Sajak-sajak Ghoz T.E

Sajak-sajak Ghoz T.E

438
0
Ilustrasi/Dok.Istimewa.

Aku Dan Malam Dan Botol Alkohol

Apakah kau, kekasihku, seperti malam pucat
memeluk birahi bulan
di sini aku masih setia pada puisi pertama
yang membawaku ke ciuman apimu
kesepian inikah yang telah menyatukan kita?

O, malam-malam bau alkohol
aku membayangkan chairil mencari metafor
di antara sampah juga kota tak berwajah

Apakah kau, kekasihku, angin yang merontokkan daun
atau mimpi basah yang dahsyat itu di ujung malam
angin bangkit membawa bau shampoo rambutmu
jalanan hitam bersetubuh dengan cahaya kekuningan
membuat kesepian makin mengental

Bukan! bukan kesepian yang aku takutkan
juga bukan hidup yang terus meneror
aku ingin mencintaimu tak sederhana
mengikutimu keluar-masuk sampai mabuk
selebihnya biar malam mampus dijilat salak anjing

Bulan sendirian dan hanya aspal mengolok-ngolok
aku membangkang seperti seorang pemberontak
yang tak percaya pada bayang-bayang pepohonan

Aku dan malam dan botol alkohol mabuk
seakan kita berhenti mencemaskan sesuatu
angin melompat dari seberang
aku sangka kau, kekasihku, menari di bawah pangkuan
tugu kota yang kedinginan seperti terakhir kali
seseorang mengucap selamat tinggal
untuk selamanya

Oh cintaku, mabukku, tiga lembar rambutku rontok
dimainkan bayangan masa remajaku yang lugu
sementara dari puntung rokok yang aku hisap
kata-kata melukis sendiri perasaan rindu mabuknya
rindu yang berat rindu jahanam rindu yang nafsu.
seorang penyair tua duduk di depan kaca jendela
menunggu hari gugur di beranda
menulis puisi tentang masa lalunya yang kini jatuh
aku tak ingin hidup seribu tahun lagi sebab
kesatria baja hitam telah mati di medan pertempuran
di aksinya yang terakhir

Malam beku aku mencium pesing di sisa waktu yang rawan
kota menyeka wajahnya 24 jam nonstop
aku mencintaimu sebagaimana anjing menjaga
malam dengan perkasa dan percaya diri
lihat! gedung-gedung berbaris
mungkin ia akan mengurungku
persis seorang subversif yang manis

Akulah Lelakimu

Aku mengingatmu di jalan-jalan kota
lewat gambar poster dan suara knalpot yang
menjerit-jeritkan namamu.
selalu aku temukan bekas bayangan diusung
matahari birahi.
empat penjuru menulis kapital namamu
di mana aku tak sampai menjelajahinya

Cinta semacam politik paling sinting

Tapi akulah lelakimu yang tak sekedar
berani minum racun untukmu walau
aku tahu bunuh diri adalah akhir yang manis.
kupu-kupu mampus karna kesepian
metafor telah lama mati di taman terakhir
cinta kita matahari lambang kemurnian.

Aku Adalah Majnun

Aku adalah lelaki yang kau tolak
menghabiskan malam dengan pertanyaan tolol
kenapa kau tolak cintaku, kekasihku.
suara jangkrik mengolok-olok di malam jahanam
kodok melompat menciptakan senyap yang sakti
dan ketika matahari terkunci di dalam gelasmu
puisi-puisi cinta
perasaan rindu
gosong terbakar

Aku adalah majnun ditemani botol alkohol
cinta membuatku jadi pengembara
sungai demi sungai
sepi demi sepi
sungai jadi sepi
sepi jadi api
dalam mabuk yang tak dimengerti
dalam langkah yang tak pasti

Aku lelaki yang mendekatimu
sampai kau, sampai aku
mampus dibakar
api cemburu

aku adalah puisi cinta
yang hanyut
mencari
mu

Memori

Aku melihatmu dari balik jendela
memori tentang segitiga
cinta yang tinggal sedepa
di kamar ini dimana bau basah tubuhmu tertinggal
yang pernah kita miliki akhirnya rontok.
pada buku-buku kesepian
di dinding penghabisan ini
aku tak menemukan jawaban
catatan tak selesai
puisi hanya autis
siang terkurung dalam rumus yang simetris
baiklah! dunia kita satu
hidup tak sekedar siap kecewa, kekasiku.
kecewa adalah
cicak hitam di dinding
yang menunggu yang terpaku pada detak jam.
di luar adalah arus
di dalam kesepian menyusun huruf demi huruf
sebagai cermin yang fana.
aku melihatmu pada garis tipis
di lantai putih lusuh yang
tak pernah rampung
membaca keringat tubuhmu yang pernah jatuh.
puisi tersesat
mencari makna terakhir
baiklah! dunia kita bergandengan
hidup seperti menagih janji
janji matahari pada bumi yang menjadikannya
dua sisi
luar-dalam
siang-malam.
mampuslah kau dan aku
berkali-kali mati dikhianati harapan
memori tinggal memori
ia cepat mati.

Bagaimana Aku Mencintaimu
Malam biadab
aku peluk sepimu sepuasnya

Bagaimana aku melupakanmu begitu saja
sementara wajahmu mengubah apa saja

Cintaku bintang kemukus
semulus malam di paha perawan

Aku mencintaimu
tapi kau hanya pura-pura untuk sesuatu yang
membuatku rusuh

Mana mungkin aku membencimu
mana mungkin aku tak rela
meski hangus sudah api malamku ditelan badai ketujuh

Cinta ya cinta kekasih
meski kita pernah kecewa

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY