menjadi ruh dari sekolah ini. Di sisi yang lain, pembinaan budi pekerti luhur sebagaimana yang menjadi tuntunan Persatuan Tarbiyah Islamiyah, diterapkan secara bertahap dan berkesinambungan prosesnya kepada peserta didik dan dewan guru. Inilah pula yang barangkali menjadikan SDTI Curup hingga hari ini masih tegak berdiri.

Integrasi antara pendidikan masyarakat dan fungsi umat ditambah dengan hubungan yang kuat dengan masyarakat perangkat lingkungan setempat (wilayah Gang Setia, Pasar Baru dan Pasar Tengah) seperti Masjid Jamik Curup adalah hal yang tak dapat dipisahkan dalam laju tumbuh dan berkembangnya SDTI Curup. Ruh yang kuat inilah yang kemudian sempat mengantarkan SDTI Curup sebagai sekolah terbesar di Kota Curup dan sekitarnya. Hal ini bisa dilihat dari letak lokasi sekolah yang satu-satunya berada di tengah-tengah jantung Kota Curup.

Dengan posisinya yang begitu strategis, sekolah ini pada fase sejarahnya yang melekat dengan gerak perkembangan Persatuan Tarbiyah Islamiyah di Rejang Lebong dan sekitarnya, selain menjalankan fungsi dasar pendidikan nasional, juga menjalankan fungsi sebagai pintu masuk kaderisasi awal dan pendukung gerak langkah kegiatan-kegiatan Perti. Jika di Masjid Jamik Curup sebagai sentral pembinaan kegiatan keagamaan, maka SDTI Curup bersama dengan Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyah Islamiyah (MITI) Pasar Baru Curup (sekolah sorenya), menjadi pilar utama sentral pembinaan kegiatan keorganisasian. Dimana sesuai dengan agenda organisasi, gedung sekolah dan madrasah di Pasar Baru ini juga berfungsi semacam balai pertemuan bagi Perti pada zamannya. Dimana peserta didik, orang tua dan keluarganya secara otomatis juga dilibatkan dalam kegiatan Perti.

Dari rangkaian proses sejarahnya itu, peserta didik SDTI Curup dapat diidentifikasi berasal dari warga Gang Setia, Pasar Baru dan Pasar Tengah yang di zamannya kala itu merupakan wilayah jantung Kota Curup, keluarga besar Perti (tokoh dan simpatisan) dan masyarakat umum dari berbagai latar ekonomi dan sosial yang merasa perlu menitipkan pendidikan anaknya di SDTI Curup.

Proses berdirinya SDTI Curup (Tahun 1953/era 1950-an) yang mengikuti pendirian MITI Pasar Baru Curup (Tahun 1938/era 1930-an) merupakan gerak langkah perkembangan pendidikan organisasi. Dimana pendirian sekolah (SDTI) merupakan pelengkap dari pendidikan madrasah (MITI). Ini adalah upaya bagaimana perjuangan pendidikan yang digerakkan organisasi dapat seluas-luasnya diakses oleh masyarakat. Sehingga sekolah dapat menjadi pintu masuk bagi pendidikan madrasah, dan madrasah menjadi pintu masuk bagi proses perkaderan Perti.

Proses perkembangan perjuangan pendidikan dan perkaderan Perti di Kota Curup dan sekitarnya, dengan SDTI sebagai salah satu pilar sentralnya, pernah mencapai masa idealnya pada era 1950-an hingga 1990-an. Dimana SDTI dengan kurikulum integralnya yang memadukan kurikulum pendidikan pemerintah sebagaimana umumnya kurikulum sekolah dengan kurikulum pendidikan agama Islam semi madrasah. Sebab, madrasah kala itu, sebelum keluarnya Surat Keputusan Bersama (SKB) dari pemerintah, masih merupakan lembaga pendidikan yang mayoritas muatan kurikulumnya berbasis dan berorientasi pendidikan ilmu-ilmu agama Islam. Sementara Perti sendiri, pada periode awalnya adalah memang merupakan persatuan madrasah-madrasah yang merupakan wujud pengembangan yang berbasis tradisi (transformasi) dari praktik pendidikan tradisional surau-surau di wilayah Sumatera Barat yang bernama Persatuan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (PMTI).

Pada 5 Mei 1928, PMTI bermetamorfosis menjadi Persatuan Tarbiyah Islamiyah yang sebelum Orde Baru hanya dikenal dengan sebutan Perti. Organisasi yang menyatakan diri sebagai pelestari i’tiqad Ahlussunnah wal Jawa’ah, madzhab Syafi’iyah dan tarekat Naqsyabandiyah.   Sehingga untuk konteks gerak Perti di Curup dan sekitarnya, SDTI Pasar Baru Curup merupakan kontak awal bagi masyarakat untuk mengenal pendidikan agama Islam. Sebab, memang tidak semua masyarakat sadar akan pentingnya pendidikan agama Islam bagi generasi penerusnya. Di sisi lain, pendirian sekolah juga merupakan cara merangkul yang halus agar bagaimana masyarakat umum dapat secara perlahan ikut menjadi subyek penggerak perjuangan dakwah Tarbiyah Islamiyah.

Secara teknis di lapangan SDTI Curup, yang proses dan kegiatan belajar mengajaranya dilaksakan pada pagi hari, menjadi pintu masuk resmi atau utama bagi peserta didik MITI Pasar Baru Curup dan MITI Air Rambai Curup. Dan pada jenjang selanjutnya, lulusan kedua MITI itu menjadi angkatan utama peserta didik bagi Madrasah Tsanawiyah Tarbiyah Islamiyah (MTs.TI) Air Rambai Curup. Dimana sewaktu di MI peserta didik diperkenalkan dasar-dasar ilmu agama Islam seperti Bahasa Arab, Nahwu dan Sharaf, sementara di MTs mereka diperkenalkan dengan ilmu yang jenjangnya lebih tinggi melalui sumber belajar berupa Kitab Kuning. Sementara untuk SDTI Curup sendiri, lebih kepada penekanan akhlaq, kedisiplinan dan dasar aktivisme Tarbiyah Islamiyah.

Murid dan Guru

Setelah mengalami masa pasang naiknya, gerak perkembangan Persatuan Tarbiyah Islamiyah di Rejang Lebong pun mengalami surutnya. Hingga kini, unit pelaksana tugas pendidikan yang masih bertahan aktif adalah SDTI Curup, MTs TI Air Rambai Curup dan Sekolah Menegah Kejuruan 05 Pembangunan Curup. Tercatat pada laporan Oktober 2015, untuk SDTI Curup memiliki total peserta didik sebanyak 59 orang dengan 35 orang siswa dan 24 orang siswi. 11 orang di Kelas VI, 14 orang di Kelas V, 17 orang di Kelas IV, 5 orang di Kelas III, 6 orang di Kelas II dan 6 orang di Kelas I.

Sementara untuk tenaga pendidik dan tenaga kependidikan SDTI Curup berjumlah 11 orang. Mereka adalah Penti Ariyant, (Guru Kelas I), Yeni Rahmawati, (Guru Kelas II), Ana Mardalena, (Guru Kelas III), Yulianti, (Guru Kelas IV), Helmi Safitri, , (Guru Kelas V/PNS), Rumanilawati, (Guru Kelas VI/PNS), Hj. Erniwati Husin, (Guru PAI/Mantan Kepala Sekolah/Pensiunan PNS), Dewi Mulyani, S.Pd.I, (Guru PAI/PNS), Sumiyati (Guru IPA), Rio Febriyanto (Guru Pendidikan jasmani dan Tata Usaha) dan Dedy Mardiansyah, (Kepala Sekolah).

Langkah Menjadi Sekolah Harapan Umat

Dengan membawa mandat sejarah struktural dan kultural Persatuan Tarbiyah Islamiyah sebagai basis nilainya dan sekaligus berorientasi kepada masyarakat lingkungan sekitarnya, SDTI Curup, dalam rencana pengembangan pendidikannya memilih untuk menguatkan jati dirinya sebagai “Sekolah Rakyat Harapan Umat”. Dalam upayanya menegaskan jati dirinya itu, SDTI Curup mencoba merumuskan nilai-nilai pendidikan kerakyatan yang telah diterapkannya berdasarkan pedoman pembinaan umat model Persatuan Tarbiyah Islamiyah.

Dari sisi psikologi pendidikan, dirumuskan bahwa penekanan pendekatan pembinaan secara penuh kasih sayang dengan mengedepankan fungsi bimbingan dan konseling oleh setiap tenaga pendidik dan kependidikan adalah lebih utama bagi peserta didik SDTI Curup. Hal ini mengingat latar belakang peserta didik yang mayoritas berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Bahkan, tak jarang, peserta didik SDTI Curup tidak tinggal bersama kedua orang tua mereka. Dengan memungsikan guru untuk hadir dalam kehidupan peserta didik tersebut, diharapkan dapat menimbulkan keseimbangan jiwa bagi peserta didik SDTI Curup yang pada fase berikutnya semakin membuka pintu masuk upaya pembinaan budi pekerti yang luhur bagi mereka.

Dari sisi keteladanan prima, guru sebagai cermin diri pribadi mulia peserta didik SDTI Curup bagi hidup dan kehidupan mereka adalah nilai utama yang perlu dilestarikan. Untuk terwujudnya hal itu, maka menjadi penting terbangunnya suasana kekeluargaan antar guru yang berbasis keteladanan utama dari guru-guru senior. Suasana kekeluargaan yang berbasis keteladanan guru-guru senior ini di samping diharapkan memupuk, membina dan merawat etos perjuangan dewan guru baik secara kolektif maupun individu, juga diharapkan berfungsi sebagai penjamin terjadinya diskusi yang kondusif bagi proses bimbingan dan konseling peserta didik SDTI Curup, secara khusus, juga bagi proses peningkatan kualitas pendidikan SDTI Curup, secara umum.

Dari sisi pemeliharaan dan pembinaan tradisi, peningkatan kegiatan pembiasaan praktik tradisi keagamaan (peramalan) model Persatuan Tarbiyah Islamiyah secara bertahap menjadi pertimbangan cukup penting. Terutama terkait dengan kemampuan murid di bidang baca dan tulis al-Qur’an, pemahaman doa-doa dan tata cara sholat lima waktu. Setidaknya ada tiga pilihan teknis pelaksanaan upaya peningkatan pembinaan tradisi keagamaan ini; Metode Penerapan Kurikulum Sehari Penuh (MPKSP), Metode Penerapan Kurikulum Integral (MPKI) dan Metode Penerapan Sholat Jama’ah (MPSJ).

MPKSP adalah pilihan teknis upaya peningkatan pembinaan tradisi keagamaan peserta didik SDTI Curup dengan metode penerapan kurikulum pendidikan sehari penuh (full day). Metode ini merupakan praktik yang dulu pernah diterapkan dengan nama “Wajib Sekolah Pagi dan Sore”. Dimana setelah peserta didik pulang ke rumah mereka untuk istirahat, sholat Zhuhur dan makan siang, mereka kembali ke sekolah (dalam kerangka MITI) untuk mengaji dari pukul 14.00 WIB s.d. 16.00 WIB. Namun, meski ini mungkin bisa direvisi dengan cara anak sholat berjama’ah dan makan siang di sekolah serta sementara dalam seminggu bisa diterapkan 1, 2 atau 3 hari saja, metode ini tetap membutuhkan alokasi waktu dan tenaga yang cukup besar.

Adapun MPKI adalah pilihan teknis upaya peningkatan pembinaan tradisi keagamaan peserta didik SDTI Curup dengan metode penerapan kurikulum integral. Metode ini mungkin semisal dengan praktik yang diselenggarakan oleh sekolah-sekolah terpadu yang ada. Hanya bedanya adalah pada muatan kurikulum dan keterkaitannya dengan alokasi waktu serta biaya pendidikan yang ditarik dari peserta didik. Jika pada sekolah-sekolah terpadu umumnya mengintegrasikan kurikulum nasional dan kurikulum lokalnya dengan mengalokasikan penambahan waktu kegiatan belajar mengajarnya serta penarikan biaya operasional pendidikan yang cukup besar sehingga terkesan eksklusif bagi peserta didik dari keluarga dengan strata ekonomi menengah ke bawah. SDTI lebih memilih memasukkan muatan kurikulum lokal yang berupa pembinaan tradisi keagamaan itu ke dalam praktik pembelajaran kurikulum nasional. Dengan demikian tidak memerlukan penambahan waktu dan juga biaya tetapi lebih kepada penyusunan dan penyelarasan Kurikulum Pendidikan SDTI Curup.

MJSP adalah pilihan teknis upaya peningkatan pembinaan tradisi keagamaan peserta didik SDTI Curup dengan metode penerapan sholat Dzuhur berjama’ah di Masjid Jamik Curup. Metode ini mungkin merupakan metode yang paling praktis dan ekonomis karena tidak memerlukan penambahan alokasi waktu KBM, pikiran dan biaya. Tetapi hanya butuh pengkondisian jam belajar mengajar dengan kebutuhan menyiapkan anak latihan sholat berjama’ah (plus tata cara bersuci) dan untuk kemudian mengikuti jama’ah Shalat Dzuhur di Masjid. Jika anak telah tertib ibadah sholat dan tata cara bersucinya, pada tahap berikutnya bisa dilanjutkan dengan pembiasaan dan penambahan doa-doa serta kemudian peningkatan kemampuan baca tulis Al Qur’an mereka.

Dari sisi peningkatan kesejahteraan dewan guru, penghayatan akan pentingnya kehadiran guru sebagai subyek yang kuat lahir batinnya dalam berjuang melahirkan peserta didik SDTI Curup sebagai subyek pembelajar, maka dipandang perlu mengembangkan usaha koperasi berbasis sumber daya sekolah dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan guru SDTI Curup. Usaha ini dapat dimulai dengan mengembangkan praktik simpan pinjam dewan guru yang telah berjalan untuk diputarkan secara produktif dan maksimal dengan sistem akuntansi murni usaha pembiayaan koperasi (bagi hasil).

Setidaknya ada tiga hal prioritas teknis usaha ini yang dapat dijalankan secara integral: Pertama, penambahan anggota (pemilik modal/debitur) koperasi SDTI Curup dari luar dewan guru berbasis dan berorientasi peningkatan mutu pendidikan SDTI Curup dengan target pengumpulan modal usaha semaksimal mungkin; Kedua, penemuan pengusaha (pemutar modal/kreditur)  koperasi SDTI Curup berbasis nilai Sederhana, Mudah, Amanah, Ramah dan Terarah (SMART) dan berorientasi pada kesejahteraan dunia dan akhirat dengan target prioritas kreditur dari dewan guru dan wali murid serta masyarakat lingkungan sekitar SDTI Curup dan; Ketiga, pembangunan sistem akuntansi profesional dan modern dengan dasar nilai SMART.

Dari sisi pembinaan lulusan sekaligus penyiapan kader pejuang Sekolah, dipandang perlu melakukan rintisan pembinaan lulusan sekaligus melakukan kaderisasi demi penyiapan tenaga pendidik dan kependidikan masa depan SDTI Curup dengan membangun kerjasama saling menguntungkan dengan lembaga-lembaga pendidikan lain yang seide, senafas dan sejiwa dengan gerak langkah perjuangan SDTI Curup sebagai Sekolah Rakyat Harapan Umat.   Kemungkinan kerjasama ini bisa dimulai dengan membangun silaturahmi yang baik dengan institusi sekolah lanjutan di atasnya baik swasta ataupun negeri. Prioritas untuk ini adalah lembaga-lembaga pendidikan model pesantren dengan target utama adalah Pesantren Tarbiyah Islamiyah Candung, Sumatera Barat. Sebagai tempat asal Persatuan Tarbiyah Islamiyah tumbuh dan berkembang. Selanjutnya Pesantren Arrahmah Air Meles Atas, Pesantren Darussalam Kepahiang dan Pesantren Nurul Huda Sukaraja OKU Timur.[]

BERBAGI
Artikel sebelumyaPuisi-Puisi Andi Markoni
Artikel berikutnyaHukum Berhias, Memakai Perhiasan dan Parfum
Penulis adalah alumni Program Studi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja dan sedang menyelesaikan tesisnya di Program Studi Pendidikan Agama Islam di Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Selain tengah mengemban amanah sebagai Pembina Asrama Sunan Kalijaga Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja OKU Timur Sumatera Selatan, penulis kini juga diamanatkan sebagai Kepala Sekolah Dasar Tarbiyah Islamiyah Curup.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY