Puisi-Puisi Andi Markoni

Puisi-Puisi Andi Markoni

304
0
Sumber Gambar: richmondartgallery.org/ Rully Rahim_Stone

PANGIL SAJA AKU MALIN

Pangil saja aku malin
ayahku adalah lautan rahasia
kundang aku sampai zaman paling durhaka pun
di mana orang-orang datang
menginjak kapal waktu
duduk di atas kepala
dengan hati membatu

yang pantai tetaplah manis
pada bibir iblis
di antara deretan sejarah panjang
tak jua sampai, membadai berandai-andai
dimakan ambai-ambai

kala permainan usai
kelapa sudah habis terjual
pasang naik menutupi jalan kepulau pisang yang tak beranak pinak
ombak melahap kantong palastik, sambilu tabu, celana dalam, tarompa japang dan sepatu
dan aku menjilati kencing orang-orang berpose
dengan latar raksasa berbulu mega

kemudian permainan beralih menuju jabal nur
di mana pondok-pondok membuka pasar
dua teh botol seharga 30.000 ribu rupiah
tempat singgah bunga muda mengadaikan perawan demi cinta

Dan kau penguasa bangsat kata diraja
pasir takkan membawa kapal berlayar
meski tapian mandeh lelah mengangkang
membuka pasar lebar-lebar

sebagai malin yang berhenti hidup karna kata
tiada sempat mencium bau lahat
aku tak mampu mengutuk ibu
yang dari rahimnya aku berlabuh
di atas lidahnya pula aku kaku bisu

Padang, 02 November 2015

 

Aku, Kunci Dan Korek Api

Kami ingin menulis
setelah mata terbuka
dari balik jendela berdebu

burung-burung melintas berarak menuju sarang
anak kambing itu terus melahap rumput di bawah batang pisang kuning
aku: menggeliat mengucap selamat pagi pada mendung sore
kunci: aku ingin membuka pintu lagit menulis cakrawala dalam cerita gembala pulang petang
korek api: aku ingin membakar mulut penguasa dan melahap pondok maksiat berjejeran di pantai

awas……..

Padang, 23 September 2014

 

PESAN IBU

Kalau kau pulang
kau ingin dimasakkan apa ?
suara itu memburu kencang ke jantungku
sendawa ku berbau asam durian, nafasku menyegat bau jengkol
lingkaran piring, sayur bayam, serta tawa gemilang

jangan lama-lama nanti kau tak mengecap padi baru
aku kehilangan kata
kala dipinang ibu !
lalu tanpa kutukan aku membeku salju.

Padang 04 Mei 2013

 

RENUNGAN IBU MENATAP SEMUT API

dalam dadanya daun berjatuhan
di antara batu pecah tak terjamah
bunga ombak

semut berhamburan kehilangan sarang
digisai penggali lahat
ia tetap berdiri kusam
hingga kelam memungut tubuhnya

itu sebelum semut meningalkan api

Padang, 2014

 

HIDUP atau MATI

Kembali pada rahim
dan tahajjud.

Padang, 24 0ktober 2012

 

SAJAK PATANGGANG

matamu mataku
perahuku perahumu
malam kita berlalu
tanpa mimpi
tanpa tujuan

aku ingin berteriak
gunung dan pantai dalam keramaian

kepada hutan
kepada hujan
kepada kenangan keduanya

jiwaku jiwamu
lukamu lukaku
malam kita berlalu
tanpa kasih
tanpa rindu

aku ingin berlayar
pulau dan lautan diselimuti asap

matamu mataku
malam kita berlalu
dalam debu
tanpa suku

Padang, 21 September 2015

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY