Sajak-sajak Ghoz T.E

Sajak-sajak Ghoz T.E

337
0

GELANGGANG
I

Pada sebuah gelanggang teater
ada bayang yang terkutuk di lantai

Dulu ada,
kini tak ada,

Tetapi bayang tetap membentang sekan layar hitam.
Aduh, ini soal adegan di luar panggung
dan hidup ternyata jalan terus. Tak mati dikhianati.
Yang bergerak
akan remuk akhirnya.

II

Panggung terakhir itu
seperti mau mengatakan
“ Kita berpisah
untuk sesuatu yang berdarah.”

Seorang aktor dilarang keras
jatuh cinta
pada dunia yang dibuatnya,
pada improvisasi yang sebentar.
Kita ditakdirkan mampus
seperti Oedipus

III

Tapi kau tak akan mendapatkanku. Aku tak menemukan
tempat di mana kenyataan dan mimpi berakhir manis.
Sedang pada kata
sudah lama kita tak percaya. Bukankah dunia kita
seperti permainan kartu: jika tak menipu trufmu akan
terjebak. Sia-sia. Dan hidup tak hanya siap kecewa, bung.
Yang murni
yang palsu
bersatu.
Dunia mabuk
dan suntuk.

Aku berbisik: “Aku bukan siapa-siapa. Bukan darwis. Bukan
pewaris langit. Sudah saatnya seorang protagonis mati dalam
cerita yang mengantarnya. Aku adalah perpaduan malam dan
bimbang. Aku prajurit yang tumbang.“

IV
Gelanggang
tempat kita memuja
di mana bayang datang tak terduga
aku keluar-masuk panggung
antara sepi
dan tepuk tangan

V

Mari tuntaskan percakapan ini. Esok mungkin tak di sini
mungkin juga tembok menyimpan garis yang tak terhapus.
Dan, kesendirian kita, akan sampai pada suatu kesimpulan:
hari ini, berikutnya, berikutnya lagi, hidup seperti bermain
teka-teki.

VI

Kau dan aku di tepi.
Menunggu yang mungkin
dan yang tak mungkin.
 

CERITA FASTO

Di laut itu, jarak maut dan perahu,
setipis kenangan lengkap. Sebelum detak
gelombang.

Tangannya terangkat, melambai-lambai tinggi di
amuk badaidan tiang kapal itu mulai menjauh.
Di titik penghabisan, aku gemetar membayang
wajah dengan mata menyerah dan kata terakhir
yang terapungseperti dalam pusaran gelap.

“ Dayung ke arahku, Fasto!”
“ sedikit lagi ” pekiknya,
memberi petunjuk meski tangannya sendiri
tak sampai. Sementara perahu tak mendekat

Tiga meter yang menyedihkan. Angin tambah keras
laut adalah air mata yang maut.

“Fasto!”
“Fasto!”

Ia pun,
tenggelam. Semua yang mengambang hilang.
yang tersisa adalah kesedihan. Bayang-bayang maut
yang kekal.

 

MALAM YANG TERBUKA

Satu jam yang rentan,
sebelum malam tajam menikung
seperti Jibril sedang berbisik
tidak lewat kata yang mudah diamputasi.
Angin terbang lurus ke utara pada pukul dua
yang liris.

Aku membaca gerak ritmis
kesepian pohon-pohon
kesepian Marcos dari pegunungan utara itu.
Lalu apa yang paling rahasia
dari sesuatu yang tak ada.

Tidak, Tuan.

Kita sudah berakhir impas
sebelum permainan kartu pertama
dan tak ada yang kekal di sini.
jenis penerimaan kita adalah
kemurungan yang terusir dari sarang rumah

Sedangkan di bawah bintang yang sama
tak ada peta,
mirip Sisyphus merayap ke puncak.

Malam yang terbuka
mengusap-ngusap hidup yang mampus,
mimpi sehangus doa-doa. Pesimisme,
kita berbagi kesedihan dengan santun
sekaligus belajar brengsek
agar hidup terus bergelora. Aku pun
bercermin pada
langit yang transparan serta garis-garis awan yang
tak dimengerti. Wajahku
sendiri memantul seakan selembar sunyi. Dan
kata telah disisipkan
untuk hari esok yang tak pasti

Malam seperti warna gelap rok Nyonya
mengundang tanya
menangkap birahi

 

CERITA BUAT W

Setelah matamu dengan mataku
beku berdekapan, saling cumbu, sejak itu dunia satu
dan kita terlempar  dari yang tak ada menjadi ada
aku gugup berkali-kali, bahwa hidup telah kembali.

O, mata zamrud itu!
kita terbaring berhadapan
dunia terbuka
dunia milik berdua

Aku terima engkau tanpa syarat,
dengan sepenuh hati
akan aku terima bakal berat nanti

Seperti yang pernah aku katakan padamu, malam itu,
“Aku tak takut mati” kekasihku. biar. biar ia mengalir
dan berakhir apa adanya, sebab cinta tak butuh
cerita. tak butuh banyak bicara.

Engkau di pundakku,
mendekat,
jantungku gempa dan kau pun tertawa manis
lelaki gondrong mirip bocah di hadapanmu. tapi tak apa
bagimu aku rela jadi apa saja.

Cinta walau diperpendek
sungguh aku menikmatinya khidmat.
suhu darah yang naik,
kata yang tiba-tiba mandek
atau ciumanmu yang api.

Aduhai…
hidup jalan terus

Aku memelukmu erat, menjangkau jarak yang tak pasti,
antara hidup dan mati. tangan memegang tangan
dirabanya setiap kemungkinan,  sepasang jiwa menari-nari,
dan di lantai hitam kita lupakan suara di luar.

Di dalam gaduh,
“apa kau dengar nafasku melaju?”.
kulitmu bersentuhan
mengandung  daya juga tenaga.
bagimu aku apa?

Selanjutnya, engkau dan aku takut kehilangan.
engkau cemas. aku tak bebas darimu
dan kita terlempar. mengental. di mana semua
mirip sebuah sandiwara, tak sekali tahan luka.
jika ingin tahu sekuat apa aku ini? diamlah,
diam dalam dinginku, dalam deru menentang.

Tanganku dan tanganmu bertemu dalam satu urat
“peluk aku kekasihku” kataku getar. biar mesra
biar dera.

Dari tak ada, kita kembali
dan hidup hanya sekali ternyata

Jangan takut…

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY