Realisasi Konsep Maqāṣid al-Sharī’ah Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam Pemahaman Hadis Nabawi

Realisasi Konsep Maqāṣid al-Sharī’ah Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam Pemahaman Hadis Nabawi

390
0

Pendahuluan 

        Wacana pembumian maqāṣid al-sharī’ahsebagai sebuah manhaj al-fikr (metodologi berfikir) semakin mendapat ruang di kalangan akademisi muslim kontemporer.[1] Hal itu terbukti dengan diadakannya sebuah seminar international yang bertajuk Maqāṣidal-Sharī’ah dan Usaha Pembumiannya dalam Masyarakat Kontemporer di Malaysia pada Agustus 2006 yang lalu. Dalam seminar tersebut, puluhan sarjana menulis berbagai tema seputar relasi maqāṣid dengan persoalan-persoalan umum kemasyarakatan seperti kaitan maqāṣid dengan teori-teori transaksi ekonomi dan perbankan, hubungannya dengan ilmu-ilmu politik, undang-undang pidana dan perdata, hukum-hukum keluarga, ilmu dan teknologi informasi, krisis lingkungan, serta problematika pemahaman masyarakat terhadap teks-teks agama.[2]

Terkait dengan tema yang terakhir, penulis tertarik untuk mendalami sebuah artikel yang ditulis oleh Khālid ibn Mansūr al-Dāris[3] dengan judul Athr Maqāṣidal-Sharī’ah fi Fahm al-adith al-Nabawi; al-Imām Ibn Taymiyyah Namūzajan. Dalam penelitiannya, Khālid menyimpulkan bahwa Ibn Taymiyyah merupakan salah seorang pioner maqāṣid yang layak untuk diapresiasi, karena ia dianggap telah berhasil mengkompromikan dua kecendrungan umat Islam yang ektrem dalam pemahaman keagamaan, yaitu mereka yang terlalu berpegang kepada makna literal teks (tekstual) di satu sisi dan mereka yang terlalu bebas dalam menginterpretasikannya (kontekstual) dengan dalih mengedepankan maqāṣid al-sharī’ahdi sisi yang lain.[4]Namun Ibn Taymiyyah mempunyai konsep maqāṣid al-sharī’ahsendiri, khususnya dalam memahami teks-teks Hadis Nabawi yang menjadi fokus penelitian tersebut.

Penelitian serupa dalam tema yang sama juga telah ditulis oleh Muḥammad al-Badawi dalam disertasinya yang berjudul Maqāṣidal-Sharī’ah ‘Inda Ibn Taymiyyah pada tahun 2000 yang lalu. Penelitian yang ia lakukan jauh lebih paripurna dan mencoba untuk memetakan pemikiran Maqāṣid Ibn Taymiyyah secara utuh dan sistematis, khususnya dalam memahami teks-teks al-Qur’an dan Hadis.[5]Hal ini akhirnya mendorong Samīḥ‘Abd al-Wahhab al-Jundi menulis disertasi yang sama tapi dengan tokoh yang berbeda pada tahun 2008. Dia menulis Maqāṣidal-Sharī’ah ‘Inda Ibn Qayyim al-Jauziyyah, yang tidak lain adalah murid dari Ibn Taymiyyah sendiri. Hanya saja penelitian yang ia lakukan lebih cendrung kepada peletakan dasar-dasar teori ketimbang aplikasi. Dan dalam metodologi penulisannya pun tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh al-Badawi.[6]

Tulisan ini pada dasarnya ingin menggabungkan nalar dua penelitian di atas, yaitu makalah Khālid ibn Mansūr al-Dāris yang berjudul Athr Maqāṣidal-Sharī’ah fi Fahm al-adith al-Nabawi; al-Imām Ibn Taymiyyah Namūzajan dengan penelitian yang ditulis oleh Samīḥ‘Abd al-Wahhab al-Jundi lewat disertasinya Maqāṣidal-Sharī’ah ‘Inda Ibn Qayyim al-Jauziyyah. Penelitian ini penulis beri judulRealisasiKonsep Maqāṣidal-Sharī’ah Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam Pemahaman Hadis Nabawi. Hal baru dalam penelitian ini hanyalah pencantuman contoh-contoh aplikatif dari konsep maqāṣid al-sharī’ah Ibn Qayyim yang dikutipkan langsung dari pandangan-pandangannya terhadap berbagai persoalan, khususnya dalam hal pemahaman Hadis Nabawi pada beberapa karyanya seperti I’lam al-Muwaqqi’īn, Akām ahl al-Dhimmah, Syifā’ al-‘Alīl, Mifta Dār al-Sa’ādah dan lain-lain.

bersambung…

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY