Ruang Tunggu

Ruang Tunggu

334
0

Sedang di luar, barangkali, udara masih berhembus hangat. Anak-anak tertawa renyai melepas balon. Jalan panjang di depan rumah sakit ini dipenuhi orang-orang berwajah cerah. Semoga aku tidak salah. Kubayangkan yang indah-indah berlangsung dengan damai di luar. Aku tahu. Sebentar lagi semuanya akan terseret dalam kesementaraan yang tak tertebak. Satu-persatu, lalu keseluruhan. Kutekan perasaanku. Di luar tetap berlangsung di luar. Di sini, aku melihat bapak dari celah pintu duduk di ruang tunggu. Sementara, di dalam tubuhku salakan burung gagak berumpun-rumpun. Ketakutan dengan cepat menyergap orang-orang lumpuh sepertiku. Bayangan-bayangan gelap, jeritan dari alam kubur, mengalir deras di seluruh pembuluh darahku. Orang-orang terdekatku mendoakanku lewat tatapan melas mereka. Aku ingin menceritakan semuanya, tapi alangkah mustahilnya. Takdirku, saat ini, mungkin sebatas meneriakkan nama bapak berulang-ulang. Meski aku sendiri tahu tidak akan terdengar apa-apa, selain anggota tubuhku yang berlepasan.

Setitik kilau mengerjap tepat di mata bapak. Aku melihat. Seketika aku ingin berlari, meronta dari segala yang mengikat tubuhku; rasa sakit, burung gagak itu, selang infus dan kabel-kabel, jeritan dari alam kubur (dan mungkin juga dirimu). Aku ingin menghampiri bapak, mendekapnya, supaya tidak ada lagi yang dikhawatirkan.

Dingin, kaku, justru hanya itu yang kurasakan. Sungguh, rasa sakit ini mungkin belum pernah dituliskan dalam lembar-lembar pengetahuan.

Ya. Satu-persatu rambutku jatuh, tubuhku lumpuh. Apa yang dinamai hidup tiba-tiba runtuh.

Hari ini aku harus pulang. Suara itu menggaung kembali menunjam titik paling rentan dalam hidupku. Mengendap lewat celah pintu, atau menjalar di jendela yang sedikit terbuka, atau dari apa saja, lalu meruncingkan cakar-cakarnya, dan menusuk. Suara yang bertahun-tahun menempuh usiaku. Datang bertubi-tubi, dan aku ingin berpaling dari suara itu seandainya bisa. Aku ingat, dulu kamu pernah bilang terkadang kita membenci kosa kata yang tidak penting. Dan sekarang, “seharusnya”—kosa kata yang tidak penting itu—telah menjelma tali yang menarik kepalaku menoleh ke belakang. Ke garis niskala di mana bayanganmu datang membujukku menikah lima tahun silam (seharusnya aku menjuluki tahun itu sebagai tahun-tahun menyeramkan, dan waktu itu mestinya aku juga bertanya pada bapak kenapa perempuan sepertiku sulit menentukan pilihan).

Rambutku senantiasa jatuh. Andai saja aku menghitung rambutku yang jatuh, yang beserakan di bantal, seberapa bentar usiaku bukan masalah. Tetapi, hadirnya dirimu dalam sisa usia yang kuhitung, membikin aku ragu apakah perasaanku cukup lapang menampung umur yang tidak panjang. Manusia yang malang. Tiada henti aku merutuk sembari menekan kasur dengan jemariku, seperti menekan pilu yang suatu waktu bakal lebih melegamkan ulu hatiku.

Di celah pintu, ruang tunggu dan bapak belum berpisah. Aku membayangkan gelegak bapak membuncah. Misal dada adalah gelas kosong dan kesedihan ialah air yang dituangkan, tubuh bapak—aku yakin—basah kuyup, dan membutuhkan selimut cukup tebal agar tidak kedinginan. Aku sedih karenanya, bapak sedih karenaku. Kemalangan ini, aku tidak tahu siapa pengirimnya. Kamu, mungkin. Akan tetapi, entahlah. Barangkali pikiran-pikiran pahit berkerumun menggangu. Sepahit obat-obat yang mengalir ke tubuhku melalui selang infus, atau jarum suntik, atau benda-benda kecil yang terpaksa ditelan.

Aku semakin merasakan jari-jemari kakiku berguguran ke lantai. Kaki kiri. Kulit betis. Perlahan meleleh mirip lilin dipanaskan.

Dan aku tidak berharap bapak menengok ke dalam ruangan. Melihat bagaimana kengerian menyulut perasaannya yang renta, mudah patah. Seperti anggota tubuhku yang mungkin sebentar lagi lucut semua tanpa menyisakan apa-apa selain yang kunamai kemalangan. Aku sungguh tidak ingin bapak tahu. Biarlah bapak di ruang tunggu, menanti orang-orang terdekatku—bibi, paman, adik lelakiku—yang keluar sebentar.

Namun, pikiran-pikran itu memintaku memanggil bapak, serta menyuruhku bertanya siapa yang harus disalahkan atas semua ini. Bapak, siapa yang harus disalahkan? Dan bayanganmu terus-menerus menagih pertanggung jawaban di tiap anggota tubuhku yang berlepasan.

***

Hidup adalah perpanjangan tangan dari keluhan-keluhan yang tidak selesai, kata seseorang.

Dan sebelum aku terkapar di sini, dulu aku pernah bersandar di pohon nangka di samping rumah bersama seseorang, membakar kertas-kertas yang sering kubawa ke sekolah. Catatan-catatan panjang, surat-surat cinta, rumus matematika-fisika, dan angan-angan. “Aku tidak tahu apakah mimpi bisa dibakar,” keluhnya sambil memandangku. Kata-katanya menerawang. Apa yang bisa dilakukan ketika kita tidak bisa memenuhi gelegak cita? Bagiku hanya satu, membakar kertas-kertas yang memperkenalkanku dengan cita-cita, tanpa memperdulikan perkataan seseorang itu.

Seseorang itu ialah kamu. Kendati aku tidak suka ditemanimu, ke mana saja kamu selalu mengejarku. Bermacam-macam alasan hingga aku bisa menghindar. Akan tetapi, waktu itu aku tidak bisa berbuat banyak. Dadaku yang gundah mudah menerima siapa saja.

Aku pun mengeluh padamu. Tunanganku mendesak untuk menikah, dan keluargaku menerima tanpa membicarakannya padaku. Lalu kamu bertanya tentang banyak hal. Termasuk apakah aku mencitai tunanganku. Kukatakan padamu, umurku tiga belas tahun. Orang-orang sepertiku—tentu kamu sudah paham—kebanyakan hanya mengenal pertunangan yang dipaksakan. Hari itu kamu berjanji membantuku. Aku baru tahu kalau bapakmu bisa mengabulkan apa saja layaknya seorang dukun. Dua bulan kemudian aku putus dengan tunanganku berkat bantuan bapakmu. Setelah itu aku berjanji untuk menolak siapa saja yang bakal mempersuntingku.

Suster masuk ke ruanganku. Bapak masih di ruang tunggu. Suster itu datang untuk membersihkan lantai, darah kental, serta daging yang membuat siapa saja mual. Benar. Hidup adalah perpanjangan tangan dari keluhan-keluhan yang tidak selesai. Aku menatap suster itu. Rasanya, diriku sendiri yang berjongkok membersihkan serpihan tubuhku. Aku harus mengelus dada. Barangkali ini tanda-tanda kalau sebentar lagi waktu akan sampai. Mungkin bunga-bunga juga sebentar lagi bakal ditabur. Namaku ditanam di tanah yang basah.

Tetapi, tidak. Tiba-tiba aku berlari karena baru saja menangis kecewa di depan keluargaku.

“Kita memang keluarga miskin. Tapi aku cantik, aku pandai, dan orang-orang akan banyak melirikku. Aku tidak mau dijadikan istri Adnan yang buruk rupa itu!” aku menatap paman dan bapak bergantian.

Suaraku menggelegar memenuhi ruang keluarga. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Tuhan. Kini giliranmu yang yang mencoba menghancurkan apa yang kukisahkan padamu. Kenapa kamu melamarku? Aku kabur dari rumah, menerabas waktu entah mau ke mana. Dua hal, pertama, aku masih ingin kuliah. Kedua, aku berhak memilih siapa yang pantas untuk diriku. Orang-orang boleh bilang aku perempuan berselera tinggi, tidak mau menikah kecuali dengan orang kaya, tampan, dan tepandang. Kamu percaya atau tidak, bukan urusan. Aku tidak menolak gunjingan orang-orang itu, dan tidak pula mengiyakannya.

Aku terus berlari. Aku tahu, hidup dan kata-kata membutuhkan pertanggung jawaban. Lalu apa peduliku. Aku terus berlari. Memasuki jalan raya, keramaian, kota, dan apa yang kuimpikan, menempuh masa yang lebih baru, melupakan kecamuk yang lampau. Bahkan sama sekali aku tidak lagi mengenal dirimu. Tiba-tiba menjelang pernikahanku, sesuatu yang aneh datang. Aku tersungkur, memasuki kegelapan. Dari kegelapan dirimu membayang, mengajakku menikah seperti lima tahun lalu. Aku menyesal kenapa semasih ibu hidup aku tidak bertanya kepadanya, apakah pernikahan selalu berawal dari kegelapan. Atau mungkin pikiranku terlampau pendek untuk menjangkau sesuatu yang jauh seperti masa depan.

Suster itu pergi. Datang suster yang lain. Aku bertanya, apakah sekarang siang atau malam. Suster itu bilang, bukan siang dan bukan malam. Suara yang menyuruhku pulang kurasakan kembali bertandang.

***

Mungkin aku terlalu angkuh dan keras kepala. Ketika suara itu—hari ini seharusnya aku pulang—sayup-sayup di sanubariku, aku ingin menghunuskan setiap yang bisa kuraih ke arah keangkuhan dan kekeras-kepalaan-ku.

Urusan-urusan hidup sepenuhnya belum selesai, walau sepersekian menit atau jam nanti tubuhku lesap. Apa yang dipikirkan bapak? Tubuhnya sekurus tiang lampu karatan di samping tempat pembuangan sampah kota. Mungkin bapak mengharap aku masih bisa tertolong, atau mungkin berapa ongkos yang harus dibayar. Aku tidak mau kejadian yang sama terulang. Gara-gara memenuhi permintaanku untuk kuliah, bapak menjual dua petak tanah miliknya. Sampai kami tidak memiliki apa-apa. Sekarang sia-sia. Sebelas hari lalu, sebelum aku terbaring di ruangan ini, paman sudah melarang aku berobat ke rumah sakit. Itu bukan penyakit biasa, Mil. Ada yang mengirim angin1 kepadamu, ujar paman. Namun aku tetap memaksa. Mas Yanto, kekasihku, pasti bisa mengobati penyakitku. Kenyataanya, setelah berjam-jam di rumah sakit, tidak ada perkembangan apa-apa kecuali daging-daging yang mulai bertebaran di lantai, kasur, selimut, serta darah kental yang gelap. Dan keluargaku harus membayar dengan biaya yang mahal.

“Ini aneh sekali, Pak. Mila tidak menderita penyakit apa pun,” kata Mas Yanto putus asa. Bapak tunduk, dan mata sepuhnya makin menjorok ke dalam.

Kejadiannya berlangsung cepat. Aku sendiri pun tidak menduga dan baik-baik saja. Kukira hanya pusing seperti biasanya karena kurang tidur. Pagi hari aku berangkat ke rumah sakit tempat Mas Yanto bekerja. Sesampai di sana, anggota tubuhku tiba-tiba lumpuh. Dalam hitungan detik aku rubuh.

Kini aku ingin menangis. Ingin memukul. Ingin melemparkan apa saja, intinya mengamuk sekenanya.

“Mungkin hari ini dia harus pulang,” kata bapak dari ruang tunggu. Bibi, paman, dan adikku datang membawa kain kafan. Aku menjerit, suaraku entah menggaung di ruangan mana. Burung gagak meraung, jeritan dari alam kubur tumpang tindih, dan kamu menyeringai sebelum lenyap menyisakana rasa kehilangan. Dalam kondisi ini aku mau tidak percaya satu hal, bahwa memulihkan rasa kehilangan bak mengharap roh kembali ke tubuh yang terbujur mati. Aku belum siap kehilangan dirimu. Walaupun kamu menyaksikan sendiri peristiwa-peristiwa yang berlangsung dalam tubuhku: sebuah gunting ganas yang berlarian, beberapa jarum yang melompat-lompat, kalajengking yang merangkak di bawah kulit. Peristiwa-peristiwa yang tak bisa dijelaskan itu berlangsung hiruk-pikuk. Aku mungkin sudah gila. Tetapi aku melihat rumahku terbakar di lubang dubur, dan kamarku secara terpisah meledak di jantungku. Orang-orang bertelanjang mengusung keranda berawajah pecahan botol-botol. Hitam. Tubuhku keramaian mengerikan. Dari keramaian itu, kamu yang selalu datang—bersama bapakmu. Katanya, mau menemui keluargaku untuk melamarku.

Mataku berkaca-kaca, kaca yang pecah. Aku tidak mau melihat ke dalam diriku. Namun aku melihat, dan orang lain juga masih terlihat. Adikku memunguti beberapa daging yang tercecer, dibungkus kain kematian. Matanya sembab. Orang-orang terdekatku bediri di sampingku. Suster mempersiapkan kepulangan, sementara Mas Yanto dan bapak menggenggam kedua tanganku yang dingin. Bapak, siapa yang harus disalahkan?

“Kakak masih hidup, Pak?” tanya adik. Bapak mengangguk lemah.

“Sekarang, tulang betis kakak kelihatan, Pak,” katanya lagi. “Dagingnya habis.”

“Jangan diapa-apakan, Nak.”

“Lihat, Pak. Ada gunting yang keluar dari selangkangan kakak. Paku. Pecahan botol!”

Kata-kata adikku menggema bersama ratap bapak. Paman, Bibi, dan Mas Yanto, aku tidak tahu apa yang mereka rasakan. Aku mendengar suara-suara. Aku masih bisa melihat benda-benda. Tanganku masih bisa digerakkan.

“Pak,” kataku. Bapak mengelus dan mencium dahiku. “Tenangkan dirimu. Kamu mau makan? Minum? Biar bapak yang menyuapi. Atau kamu membutuhkan yang lain? Katakan, biar bapak memenuhinya. Kamu pasti sembuh. Bapak dan pamanmu akan menempuh pengobatan yang lain.”2 Aku diam tidak menjawab. Sementara suster-suster itu telah selesai. Begitu cepat aku hendak dibawa pulang. Bapak, Mas Yanto, dan orang terdekatku beriringan. Dua suster itu mendorong ranjang yang kutempati keluar ruangan.

Sepanjang dorongan, bapak tetap membisikiku. Tapi bapak tidak akan mendengar jika aku membisikinya. Aku ingin menikah dengan Adnan, Pak, kataku. Aku mengulang kata-kataku itu. Ya, bapak tidak mendengar apa-apa. Aku tahu itu, benar, bapak tidak akan mendengar apa-apa, dari anaknya.[]

 

Yogyakarta, Juli 2014

Habiburrahman, 09 Mei 1994, alumni Pondok Pesantren Al Karimiyyah, di Sumenep. Sekarang penulis aktif di Teater Eska Yogyakarta serta Madzhab Gelanggang di sela-sela kesibukan kuliahnya.

 

Catatan:

  • Mengirim angin, dikenal sebagai ungkapa bahwa ada yang menyantet,sihir, guna-guna dan yag semcam itu.
  • Pengobatan yang lain, ialah cara-cara yang ditempuh melalui kekuatan klenik. Sihir hanya bisa disembuhkan dnegan sihir, guna-guna disembuhkan dengan guna-guna.

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY