Said, Massad, Dabashi dan Islam

Said, Massad, Dabashi dan Islam

177
0
Edward Said/Dok. Istimewa

Campur tangan “intervensi” Edward Said (1935-2003) dalam kajian ketimuran melalui buku seminalnya Orientalism (1978) telah memukul telak Orientalisme tepat di ulu hatinya. Begitu kesimpulan dari mentor intelektual saya. Kalau dikatakan limbung, bisa benar. Dikatakan tidak roboh, juga bisa diperdebatkan. Tinggal masalah posisi melihatnya saja. Saya tidak tertarik juga membahas badai yang disebabkan Orientalism. Di sini saya hanya mengungkit masalah mendasar yang pernah dipersoalkan seputar Orientalism: Apakah Said paham Islam? Paling tidak, apakah Said memiliki perhatian pada Islam? Atau bisa juga: apakah Islam menjadi pertimbangan utama dalam Orientalism?

Untuk Indonesia, Orientalism diterjemahkan pertama kali tahun 1984 tanpa sertaaan berupa latar belakang, konteks sosio-historis keilmuwan yang menyertainya. Penerbitnya adalah penerbit Pustaka (Bandung); sebuah penerbit yang tumbuh dalam arus gerakan Islam kampus. Ndak lama berselang, Amien Rais mengulas perdebatan seputar karya Said ini di Amerika. Maklum, saat itu Amien Rais sedang kuliah di Amrik sana, persis pada saat sedang hangatnya buku tersebut diperdebatkan. Majalah Panji Masyarakat (Nomor 290 tahun 1980) memuat catatan “deskriptif” Amien Rais dengan judul, “Runtuhnya Sendi-Sendi Orientalisme”. Amien Rais hanya menggambarkan bagaimana Said via Orientalism merobohkan Kajian Ketimuran, dan catatan ini masih memosisikan binari Timur dengan Barat, dan tidak sedikitpun Rais memapar konteks dan (paling penting tidak) posisi intelektual yang diambail oleh penulis Orientalism.

Dalam catatan saya, tidak satupun program studi ketimuran yang tidak membuat simposium tentang buku ini. Tanggapan dari para pengkaji ketimuran atau Islamic Studies tidak terhitung jumlahnya. Pada tataran ini, secara umum, di Indonesia buku ini diterjemahkan sebagai reaksi anti-Barat vulgar. Dampaknya apa? Tidak ada upaya pembacaan serius. Tidak heran bahwa ketika para pengimpor posmodernisme dekade 1990 an di negeri ini masih mengganggap Orientalism sekadar sebagai “penerapan kritik wacana Foucauldian”. Artinya, sampai tahun 2000-an belum ada tanda-tanda buku ini dipahami dengan semangat dan konteksnya. Said tetap dianggap sebelah mata, bukan saja dinggap tidak tahu Islam, tetapi juga dimasukkan sebagai penghuni ring tiga atau empat para tokoh posmo ala Prancis. Tidak ada satupun yang menempatkan intelektual Arab-Kristen-Palestina-Lebanon ini adalah raksasa tengil yang setara dengan para penghuni ring satu posmodernisme Prancis. Coba liat tulisan Said berjudul My Ecounter with Satre (judul asli tulisan ini adalah “Diary” yang dimuat dalam London Book Review, Volume 22, nomor 11, 1 Juni tahun 2000). “Esai keren” ini menceritakan sebuah telegram yang tiba di meja kerjanya pada suatu siang di akhir 1979 : ‘You are invited by Les Temps modernes to attend a seminar on peace in the Middle East in Paris on 13 and 14 March this year. Please respond. Simone de Beauvoir and Jean Paul Sartre.’ Les Temps Modernes sendiri telah memainkan peran sentral dalam medan intelektual Eropa, Barat dan Dunia Ketiga sekaligus. Jurnal ini digawangi oleh raksasa intelektual Prancis sehingga Said membutuhkan dua minggu untuk meyakinkan dirinya bahwa telegram itu asli, bukan hoax. Pertemuan dengan Jean Paul Satre tersebut karena alasan keamanan dilaksanakan di apartemen Michel Foucault, “I was pleased to see my book Beginnings on his bookshelves, which were brimming with a neatly arranged mass of materials, including papers and journals”. Bukunya dikoleksi “seorang“ Foucault, bukan dikoleksi oleh dosen IAIN atau pemilik Majalah TEMPO, ya. Ini secara jelas menunjukkan bahwa Said adalah deretan nama-nama besar ilmu sosial di akhir 1970-an tersebut.

Kembali pertanyaan soal Islam dan Said. Tidak banyak orang tahu, bahwa jauh sebelum Said membahas Orientalisme, terdapat rangkaian papernya yang membahas ketengilan/kejaiman para rajadiraja orientalisme, menggoyang otoritas para dewa dalam Orientalisme. Di antara tulisannya tersebut adalah “A Standing Civil War: on T.E Lawrence”; atau “Islam, Philology, and French Culture: Renan and Massignon”: Ini membuktikan Said telah melakukan studi pendahuluan yang panjang mengenai Orientalisme.

Kedua, pada tahun 1969, Said sekeluarga pulang kampung ke Lebanon. Sejak 1948, keluarga kaya raya Said, selalu menghabiskan waktu libur di pegunungan utara Lebanon. Pulang kali ini dalam rangka free/libur sabbatikal seorang dosen muda. Dalam pengakuannya, ini atas anjuran pasangan marxist terakhir di departemen Sastra Perbandingan Universitas Columbia, Fred Dupee yang menyarankannya belajar sastra Arab secara khusus di Universitas Amerika Beirut. Hasil dari proses akademis ini terasa ritmenya kalau kita membaca bukunya The World, The Text and The Critics. Bahasa Arab sangat penting dalam konteks pemikiran Islam. Sebagai seorang Arab kelas menengah, Said memahami bahasa Arab dengan langgam tertentu saja sehingga masih merasa perlu mempelajarinya secara lebih mendalam, dan lebih penting lagi secara akademis.

Ketiga, secara genetik Said memang lahir dalam rumpun keluarga akademis. Ayahnya memang seorang pengusaha, makanya sejak kecil sudah terbiasa naik rollroyce dan pernik kaya raya lainnya. Dari jalur ibunya, ada banyak familinya yang menjadi intelektual. Salah satunya adalah Mikhail Hanna, seorang yang semasa Said masih SMU di Amrik disebutnya sebagai “Heiddeggernya keluarga”, Seorang mahasiswa ilmu pasti jurusan Biologi atau Kimia (tidak pasti) di Universitas Haverford (sebelumnya pernah kuliah di sebuah universitas di Kairo), tetapi master dan doktornya pindah program studi ke Middle Eastern Studies. Hanna mengatakan alasan kepindahan : …his switch as a necessary one for someone like himself (hanna) who needed to know more about the historical traditions and culture of his people. Dalam kesempatan lain, Said menegaskan bahwa sebagai generasi Arab-Kristen-Lebanon ada kebanggan mereka sebagai penopang kebudayaan besar yang pernah ada, dan dalam konteks generasinya sangat tidak mungkin menyangkal eksistensi kebudayaan Islam-Arab: sebuah kebudayaan yang tidak pernah “benar-benar kalah” di hadapan kebudayaan Barat (which never capitulated—ini parafrasa Said).

Selain Hanna, Said terhubung dengan keluarga Makdisi. Kita tahu, apakah ada hubungan langsung dengan George Makdisi, pengarang The Rise of College dan The Rise of Humanism in Islam. Sekarang ada nama-nama muda seperti Saree Makdisi dan Karim Makdisi: dua ponakan langsung Said dari adikknya Jeans Said Makdisi. Sedang puteranya sendiri, Wadie Said, adalah dosen Hukum. Putrinya, Najla Said, lebih memilih sebagai aktris teater daripada melanjutkan posisi akademis ayahnya. Said memiliki catatan panjang tentang sejarah intelektual Arab-Kristen yang tidak malu-malu mengakui sumbangsih Islam Arab dalam tradisi mereka sebagai bangsa Arab. Berbeda dengan pengalaman di Indonesia, di mana “hanya” Dowues Dekker (Dr.Setia Budi) yang mengakui peran dan eksistensi Islam Nusantara dalam pembentukan diri ke-Indonesian, seperti ungkapannya bahwa: “Kalau tidak ada semangat Islam di Indonesia, sudah lama kebangsaan yang sebenarnya lenyap dari Indonesia”. Ada konteks tradisi, yakni tradisi keluarga Arab-Kristen-Lebanon yang sangat apresiatif pada Islam, dan nanti semangat ini mudah ditemukan pada generasi muda intelektual Palestina lainnya. Kemudian ada konteks keluarga intelek yang mumpuni di pelbagai bidang.

Keempat, biar keren,masuk ke teks Orientalism sendiri. Pada pengantar Said terdapat pernyataan: …Timur merupakan bagian tak terpisahkan dari peradaban dan kebudayaan material Eropa (the orient is an integral part of European material civilization and culture). Siapa saja “timurnya” Barat? mereka adalah Afrika dan orang Afrika, Islam dan orang Islam, Australia dan Aboriginnya, Asia Barat dan Timurnya; dan lainnya. Pada buku seminal ini, Said mengantisipasi masih sedikitnya modal yang dikantonginya mengenai Islam. Tetapi jika mengikuti buku sekuel dari Orientalism seperti Culture and Imperialism atau Covering Islam, maka Said menegaskan pentingnya posisi Islam dalam jantung perdebatan Orientalisme dan diri Eropa itu sendiri.

Joseph Massad dalam Islam in Liberalism (2015) menegaskan bahwa “Islam is at the heart of liberalism, at the heart of europe….” Tata kalimatnya seperti kembali menegaskan kalimat Said yang zigzag soal ‘Timur ada bagian integral dari materialitas peradaban dan kebudayaan Barat”. Makanya Massad menutup pragrafnya bahwa Said “sebenarnya memahami secara seksama” bahwa Islam integral dari meterialitas peradaban dan kebudayaan Barat, ..’Edward Said understood it well..”.

Jadi Said tidak saja merekognisi Islam Arab sebagai sebuah kebudayaan duniawiah, tetapi memiliki pengetahuan cukup dalam mengenai ini. Jika kita melihat generasi muda pemikir Arab-Kristen-Arab seperti Massad, tokoh yang dianggap Saidnya Palestina saat ini, maka jelas bahwa mereka menutup celah-celah pemikiran Said secara konstruktif, dan bukan justru mendiskreditkannya. Maka bagi mereka yang ingin membaca “lanjutan” pemikiran Said, sebaiknya menengok Massad yang prolifik (intelektual yang subur karya tulisnya) ini: The Colonial Effect  (2001), The Persistence of The Palestinian (2006), Desiring Arab (2011), dan Islam in Liberalism (2015).

Dalam “Islam in Liberalism” jelas sekali Massad menegaskan secara lebih detail beberapa bagian dari buku Orientalism. Misalnya, sekali lagi, bukan memulai (starting point) dengan Timur (Orient) tetapi langsung ‘Islam’: Bagaimana Islam mula-mula digunakan; bagaimana Islam diberi “nama”, didefinisikan, diterjemahkan (translating Islam) dan diperlakukan secara naratif oleh Eropa: sesuatu yang disinggung secara umum saja di dalam Orientalism. Buku ini adalah kajian semantik tentang kata “Islam” dalam sejarah Barat, dan ini upaya konstruktif Massad memperluas simpulan Said dalam banyak tulisannya, tanpa jatuh menjadi epigon Said sendiri.

Selain Massad, ada Hamid Dabashi, orang Iran, yang ketika penerbit buku sedang menjamur di Yogyakarta paska-reformasi dikenal sebagai ahli tasawuf (irfan) Islam. Dabashi banyak sekali mengembangkan gagasan Said soal “agen oposisi” dalam dunia intelektual. Menurut Dabashi, gambaran Said mengenai posisi eksilik (buangan atau kediantaraan) itu sudah tidak relevan lagi justru karena tulisan Said sendiri. Dabashi meyakini bahwa setelah Said tidak ada lagi Dunia ketiga, Dunia Pertama, dan tidak ada lagi Sosialisme atau Kapitalisme (yang didiktekan sang tuan). Kita membutuhkan pembebasan ruang pikiran dan geografi dari anasir lama. Setiap pemikir ditopang oleh kewajiban mengirimkan suara kebenaran di manapun mereka berada, dan menjadi “delayed defiance”: agensi yang secara berkelanjutan menyuarakan kebenaran dan menolak untuk takluk terhadap seluruh otoritas.

Dabashi juga menulis secara populer tema Islam dalam semangat Saidian dalam On Being Muslim in The World (2015), di mana dia mengurutkan bagaimana proses invensi Islam sebagai liyan-nya Barat secara detail. Misalnya, Said tidak membahas peran kaum Katholik dan Kristen Barat dalam menebalkan peliyanan terhadap Islam, Dabashi melakukan semua ini dengan semangat intelektual dan keterpelajaran, bukan kebencian dan permusuhan.

Sebagai penutup, saya ingin menegaskan sebuah gagasan yang seringkali sengaja atau terpaksa kita pendam, yakni gagasan tentang wacana, bahkan tradisi pengetahuan tandingan, yang menjangkiti seluruh anak paskakolonial dunia sejak awal abad-20. Kita tidak siap mengatakan bahwa mandiri secara pengetahuan itu sesuatu yang mungkin. Artinya menyudahi kebutuhan akan bimbingan “mereka” sebagai suatu yang mungkin. Saya sadar bahwa membahas Said, Massad dan Dabashi membawa saya pada isu ini. Sebuah pembahasan tersendiri mengenai tema ini dibutuhkan. Tetapi di sini, dalam pergulatan pengetahuan, kita harus belajar banyak dari mereka yang tumbuh dengan pengalaman berbeda dan sedikit persamaan dengan kita (sebagai anak-anak negeri jajahan). Gagasan tentang kemungkinan paradigma pengetahuan sendiri sangat beragam. Tetapi ada satu keniscayaan mengenai pentingnya mendulang tradisi pengetahuan Barat secara mendalam, sampai pada tingkat penguasaan fasih, bahkan mungkin sampai pada level pengucapan pengetahuan Barat di luar yang dibayangkan Barat sendiri. Delayed Defiance dalam gagasan Dabashi sebenarnya adalah gagasan Said sendiri, di mana kurang lebih maksudnya adalah: ada agensi yang menyimpang secara kenyal dari arahan-arahan otoritas yang mendesakkan dirinya sebagai pengarah. Subjek yang tidak pernah mau tunduk, dan selalu usil kepada setiap otoritas. Ranajit Guha dalam Provincializing Europe sebenarnya mengamini tentang keragaman tradisi pengetahuan dunia, di mana tradisi pengetahuan modern tidak sepenuhnya mematikan tradisi pengetahuan lainnya di dunia. Di titik inilah saya kira tahapan kita masih pada level: mempelajari ragam tradisi pengetahuan lain secara “cukup mendalam”, dan baru membuka-buka bagian awal dari lapisan tradisi pengetahuan sendiri: sebuah posisi kediantaraan yang masih canggung. Paling tidak kita menyadari capaian kita, posisi kita secara objektif.

Selain itu, dalam pemaparan ini saya ingin menunjukkan bahwa Said, Massad, dan Dabashi, dalam konteks kajian Islam dan kajian ilmu sosial secara umum, telah berhasil menjawab kegalauan (almarhum) Mohammaed Arkoun yang menenggarai soal senjangnya antara kosakata pengetahuan Barat dengan kosakata pengetahuan Islam. Jarak itu semakin pendek, bahkan ada kemungkinan telah “blur” (kabur), dan menegaskan bahwa pemeringkatan pengetahuan berdasarkan ras, bangsa dan etnis sudah terhapus dalam peta pengetahuan dunia. Lantas, kenapa di Indonesia masih ada kesenjangan semacam itu? Jawabannya, marilah kita periksa tradisi intelektual kita secara seksama, bukankah kita selama ini terlalu mempercayai “mitos nama besar” yang sebenarnya hoax daripada berusaha belajar sendiri secara mandiri.[]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY